"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Tidak Akan Kulepaskan!
Sedan hitam itu perlahan membelah jalanan perumahan yang basah. Di dalam kabin yang kini mendadak terasa terlalu lengang, aroma sandalwood bercampur wangi hujan masih tertinggal halus—menjejakkan keberadaan Evelyn yang baru saja beranjak beberapa menit lalu.
Matthew mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas kemudi, dan masih senyum senyum sendiri mengingat kekonyolannya di depan Evelyn. Dan yah, siapa sangka, Pangeran Kulkas yang dikenal seluruh angkatan sebagai sosok paling dingin dan tak tersentuh, baru saja melontarkan ajakan berpacaran paling absurd dan nekat sepanjang hidupnya—hanya demi melihat gadis itu tertawa lepas di balik ketegangannya.
Tapi bukankah tadi Evelyn berkata iya? Jadi mereka resmi pacaran sekarang. Kenyataan itu yang bikin Sang Grand Duke Kulkas makin senyam senyum terus sepanjang jalan.
Namun, begitu mobilnya berhenti di perempatan lampu merah utama, senyuman santai di wajah Matthew perlahan memudar, berganti dengan tatapan mata keemasan yang tajam dan pekat.
Pria itu melirik spion tengah. Sebuah SUV putih yang sejak tadi mengekor dari area kampus kini berhenti tiga mobil di belakangnya.
Cedric Ashworth.
"Masih belum paham juga posisinya," gumam Matthew dingin, suaranya kini berubah amat berat, dingin dan penuh tekanan, jauh berbeda dari nada hangat yang ia perlihatkan pada Evelyn tadi. Aura asli seorang Grand Duke yang selama ini dia sembunyikan.
Sambil tetap fokus menatap jalanan, Matthew mengambil ponselnya dan memencet satu kontak cepat.
"Ya, Tuan Muda?" suara di seberang sana terdengar siap menerima perintah.
"Mulai besok, batasi ruang gerak keluarga Ashworth di kampus," kata Matthew datar tanpa beban, tapi nadanya nggak bisa dibantah. "Terutama Cedric. Kalau dia berani mepet Evelyn lagi... beresin pakai cara halus."
"Baik, Tuan Muda. Segera dilaksanakan."
Panggilan diputus. Matthew melempar ponselnya ke jok samping, lalu menghela napas panjang melihat rintik hujan di kaca depan.
Evelyn... cewek itu sampai detik ini pasti masih mikir kalau kembalinya ke waktu ini terjadi gara-gara keajaiban Tuhan. Dia sama sekali gak tahu kalau kenyataannya jauh lebih mengerikan dari itu.
Gak ada sihir. Gak ada keajaiban. Gak ada kebetulan.
Matthew sendiri yang menyeret Evelyn balik ke masa lalu. Selalu seperti itu! Evelyn selalu ditemukan oleh Matthew dalam kondisi sekarat di hutan pinus dengan pemandangan darah yang mengerikan. Entah karena tusukan pisau, tertembak pistol, digigit serigala, tertancap besi. Selalu berulang. Seakan loop ini tidak pernah hilang.
Ingatan malam mengerikan di kehidupan pertama itu mendadak terbayang lagi di kepalanya. Malam sewaktu dia menemukan Evelyn tergeletak dingin dan bersimbah darah di tengah hutan pinus—setelah dibunuh oleh Cedric dan ibunya. Rasa hancur, amarah, dan keputusasaan yang meluap batas saat memeluk jasad Evelyn malam itu membangkitkan sesuatu di dalam dirinya.
Awalnya Matthew mengira ini adalah keajaiban bisa kembali 3 tahun sebelum tragedi kematian Evelyn dimulai, Tapi lama-lama Matthew lelah. Kehidupan kedua, Matthew mencoba mengambil paksa Evelyn dari Cedric yang berujung penolakan Evelyn dan kematian kedua di hutan pinus kediaman keluarganya kembali terjadi. Kehidupan ketiga, Matthew mencoba mendekati Evelyn pelan-pelan, namun dianggap sebagai teman biasa saja dan ya benar sekali, kematian tidak terhindarkan. Begitu pula kehidupan ketiga, keempat, kelima, keenam, hingga ke delapan.
Matthew mulai lelah.
Sejujurnya, Matthew tidak mengenal Evelyn. Memang dia tertarik kepada gadis itu apalagi Evelyn sosok pemalu dan memiliki paras yang menawan. Tetapi Evelyn sudah memiliki Cedric Ashworth. Jadi dia memilih untuk tidak mengurusinya,meskipun dia tahu si berandalan sialan itu adalah tunangan adik semata wayangnya, Samantha. Jadi Matthew memilih menjadi pengamat saja, karena bagaimanapun cinta monyet ini tumbuh, Cedric tidak bisa lepas dari kewajiban keluarga untuk menikahi Samantha.
Berbeda dengan dirinya yang tidak memiliki tunangan. Bukan karena Matthew kurang populer atau tidak tampan, tapi lebih karena para wanita bangsawan takut bertunangan dengan Sang Grand Duke, sehingga kursi 'tunangan' kosong dan Matthew sendiri tidak berniat atau memiliki niat mengisinya.
Tapi itu dulu, sejak loop sialan ini, Matthew berubah pikiran.
Matthew kembali memandangi tangan kanannya di atas kemudi—tangan yang tadi sempat dia pakai buat ngacak-ngacak rambut Evelyn dengan gemas.
Dulu dia telat. Dulu dia cuma bisa menonton dari jauh sampai Evelyn mati konyol di tangan keluarga Ashworth. Tapi sekarang? Matthew tak punya alasan lagi untuk mundur. Apalagi Evelyn sudah memutuskan sendiri Cedric. Ini moment yang ditunggu Matthew selama 8 kali loop dalam hidupnya. Matthew gak bakal ngelepasin Evelyn lagi. Mau Cedric atau ibunya pakai cara licik apapun, Matthew gak ragu buat menghancurkan siapapun yang berani menyentuh sehelai rambut cewek itu.
Mata keemasannya berkilat tajam di tengah remang kabin mobil.
"Kamu aman sekarang, Eve," bisik Matthew pelan pada keheningan malam. "Soalnya kali ini, kamu yang memilih untuk mengakhiri hubunganmu dengan berandalan itu, dan mungkin kehidupan ke sembilan ini akan terasamenyenangkan kalau kamu jadi pasanganku Eve."
Dan kali ini, tidak ada satu orang pun—termasuk Cedric Ashworth—yang akan dibiarkan merebut gadis itu darinya.