NovelToon NovelToon
Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / Berbaikan / Single Mom / Tamat
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: marilu@123

Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.

Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.

Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.

Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.

Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.

Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketahuan

Sudut Pandang Rebecca

Aku baik-baik saja. Sungguh. Duduk di meja. Mengobrol dengan Clarice. Ia orang yang menyenangkan. Ringan. Lucu.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku tiba di sini… aku merasa santai. Nyaris bahagia. Tertawa. Bicara. Tanpa berpikir. Tanpa cemas.

Sampai dia muncul. Dante.

Reaksinya otomatis. Tubuhku bereaksi sebelum pikiranku sempat. Aku berdiri.

"Permisi."

Lalu pergi. Seperti pengecut.

Aku menaiki tangga cepat-cepat. Jantungku berdebar keras. Konyol. Benar-benar konyol.

Aku masuk kamar. Menutup pintu. Bersandar padanya. Menarik napas dalam.

"Apa masalahmu, Rebecca?" gumamku sambil mengusap wajah.

Aku tidak marah padanya. Tidak sungguh-sungguh. Aku sedang kabur. Tapi bukan darinya. Melainkan dari diriku sendiri.

Karena setiap kali ia mendekat… aku tak memikirkan perdebatan kami. Pertengkaran. Sifatnya yang suka mengatur. Tidak. Aku memikirkan menciumnya.

Dan itu… membuatku benar-benar kehilangan kendali.

Aku mengembuskan napas berat. Lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur. Menatap langit-langit. Berusaha mengabaikannya. Berusaha berpura-pura itu tak ada.

Tapi itu ada. Dan kuat. Terlalu kuat.

Pintu terbuka. Tanpa mengetuk.

"Tante?"

Heitor. Tentu saja.

Ia masuk. Menutup pintu. Dan tanpa berkata apa-apa… menjatuhkan diri di sampingku di tempat tidur.

Aku diam. Tahu ia takkan beranjak dari situ tanpa jawaban.

"Ada apa?" tanyanya. Tenang. Seperti biasa.

"Nggak ada," jawabku terlalu cepat.

Ia menoleh padaku. "Nggak kelihatan begitu."

Aku menghela napas. "Tak apa-apa, Heitor. Aku cuma… ingin sendiri sebentar."

Ia menatapku. Beberapa detik. Dalam diam. Menganalisis. Selalu menganalisis.

"Lalu kenapa kau tak memaafkan Dante?"

Pertanyaan itu menghantamku lengah. Aku menoleh padanya. "Aku sudah memaafkannya," jawabku. Tulus.

Ia mengernyit sedikit. "Lalu kenapa kau kabur darinya?"

Aku membuka mulut. Lalu menutupnya. Seketika. Sial. Apa yang harus kukatakan? "Karena aku ingin mencium ayah kalian"? Tentu saja tidak.

Kurasakan wajahku memanas. Aku terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Tak tahu bagaimana keluar dari situasi ini.

Heitor perlahan duduk di tempat tidur. Menghadapku. Menatapku. Lekat.

Dan lalu… ia tersenyum. Senyum kecil. Tapi penuh pengertian.

Jantungku melonjak.

"Jangan…" gumamku.

Tapi ia sudah tahu.

"Kau suka dia, kan?"

Kalimat itu datang. Sederhana. Langsung. Mematikan.

"Tidak!" jawabku cepat. Terlalu cepat. "Aku tak suka dia. Aku benci dia."

Heitor mengangkat sebelah alis. Jelas tak percaya. "Nggak usah bohong," katanya. Santai. "Aku sudah tahu. Kau menginginkan ayahku."

Wajahku terbakar. Seketika. "HEITOR!"

Ia tertawa pelan. "Aku salah?"

"Iya! Sepenuhnya salah!" aku tergagap. Bahkan tak sanggup merangkai satu kalimat pun dengan benar. "Aku tidak—"

"Tante." Ia memotongku. Masih dengan senyum jahil itu. "Sudah jelas banget."

Aku tak bisa berbuat apa-apa. Benar-benar ketahuan. Benar-benar tanpa pertahanan.

"Kau kabur dari dia. Gugup. Bahkan tak bisa memandangnya dengan benar." Ia mengangkat bahu. "Klasik."

"Bukan begitu!" aku mencoba lagi. Tapi suaraku sudah tak bertenaga sama sekali.

Ia berdiri. Tenang. Seolah baru saja menyelesaikan sebuah masalah sederhana.

"Santai aja," katanya. "Aku yang akan urus."

Mataku membelalak. "TIDAK!"

Ia mengedipkan mata padaku. "Percaya sama aku."

"HEITOR!"

Aku langsung bangkit. Tapi ia sudah di ambang pintu.

"JANGAN IKUT CAMPUR!" teriakku.

Tapi ia membuka pintu. Dan pergi. Seolah tak mendengar apa pun.

Aku berdiri terpaku di tengah kamar. Terpana.

"Aku akan bunuh dia," gumamku sambil mengusap wajah.

Tapi jauh di dalam… aku tahu. Masalahnya bukan Heitor. Melainkan kenyataan bahwa… ia benar.

Dan sekarang… aku tak bisa lagi mengelaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!