NovelToon NovelToon
SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.

Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.

Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.

Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.

Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.

Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.

Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUAMIKU MENIKAHI ADIKKU.

‘Akhirnya, pekerjaanku sudah selesai. Tinggal mengajukan resign.’

Dirinya sudah berjanji pada Zevan, jika pekerjaannya sudah selesai, dan proyek telah disetujui oleh klien.

Ia akan menjadi istri sepenuhnya. Tak ada halangan, apalagi urusan pekerjaan.

Senyum tipis terukir di bibirnya. Satu tangannya tetap menggenggam kemudi, sementara tangan yang lain meraih ponsel di atas dasbor. Sesekali matanya melirik layar sebelum kembali memperhatikan jalanan di hadapannya.

“Aku hubungi Mas Zevan dulu apa ya?” gumamnya.

Lalu ia membuka daftar kontak, lalu mencari nama kontak suaminya.

Mas Zevan.

Tanpa ragu, ia menekan tombol panggil.

Nada dering masih tersambung beberapa kali. Namun setelah menunggu beberapa lama sambungan telepon mati.

Bukan di matikan tapi karena tak berdering.

Raya kembali menghubungi suaminya, berharap sambungan teleponnya kali ini di angkat.

Namun, beberapa saat kemudian sambungan telepon pun mati.

Raya menatap layar ponselnya lalu kembali menatap ke arah jalanan.

“Mas Zevan kemana ya? Kok nggak di angkat? Apa sibuk ya dia?”

Tak ada jawaban.

Hingga suasana di dalam mobil pun hening, hanya ada suara deru mobil dari kendaraan yang berlalu lalang.

“Aku telepon Rara saja ya, siapa tahu di angkat.”

Raya membuka kembali daftar kontak, lalu mencari nama adiknya.

Rara.

Tanpa ragu, ia menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar beberapa kali. Namun setelah beberapa saat, tidak ada jawaban.

Raya mengernyitkan kening. Ia menatap layar ponselnya sejenak.

“Aneh. Rara juga nggak di angkat, ke mana to anak itu? Mosok to dia ke kampus hari ini?Bukannya hari ini Sabtu, dia seharus libur kuliah.”

Raya kembali mencoba menghubungi Rara sekali lagi.

Namun beberapa saat kemudian, hanya suara operator yang terdengar.

Raya menghela napas. Lalu kembali meletakkan ponselnya kembali ke dasbor mobil.

“Apa jangan-jangan, Rara masih tidur?”

Sudut bibir Raya kembali terangkat.

“Rara kebiasaan kalau sudah hari weekend.”

Ia kemudian menambah laju mobilnya melintasi jalanan kota yang kini tengah ramai di penuhi kendaraan yang berlalu lalang.

Jemarinya mengetuk kemudi perlahan.

. . .

Tak butuh waktu lama. Mobil yang dikendarai Raya mulai memperlambat lajunya ketika memasuki kompleks perumahan.

Beberapa saat kemudian, Raya membelokkan mobil menuju halaman rumahnya.

Namun, baru saja memasuki halaman, langkah pikirannya seolah terhenti. Kening Raya mengernyit ketika melihat dua mobil yang tidak asing terparkir di halaman rumah.

“Aneh, kenapa mertua ada di rumahku?” gumamnya. “Ada apa, ya.”

Tangannya seketika terangkat, menyentuh dadanya yang kini mulai timbul rasa aneh.

“Perasaanku nggak enak banget,” ucap Raya.

Mobil pun akhirnya berhenti sedikit jauh. Raya melepaskan sabuk pengaman, mengambil tasnya lalu turun dari mobil.

Ia melangkah menuju dalam rumahnya, dengan membawa perasaan yang tidak enak.

Hingga jaraknya semakin dekat dengan pintu masuk.

Suara-suara dari dalam rumah semakin jelas terdengar. Namun tak mampu ia tangkap dengan jelas.

Langkahnya pun seketika berhenti tepat di depan pintu saat ia hendak masuk.

“Saya terima nikahnya Rara Wulandari binti Lukman dengan mahar tersebut, tunai.”

Jantung Raya seakan berhenti berdetak. “A-apa tadi?”

“Bagaimana para saksi?”

Beberapa detik terasa begitu panjang.

“Sah!”

“Alhamdulillah.”

Suara ucapan syukur dan tepuk tangan kecil terdengar dari dalam ruangan.

Raya menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, sementara kedua kakinya seolah kehilangan tenaga.

“Sah? Siapa yang nikah?”

Ia mencoba kembali melangkah masuk ke dalam dengan langkah yang ragu.

Kemudian langkah berikutnya. Kakinya terasa semakin berat, tetapi Raya tetap memaksa dirinya masuk ke dalam rumah.

Akhirnya, Langkah Raya terhenti beberapa meter dari pintu.

Ia mendapati punggung-punggung beberapa orang yang membelakanginya. Hingga pandangannya berhenti pada sepasang mempelai pengantin yang duduk di hadapannya penghulu.

“Siapa yang menikah?” tanya Raya masih bersuara dengan tenang.

Dan berhasil membuat semua orang menoleh ke arahnya.

“Raya?”

Pandangan Raya beralih menatap ke arah suara yang terdengar terkejut.

Bu Rodiah, Ibunya.

“Bu… Ibu ada di sini?”

Bahkan ekspresi terkejut wanita paruh baya itu masih terlihat jelas. Raya tak memperdulikan ekspresi sang ibu.

Namun saat Raya ingin bicara…

Pandangannya tak sengaja melihat ke arah Zevan yang duduk dengan pakaian paling mencolok.

Raya melangkah mendekat. Senyumnya terbit.

Lalu ia memeluk Zevan, untuk melepaskan rasa rindunya setelah dua bulan ia berada di luar kota untuk mengurus pekerjaan.

“Mas, aku kangen banget.”

“K-kamu kenapa pulang nggak bilang, Mas. Ray?” tanya Zevan, nadanya sedikit terbata.

Raya melepaskan pelukannya, menatap Zevan.

“Aku sudah menghubungi Rara, Mas,“Jawab Raya. “Tapi nggak di angkat, dan nomor kamu juga nggak aktif.”

Pandangan Raya lalu menatap ke arah wajah-wajah yang tampak menunjukkan ketegangan.

Hingga pandangannya terhenti pada meja prasmanan yang tertata rapi di meja.

“Ada acara apa, ya?” tanya Raya penasaran.

“R-raya…”

“Kenapa Mas pakai baju pengantin?” tanya Raya saat ia sadar.

Baju pengantin yang pernah di pakai Zevan saat mereka menikah. Kini di pakai kembali, entah untuk acara apa.

Beberapa menit ia menunggu jawaban dari pria di hadapannya, tapi ia tak kunjung mendapati jawaban. Hanya tatapan lesu yang ia lihat.

Namun ia sadar akan sesuatu.

Sosok wanita yang masih duduk dengan pakaian pengantin yang terasa familiar.

Raya perlahan berjalan mendekat, tatapannya tak beralih sedikitpun dari wanita yang sejak tadi diam.

“I-inikan baju pengantinku,” tunjuk Raya. “Kenapa kamu memakainya?”

Beberapa detik kemudian, wanita yang memakai baju pengantinnya menoleh.

“Mbak Raya…”

Raya terdiam. Tatapannya berusaha mengenali wanita itu.

Deg.

Jemari Raya yang masih mencengkeram tali tas perlahan mengendur. Tas itu terlepas begitu saja dan jatuh ke lantai.

Bruk.

“R-rara… Kamu…”

Raya melangkah mundur ke belakang. Kakinya terasa lemas seakan tak memiliki penyangga.

“Kamu kenapa pakai baju pengantinku, Ra?”

Beberapa detik kemudian, Raya tak mendapati jawaban dari sang adik.

Hingga pandangannya kemudian berkeliling, kembali menatap para orang-orang di ruang tamu. Dan tak lama ia sadar, jika orang-orang itu adalah mertuanya, ibu kandungnya sendiri dan juga beberapa orang asing.

Hingga pandangannya kembali menatap ke arah Zevan.

“Mas…” panggil Raya dengan suara gemetar. “K-kamu menikah lagi, Mas?”

“Raya, tenang dulu ya...” suara ibunya terdengar pelan dari belakangnya.

Raya menoleh. “Diam, Bu! Aku ingin Mas Zevan menjawab!”

Lalu ia kembali menatap suaminya. “Ayo, Mas. Jawab, kamu menikah lagi sama adikku?”

Hingga akhirnya Zevan mengangguk. “Iya, Ray.”

Pandangannya perlahan mulai terhalang oleh air matanya yang memumpuk di pelupuk matanya.

Raya menghela napas, pandangannya lalu beralih ke arah lain berusaha untuk tidak keluar begitu saja.

“Enggak mungkin… kalian pasti sudah tahu kalau hari ini aku akan pulang, dan kalian ingin membuatkan aku kejutan, kan?” tanya Raya. “Makanya kalian buat acara begini biar aku kesal.”

Raya mengangguk. “I'ts oke… Aku terkejut sekarang, jadi sekarang bubar ya.”

“Kami beneran menikah, Raya.”

Ekspresi Raya seketika berubah, senyumnya yang sejak tadi ia tunjukkan akhirnya layu. Tatapannya menelisik ke arah tatapan Zevan, guna mencari kebohongan di matanya.

Namun sekian lama ia mencari kebohongan itu. Ia tak dapat menemukannya.

“Ini nggak benar, kan?” tanya Raya, meminta kepastian yang jelas dari suaminya. “Tatap aku bila ini ucapanmu sungguhan, Mas Zevan.”

Tak lama, tampak Zevan mengangkat pandangannya ke arahnya.

Bahu Raya seketika turun.

“Heh…” ia tertawa lepas namun pandangannya tertuju pada Rara yang masih duduk diam di hadapan penghulu.

“Raya.”

Raya tak menyahut panggilan dari Zevan, suaminya. Justru ingatannya kembali pada saat ia membawa Rara untuk tinggal di rumahnya.

Namun tak di sangka…

Keputusannya untuk membawa Rara masuk ke dalam kehidupan rumahtangganya, ternyata telah menjadi maut untuk pernikahannya.

Bahkan sekarang… Adik yang selalu ia perjuangkan, ia lindungi, bahkan ia sampai mengalah soal pendidikan.

Mata Raya terpejam. Sembari merasakan dadanya yang terasa sesak dan perih dirasa.

1
Adinda
lanjut thor
Adinda
benalu banget punya suami dan keluarga seperti ini lebih baik tendang raya
Adinda
lebih baik cerai udah penghianat mokondo pula🤣🤣🤣
ary daramita
lanjut thor
Tining Revi
ceritanya bagus. makin seru.
ary daramita
good job. tinggal jual aja tu rumah biar nanti mereka jadi gembel
Arieee
mantap 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
sunaryati jarum
Memang benalu raksasa bukan hanya lintah,kenapa tersinggung
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 mampus kalian, Zevan nanti setelah di cerai Raya langsung kalang kabut cara menutupi kebutuhan rumah tangga, karena gajinya ,dipotong pinjaman dan angsuran mobil.Diusir dari rumah Raya.Komplit , tahunya Rara hanya minta
lelih aliah
Maaf Aotor,dalam ajaran agama Islam ,adik kakak kandung tidak diperbolehkan untuk dinikahi ,kecuali kalau sudah bercerai
sunaryati jarum
Astaghfirullah suami,adik, mertua dan ibu dagjal.Setelah itu proses pasal pencurian dan perzinahan Raya.
sunaryati jarum
Segera usir mereka.Raya .emak saja enak akan kelakuan mereka.Emak cicin yang dicuri mertuamu harus dilaporkan ke pihak hukum,biar tahu rasa.
sunaryati jarum
Nah gitu Raya,pasti dengan adanya bukti dan kuasa Pak Kansa proses cerai lancar dan semua hak milikmu kembali.Biarkan adikmu yang tidak tahu terimakasih ,suami ,ibumu dan mertuaku gigit jari.Atas pencurian cincin agar diproses sesuai hukum pasal pencurian
Iffanaya 😽
pengen rasanya maki² si Rara, adek gk ada akhlak gk tau diri 👊
Iffanaya 😽
buang aja semua parasit yg ada di rumah mu itu raya 🤪
sunaryati jarum
Disakiti begitu dalam kok melunak,melunak otakmu yang dangkal itu Zevan .Dapat surat cerai dan diusir baru tahu rasa
sunaryati jarum
Untuk tujuh bulanan sampai nyuri warisan,anakmu cacat baru tahu rasa,trus rahim diangkat.
Eneng Farida
suami dan adik tqk thu diri pengen d jorokin ke jurang jdinya d telqn bumi udah rya tinggalin pak kanza bakalan membantu untuk lepas sm 2 dua benalu
sunaryati jarum
Lelaki monokondo kok hamili, adik,suami dan mertua sama tidak tahu malu.Sudah terlalu lama memendam luka,usir saja mereka ,toh itu rumahmu.Walaupun serupiah jangan dikasih
sunaryati jarum
Percaya saja terus sama Rara, setelah miskin,dipecat baru nyesel.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!