Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 SATU SURAT YANG MENGUBAH SEGALANYA
Waktu terus berjalan, membawa perubahan-perubahan kecil yang perlahan membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih dewasa. Zain semakin sering terlihat tersenyum, bukan senyum yang dipaksakan, melainkan senyum yang tumbuh dari ketenangan di dalam hatinya sendiri. Teman-temannya pun menyadari perubahan itu, ia tidak lagi mudah tersulut emosi, tidak lagi menutup diri saat ada yang mencoba mendekat. Ia bahkan sering terlihat membantu teman-temannya yang kesulitan mengikuti pelajaran, sesuatu yang dulu mustahil ia lakukan.
Suatu sore, matahari baru saja terbenam di ufuk barat, meninggalkan warna jingga yang lembut di langit. Zain dan teman-temannya baru selesai berolahraga di lapangan asrama, keringat masih menetes di pelipisnya, namun hatinya terasa ringan dan nyaman. Saat mereka berjalan menuju asrama, petugas administrasi memanggil nama Zain melalui pengeras suara.
"Zain Arvendra Atmaja, silakan datang ke ruang administrasi. Ada kiriman surat untukmu" Suara petugas terdengar jelas dan tenang.
Zain berhenti melangkah seketika, Keningnya berkerut bingung. Surat ? Siapa yang mengirim surat kepadanya di asrama ini ? Ayahnya biasanya menelepon atau datang berkunjung langsung, bukan mengirim surat. Keira yang berada di dekatnya menyadari keraguan yang tiba-tiba muncul di wajah Zain.
"Kamu mau aku temani sampai depan pintu ?" Tanya Keira lembut, tidak ingin memaksakan diri masuk ke ruang pribadinya.
Zain menggeleng pelan, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang.
"Tidak apa-apa, ku ke sana dulu. Tunggu aku sebentar ya." Jawab Zain
Dengan langkah yang agak berat namun mantap, Zain berjalan menuju ruang administrasi. Setiap langkah terasa lebih lama dari biasanya, sesampainya di sana, petugas menyodorkan sebuah amplop putih yang sederhana, tidak ada nama pengirimnya, hanya alamat tujuan yang tertulis dengan tulisan tangan yang rapi namun sedikit gemetar. Saat Zain melihat tulisan itu, napasnya tertahan. Ia hafal sekali tulisan itu, itu tulisan ibunya. Huruf Z yang melengkung khas, jarak antar kata yang selalu sedikit renggang.
Zain kembali ke kamarnya dengan tangan yang sedikit gemetar, dia menutup pintu kamar dan menguncinya pelan, lalu duduk di tepi tempat tidur, menatap amplop itu cukup lama. Beribu pertanyaan berputar liar di kepalanya.
“Mengapa sekarang ? kemana saja mama selama ini ? Apa yang akan mama katakana ? Apakah mama akan memintaku ikut bersamanya ?” Batin Zain
Rasa takut bercampur rindu yang mendalam membuatnya ragu untuk membukanya, namun akhirnya, dengan hati yang berdebar kencang, ia perlahan membuka lipatan amplop itu. Kertasnya harum samar, wangi yang masih ia kenal wangi sabun kesukaan ibunya.
Isi suratnya sederhana namun penuh makna yang begitu dalam :
Untuk anakku yang paling kucintai, Zain
Kalau kamu membaca ini, berarti kamu sudah tumbuh menjadi anak yang hebat. Maafkan mama yang pergi tanpa pamit, bukan karena Ibu tidak menyayangimu, justru karena mama sangat menyayangimu. Dulu mama terjebak dalam kesalahan besar yang membuat mama malu berada di dekatmu, mama takut kehadiran mama justru akan merusak masa depanmu dan nama baik papa kamu. Jadi mama memutuskan pergi sendirian, berusaha memperbaiki diri dari jauh, agar suatu hari nanti mama bisa kembali dengan kepala tegak dan pantas berdiri di hadapanmu.
Mama tahu banyak isu buruk tentang kepergian mama yang sampai ke telingamu, mama tidak memintamu memaafkan mama sekarang tapi mama ingin kamu tahu. Jika setiap hari mama selalu memantau perkembanganmu dari jauh, dan mama bangga mendengar kamu mulai berubah, belajar menjadi lebih baik dan pencapaian terbesar untuk mama.
Sekarang mama sudah siap memperbaiki semuanya, tapi mama tidak ingin memaksakan diri masuk kembali ke hidupmu. Kalau suatu hari kamu siap menemui mama, papa kamu tahu di mana mama berada. Tepat saat kamu siap, mama akan ada di sana menunggumu. Sampai saat itu tiba, jaga dirimu baik-baik, Nak. Tumbuhlah menjadi laki-laki yang bangga akan dirimu sendiri, apa pun yang terjadi.
Selalu ada di hatimu, Ibumu yang rindu.
Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh juga, bukan air mata kesedihan semata, tapi campuran antara rasa lega yang luar biasa, rindu yang mendalam, dan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Selama ini ia berpikir ibunya pergi karena tidak menginginkannya, selama ini ia menyimpan luka yang terus berdarah sendirian, berusaha keras terlihat kuat di depan orang lain. Namun surat itu seperti balsem lembut yang menenangkan luka-lukanya satu per satu, ia tidak ditinggalkan tapi ia dilindungi. Itu perbedaan yang begitu besar, dan baru sekarang ia mengerti.
Zain berdiri, menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu keluar dari kamarnya dengan wajah yang masih terlihat bekas tangis, namun ada cahaya baru yang bersinar di matanya. Teman-temannya yang sedang berkumpul di ruang tengah langsung berhenti berbicara saat melihatnya berdiri di ambang pintu, Keira adalah yang pertama kali menghampirinya, tangannya terulur lembut menyentuh lengannya.
"Zain, apa yang terjadi ? Kamu terlihat berbeda" Tanya Keira cemas namun lembut.
Zain mengangkat surat itu, bibirnya bergetar sebelum akhirnya senyum yang tulus merekah di wajahnya.
"Mama menulis surat untukku, Mama tidak pergi karena tidak menginginkanku. Dia pergi karena dia mencoba menyelamatkan aku dari kesalahannya sendiri, dia menunggu aku siap. Dia menungguku" Jawab Zain dengan suara bergetar namun penuh kelegaan yang luar biasa.
*****
Malam itu, mereka semua berkumpul di teras asrama seperti biasa, namun suasananya terasa berbeda. Lampu-lampu taman menyala redup, angin malam berhembus lembut membawa sejuk. Zain membacakan isi surat itu untuk teman-temannya, tidak ada yang berbicara saat ia selesai membacanya, karena mereka semua mengerti betapa beratnya beban yang baru saja terangkat dari pundak sahabat mereka. Keira menyandarkan kepalanya pelan di bahu Zain, tidak perlu berkata apa-apa, kehadirannya sudah cukup mewakili segalanya.
"Apa kamu akan segera menemuinya ?" Tanya Bayu pelan setelah keheningan yang cukup lama.
Zain menatap ke arah langit malam yang bertabur bintang, lalu tersenyum tenang.
"Tidak sekarang, aku rasa Ibu benar. Aku belum sepenuhnya siap, ada banyak hal yang perlu aku pelajari dan perbaiki dalam diriku sendiri dulu. Tapi aku tahu ke mana aku akan pergi saat aku siap, dan itu sudah cukup untukku. Aku punya waktu, aku punya teman-teman yang menyayangiku di sini. Dan aku belajar, menunggu bukan berarti menyerah. Menunggu berarti aku menghargai diriku sendiri sebelum aku membaginya dengan orang lain." Jawab Zain
Rian menepuk punggung Zain dengan bangga.
"Kamu hebat, Zain. Banyak orang yang dapat surat seperti itu langsung lari dan lupa segalanya, tapi kamu memilih untuk menenangkan hatimu dulu. Itu kedewasaan yang luar biasa, kami bangga padamu." Ujar Rian
Malam itu Zain tidur dengan perasaan yang jauh lebih tenang dari biasanya, dia melipat surat itu dengan hati-hati lalu menaruhnya di dalam laci meja belajarnya, di sebelah gambar pemberian Cilla dari panti asuhan. Dua hal sederhana namun paling berharga yang ia miliki saat ini, satu mengajarinya cara tersenyum, satu lagi mengajarinya cara memaafkan.
Keesokan paginya, Zain bangun dengan semangat baru. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela kamarnya, menyinari ruangan dengan kehangatan yang lembut. Saat ia bercermin, ia tidak lagi melihat seseorang yang terluka dan marah pada dunia. Ia melihat seseorang yang sedang tumbuh, seseorang yang berharga, seseorang yang layak dicintai. Ia belum tahu kapan ia akan bertemu ibunya, tapi ia tahu satu hal penting, ia tidak perlu menunggu kehadiran orang lain untuk merasa utuh. Ia sudah utuh dengan dirinya sendiri dan untuk saat ini, itu lebih dari cukup.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...