Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Pertaruhan Hati
Suara monitor detak jantung di kamar VIP berbunyi sedikit lebih cepat, mengiringi erangan lemah dari Adrian yang berusaha mengumpulkan kesadarannya. Mata cokelat gelap sang CEO terbuka perlahan, menyapu ruangan yang temaram sebelum akhirnya terkunci pada sosok Aria yang berdiri mematung dekat sudut kamar.
"Aria... kau baik-baik saja?" suara Adrian parau dan serak, tangannya yang terpasang infus bergerak pelan mencari keberadaan Aria. "Aku... mendengar suara di ruangan ini tadi..."
Aria menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa seberat timah saat melangkah mendekati ranjang. Ia meraih tangan Adrian yang dingin dan menggenggamnya, berusaha menyembunyikan getaran hebat di seluruh tubuhnya.
"Tidak ada apa-apa, Adrian. Kau hanya bermimpi karena efek obat bius," bisik Aria lembut, memaksakan sebuah senyuman tipis meski air mata menetes di pelipisnya. "Aku di sini. Istirahatlah kembali."
Adrian menatap wajah Aria dengan tatapan penuh selidik dari balik kelopak matanya yang berat, sebelum akhirnya terlelap kembali di bawah pengaruh obat pereda nyeri.
Begitu napas Adrian kembali teratur, Aria melangkah mundur. Di atas lantai marmer, kalung berlian pemberian Adrian tergeletak dengan rantai platina yang terputus—jejak kejam yang ditinggalkan Dante Vance. Aria mengambil pecahan kalung itu, menyimpannya di dalam tas, lalu melangkah keluar dari kamar VIP.
Dua pengawal pribadi Adrian tergeletak tak sadarkan diri di dekat sofa koridor—lumpuh oleh titik tekan tanpa suara khas anak buah Black Viper.
Aria mengepalkan tangannya rapat-rapat. Peringatan Dante lima menit lalu terus bergema di dadanya bagaikan petir: Jika kau tidak turun, aku akan kembali ke kamar ini dan menyelesaikan apa yang belum selesai.
Dengan langkah mantap namun penuh kepasrahan, Aria berjalan menyusuri koridor rumah sakit, naik ke dalam lift, dan turun menuju pelataran parkir darurat di bagian belakang gedung.
Hujan gerimis membungkus area parkir yang sepi dan redup. Di bawah naungan pohon tua, sebuah SUV hitam ber-Kaca gelap terparkir dengan mesin menyala halus.
Saat Aria mendekat, pintu penumpang belakang terbuka secara otomatis.
Dante Vance duduk di dalam kabin yang dingin. Pria itu menyandarkan kepalanya, memainkan pemantik api emas di tangannya yang memancarkan pendar api kecil membakar kegelapan. Tatapan mata abu-abunya menembus gerimis, mengunci posisi Aria dengan binar kemenangan yang berbahaya.
Aria melangkah masuk dan duduk di jok kulit, membiarkan pintu tertutup rapat dan terkunci dari dalam.
"Kau tepat waktu, manis," suara Dante terdengar rendah, dalam, dan serak. Ia mematikan pemantik apinya dan menoleh penuh minat. "Kau memilih turun... untuk menyela dendamku, atau karena kau sadar kau tidak bisa lari dariku?"
"Aku datang untuk meminta jawaban dan membuat kesepakatan, Dante!" tegas Aria, mengabaikan getaran ketakutan di dadanya. Tangannya mencengkeram erat tali tasnya. "Kau terus mengancam nyawa Adrian, meretas proyeknya, dan meneror hidupku. Apa sebenarnya taruhan yang kau inginkan?!"
Dante terkekeh dingin, sebuah tawa pelan yang membuat bulu kuduk Aria berdiri. Ia memajukan tubuhnya, menopang siku di atas lutut hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.
"Taruhannya sangat sederhana, Aria," bisik Dante dengan nada suara yang amat intens. "Adrian Mahardika memiliki segala hal yang aku benci. Dia memiliki kehormatan, bisnis yang bersinar, dan sekarang... dia memiliki hatimu."
"Adrian mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanku!" sergah Aria. "Dia tidak seperti gambaran monster yang kau tuduhkan!"
"Dia melindungimu karena dia tahu kau adalah kelemahannya yang paling berharga!" bentak Dante, suara beratnya menggelegar memenuhi kabin SUV. Kilatan amarah membakar mata abu-abunya saat mendekat, jemarinya yang kasar mencengkeram rahang Aria dengan lembut namun tak terelakkan.
"Kau ingin aku berhenti menyerang Mahardika Group? Kau ingin aku membiarkan CEO kesayanganmu itu tetap hidup dan pulih?" tanya Dante dengan nada mematikan.
Aria menahan napasnya, menatap lurus ke dalam mata sang Raja Mafia. "Apa syaratmu?"
Dante menatap bibir Aria yang sedikit gemetar, lalu mengusap pipi wanita itu dengan ibu jarinya. Sentuhan kasarnya berubah menjadi kehangatan yang memabukkan dan posesif.
"Ikut denganku malam ini," ultimatum Dante keluar dari bibirnya bagaikan vonis takdir. "Tinggalkan Adrian. Tinggalkan duniamu yang aman. Jadilah milikku di dalam kegelapan. Jika kau menyetujuinya... aku berjanji tidak akan menyentuh satu sen pun dari bisnis Mahardika Group, dan aku tidak akan pernah menyentuh sehelai rambut pun di kepala Adrian."
Aria membelalakkan mata. "Kau gila, Dante... Aku tidak bisa melakukan itu pada Adrian!"
"Pilihan ada di tanganmu, Aria," bisik Dante dingin, melirik ke arah bangunan rumah sakit di balik jendela. "Satu telepon dariku ke anak buahku di atas, dan oksigen di kamar VIP itu akan terputus dalam hitungan detik. Pilih sekarang: keselamatan Adrian... atau kebebasanmu."
Aria merasakan dadanya seolah dihantam godam besar. Air mata kepasrahan menetes melewati pipinya. Di satu sisi, ada Adrian yang terbaring lemah demi menyelamatkan nyawanya; di sisi lain, ada Dante yang siap membantai seluruh dunia demi memilikinya.
Aria memejamkan mata erat-erat, menarik napas panjang yang terasa menyiksa.
"Baik..." bisik Aria pasrah, suaranya pecah oleh kepedihan. "Aku ikut denganmu... Tapi tepati janjimu, Dante. Jangan pernah sentuh Adrian lagi."
Sudut lips Dante terangkat membentuk senyuman miring yang penuh kepuasan liar. Ia menarik tubuh Aria ke dalam dekapannya yang erat dan protektif, mendaratkan ciuman mendalam di puncak kepala wanita itu.
"Perjanjian selesai, manis," bisik Dante di balik rambut Aria. "Selamat datang di duniaku."
SUV hitam itu menginjak gas dalam-dalam, meninggalkan area rumah sakit dan menghilang ke dalam kegelapan malam Jakarta yang pekat.