Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan ke Kantor
Ke mana pun Dayu pergi, ia selalu dikawal oleh tim Dharma. Meskipun itu hanya di lingkungan sekolah.
Dayu yang merasa kurang nyaman akhirnya protes. “Biar apa sih, Pa?”
“Ada rival bisnis papa yang ngincar kamu, Dayu. Sementara ini kamu cuma boleh keluar rumah untuk sekolah, selebihnya di rumah saja. Kan di rumah sudah ada Melisa, kamu tidak kesepian lagi. Sekalian kalian bisa diskusi make up, outfit, dan urusan lainnya.”
“Ish, bisnis cuma resto aja ribetnya minta ampun.” Dayu menghabiskan sarapan di piringnya lalu segera Bersiap pergi ke sekolah.
Melisa yang sejak tadi hanya menyimak percakapan anak dan ayah itu hanya bisa tersenyum.
Begitu Dayu pergi, Dharma menanyai Melisa. “Apa kamu paham aplikasi perkantoran, Mel?”
“Kalau hanya basic aku bisa. Kalau harus membuat laporan dan dokumen lain yang rumit sepertinya aku perlu banyak belajar dulu.”
Dharma mengangguk. “Nanti ikut aku ke kantor pusat sebentar ya. Lihat-lihat dulu apa yang bisa coba kamu kerjakan di sana.”
Dharma mengatakan itu dengan santai, Melisa yang terkejut mendengar ide itu sampai tersedak. Ia minum banyak-banyak untuk meredakan batuknya. “Aku disuruh kerja di kantor Pak Dharma gitu?”
“Iya, rencananya kamu aku rekrut jadi sekertarisku. Kalau bisa.”
“Wah, kayaknya seru tuh.”
“Kan.” Dharma tersenyum bangga. “Nanti pakai baju yang bagus. Biar first impression karyawan lain di sana bagus.”
Melisa mengangguk. Ia senang sekali, baru kemarin ia belanja baju-baju bagus dan berpikir kapan semua baju ini akan dipakai. Sepertinya akan berlebihan kalau berpakaian seperti itu di rumah saja. Ide dari Dharma ini menjadi angin segar baginya, selain bisa belajar hal baru di sana nanti, ia juga bisa coba memakai baju-baju mahal yang kemarin sudah ia bawa pulang.
...
Pakaian yang baru Melisa beli tergantung cantik dalam lemari pakaian Dharma. Lemari pakaian itu terlihat lengkap sekarang, bagian kosongnya tidak hanya dihuni angin.
“Pak Dharma pakai baju apa? Biar aku cocokkan dengan outfitku. Gimana?”
Wajah Melisa begit berseri saat menanyakan itu. Ia bingung memakai baju yang mana karena semua pakaian itu masih baru dan bagus.
“Terserah kamu saja.”
“Pak Dharma pakai kemeja navy saja ya? Mm terus bawahannya milk cream yang ini.” Melisa mengangkat setelan baju yang dipilihnya untuk ditunjukkan kepada Dharma.
Dharma setuju.
“Yess,” pekiknya girang.
“Berarti aku pakai yang mana ya? Ini atau ini?” Melisa bergumam sendiri.
Dharma mengangkat bahunya sambil menggeleng dan tersenyum. Lalu pergi ke kamar mandi untuk bersiap. Di dalam kamar mandi ia juga heboh membersihkan dirinya, membersihkan giginya dua kali, sampai mencukur rambut-rambut halus di sekitar dagunya.
Selesai mandi ia keluar.
Di ranjangnya ada bebapa baju perempuan yang dibentangkan merata.pemiliknya sedang sibuk berdiri di depan cermin mencoba baju itu satu per satu sambil menenteng setelan jas milik Dharma untuk dipadukan.
“Yang ini cocok ga sih, Pak Dharma? Menurutku sih cocok, tapi aku lagi tidak ingin pakai baju yang ini,” rengeknya.
Dharma pikir ia sudah cukup lama di kamar mandi tadi. Ternyata Melisa malah belum selesai menentukan baju mana yang akan ia pakai.
“Kamu pakai baju yang ini saja. Bagus.” Dharma asal menunjuk salah satu baju yang tergeletak di ranjangnya.
“Oke,” sahut Melisa cepat. Lalu ia segera menghilang di balik pintu kamar mandi bersama pakaian itu.
Dharma melongo heran. Semudah itu Melisa setuju pada baju yang ia tunjuk, padahal sejak tadi heboh melompat ke sana ke mari mencoba semua baju dan tidak kunjung bisa memutuskan.
...
Melisa memakai heels yang cukup tinggi. Ia merasa sudah bisa mengendalikan sepatu itu dan menyeimbangkan kakinya.
Di kantor, setiap orang yang mereka lalui menyapa dengan sopan. Bahkan Melisa bisa mendengar pujian dari mulut-mulut mereka. Ia tersanjung.
“Pagi, Pak Dharma,” sapa mereka.
Dharma membalasnya singkat, kadang juga hanya tersenyum sambil mengangguk.
“Wah, aura ketampanannya makin naik ke level tak terhingga nih kalau udah mode begini,” gumam Melisa kagum.
Sampai saat ia hampir mencapai ruangan Dharma, seseorang menghalangi langkah mereka.
“Pagi, Pak Dharma. Apa ini calon sekertaris baru yang bapak bilang kemarin?”
Dari pertanyaannya, Melisa menduga perempuan itu adalah sekertaris Dharma yang sekarang. Pakaiannya begitu sexy, dari atas sampai ke bawah menyatu sempurna dengan lekukan tubuh yang proporsional itu. Rambutnya di kucir rapi ke atas, menyisakan helaian-helaian yang kecil yang melambai indah menghiasi wajah. Melisa yang perempuan saja sampai menelan ludah melihat kesempurnaan itu.
“Iya, rencananya.”
“Kalau begitu mari ikut saya dulu, saya kenalkan ke teman-teman yang lain.”
Perempuan itu menggandeng tangan Melisa menjauhi Dharma, padahal belum mendapat persetujuan siapa pun.
Melisa menoleh pada Dharma meminta pertolongan. Ia kesulitan menyesuaikan dirinya dengan langkah kaki perempuan itu. Ia baru beberapa hari belajar berjalan dengan sepatu heels setinggi ini.
Dua orang itu berbelok ke ruangan lain. Melisa beberapa kali seperti hampir terjatuh.
“Hai, teman-teman. Kenalin, ini calon sekertaris baru Pak Dharma ya. Mohon kerja samanya.” Ia memberi pengumuman pada seluruh penghuni ruang.
Lalu menjabat tangan Melisa dan mengenalkan diri “Aku Manohara. Silakan perkenalkan diri kamu, aku mau lihat.”
Tatapan senioritasnya begitu mencekam. Melisa yang belum pernah punya pengalaman seperti ini jadi canggung, ia takut melakukan kesalahan yang memalukan.
Baru saja ia membuka mulutnya untuk memperkenalkan diri, Dharma sampai di ruangan itu dan menyelamatkannya.
“Tidak hari ini, Mano. Ada tugas lain untuknya. Lain kali aku sendiri yang akan mengenalkannya pada kalian.”
Dharma lalu membawa Melisa pergi dari ruangan itu. Melisa lega sekali, tatapan semua orang di sana sekaan mau mengulitinya hidup-hidup.