Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Dan benar saja, bukan Jay jika dirinya tidak lihai untuk membuat trik.
Saat ia hendak menyuapi Nadia dengan sepotong pizza, Jay menarik pizzanya hingga Nadia semkain endekat, dan Cup! Jaymenyekop bi bir Nadia dengan mudahnya.
"Jay..." Nadia mencoba berontak, tapi tak bisa karena kini Nadia sudah terkukung di bawah badan Jay.
Nadia yang juga sebenarnya merindukan Jay kini mengikuti alur yang jay lakukan, nadia melingkarkan kedua tangannya di leher jay, seolah telah memberikan ijin pada suaminya untuk melakukan hal lebih.
"Tapi ini di kantor Jay," desis Nadia yang usdah merem melek karena jil atan yang Jay lakukan di telinganya.
Jay bangun dan dengan cepat menggendong badan Nadia, membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan di dalam rungan kerja jayden, yaitu kamar pribadi Jay untuk beristirahat jika dirinya harus lembur kerja atau tidak pulang waktu lalu.
Di dalam sana, jay seperti orang benar-benar haus karena tak memebuang aktu lagi untuk kembal menyerbu Nadia.
Jay dengan kasar membuka kancing kemejanya, napasnya terengah-engah oleh gelora yang membara dalam dadanya. Dia mendekat lagi, menyerbu bi bir Nadia dengan gair ah yang tak terbendung.
Jemarinya menyusuri pinggang Nadia, meremas dengan kekuatan penuh kegair ahan yang mereka rasakan bersama. Sensasi itu begitu intens, mengalir dalam darah mereka, menggetarkan setiap saraf. Nadia memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan Jay yang semakin mendalam dan penuh tekanan.
Nadia terpaku di tempat, matanya terbelalak saat melihat Jay yang dengan lembut memainkan salah satu butiran kecil yang ada di bukit kembarnya. Rasakagum dan keinginan bercampur menjadi satu, membuat bibirnya terus menganga.
Jay, dengan gerakan yang hampir tak terlihat, mengubah butiran itu menjadi sebuah bentuk yang lebih menarik, seolah memahami keinginan terdalam Nadia. Wanita itu merasakan denyutan di da da, sebuah tanda bahwa apa yang diharapkannya lebih dari itu.
"Jay.... Aghh..." Sebuah leng uhan keluar dari bi bir Nadia.
Ruangan yang terasa dingin menjadi panas karena gai rah yang sudah membara,
Tepat berada di pertengahan antara paha Nadia. Jay menatap area itu sebelum ia juga menyerbu' nya dengan rakus.
Lum atan demi lum Atan Jay berikan, membuat Nadia semakin membusungkan dada dan mengempeskan perutnya.
"Ouhhh shit!" Nadia menjamba rambut dan sedikit menggoyangkan pinggulnya.
"Jay, mau pipis ih.." rengeknya tak di dengar oleh Jay.
Cowok itu terus menj ilat tanpa henti sampai dimana badan Nadia bergetar hebat karenasat ia mencapai pelepasan pertamanya.
Nafas Nadia yang masih terengahbtak membuat jay gentar, cowok itu mneurunkan celna kerja yang ia oakai hingga kini mencuatlah tongkat sakt milik Jayden.
Nadia menelan ludahnya dengan kasar saat melhat betpa besarnya tongkat sakti milik Jayden. Walaupun itu bukan yang pertama kali, tapi Nadia terus kagum saat melihat tongkat sakti yang besar dan berurat itu.
"Are you ready Baby?" bisik jay dengan memajukan tongkatnya.
Dan Jleb.
satu hentakan yang poelan namundapat membuat Nadia kembali membuka mulutnya.
"Oh shit! penuh banget Jay," racau Nadia dan Jay mulai memaju mundurkan pinggulnya.
Badan Nadia yan ikut bergerak maju mundur, cewek itu tak henti-henti mencengkeram sprei sebagai pegangan.
Sesekal jay men cium bibir Nadia
sebagai pemanis untuk keduanya, di rasa Jay juga akan mencapai pucaknya aat itu juga, dia memacu ritme dengan kecepatan yang cepat, membuat Nadia mere mas bahkan hampir berteriak
"Augghh.... !!! yes baby."
Racau keduanya dan Jay ambruk di atas badan Nadia.
Jemari Nadia menyisir rambut Jay yang acak-acakanakibat ulanya.
Tok tok tok..
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu ruangan tersebut. dapat membuat Nadia kembali membuka mulutnya.
"Oh shit! penuh banget Jay," racau Nadia dan Jay mulai memaju mundurkan pinggulnya.
Badan Nadia yan ikut bergerak maju mundur, cewek itu tak henti-henti mencengkeram sprei sebagai pegangan.
Sesekal jay men cium bibir Nadia
sebagai pemanis untuk keduanya, di rasa Jay juga akan mencapai pucaknya aat itu juga, dia memacu ritme dengan kecepatan yang cepat, membuat Nadia mere mas bahkan hampir berteriak
"Augghh.... !!! yes baby."
Racau keduanya dan Jay ambruk di atas badan Nadia.
Jemari Nadia menyisir rambut Jay yang acak-acakanakibat ulanya.
Tok tok tok..
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu ruangan tersebut. "Siapa?" tanya Nadia.
"Paling juga Arnold."
Jay bangun dan melangkah menuju pintu, membuka sedikit dan hanya melihatkan kepalaya saja.
"Apa? ganggu aja!"
"Astagaa si bos," Arnold pura - pura terkejut.
"Apaan anjir? buruan ngak?"
"Ngak pake baju ya?" kata Arnold yang malah mengajak bercanda.
"Potong gaji!" tegas Jay dan Arnold langsung takut.
"Gitu mulu ahh,, ancemanya, nggak asik si boss."
Arnold memberikan sebuah berkas di tanganya, "Ini yang bapak mau, saya sudah mencarikan informasi secara detail, jadi mohon jangan potong gaji saya, dan selamat melanjutkan aktivitas dan mohon maaf lagi saya sudah lancang menganggunya. sekian dan terimakasih," ujar Arnold kemudian dia berlalu pergi.
Jay meletakan berkas tersebut ke atas meja, dan dia berjalan ke arah lkamar mandi untuk memebrsihan dirinya terlebih dahulu.
sementara Nadia yang lebih dulu sudah rapi kembali dengan pakaian dan mandi, mengambil berkas yang Jay letakan karena penasaan.
"Apa ini?" gumam Nadia mulai membuka lembaran kertas tersebut.
"Aduhh... kok jadi begini? dia bakal tahu nggak ya atau bakal marah?" gumam Nadia dan mengembalikan berkas tersebut.
Jay keluar dari kamar mandi dengan keadaan sudah rapi kembali.
"Kamu masih nyelidikin Kevin?" tanya Nadia basa basi.
"Oh,, tentu sayang, dia adalah orang yang udah mau celakain kamu, dan sekarang sudah bebas karena seseoarng, jadi aku harus memantua pergerakannya kan?"
Nadia mengangguk pelan, "Ohhh gitu,"
Mela yang saat ini tengah berada di minimarket untuk membeli roti tawar merasa seolah tengah diikuti oleh seseorang.
Karena lokasi minimarket tersebut hanya berada di depan gang rumah Mela, jadi cewek itu berjalan kaki untuk kesana.
Mela yang merasa ada yang mengikuti kini berinisiatif mengambil sesuatu pinggir jalan. Yaitu ranting pohon yang jatuh.
Dengan gerakan cepat, Mela menoleh dan langsung memukulkan ranting itu pada orang yang Mela rasa telah mengikuti dia
Bugh bugh bugh...
"Aw aw aw... Sakit sakit..." Arga meringis kesakitan.
"Loh kok pak dokter," kata Mela terkejut, dan seketika merasa bersalah. "Maaf maaf, aku nggak tahu kalau itu dokter, lagian kenapa nggak manggil aja sih? Kan jadi kena pukul."
"Tadinya mau ngasih surprise, ehh malah kena pukul deh," rengek Arga yang baru pertama kali Mela dengar.
"Ya siapa suruh diem diem gitu." Protes Mela. "Sakit ya?" Imbuh Mela masih merasa bersalah.
"Masih suh dikit, tapi nggak apa-apa kok."
"Pak dokter ngapain mau ngasih surprise apa?" Tanya Mela kemudian.
"Jangan panggil dong, kak Arga aja kan bisa."
Blush!
Wajah Mela langsung merona.
"Iya kak Arga." Sahut mela dan Arga tersenyum.
"Bukan apa-apa sih. Tunggu bentar ya," Arga berlari ke arah mobilnya untuk mengambil sesuatu.
"Buat kamu," arga memeberikan satu buah kantong berisi bermacam-macam buah-buahan.
"Buat aku?" Pake di tanya lagi si Mela.
"Buat tetangga! Ya buat kamu lah, orang aku ngasih nya juga ke kamu."
Mela terkekeh," ternyata biaa bercanda juga kak Arga," kata Mela mengambil satu buah kantong itu.
"Makasih ya kak, ini banyak banget loh," imbuhnya kemudian.
"Biar bapak sama ibu juga ikut makan."
"Kak Arga mau mampir? Bapak ibu ada di rumah kok."
"Nanti aja ta kakak mampir, sekarang kakak harus ke rumab sakit," dan Mela mengangguk mengerti.
"Iya deh, nggak apa-apa, nanti aku sampein ke bapak sama ibu kalau buah ini dari kak Arga."
"Ya udah kalau gitu kakak kerja dulu ya," ucap Arga dengan senyum yang mampu melelahkan hati Mela.
"I-iya kak, makasih ya sekali lagi,"
Arga mengangguk dan kembali di mana mobilnya terparkir di depan minimarket.
"Kita nggak mah honeymoon dulu gitu? Kan aku baru aja lulus sekolah, ya itung-itung sekalian ngerayain kelulusan aku." Ucap Nadia merengek.
Jay menatap Nadia heran, karena tak biasanya Nadia meminta suatu hal yang bersangkutan dengan hal-hal yang berbau dewasa.
"Kamu mau kemana?" Tanya Jay dengan menyuapkan pizza yang sudah dingin ke Nadia.
Awalnya Jay ingin memesan lagi pizza atau makanan yang lainya, tapi Nadia tak mau karena sayang pizza yang ia beli belum ketoel sama sekali.
Alhasil mereka berdua makan pizza yang sudah dingin tadi.
"Mau ke Bali, seru kali ya? Nggak usah ke luar negeri, biar aku bisa ajak Mela sekalian."
"Kita mah honeymoon atau piknik?"
"Dua-duanya boleh, kan sekalian Jayden sayang, emangnya nggak boleh kalau aku ajak Mela? Oh iya aku mau tahua satu hal sama kamu boleh kan?"
"Satu tanya satu ciu man."
"Ishh.. perhitungan banget sih."
ketus Nadia.
"Kan sekalian Nadia sayang."
Nadia terbelalak mendengar Jaydenmenirukan perkataannya.
Klaim
"Dokter Arga itu jomblo kan?" Tanya Nadia dengan serius.
"Kenapa? Kamu suka sama dia? Aku patahin leher si Arga nanti, bisa bisanya dia godain bini gue," tegas Jay dan Nadia menepuk jidatnya sendiri.
"Nggak gitu loh Jayden sayang, aku nanya itu kan karena aku liat dia mulai deketin Mela nggak sih? Atau perasa aku aja?"
"Ohh.... Mela?" Nadia mengangguk dengan cepat. "Kenapa emang sama Mela?" Imbuh Jay bertanya.
"Aku ngeliat Arga itu kaya lagi ngedeketjn Mela gitu loh, dari dia di c ulik sama Kevin, terus pas kemarin hari kelulusan SMA High School, dia bahkan dateng ngaish buket lagi ke Mela."
"Hem... Terus kenapa? Ya biarin aja dong sayabg."
"Ya biarin, makanya aku nanya sama kamu, Arga itu masih jomblo atauenggak? Jangan-jangan dia punya pacar lagi, sahabat aku bisa patah hați kalau gitu, mending jangan ngasih harepan kalau emang punya pacar."
"Ohh.... Iya iya aku ngerti, kamu takut kalau Mela bakal patah hati gitu kan? Nadia mengangguk dengan antusias.
"Sekarang..... Entah juga sih, kita jarang denger dia deket sama cewek soalnya, terkahir dia pacaran itu dua tahun yang lalu, itu juga dia di tinggalin sama ceweknya, sampai sekarang kayaknya baru Mela yang dia deketin lagi."
"Bener kan kamu? Nggak bohong kan? Awas aja kalau kalian komplotan," tegas Nadia sungguh-sungguh.
"Kok jadi aku sih sayang? Kan aku udah cerita ke kamu loh ini, belum juga di kasih kiss malah kena omel, kiss dulu, berapa kali pertanyaan tadi?" Kata Jay mendekatkan pipinya.
Nadia memutar bola matanya malas,ia gak menyangka jika Jay akan se mesum itu.
Tak di sangka gak di duga, saat Nadia akan men cium pipi Jay, cowok itu malah menoleh dan berakhir bi bir Nadia mendarat di bi bir Jay.
Dan saat Jay mulai menyekop lagi, dengan ise berlian yang Nadia punya, cewek itu langsung mencubit bagian buliran kecil di da da Jayden.
"Aaawwww..!!!! Sakit Sayangg!!!!" Seru Jay meringis.
"Siapa suruh tukang mesum! Wleee!!" Nadia menjulurkan lidahnya mengejek Jayden.
Tok tok tok...
"Masuk!" Tegas jayden yang sudah tahu jika itu adalah Arnold.
"Maaf menganggu lagi tuan Jayden yang terhormat, sebentar lagi sudah waktunya meeting, mohon jntuk kesiapannya," ucap Arnold dengan sesopan mungkin karena tak mau jika gajinya akan di potong.
"Hemm....!"
Arnold kenbali keluar ruangan dan Jay menarik tubuh Nadia agar mendekat ke arahnya.
Jay memeluk dan mencium wangi khas Nadia khas wangi Vanila bercampur stroberi.
"Meeting meeting!!!" Seru Nadia menitah Jay untuk melepas pelukannya.
"Bentar lagi sayang, masih kangen."
Jay menggelamkan kepalanya di ceruk leher jenjang Nadia.
"Kangen apanua sih? Dari tadi juga aku di sini loh."
"Nanti kan kalai aku meeting itu lama sayang, nanti kangen, rengek Jay yang lagi-lagi membuat Nadia frustasi dengan sikap Jay yang bak seperti bayi itu.
"Iya aku tungguin kok mau selama apapun."
Jay langsung melepas pelukannya dan menatap Nadia. "Beneran di tungguin kan? Nggak bakal kabur pulang duluan kan?" Tanya Jay kemudian.
Nadia mneggelengkan kepalanya pelan, "Enggak kok, aku di sini nugguin kmau sampai kamu selesai meeting."
Jay tersenyum sumringah dan Cup cup cup. Jay mengecup di setiap bagian dari wajah Nadia. Sebelum ia keluar dan mengambil beberapa berkas dari atas meja kerjanya.