NovelToon NovelToon
MENANTU IBU 2

MENANTU IBU 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Aliansi Pernikahan / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:309k
Nilai: 5
Nama Author: Me Nia

Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.

"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."

MENANTU IBU 2

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Tanda Cinta

Bestie, like dulu ya sebelum baca. Soalnya suka ada yang kelupaan nge tap ♥️.

Terima kasih sudah bersabar menanti cerita yang slow update ini.

...****...

Cerita mundur ke sehari sebelumnya, tanggal 21 Desember. Diaz terlambat membaca pesan dari Ibu yang masuk pukul 04.50. Baru membuka ponsel 20 menit kemudian saat bermalas-malasan tiduran di pangkuan Tya.

[Nak, ke kamar ibu sekarang. Penting]

Diaz mengernyit. Padahal semalam sudah berbincang lama membahas berbagai topik diantaranya soal pendaftaran visa liburan ke Swiss yang menunggu paspor Tya turun. Apakah soal Ayah?

"Yang, Ibu nyuruh aku ke kamarnya dari jam lima. Chat nya baru dibaca." Diaz bangun dengan malas. Masih betah rebahan sebenarnya. Tetapi titah sang ibu tidak bisa diabaikan.

"Iya cepetan ke sana. Kasian Ibu udah nunggu lama." Tya mendorong bahu Diaz yang malah memeluknya. Setelah kembali diingatkan jangan mengabaikan panggilan orang tua, barulah Diaz mau mengurai pelukan dengan meninggalkan sebuah kecupan bibir.

Diaz mengetuk kamar ibunya sambil memanggil. Sahutan sang ibu menyuruhnya masuk. Pintu ditutup rapat kembali. Diaz duduk di tepi ranjang menunggu ibunya yang melanjutkan mengaji di sofa. Sejak pulang umrah yang entah ke berapa kalinya, tetapi yang pasti kali terakhir kemarin memberi dampak perubahan yang sangat besar—ibunda tercinta semakin relijius dan mantap berhijab.

"Besok tanggal berapa, Nak?" Ibu Suri menyimpan Al Qur'an di meja. Namun, masih betah mengenakan mukenanya.

"Tanggal 22. Kenapa, Bu?" Bukan tanpa alasan Diaz bertanya seperti itu. Jika berkaitan dengan Hari Ibu yang diperingati di Indonesia, dari dulu memang tidak pernah ikut-ikutan merayakan. Mengungkapkan sayang pada ibu tidak lah setahun sekali tetapi setiap hari dalam bentuk perilaku. Itu versinya. Ditambah Ibunya pun tidak menginginkannya. Karena dari beliau lah dulu Diaz kecil tahu asal mula sejarah Hari Ibu terkhusus di Indonesia.

Tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu di Indonesia untuk mengenang dan menghormati diselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 22 - 25 Desember 1928 di Yogyakarta. Tonggak sejarah kebangkitan dan persatuan pergerakan perempuan Indonesia.

Juga menjadi simbol perjuangan emansipasi wanita, kesetaraan gender, dan peran serta perempuan dalam perjuangan kemerdekaan. Berbeda dengan peringatan di negara lain yang murni berfokus pada kasih sayang dalam keluarga.

"Ya ampun, Diaz. Kau beneran nggak tahu ada yang spesial besok?"

"Hari Ibu?"

"Astaghfirullah." Ibu Suri mengelus dada. "Ibu berharap kau jangan sama seperti ayahmu yang acuh sama hal-hal kecil tapi bagi seorang istri itu sangat berarti, sangat diinginkan. Meskipun cuma dapat ucapan dan pelukan. Itu tuh bikin hati happy."

Diaz melebarkan mata mendengar intonasi ibunya naik satu oktaf. Mendadak curhat. Berakhir bibirnya mengulum senyum. "Iya, Ibu. Besok ultah Tya. Aku baru ingat besok tanggal 22 itu tadi subuh. Alarm kalender bunyi ngasih warning Birthday Tya besok."

"Syukurlah kalau nggak lupa. Mau ngasih kado apa?"

Diaz tampak berpikir.

"Dulu Ibu punya janji sama Tya akan ngasih mobil kalau kontrak udah selesai. Tapi kalau kalian nikah, berarti ngasih mobil jadi gugur."

"Biar aku yang ngasih hadiah mobil."

"Bagus. Uangmu banyak. Jangan beli yang murah buat istri biar makin deras rejekinya."

"Siap, Bu." Diaz memberi hormat. "Ibu mau ngasih hadiah juga?"

"Pastinya. Sama menantu pilihan Ibu nggak akan pelit."

Diaz sampai mengangkat sebelah alisnya. Pengakuan yang tegas dan tajam. Tersirat makna ancaman kalau macam-macam, siap-siap berhadapan dengan Ibu.

"Ibu mau ngasih apa?"

***

Diaz meminta Jordan menemaninya ke dealer setelah mengurus pekerjaan setengah hari di kantor. Ada dua model yang ia pilih berdasarkan searching di internet dari dua dealer berbeda yang menurutnya cocok untuk Tya. Setelah melihat unitnya secara langsung, mengecek berbagai fitur dan melakukan test drive, barulah ia menjatuhkan pilihan. Membeli secara cash.

Tanggal 22 Desember pun tiba. Sejak bangun subuh, sebuah rencana sudah disusunnya bersama Ibu. Pura-pura tidak tahu dengan hari ulang tahun Tya yang seperti biasanya selalu tersesum cerah di setiap pagi, menebarkan positif vibes.

Tetapi perubahan sikap mulai terasa saat di meja makan. Tya terkadang tampak melamun saat menikmati sarapan. Terlihat kurang antusias mendengarkan obrolan. Puncaknya, sang istri pamit dengan dalih mau mengambil ponsel di kamar.

"Diaz, kata Ibu juga kasih surprise nya di meja makan. Kau malah menunda lama. Apa nggak liat dia agak lesu. Ibu jadi kasian liatnya. Pengen nyusul ke atas deh." Ibu Suri mendecak. Ide Diaz tadi malam sempat dibantahnya tapi kemudian mengalah dan menerima.

"Sabar, Bu. Towing masih di jalan. Kata Jordan kena macet. Jadinya bakal telat setengah jam. Sekarang 10 menitan lagi sampai."

"Ya udah susul Tya ke kamar gih."

"Oke. Ibu siap-siap ya."

"Iya."

Dan kini, saat telah berada di dalam kamar dan mendapati Tya murung, ia merasa bersalah telah menunda memberi ucapan selamat.

Bukti foto sebuah perayaan sederhana di masa kecil telah membuat Tya rindu akan perhatian orang tua di hari spesialnya itu. Ibu benar, harusnya surprise terjadi di meja makan. Maka momen sedih ini tidak akan terjadi.

"Kalau kau sedih gini, aku nggak akan fokus kerja. Aku nggak jadi ke kantor aja deh." Diaz mengecup kening Tya.

"Eh, jangan. Hatiku udah enakan setelah Abey peluk. Mau berangkat sekarang?"

"Iya. Temenin ke depan ya?"

"Siap, Yang Mulia. Bentar aku rapihin jilbab dulu." Tya beranjak menuju cermin rias.

Diaz tersenyum samar melihat keceriaan Tya telah kembali. Ia mengulurkan tangan begitu sang istri kembali. Meninggalkan kamar sambil menautkan jemari tanpa dilepas hingga keluar menuju teras.

Tya menghentikan langkah. Menatap papan bunga mini berjumlah dua yang terpajang di meja dan diletakkan di tengah teras. Ucapan selamat ulang tahun dari suami dan ibu mertua. Seketika bibirnya ditangkup, matanya berbinar, lalu menatap Diaz.

"Happy birthday, istriku." Diaz tersenyum lebar. Membuka kedua tangannya.

"Ih...kirain nggak tahu." Tya menghambur ke pelukan Diaz. Tertawa bahagia. Sendunya sirna seketika.

"Ibu..." Tya mengurai pelukan begitu melihat sang mertua berdiri di belakang Diaz. Beralih memeluk Ibu Suri.

"Barakallah fii umrik, Nak. Semoga usiamu membawa manfaat dan kebahagiaan." Ibu Suri mencium kening dan kedua pipi Tya penuh sayang.

"Ya Allah! Bisa-bisanya Ibu dan Abey ngasih surprise gini. Kirain nggak ada yang tau." Tya mengipasi wajahnya dengan telapak tangan. Bahagia dan haru menjadi satu.

Ibu Suri terkekeh. "Tahu dong, sayang. Disuruh Diaz tuh harus cuek dulu. Padahal dari bangun subuh udah pengen ketok pintu buat ucapin selamat."

Tya kembali tersenyum lebar. Sudah tidak perlu diragukan akan perhatian dan kasih sayang Ibu Suri.

"Kado dari Ibu. Semoga kau suka, sayang."

Tya menerima uluran kotak beludru warna hitam berbentuk kubus ukuran sedang. "Boleh dibuka sekarang, Bu?"

Ibu Suri mengangguk. Tersenyum simpul.

Tya mengedip dua kali begitu melihat isi kotak. Satu set perhiasan yang indah. Desain minimalis tanpa terkesan glamour justru terkesan elegan dan berkelas. "Masya Allah...ini indah banget. Harus bilang apa selain terima kasih, Bu. Ahh... speechless."

"Doakan saja Ibu panjang umur dalam keadaan sehat dan selalu produktif."

"Dan selalu bahagia. Aamiin ya Allah." Tambah Tya lalu mengamini dengan sungguh-sungguh.

"Yang, itu kado dari aku." Diaz merengkuh bahu Tya sambil mengarahkan pandangan pada pintu gerbang yang perlahan terbuka secara otomatis.

Tya menatap kedatangan towing yang masuk dengan cara mundur sambil membawa muatan sebuah mobil sedan berwarna hitam berhias pita warna marun. Sampai akhirnya muatan di atas towing itu berhasil diturunkan.

Lagi-lagi, Tya melihat tulisan besar di tengah-tengah pita mobil.

HBD, My Wife. I love you so much

Membuat Tya kembali memeluk Diaz. Meneteskan air mata haru.

Diaz menarik tangan Tya untuk mendekati mobil. Menerima uluran kotak dari si pengantar. Berisi kunci mobil beserta dokumen lainnya. "Ayo tes, sayang." Kunci itu diberikannya pada Tya.

"Abey aja yang nyetir. Aku jadi penumpang aja. Masih syok, Bey. Kaki berasa nggak nginjak bumi."

1
Eulis🌹🌹Mυɳҽҽყ☪️
Bau-bau nya sih beneran CEO itu pak Husein...Duch bu surii jadi janda malah tambah kinclong. Aku dukung pak Husein sm bu suri
ariyatti
kayaknya pak husain adalah seorang ceo yg menyamar jadi sopir.jadi penasaran sama kisah pak pak husain dan kelanjutan hubungannya sama ibu suri 🤭
Deshanita S
yg penting ngk ada poligami..klu dah cerita nya berbagi darah tinggi ku langsung naik 😄🤣
Rosyani Rini
pak Husein CEO kah dia
Rosyani Rini
wahhh curiga 🤣🤣🤣
Rosyani Rini
malah di pancing kata nya jangan dulu..
Ni'matul Jannah
Terimakasih up nya teh Nia..
Sehat selalu 🤲🏻
Ni'matul Jannah
Eee..ternyata..pak Husein ceo yang menyamar.
Pak Husein kan..yg sebenarnya punya pekerbunan sawit itu?
Koi rela menunggu ibu suri sampai segitunya pak?
cerita dong pak..🤭😄
Ni'matul Jannah
Waahh..ibu suri tampil paripurna.
Ada something sama pak Husein ini pasti, semoga segera bersatu ya..ibu suri dan pak Husein😁
Nur aprilia adiah
duh si ibu lagi puber kedua tuh mas..ya ampun Diaz bucin Banget deh..
Nur aprilia adiah
mungkin pak Husein CEO yg tersembunyi 😄
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!