Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 — Pencipta yang Tidak Memiliki Wajah
Gu Chen tidak bergerak. Di hadapannya, pemuda berjubah putih masih berdiri dengan wajah tegang, sementara cermin di atas meja memperlihatkan pantulan yang tersenyum tanpa mengikuti gerakannya.
Gu Chen mengangkat tangan kanan.
Pantulan itu tidak bergerak.
Ia mengepalkan tangan.
Pantulan itu tetap tersenyum.
“Menarik,” gumam Gu Chen. “Bahkan bayanganku sendiri sekarang punya masalah kepribadian.”
“Jangan menyentuh cermin itu!” seru pemuda berjubah putih.
“Kenapa? Takut dia lebih tampan darimu?”
“Gu Chen, dengarkan aku. Apa pun yang terjadi, jangan biarkan pantulan itu keluar.”
Gu Chen melirik cermin. “Bukankah kau yang menciptakan kehidupanku? Seharusnya kau punya cara untuk menghentikannya.”
“Aku tidak menciptakan semua yang ada di ruangan ini.”
“Lalu apa gunamu?”
Pemuda itu terdiam.
“Pertanyaan yang bagus,” sela Gu Yuan dari belakang. “Aku juga ingin tahu.”
Gu Chen menoleh kepada ayahnya. “Kau bisa berhenti berdiri seperti penonton dan menjelaskan sesuatu?”
“Aku sedang berusaha memastikan kita semua tetap hidup.”
“Bagus. Setelah itu, cobalah memastikan kita semua mendapat jawaban.”
Sebelum Gu Yuan sempat membalas, pantulan di dalam cermin mengangkat tangan dan menempelkan telapak tangannya ke permukaan kaca. Retakan menjalar dari titik sentuhannya, membentuk pola menyerupai sembilan garis yang mengelilingi sebuah lingkaran kosong.
Bai yang berdiri dekat pintu mendadak jatuh berlutut.
“Jangan biarkan dia membuka lingkarannya!”
Namun, peringatan itu datang terlambat.
Permukaan cermin melengkung keluar.
Sebuah jari hitam menembus kaca.
Lalu jari kedua.
Gu Chen langsung mundur. Lin Yue mengangkat busurnya dan melepaskan anak panah, tetapi anak panah itu melewati cermin tanpa menyentuh apa pun. Saat menembus permukaan kaca, anak panah tersebut berubah menjadi debu putih.
“Serangan fisik tidak berguna!” teriak Gu Yuan.
“Terima kasih atas informasi yang sangat terlambat!” balas Gu Chen.
Ia mengamati cermin dengan cepat. Pantulan itu bukan sekadar ilusi, tetapi juga tidak sepenuhnya berada di dunia mereka. Tidak ada benang pengamat yang bisa dipotong dengan Pemutus Benang. Tidak ada hubungan pemanggilan yang dapat ia ganggu. Bahkan ketika ia mencoba merasakan keberadaan lawannya, yang muncul justru kehampaan.
Lalu Gu Chen menyadari sesuatu.
Pantulan itu tidak sedang berusaha keluar dari cermin.
Ia sedang berusaha membuat dunia di luar cermin menyerupai dunia di dalamnya.
Buktinya, meja batu mulai retak pada posisi yang sama dengan retakan di permukaan cermin. Dinding ruangan pun perlahan berubah bentuk, mengikuti bayangan yang terlihat di balik kaca.
“Lin Yue, lihat lantainya!”
Lin Yue menunduk. “Apa yang harus kulihat?”
“Perhatikan pantulan kita.”
Di lantai hitam, bayangan mereka bergerak tidak serempak. Bayangan Lin Yue sedang berlutut, padahal ia berdiri. Bayangan Gu Yuan memegangi dadanya, sementara Gu Yuan yang sebenarnya tidak mengalami luka. Bayangan Bai bahkan tidak memiliki kepala.
“Kalau pantulan itu bisa mengubah apa yang dilihatnya,” ujar Gu Chen, “maka kita tidak boleh membiarkannya menentukan apa yang dianggap nyata.”
“Bagaimana caranya?” tanya Lin Yue.
Gu Chen menatap meja batu. Di atasnya terdapat buku hitam, mangkuk kosong, dan cermin retak. Ketiga benda itu berada di posisi yang sama sejak mereka memasuki ruangan. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah: mangkuk itu selalu kosong, bahkan ketika pantulan meja di dalam cermin memperlihatkan mangkuk yang penuh dengan cairan hitam.
Gu Chen menunjuk mangkuk tersebut.
“Bai, apa yang kau ketahui tentang benda itu?”
Bai mengangkat kepala dengan susah payah. “Mangkuk Penolakan. Benda itu digunakan untuk menampung sesuatu yang tidak bisa diterima oleh dunia.”
“Seperti apa?”
“Nama yang dihapus. Ingatan yang ditolak. Keberadaan yang tidak diakui.”
Gu Chen tersenyum tipis.
“Akhirnya, ada jawaban yang berguna.”
Ia meraih mangkuk itu dan mengangkatnya ke depan cermin.
Pantulan di dalam kaca langsung berhenti bergerak.
Senyumnya menghilang.
Gu Chen memperhatikan perubahan itu. “Jadi, kau juga punya sesuatu yang tidak ingin kau tunjukkan.”
Ia membalik mangkuk tersebut.
Tidak ada yang keluar.
Namun, ketika bagian bawah mangkuk menghadap cermin, terdengar suara retakan keras. Jari hitam yang telah menembus permukaan kaca mendadak berhenti, lalu tertarik kembali ke dalam.
Pemuda berjubah putih menatap Gu Chen dengan keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan.
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku tidak tahu.” Gu Chen mengangkat bahu. “Aku hanya mencoba sesuatu yang masuk akal.”
“Benda itu tidak seharusnya bekerja.”
“Kalimat favorit kedua orang-orang yang tidak memahami situasi.”
Gu Chen meletakkan mangkuk di tengah meja, tepat di antara buku dan cermin. Permukaan kaca mulai bergetar, dan pantulan di dalamnya perlahan memudar. Namun, sebelum menghilang sepenuhnya, sosok tanpa wajah itu menempelkan satu telapak tangan ke kaca.
Lalu ia menulis tiga kata menggunakan jarinya.
KAU ADALAH AKU.
Gu Chen terdiam.
Ia pernah melihat kalimat serupa. Dalam penglihatan-penglihatan sebelumnya, seseorang terus mengatakan bahwa ia adalah kehidupan yang berbeda dari identitas pertamanya, bahwa ia bukan lagi Pemain Pertama, dan bahwa masa lalunya tidak sepenuhnya menjadi miliknya.
Namun, kali ini kalimat tersebut terasa berbeda.
Bukan karena pantulan itu mengaku sebagai dirinya.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, Gu Chen merasa pantulan itu mungkin sedang mengatakan kebenaran.
Cermin mendadak pecah.
Semua pecahannya jatuh ke atas meja, tetapi tidak satu pun mengeluarkan suara. Pada saat yang sama, pintu-pintu di sekeliling ruangan terbuka kembali.
Pemuda berjubah putih segera menutup buku hitam.
“Kita harus pergi.”
Gu Chen tidak bergerak. “Belum.”
“Tempat ini tidak aman lagi.”
“Sejak awal tempat ini tidak aman. Aku datang ke sini untuk mencari jawaban, bukan berkeliling mengikuti perintah orang-orang yang lebih tahu sedikit dariku.”
Pemuda itu menatapnya dengan wajah serius.
“Kalau kau tetap di sini, kau akan bertemu dengan orang yang menuliskan akhir hidupmu.”
Gu Chen menunjuk buku hitam.
“Kalimat tentang aku yang akan membunuh pencipta kehidupanku. Siapa yang menulisnya?”
“Aku tidak tahu.”
“Kalau begitu, siapa pencipta akhir yang disebut dalam pesan tadi?”
Pemuda itu terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Orang yang mampu menentukan hasil akhir tanpa harus mengendalikan setiap langkah yang membawamu ke sana.”
Gu Chen mengerutkan kening. “Seorang pemain?”
“Tidak. Para pemain mengubah aturan agar hasil yang mereka inginkan menjadi lebih mungkin. Pencipta akhir tidak perlu mengubah aturan. Ia hanya memastikan bahwa apa pun pilihanmu, jalan menuju hasil tersebut tetap terbuka.”
Gu Chen mencerna penjelasan itu. Jika benar, maka musuh yang mereka hadapi bukan sekadar seseorang yang dapat mengubah sejarah atau menghapus nama. Ia adalah seseorang yang mungkin telah mengatur pilihan-pilihan mereka sejak awal.
“Dan kau tidak bisa menghentikannya?”
“Aku sudah mencoba.”
“Apa yang terjadi?”
Pemuda berjubah putih menunduk.
“Aku kehilangan namaku.”
Ruangan menjadi sunyi.
Gu Chen memperhatikannya dengan saksama. “Kau mengatakan bahwa kau menciptakan kehidupanku, tetapi tidak memiliki nama. Kau tidak tahu siapa yang menuliskan akhir hidupku. Kau juga tidak bisa menghentikannya. Bukankah itu berarti kau sama terjebaknya denganku?”
Pemuda itu mengangkat wajah.
“Ya.”
Jawaban sederhana itu membuat Gu Chen kehilangan kata-kata selama beberapa detik.
Ia telah terbiasa menghadapi orang-orang yang menyembunyikan sesuatu di balik ancaman, teka-teki, atau kebohongan. Namun, pemuda ini justru mengakui kelemahannya tanpa berusaha membenarkannya.
“Kalau begitu,” kata Gu Chen akhirnya, “aku punya satu pertanyaan lagi.”
“Tanyakan.”
“Kenapa kau menciptakan kehidupanku?”
Pemuda itu memandang buku hitam yang tertutup di tangannya.
“Karena aku ingin memperbaiki kesalahan.”
“Kesalahan apa?”
“Kesalahan membiarkanmu mati.”
Gu Chen merasakan dadanya menegang.
Pemuda itu melanjutkan, “Aku menemukanmu ketika semua catatan tentang dirimu telah dihapus. Para pemain menganggapmu telah lenyap, sementara orang yang membunuhmu percaya bahwa pekerjaannya telah selesai. Tetapi sesuatu darimu masih tersisa. Bukan tubuh, bukan ingatan, dan bukan pula nama.”
“Lalu apa?”
“Keinginan untuk memilih.”
Gu Chen menatapnya tanpa berkedip.
“Aku tidak tahu bagaimana sesuatu yang tidak memiliki nama bisa tetap ada,” lanjut pemuda itu. “Namun, aku menemukan sisa kehendakmu di tempat yang bahkan para pemain tidak bisa masuki. Aku membawanya kembali, memberinya kehidupan, dan berharap kali ini kau dapat menentukan nasibmu sendiri.”
“Lalu kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?”
“Karena aku takut kau akan mencari orang yang membunuhmu sebelum kau sempat menjalani kehidupan yang baru.”
Gu Chen tertawa pendek.
“Dan sekarang aku justru sedang mencarinya.”
“Ya.”
“Rencana yang luar biasa.”
“Aku tahu.”
Gu Chen mengusap wajahnya. Ia tidak tahu apakah harus marah atau merasa kasihan. Pemuda di hadapannya mungkin telah menyelamatkannya, tetapi ia juga telah menyembunyikan kebenaran yang seharusnya menjadi haknya.
Sebelum Gu Chen sempat melanjutkan pertanyaan, buku hitam di tangan pemuda itu bergerak sendiri.
Sampulnya terbuka.
Halaman pertama yang sebelumnya kosong kini dipenuhi tulisan merah.
\[PENCIPTA KEHIDUPAN: TIDAK MEMILIKI NAMA.\]
\[PENCIPTA IDENTITAS: TIDAK DIKENALI.\]
\[PENCIPTA AKHIR: TERDETEKSI.\]
Lalu muncul satu kalimat baru.
\[SUBJEK GU CHEN TELAH MENEMUKAN PENCIPTA KEHIDUPANNYA.\]
\[FASE KEDUA: SELESAI.\]
Gu Yuan langsung menegang.
“Tidak mungkin.”
Gu Chen menoleh. “Apa lagi sekarang?”
Gu Yuan menatap tulisan tersebut dengan wajah yang sulit dijelaskan.
“Fase kedua seharusnya tidak berakhir di sini.”
“Kenapa?”
“Karena masih ada seseorang yang belum ditemukan.”
“Siapa?”
Gu Yuan tidak segera menjawab. Ia menatap pemuda berjubah putih, kemudian buku hitam, lalu Gu Chen.
“Ayahmu yang lain.”
Gu Chen terdiam.
“Apa maksudmu?”
Gu Yuan mengembuskan napas perlahan.
“Orang yang menciptakan kehidupanmu bukanlah orang yang menciptakan identitas pertamamu. Kau sudah mengetahui itu. Namun, ada satu hal yang belum kau pahami: identitas pertamamu tidak muncul dengan sendirinya. Seseorang memberinya nama sebelum para pemain mencoba menghapusnya.”
Gu Chen menatap pemuda berjubah putih.
Pemuda itu tidak menyangkal perkataan Gu Yuan.
“Siapa orangnya?” tanya Gu Chen.
Gu Yuan menatapnya dengan mata yang dipenuhi penyesalan.
“Orang yang kau sebut ayah sebelum kau mengenal nama Gu Yuan.”
Seketika, semua suara menghilang.
Gu Chen tidak bergerak. Ia mengingat ayah yang membesarkannya di Desa Qingyuan, lelaki yang mengajarinya bertahan hidup, yang memberinya nama, dan yang kematiannya menjadi awal dari seluruh perjalanan ini.
Namun, Gu Yuan telah mengatakan bahwa ia bukan pencipta identitas pertamanya.
Lalu siapa yang pernah dipanggil ayah oleh dirinya sebelum kehidupan sekarang dimulai?
Pemuda berjubah putih menutup buku hitam dengan perlahan.
“Sekarang kau mengerti kenapa aku tidak ingin kau menemukan semua jawaban sekaligus.”
Gu Chen menatapnya dingin.
“Tidak. Aku hanya mengerti bahwa kalian semua sangat pandai menyembunyikan sesuatu.”
Ia berbalik menuju pintu.
“Kita akan menemukan orang itu.”
“Gu Chen,” panggil Gu Yuan.
Gu Chen berhenti, tetapi tidak menoleh.
“Kalau kau menemukannya, jangan langsung percaya kepadanya.”
Gu Chen tersenyum tipis.
“Jangan khawatir. Aku sudah berhenti memercayai orang sejak lama.”
Ia melangkah keluar bersama Lin Yue dan Bai. Gu Yuan menyusul setelah menatap pemuda berjubah putih untuk terakhir kalinya.
Ketika mereka semua telah pergi, pemuda itu kembali duduk di kursinya. Ia membuka buku hitam dan menatap halaman terakhir yang sebelumnya tidak memiliki tulisan.
Kini, di sana terdapat sebuah gambar.
Seorang lelaki berambut panjang berdiri di tengah ruangan putih. Wajahnya tidak terlihat, tetapi di tangannya tergenggam sebuah lonceng hitam.
Di bawah gambar itu tertulis:
PENCIPTA IDENTITAS PERTAMA: GU YUAN.
Pemuda berjubah putih menatap tulisan tersebut dengan wajah pucat.
Lalu ia membalik halaman itu.
Di sisi belakangnya terdapat satu kalimat yang tidak pernah ia tulis.
GU YUAN BUKAN NAMA PERTAMAMU.
Untuk pertama kalinya setelah waktu yang begitu lama, pemuda tanpa nama itu gemetar.
Karena ia akhirnya menyadari sesuatu.
Ia tidak pernah menciptakan kehidupan Gu Chen.
Ia hanya mengulangi tindakan yang pernah dilakukan seseorang kepadanya.
Dan orang yang memulai seluruh lingkaran itu mungkin masih hidup, menunggu di suatu tempat yang tidak pernah tercatat dalam sejarah.
Bersambung ke Bab 28 — Ayah Sebelum Nama Gu Chen