NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:31.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Ananda melangkah dengan hentakan kaki kesal menuju ke area pantri kantor. Di dalam ruangan kecil yang bersih itu, ia mengambil sebuah cangkir keramik putih dan mulai menyeduh bubuk kopi hitam murni tanpa memberikan gula seujung sendok pun.

‘Americano kopi ini pasti akan membuat tenggorokanmu merasakan pahit yang teramat getir. Rasakan pembalasan kecil dariku, rasakan kepahitan hidup yang selama ini aku rasakan karena perbuatanmu!’ batin Ananda dengan senyum kemenangan yang tertahan, jemarinya mengaduk kopi itu dengan penuh penekanan.

Tak lama kemudian, Ananda kembali ke dalam ruangan Tristan dengan nampan di tangannya. Ia meletakkan cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap itu dengan sangat hati-hati di atas meja kerjanya Tristan.

"Ini kopinya, Tuan," ucap Ananda formal.

Tristan mendongak, matanya berbinar melihat perhatian kecil dari wanita pujaan hatinya. "Terima kasih, Nanda. Oh iya, tolong batalkan seluruh jadwalku hari ini ya, karena aku sedang malas bertemu dengan klien di luar kantor. Dan nanti siang, kau temani aku makan siang di ruangan ini!"

"Apa?!" Ananda terkejut setengah mati hingga suaranya meninggi.

Raut wajahnya seketika berubah masam. Rencananya untuk makan siang santai di kantin bersama Riska hari ini terpaksa gagal total. Namun, melihat posisi Tristan sebagai bos besar yang memegang kendali atas pekerjaannya, Ananda tidak memiliki kuasa untuk menolak perintah tersebut. "B... baik, Tuan."

Tristan kemudian mengulurkan tangannya, meraih cangkir kopi hitam pekat buatan Ananda. Di hadapannya, Ananda diam-diam menahan napas. Matanya melebar, fokus menatap bibir Tristan yang mulai menyentuh bibir cangkir. Ananda sudah tidak sabar ingin melihat ekspresi syok, tersedak, atau rona wajah Tristan yang memerah karena menahan rasa pahit yang luar biasa dari kopi tersebut.

Tristan mulai menyeruput kopi panas itu perlahan. Pada sesapan pertama, netranya mengunci pandangan langsung ke arah bola matanya Ananda yang sedang memperhatikannya dengan lekat.

"Hemmm... manisnya pas," ucap Tristan santai tanpa beban, bahkan ia mengulas senyum manis setelah menelan kopi itu. "Kau pintar juga membuat kopi, Nanda. Besok-besok, buatkan lagi kopi dengan takaran seperti ini untukku, ya!"

Seketika Ananda tercekat, tubuhnya kaku tak percaya mendengar penilaian absurd dari atasannya.

‘Kopi sepahit dan segetir itu... kenapa bisa-bisanya dibilang manisnya pas?! Perasaan tadi aku sama sekali tidak memasukkan gula ke dalam cangkir itu!’ batin Ananda menjerit bingung sekaligus merinding.

Rasa ngeri kembali menjalar di benak Ananda. Mengira bosnya sudah benar-benar kehilangan kewarasan akibat stres bekerja, Ananda pun buru-buru membungkuk panik. "S... saya permisi dulu ke meja saya, Tuan!" ucapnya setengah berlari keluar dari ruangan mewah itu.

Begitu pintu tertutup rapat dan sosok Ananda sudah menghilang dari pandangan, Tristan yang hendak menikmati sesapan kedua langsung meneguk kopi hitam itu tanpa perlu lagi menjaga imej di hadapan sang wanita.

Uhuk!

Semburrr!

"Uhuk! Uhuk! Uhhh... gila! Kenapa kopi ini mendadak pahit sekali?!" seru Tristan terbatuk-batuk, wajahnya berkerut masam menahan rasa getir yang teramat sangat di lidahnya. Ia buru-buru menyambar tisu di atas meja untuk mengeringkan sisa kopi yang sempat tumpah di dagunya.

Tristan memandangi cangkir kopi hitam itu dengan dahi berkerut bingung. Tadi, saat ia menatap wajah cantik Ananda, rasa pahit itu entah mengapa berubah menjadi sangat manis di indra pengecap nya, tertutup oleh rasa bahagia yang membuncah. Namun begitu wanita itu pergi, realitas rasa pahit yang sebenarnya baru menghantam lidahnya tanpa ampun.

Tristan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan, menyadari bahwa ia baru saja dikerjai oleh sekretarisnya. Alih-alih marah, Tristan justru merasa gemas dengan tingkah balasan dari si itik. Ia menggeser cangkir kopi pahit itu menjauh, lalu kembali fokus melanjutkan pekerjaannya di depan laptop dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.

*

*

Jam dinding besar di lobi lantai sepuluh akhirnya berdentang, menandakan jam makan siang telah dimulai. Riuh rendah suara karyawan yang biasanya bersiap berburu makanan di luar kantor seketika berubah menjadi kehebohan. Beberapa kurir dari restoran bintang lima di ibu kota masuk dengan troli besar, membagikan ratusan nasi box premium berpita emas kepada setiap karyawan.

"Wah, serius kita dikasih makan siang semewah ini? Ada acara apa, ya? Apa perusahaan baru saja memenangkan tender triliunan?" bisik salah seorang karyawan perempuan dengan mata berbinar.

"Entahlah, tapi dengar-dengar ini perintah langsung dari Bos Besar. Tumben sekali si Monster sedang berhati malaikat," sahut yang lain setengah berbisik takut terdengar.

Ananda yang baru saja kembali dari pantri ikut tertegun mendapati satu kotak makan siang mewah berlogo restoran prancis sudah bertengger manis di atas meja kerjanya. Tak lama kemudian, Kevin muncul dari balik pintu lift dengan napas yang agak terengah-engah.

"Nanda, kau sudah ditunggu Tuan Tristan di dalam. Bawa kotak makan siangmu itu," ujar Kevin setengah berbisik, wajahnya tampak buru-buru. "Aku ada urusan mendesak ke divisi keuangan sebentar. Ayo cepat masuk, jangan lama-lama! Kau tahu sendiri kan, kalau singa itu mengamuk lagi karena telat makan, bisa kacau urusan satu kantor!"

Ananda menghela napas panjang, lalu mengangguk pasrah. "Baik, Pak Kevin."

Dengan langkah berat dan perasaan yang teramat terpaksa, Ananda melangkah masuk ke dalam ruangan luas itu sambil mendekap kotak makan siangnya. Ia benar-benar benci takdir hari ini yang mengharuskannya makan siang berdua dengan pria yang paling ia rasiskan dan benci di dunia ini.

Begitu pintu tertutup, pandangan Ananda langsung tertuju pada sofa kulit mewah di sudut ruangan. Di sana, Tristan sudah duduk santai. Di atas meja kaca di hadapannya, telah tersaji berbagai macam hidangan mewah yang aromanya sangat menggugah selera.

"Duduklah di sini," perintah Tristan dengan nada suaranya yang melembut, sambil menepuk sisi kosong sofa tepat di samping tubuhnya.

Ananda menelan ludahnya dengan susah payah. Di dalam hatinya, ia ingin sekali menolak dan memilih duduk di kursi tunggal yang berjauhan. Namun, mengingat ia belum saatnya memancing kemurkaan pria itu sebelum rencananya matang, Ananda memutar otak untuk tetap waspada. Akhirnya, dengan perlahan ia mendudukkan diri di samping Tristan yang menatapnya dengan senyuman ramah.

‘Baiklah, Tristan. Kali ini aku mengalah karena kau bersikap cukup baik padaku. Tapi besok-besok, jangan harap aku akan bermurah hati lagi padamu!’ batin Ananda jengkel setengah mati.

Sesi makan siang pun dimulai dalam keheningan yang pekat. Tristan sengaja melambatkan kunyahannya. Sesekali matanya melirik intens ke arah samping, menikmati kedekatan mereka yang selama enam tahun ini hanya ada dalam mimpinya.

Sebaliknya, Ananda bersikap sedingin es. Ia sama sekali tidak menoleh dan hanya fokus pada makanan di dalam kotaknya. Sikapnya sudah seperti anggota militer yang sedang makan di barak, cepat, tangkas, dan tanpa jeda sedikit pun. Ia hanya ingin makanan ini cepat habis agar bisa segera angkat kaki dari samping Tristan.

"Selesai...!" gumam Ananda dengan senyum sumringah yang spontan terbit di wajahnya. Hanya dalam hitungan menit, ia sukses mengosongkan kotak makanannya. Saking cepatnya, ia bahkan tidak menyadari ada noda saus yang tertinggal di sudut bibirnya.

Tristan yang melihat kotak makan Ananda sudah bersih dalam sekejap langsung menaikkan sebelah alisnya, tersenyum geli. "Kau sepertinya sangat kelaparan, Nanda... Kau boleh menghabiskan porsi makan siangku juga jika kau masih lapar."

"Tidak usah, Tuan. Terima kasih," tolak Ananda cepat, suaranya kembali formal dan kaku. "Kebetulan pekerjaan saya di luar masih sangat menumpuk, jadi saya tidak bisa membuang waktu untuk makan siang terlalu lama."

Tristan menoleh penuh ke arah Ananda, lalu menghembuskan napas pendek. Ia tentu tahu betul bahwa wanita di sampingnya ini hanya sedang mencari-cari alasan agar tidak berlama-lama berada di dekatnya. Namun, saat tatapan mata Tristan turun, fokusnya mendadak teralihkan oleh noda saus kemerahan di sudut bibir ranum Ananda.

Tanpa peringatan, Tristan memajukan tubuhnya mendekat. Tangan kekarnya terangkat, dan ibu jari besarnya menyentuh lembut bagian sudut bibir Ananda untuk mengusap noda tersebut.

Deg!

Ananda seketika tercekat, napasnya tertahan di tenggorokan. Sepasang bola matanya membulat sempurna, menatap langsung ke dalam wajah Tristan yang kini perlahan mulai merona kemerahan. Sorot mata pria itu yang biasanya tajam dan sedingin es, entah mengapa siang ini terasa begitu hangat, teduh, dan penuh dengan untaian rasa rindu.

Setelah noda itu bersih, ibu jari Tristan tidak langsung menjauh. Jemari itu justru bergerak lambat, mengusap dengan sangat lembut permukaan bibir bawah Ananda yang sedikit terbuka karena terkejut. Tristan kian mengikis jarak di antara mereka, memajukan wajahnya hingga hembusan napas hangatnya yang beraroma mint terasa nyata menerpa permukaan kulit wajah Ananda.

Ananda bagaikan tersihir. Pesona maskulin dan tatapan intens dari pria di hadapannya saat ini mendadak mengunci seluruh kesadarannya. Tubuh Ananda mendadak kaku, membeku, dan sama sekali tidak bisa digerakkan seolah seluruh syarafnya telah lumpuh.

Jarak di antara bilah bibir mereka kini hanya tersisa beberapa milimeter lagi. Tristan perlahan memejamkan matanya, bersiap untuk mendaratkan ciuman yang selama ini ia dambakan. Namun, tepat sebelum bibir mereka saling bersentuhan, pintu ruangan mewah itu mendadak terbuka secara paksa dengan suara dentuman yang keras.

BRAKK!

"Apa yang sedang kau lakukan, Tristan?!"

Sebuah teguran melengking yang sarat akan nada tidak percaya dan amarah seketika memecah keheningan ruangan. Suara itu berasal dari seorang wanita muda berpenampilan sangat seksi dengan gaun bermerek yang ketat, disusul oleh seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun namun berwajah tegas di belakangnya. Mereka adalah Bella dan Nyonya Mutia

Seketika sihir itu hancur. Ananda langsung tersadar dari keterpakuannya dan dengan cepat mendorong dada bidang Tristan hingga pria itu menjauh, sementara wajah Ananda memucat karena syok.

Tristan yang aksinya digagalkan tepat di detik-detik terakhir langsung berdiri dari sofa dengan rahang yang mengeras dan tangan yang mengepal kuat. Matanya berkilat marah karena privasinya diganggu.

"Mamah... Bella?! Ngapain kalian berdua ada di sini, hah?!" bentak Tristan dengan suaranya yang menggelegar kesal, menatap murka ke arah dua wanita yang baru saja merusak momen berharganya

Bersambung...

1
Les Tary
ha ha ha kevin kalah saing😍😍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Nar Sih
hahaha kasihan kmu vin ,lihat merka ciuman jdi ternoda deh😂😂
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Nar Sih
gak ush dgr kta orang nanda ,anggap aja angin lalu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
kasian Kevin layu sebelum berkembang ya vin, udah sm aku aj ya 🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, blatung nangka... pecicilan ya kak si Kevin 😂😂😂
total 3 replies
Nar Sih
pasti sdh gk sbr ingin ketemu terus dgn putra mu juga pujaan hti mu ya tristan☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak🤭
total 1 replies
Nar Sih
kini satu maaf sdh kau dpt tristan dri ibu mila tinggal langkah selanjut nya💪
Nar Sih
gak usah dgr kata orang nanda ,yg penting diri kita
Nar Sih
alhamdulilah sdh terungkap semua☺️
Lilis Ilham
ahirnya tercapai juga cinta pertama😍😍😍
Lilis Ilham
aku ada disini tuan Tristan😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
tetangga kepo, tukang ngerumpi ga ada kerjaan bgt
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berarti gk dimana-mana ya kak, malah sekarang sudah trend bapak-bapak ikut jadi tukang gosip juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Ilfa Yarni
hahahaha terciduk kalian kasian kevin patah hati sebelum berkembang hahaha
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr 😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lanjut besok ya kak 😉
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh mulai dah pada julid, bilang aj iri sm Nanda ya ibu ibu
Teh Euis Tea
Nanda mirip ayu Ting Ting klu LG meluk Tristan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, kok bisa 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh lagi lagi si Bella biang keroknya, enaknya di gantung x ya biar kapok
Teh Euis Tea
ada rahasia apa si dre? jd penasaran ini
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp, ikh selow aja sama aku mah 😉😊
total 3 replies
Nar Sih
semoga dgn kejujuran dan terbongkar nya mslh ini nanda bisa memaaf kan semua
Nar Sih
mkin pensaran dgn rahasia yg kau simpan andre
Nar Sih
semoga ini pertemuan yg akan membawa ananda dan putra nya bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!