NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan / Tamat
Popularitas:43.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Keesokan paginya, matahari belum benar-benar muncul, tapi Albi sudah berangkat ke kota pagi-pagi sekali. Ia tidak membangunkan Nara, hanya menutup pintu pelan dan meninggalkan secarik kertas di meja dapur.

Ke puskesmas. Jangan nunggu. Aku pulang sore.

Tulisan tangannya rapi, lurus, seperti orang yang selalu berusaha mengendalikan hidupnya sendiri.

Nara membaca kertas itu sambil berdiri. Ada rasa aneh menyusup ke dadanya. Bukan cemas berlebihan, hanya… kosong. Ia menaruh kembali kertas itu ke meja, lalu menyeduh teh hangat.

Hari terasa lebih panjang tanpa Albi, entah kenapa sedari tadi Nara merenung sambil memandang bunga-bunga yang bermekaran di halaman rumah, terlihat indah dan menyejukkan mata, tapi tidak dengan hatinya.

  "Kok lama sekali ya rasanya," gumam Nara sedikit agak uring-uringan terhadap diri sendiri.

Tiba-tiba saja Mbah Narsih dari arah dalam keluar sambil membawa piring kecil yang berisi pisang goreng.

  “Ndoro, iki ana pisang goreng loro. Dimaem nggih,” ujare pelan sambil meletakkan piring itu di atas meja.

Nara tersenyum kikuk. “Matur suwun, Mbah. Malah ngerepoti.”

“Huuusst,” Mbah Narsih berbisik sambil menutup mulutnya dengan jari kelingking. “Ora entuk ngomong ngono. Mbah wis nganggep awakmu kaya putune dhewe.”

Nara menatap Mbah Narsih dengan tatapan hangat, hatinya mendadak penuh bukan karena sakit melainkan rasa haru yang tak bisa dijelaskan dengan apapun.

"Mbah, iki tak maem ya," ucap Nara pelan.

"Monggo ... Di sekeco'aken nek kurang juku'o ndek pawon," sahut Mbah Narsih.

Setelah itu Mbah Narsih melangkah masuk, ke dapur wanita paruh baya itu memang masih aktif meskipun usianya masih lanjut, dan setiap harinya pasti ada saja yang dikerjakan.

,

☘️☘️☘️☘️☘️

Puskesmas kota tidak terlalu ramai. Bau obat-obatan bercampur aroma karbol menusuk hidung. Albi duduk di kursi besi, tangannya bertumpu di paha. Wajahnya tenang, nyaris datar.

“Mas Albi?” panggil perawat.

Ia berdiri, mengikuti langkah perempuan itu ke ruang dokter.

Dokternya masih orang yang sama. Sudah lama mengenal Albi, sudah beberapa kali melihat hasil yang tak banyak berubah.

“Silakan duduk,” kata dokter itu sambil membuka map cokelat.

Albi duduk diam, hanya menunggu dokter itu menunjukkan hasil tes nya.

“Hasil darahnya sudah keluar,” lanjut sang dokter. “Dan… masih sama.”

Albi mengangguk kecil. Ia sudah menduganya, jika tidak ada perubahan untuk sakitnya itu.

“Sel darah putihnya masih tinggi,” jelas dokter itu pelan. “Dan trombositnya turun. Kita perlu atur ulang obatnya.”

“Berapa lama?” tanya Albi singkat.

Dokter itu menatap Albi, ragu sejenak. “Saya tidak bisa janji banyak, Mas. Tapi selama Mas disiplin, kita masih bisa jaga kualitas hidup.”

Kualitas hidup, bukan umur, juga bukan kesembuhan.

Albi menarik napas dalam. “Saya masih bisa kerja?”

“Bisa. Tapi jangan terlalu capek.”

Albi tersenyum tipis. “Saya nggak bisa janji itu.”

Dokter menghela napas. “Mas Albi… penyakit ini tidak bisa dipaksa.”

“Saya tahu,” jawab Albi pelan. “Makanya saya ke sini.”

Ia menerima resep dan beberapa lembar kertas. Tangannya tetap stabil. Tidak gemetar. Tidak ada air mata.

Bukan karena ia kuat, tapi karena ia sudah lama berdamai dengan kemungkinan terburuk.

"Ini resep yang harus ditebus," kata dokter itu pelan. "Oh ya, Mas Albi harus semangat sembuh ya, jangan takut dengan umur, karena kita gak ada yang tahu, kadang yang tidak punya penyakitpun tiba-tiba meninggal dunia, entah itu lewat kecelakaan ataupun serangan mendadak," ujar Dokter itu, selalu memberi motivasi agar Albi gak nyera.

"Makasih Dok," sahut Albi. Ia pun langsung meraih resepsionis obat itu dan menebusnya di apotik rumah sakit.

☘️☘️☘️☘️☘️

Di dalam perjalanan kata-kata dokter tadi menjadi pengingat untuk dirinya agar tetap semangat untuk sembuh, meskipun ia tidak berharap banyak, namun kehadiran makhluk kecil di rahim sahabatnya membuat semangat hidupnya lebih menyala dari kemarin-kemarin.

"Aku kudu kuat, meskipun ora ngerti tekani patiku," gumame lirih. "Setidak'e calon anak Nara biso ngerasa'ke kasih sayang bapak, ucapnya bukan sebagai lelaki yang menggantikan, namun hanya mengisi ruang yang kosong.

Albi tidak pernah menjanjikan apapun terhadap Nara ataupun calon anaknya, namun di dalam hati lelaki itu, ada niat yang tulus, yaitu menjaga ibu dan bayinya meskipun tanpa diminta ataupun ditanya.

Dan ketika Bus berhenti di terminal yang dekat dengan pasar tradisional, diam-diam lelaki itu turun dan membawa langkah ke tengah pasar.

Ia berhenti di sebuah toko baju, memilih perlengkapan bayi seadanya, dan juga membelikan Nara daster, kerena ia tahu sebentar lagi baju-baju Nara tidak akan muat dipakai.

Albi mulai meraih beberapa kain bedong, sarung tangan dan kaki, dan beberapa baju, serta perlengkapan baju lainnya.

"Jabang bayi Bapak gur iso nyelengi sitik gak okeh," gumam Albi. Lalu membawa tas keranjangnya di kasir.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sore hari, setelah menempuh perjalanan cukup panjang akhirnya Albi pulang. Langit desa mulai berwarna jingga. Bunga-bunga di depan rumah terlihat lebih hidup diterpa cahaya senja.

Nara sedang menyapu halaman saat melihatnya datang, matanya sedikit terkejut di saat tahu Albi menenteng beberapa kantong kresek, yang ia sendiri tidak tahu apa isinya.

"Bi, kok banyak banget yang kamu tenten," kata Nara. "Kamu habis periksa atau habis ke pasar?" tanyanya.

Albi nyengir kuda. "Dua-duanya."

Nara terkejut. "Kamu bawa apa?" tanyanya kembali.

"Ada deh dibuka di dalam aja, dan ini semua untuk kamu," ujar Albi.

Nara terdiam sejenak, ia cukup terkejut disaat menerima dua kantong keresek pemberian dari Albi.

"Bi, apa gak ngerepotin," ungkap Nara.

"Gak sama sekali, ini sudah jadi rejeki kamu," sahut Albi.

Nara memperhatikan wajah Albi lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang tidak berubah, ketenangan itu, tapi justru itulah yang membuatnya tidak nyaman.

“Kamu sebenarnya habis periksa apa?" tanya Nara hati-hati.

“Kesehata,” jawab Albi jujur. Tidak ditambah. Tidak dikurangi.

Nara berhenti menyapu. “Kamu sakit?”

Albi menggeleng. “Cuma cek rutin.”

Nara ingin bertanya lebih jauh. Mulutnya sudah terbuka, tapi kata-kata itu tertahan. Ia menutup mulutnya kembali.

“Kalau capek, istirahat,” katanya akhirnya.

Albi mengangguk. “Iya.”

Itu saja, setelah itu dia langsung masuk ke dalam kamarnya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Malam turun pelan. Nara sudah masuk ke kamarnya setelah makan malam, meskipun ia masih elergi nasi, tapi Albi selalu menyiapkan makanannya sendiri seolah tidak mau melihat Nara tersiksa karena muntah.

Perlahan Nara mulai membuka bungkusan keresek tadi, dan ketika dibuka betapa tersentuh hati kecilnya melihat, beberapa perlengkapan bayi ada dihadapannya, dan beberapa daster yang ia sendiri bahkan tidak berpikir sedalam Albi.

"Astaga! Dia seolah tahu apa yang aku butuhkan," ungkap Nara tanpa terasa air matanya jatuh perlahan.

Ia tidak pernah menyangka jika Albi akan sepeka itu terhadap dia dan juga bayinya.

Sementara Di ruang tengah, Albi duduk sendiri dengan map cokelat di tangannya. Ia membuka hasil pemeriksaan itu sekali lagi. Angka-angka. Istilah medis. Kalimat yang tidak menawarkan harapan besar.

Ia melipat kembali kertas itu, memasukkannya ke laci paling bawah, lalu menguncinya.

Bukan karena ingin menyembunyikan. Tapi karena tidak ingin membebani, siapapun yang ada di rumah ini.

Ia menatap pintu kamar Nara yang tertutup. Di balik pintu itu, ada perempuan yang sedang mengandung, bukan anaknya, tapi hidup yang kini ikut berada dalam tanggung jawabnya.

Albi memejamkan mata. “Yen wektu ora dawa,” bisiknya pada diri sendiri,

“aku kudu ninggalke sing cukup.”

Bukan cinta yang ingin ia kejar. Bukan kebahagiaan pribadi. Tapi ketenangan untuk orang-orang yang ia jaga.

Di luar, angin malam menggerakkan bunga-bunga pelan. Dan Albi duduk di sana, seorang diri, menyadari bahwa setiap detik yang ia miliki kini terasa lebih berharga, karena ada kehadiran anggota baru yang harus ia jaga sepenuhnya.

Bersambung ....

1
Sugiharti Rusli
semoga takdir yang harus memisahkan mereka sekarang jadi bekal bagi Arbani ke depannya dan tetap menjadikan sosok Albi sebagai ayah yang selalu hadir❤❤🤍
Sugiharti Rusli
Albi mengajarkan kalo kasih sayang dan ketulusan bukan hanya soal darah siapa yang mengalir, dan Arbani telah merasakan sosok seorang bapak selama 9 tahun ini
Sugiharti Rusli
dan sepertinya kepulangan mereka ke kampung halaman memang menjadi keinginan Albi agar pergi di tempat dan bersama orang" yang dia sayangi selama ini
Sugiharti Rusli
karena cinta dan ketulusan Albi kepada Nara dan Arbani tuh sangat menyentuh
Sugiharti Rusli
asli baca part ini air mata terus mengalir dan turut merasakan perpisahan mereka😭
Ummee
makasih kak author...
ada bonus chapter kah? hehe
Ummee
huuaaaa.... 😭😭😭
aku nangis ini kak...
Rohmi Yatun
😭😭😭😭😭😭ahh sedihh..
ari sachio
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Kasih Sklhqu
terimakasih Thor 🙏 ditunggu karya berikutnya 🙏
Lisa
Terimakasih y Kak Ayu utk kisahnya..meskipun endingnya sedih..tp ada pelajaran sangat berharga yaitu dari seorang laki2 yg tulus merawat anak yg bukan anak kandungnya..
Ayumarhumah: Sama-sama Kakak ....
total 1 replies
Naim
bahasanya kebanyakan di campur"
Naim
baca nya ribett
Ayumarhumah: itu translate banyak yang gak tahu bahasa Jawa. karena kebanyakan yang baca dari luar pulau. makanya minta translate.
total 1 replies
Naim
bahasanya kalo bisa indo aja, kalo mau ada jawa jangan terlalu banyak jadi kya aneh bacanya
Ayumarhumah: aku di sini hanya ikut event. dan event itu hastagnya romansa pedesaan dan di event itu harus menggunakan bahasa daerah 🙏 nah saat aku menggunakan bahasa daerah banyak pembacaku yang gak ngerti akhirnya aku kasih translate. kalau kakak gak suka skip saja dari pada beri bintang satu.
total 1 replies
Naim
bahasanya belibet
ari sachio
antara Aku,Suamiku dan Mantanku

antara Aku, ibuku,dan Kedua Bapaku
Sugiharti Rusli
apalagi sekarang mereka sudah bisa saling memahami dengan Ardan yang notabene ayah biologis Arbani,,,
Sugiharti Rusli
meski sakit yang Albi derita belum tahu ujungnya sampai kapan, tapi pulangnya mereka semoga menjadi obat dan semangat baru lagi,,,
Lisa: Amin..setuju banget Kak..
total 1 replies
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Albi sekarang bukan kesembuhan penuh yang dia harapkan, tapi berkumpul bersama sang putra yang sangat dia sayangi,,,
Sugiharti Rusli
apalagi apa yang Albi dan Nara lalui jauh dari kampung dan putra mereka sendiri,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!