NovelToon NovelToon
Di Bawah Kendali Asisten Suami

Di Bawah Kendali Asisten Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.

‎‎Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.

‎Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
‎

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

‎Langit di atas pantai itu berubah jingga keunguan, cahayanya membasahi setiap butir pasir dengan warna hangat. Ombak masih berdebu perlahan di kaki mereka. Alina dan Revan berjalan pelan ke sisi mobil merah yang terparkir di atas pasir, napas mereka masih sedikit terengah habis berlari‑larian tadi.

‎‎Revan membukakan pintu penumpang depan untuk Alina, tangannya menahan bingkai pintu dengan lembut.

‎‎"Masuk. Aku antar pulang," ucapnya pelan.

‎‎Alina tersenyum kecil, hendak masuk. Namun geraknya tertahan saat terdengar bunyi dering nyaring dari dalam tasnya yang tergeletak di jok.

‎Drrrt… Drrrt…

‎‎Alina buru‑buru meraih tas itu. "Sebentar…"

‎‎Tali tas tersangkut di tuas rem tangan. Ia menariknya cepat dan tas itupun jatuh terbalik. Isinya tumpah berhamburan ke pasir. Lip‑balm, tisu, dompet kecil… dan ponsel yang layarnya menyala terang, menampilkan nama RAFAEL.

‎‎Alina langsung berjongkok dengan panik. "Ah, ponselku—"

‎‎"Biar aku."

‎‎Revan sudah lebih dulu berjongkok. Tapi tatapannya tidak tertuju ke ponsel yang terus memanggil itu. Matanya terkunci pada sebuah kotak kecil putih‑perak yang ikut terlempar dan menggelinding, berhenti tepat di depan lututnya. Di atasnya tertulis jelas: Postinor‑2 Levonorgestrel 1,5 mg – Untuk Kontrasepsi Darurat. Satu blister di dalamnya sudah kosong.

‎‎Keheningan sore yang tadi tenang tiba‑tiba terasa berat sekali. Hanya ada deru ombak dan bunyi dering ponsel Rafael yang tak berhenti.

‎‎Revan mengambil kotak itu pelan, lalu membaliknya untuk membaca tulisan kecil di bagian belakang.

‎‎Alina membeku di tempat. Wajahnya yang tadi kemerahan terkena sinar matahari sore, kini berubah pucat.

‎‎"Revan… itu…"

‎‎Revan mengangkat wajahnya perlahan. Matanya menatap Alina, bukan dengan amarah, tapi dengan campuran khawatir, rasa bersalah, dan ketakutan yang mendalam.

‎‎"Kapan?" suaranya rendah, hampir tertelan angin laut. "Alina… kamu minum ini kapan?"

‎‎"Revan… aku bisa jelaskan…"

‎‎"Kamu melakukannya dengan Rafael?" ‎potong Revan lebih dulu, suaranya rendah dan tegang.

‎‎Alina menggeleng dengan cepat, matanya berkaca‑kaca. "Tidak. Sudah lama kami tidak melakukannya."

‎‎Revan menatap kotak kecil di tangannya, lalu kembali menatap wajah Alina. "Kalau begitu… kenapa kamu meminum ini?"

‎‎Alina tidak langsung menjawab, tenggorokannya tercekat. Dering ponsel masih bergetar di atas pasir, tapi suaranya seolah makin menjauh, terhanyut bersama angin laut.

‎‎"Revan… aku bisa jelaskan…" bisiknya lagi, suaranya hampir pecah.

‎‎Revan masih memegang kotak itu, jari‑jarinya gemetar sedikit. Ia menatap blister kosong di dalamnya sekali lagi, satu tempat yang sudah tidak ada obatnya. Artinya sudah diminum.

‎‎"Alina," ucap Revan, kali ini lebih pelan, bukan menuntut, tapi memohon. "Jawab aku. Ini… karena hari itu?"

‎‎Alina akhirnya mengangguk, sangat pelan. Air mata yang sejak di kantor tadi ia tahan rapat, akhirnya menetes turun membasahi pipinya.

‎‎"Iya," bisiknya bergetar. "Hari itu… kita… aku takut, Revan."

‎‎Kalimat itu menghantam dada Revan lebih keras daripada nama Rafael yang terpampang di layar ponsel tadi. Ia terdiam, angin sore mengacak rambut hitamnya, membawa aroma garam laut yang dingin. Kotak kecil di tangannya terasa jauh lebih berat daripada seharusnya.

‎‎Perlahan ia meletakkan kotak itu kembali ke pasir, lalu meraih kedua tangan Alina yang dingin dan penuh butiran pasir.

‎"Alina, lihat aku," ucapnya, suaranya yang tadi tegang kini serak. "Kamu meminum ini karena aku?"

‎‎Alina menggeleng cepat sambil terisak, "Bukan cuma karena itu… aku yang panik. Saat ini aku masih istri Rafael… kalau sampai…"

‎‎"Kalau sampai kamu hamil anakku?" Revan menyelesaikan kalimat yang tak berani Alina ucapkan.

‎‎Alina membeku sejenak, lalu mengangguk.

‎‎Revan memejamkan mata sejenak, rahangnya mengeras, bukan marah pada Alina, tapi marah pada dirinya sendiri karena telah membuat wanita itu menanggung ketakutan sendirian. Ia menarik napas panjang, lalu dengan gerakan yang sangat lembut, menghapus jejak air mata dan pasir dari pipi Alina dengan ujung ibu jarinya.

‎‎"Dasar bodoh," bisiknya, tapi nadanya penuh kasih, bukan makian. "Kenapa kamu tanggung sendiri? Kenapa tidak bilang padaku?"

‎‎Ia meraih ponsel Alina yang masih berdering dengan nama Rafael di layar. Dengan satu gerakan tegas ia menekan tombol merah, memutus panggilan itu, lalu melempar ponsel itu hingga jatuh di jok mobil. Sekarang pantai itu benar‑benar hening, hanya ada deru ombak yang berulang membasahi tepi pasir.

‎‎"Alina," Revan menatapnya lekat, tangannya masih menggenggam tangan Alina yang gemetar. "Kalau memang terjadi… kalau kamu hamil… kamu tidak perlu melakukan hal ini diam‑diam. Aku di sini. Aku yang akan tanggung jawab. Bukan Rafael."

‎‎Alina menatapnya dengan mata yang penuh air mata. "Revan… aku takut kita tidak bisa…"

‎‎"Jangan pernah lagi minum ini sendirian," potong Revan pelan, genggaman tangannya mengerat. "Janji padaku. Kalau kamu takut, panggil aku. Jangan lawan semuanya sendirian, Alina."

‎Alina akhirnya tidak tahan lagi. Ia menunduk, menyandarkan dahinya ke bahu Revan dan menangis pelan, seluruh beban yang ia sembunyikan selama ini tumpah bersama air matanya. Revan memeluknya erat, membiarkan angin sore dan suara ombak menjadi saksi, sementara cahaya matahari terbenam perlahan membasahi mereka berdua di tepi pantai yang sepi.

‎‎-

‎-

‎-

‎Jarum jam terus bergerak perlahan, sampai akhirnya angka di dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Rafael duduk sendirian di sofa ruang tamu. Ponselnya tergeletak diam di atas meja tepat di hadapannya. Dua kancing kemeja putihnya sudah dilepas, membuat penampilannya tampak berantakan. Wajahnya tampak penuh kelelahan, napasnya terasa berat dan tersengal‑sengal. Ini sudah kedua kalinya Alina pergi bersama Revan, dan tak bisa dihubungi sepanjang hari. Ia menatap layar ponsel yang gelap, pikirannya berputar‑putar penuh kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan.

‎‎Suara mobil melaju masuk ke halaman, bunyi mesinnya perlahan mereda. Rafael segera berdiri dari sofa dan berjalan cepat menuju teras depan. Lampu teras menyinari dua sosok yang turun dari mobil merah itu.

‎‎Revan membuka pintu untuk Alina, lalu berjalan ke depan sedikit, menunduk hormat.

‎‎"Selamat malam, Tuan. Maaf, saya terlambat mengantar Nyonya pulang."

‎‎"Jam sembilan, Revan," suara Rafael rendah.

‎Revan menarik napas, lalu mengangkat kepala, menatap langsung. "Maaf, Tuan. Saya tidak mengantar Nyonya kembali ke kantor. Nyonya minta ditemani ke pantai. Katanya butuh udara segar."

‎‎Rafael terdiam, alisnya terangkat sedikit.

‎‎"Pantai?" Rafael mengulang, suaranya setengah berbisik. "Kalian berdua... ke pantai?"

‎‎"Iya, Tuan. Nyonya terlihat... tidak baik-baik saja. Saya tidak berani menolak."

‎‎Rafael menoleh ke Alina, tatapannya berubah. "Alina... kamu ke pantai bersama Revan? Berdua? Sejak siang tadi?"

‎‎Alina tidak menjawab. Bibirnya tertutup rapat, kedua tangannya tergenggam erat di sisi tubuh.

‎‎Rafael menghela napas panjang, lalu menatap Revan lagi.

‎‎"Revan."

‎‎"Ya, Tuan."

‎‎"Mulai besok, urusan Nyonya kamu tidak perlu ikut urus lagi." ucapnya tegas, rahangnya mengeras. "Fokus pada pekerjaan di kantor. Antar jemput, jadwal Nyonya, semua... aku yang urus sendiri."

-

-

-

Bersambung...

1
Aisyah Ranni
Wajar aja si Andika menyesal ternyata itu dia,bisa jadi dia yg slengki dengan ibu Rafael, mengulang kejadian si Rafael dengan Amara.dan Andika gak tau Revan anak kandungnya sendiri
MamDeyh
Woooow ternyata sodara tiri merekaaaa
MamDeyh
Diiih GK jelas
Mia Camelia
rasakan kau raphael tamparan sang ayah, semoga raphael mau melepaskan Alina😭
🔥Violetta🔥: Semoga y kak 😁
total 1 replies
Ervina Ardianto
Kl baca smp sini berarti awalnya Revan pura2 jd asisten Rafael ada hubungannya dg masa lalu yg blm selesai antar ortu/kakeknya Rafael & Revan. Sementara ttg Alina, di luar rencana dia, bs ketemu lg tp sdh jd istri org.
Maybe gt🤭
🔥Violetta🔥: Wah tebakan kakak ini sesuatu 👏👏👏👍😁
total 1 replies
Mia Camelia
revan gentleman banget sih, bogem si raphael di tempat, ngliat raphael lama2 kaya pecundang😒
Ervina Ardianto
Rafael msh lolos nih. Mertuanya ga liat tontonan & ga denger omongan Revan ke Rafael. Jgn lama2 author, nungguin Revan membuka jati diri dia yg sbnrnya 😊
MamDeyh
Repaaan kamu kelepasan 😅
🔥Violetta🔥: rem-nya blong 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
sumpah raphael tuh pembawa sial banget sih, bikin Alina jatuh bgtu😔😔😔
🔥Violetta🔥: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Revan mana Revan..mungkin sekarang saatnya membuka semua 🤭
🔥Violetta🔥: Lagi bertapa dulu dia kak... 🤭🤭🤣
total 1 replies
MamDeyh
Nah kan.. Laki egois. Plin plan. Gajebo
🔥Violetta🔥: Omelin aja,,, omelin kak 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Ada hubungan dg masa lalu berarti nih. Revan uda kenal Alina lbh dl dari Rafael , yg msh gelap hubungan ortu Revan & Rafael, knp Alina ga tau / blm sadar ttg Revan (di masa lalu) & Revan bs kecolongan, Alina nkh sm Rafael.
MamDeyh
Ahhhh lagi dong kak.....
Mia Camelia
Alina kapan cerai nya thor 🤭🤭🤭pingin ngeliat Alina dan revan SAH🤭😁
🔥Violetta🔥: Nanti kak 🤭 author nya juga udah gak sabar 🤭🤭🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
"Menikah karena perjodohan tapi hati suami masih di masa lalu" itu klasik yang tidak pernah gagal. Saya langsung bisa merasakan bagaimana hampanya Alina.
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.

Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.

cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰
MamDeyh
Aduhhhh aku dag dig dug deeeer daiaaaaa/Curse//Curse/
🔥Violetta🔥: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Adira🍓
O...o... kamu ketahuan 🤣🤣🤣🤣
Adira🍓
Pandai kali ngegombal mulut kau ini Revan 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Terlalu jujur jawabanmu Bang 🤣🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Maklum, rem-nya blong kak 🤭🤭
total 1 replies
Adira🍓
Hayoo loh Revan,,, ketahuan kan 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!