NovelToon NovelToon
Happy Ending ?

Happy Ending ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:281
Nilai: 5
Nama Author: Ar's

​"Briar" adalah seorang wanita muda berusia 20-an yang tengah berjuang menata kembali hidupnya. Terluka oleh trauma masa kecil dan kehilangan berbagai hal berharga, ia harus bertahan di dunia seorang diri.

​Kesederhanaan, kepolosan, dan paras cantiknya tanpa sengaja mempertemukannya dengan Adrian, tetangga baru yang juga seorang CEO muda penuh kesempurnaan.

Tanpa ragu, Adrian masuk ke dalam hidup Briar, dan dalam waktu singkat, hubungan mereka berlabuh dalam ikatan pernikahan. Untuk pertama kalinya, Briar merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

​Namun, di balik hangatnya sikap sang suami, pertanyaan-pertanyaan kelam mulai menghantui:

​Mengapa pria sesempurna Adrian begitu terburu-buru menikahinya?

​Rahasia gelap apa yang disimpan Adrian rapat-rapat?

​Ketika takdir mulai mempermainkan segalanya, sanggupkah cinta mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ar's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Map Cokelat

Air mataku tumpah, mengalir deras tanpa disadari. Sebuah kertas di tanganku melukiskan semua perasaan yang Mas Adrian rasakan.

Ada dua lembar surat berisi perjanjian bermeterai bahwa kami bisa bercerai setelah aku punya pekerjaan, serta satu sertifikat rumah yang kini tertulis namaku. Tidak hanya itu, ada juga satu jurnal penuh berisi buku harian milik Mas Adrian yang mengungkapkan betapa banyak penyesalannya dan bagaimana ia mencariku selama ini.

​Apa aku benar-benar egois telah menjauhinya begitu saja? Haruskah aku memaafkannya? Atau haruskah aku kabur dan meletakkan semuanya begitu saja? Namun... di sini sepertinya bukan hanya aku yang menderita.

​Sebuah surat permintaan maaf yang tulus telah dibuatnya dengan air mata. Tergambar jelas di atas kertas yang basah terkena tetesan air matanya. Setiap kata dirangkainya dengan hati, dan setiap kalimat digoresnya dengan penuh perasaan terluka.

​Mas Adrian menuliskannya untukku sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan aku... Aku merasakan sakit yang teramat dalam.

​"Mengapa kamu pergi, Mas? Tetaplah di sini dan tahanlah amarahku..."

​Aku pun mulai menyadari... Ternyata rasa cintaku lebih besar daripada rasa benciku padanya.

​Jadi, sekarang aku harus bagaimana...? Mas Adrian menghilang. Aku tidak tahu bagaimana harus memulai untuk mencarinya. Sebulan yang lalu, aku yang meninggalkannya. Sekarang, justru Mas Adrian yang meninggalkan aku.

Aku bergegas meraih ponsel dan menghubungi Dwi sepupuku yang mungkin bisa membantuku.

​"Halo, Mbak Dwi? Aku butuh bantuan," ucapku.

​"Kamu dari mana saja baru menghubungiku?" tanyanya terkejut mendapatkan panggilan telepon dariku.

​"Ceritanya panjang, Mbak. Bisakah kita bertemu lebih dulu?" ucapku.

​"Pergilah ke rumah Mbak. Mbak sendirian di rumah," ucapnya.

​"Baik, Mbak. Aku ke sana sekarang." Aku bergegas menuju rumah Dwi.

​"Masuklah." Dwi memintaku masuk ke rumahnya.

​"Dari mana saja kamu sebulan ini? Mbak diteror sama suamimu yang sepertinya sudah hampir gila itu," ucap Mbak Dwi.

​"Aku kabur, Mbak, dan tinggal di pinggiran kota," ucapku.

​"Ya ampun... kamu benar-benar membuat Adrian menggila," ucap Mbak Dwi.

​"Menggila? Maksud Mbak bagaimana?" tanyaku.

​"Suamimu menangis, bepergian ke mana-mana mengajak Mas Adam. Mas Adam cerita, Adrian selama nyari kamu nggak ngurus diri. Bahkan, teman-temannya terus-terusan menyemangatinya dan gantian mengecek Adrian di rumah," ucap Mbak Dwi, membuatku tertegun.

​"Jadi, ada apa?" tanya Dwi mengenai tujuanku datang.

​"Mbak, Mas Adrian pergi... dan semuanya salahku. Aku menghukumnya terlalu berat. Meski ia sudah bersikap baik, aku tetap marah padanya... Sebenarnya kami ada masalah yang sangat besar," ucapku.

​"Hmm... Coba kamu jelaskan, masalah apa...?" tanya Dwi.

​"Tapi Mbak harus janji tidak akan menceritakannya pada siapa pun," ujar Briar.

​"Baik, Mbak janji," janji Dwi.

​"Sebenarnya, Mas Adrian pernah melecehkanku saat aku masih berusia lima tahun, tepat lima belas tahun yang lalu. Bodohnya, aku tidak tahu bahwa Mas Adrian adalah lelaki itu," ucapku.

​"Ya ampun... Kalau begitu, wajar saja kamu marah." Dwi merasa terkejut dengan apa yang kukatakan.

​"Iya, Mbak. Semuanya terkuak sejak kita pergi bertemu Tiara, yang ternyata teman masa lalunya Mas Adrian.

​"Pantas saja sejak itu kamu mulai uring-uringan. Jadi itu masalahnya," ucap Dwi yang mengerti betul posisiku.

​"Jadi, kalau Adrian pergi, bukannya bagus?" ucap Dwi.

​"Ini map berisi kata-kata perpisahan, surat perjanjian bahwa kami bisa bercerai, dan juga sertifikat rumah yang kami tempati, yang mana namanya sudah diubah menjadi namaku." Aku menyodorkan map itu pada Mbak Dwi.

​"Hmm..." Dwi membaca dan mencoba mengamati isi map tersebut.

​"Ini sulit, Briar. Semua ini kembali padamu... Menurutku, kamu berhak diperlakukan oleh Adrian seperti ini, seperti sertifikat rumah yang sekarang beratas nama kamu. Itu memang sudah seharusnya, kamu nggak perlu merasa bersalah. Adrian memang harus ganti rugi. Lagi pula, Adrian seharusnya berterima kasih karena kamu tidak melaporkannya pada polisi. Sekarang, menurut Mbak, balik lagi ke kamunya... Apakah kamu mau memaafkannya dan kembali bersama, atau kamu mau pisah saja dan menikmati apa yang sudah kamu dapatkan?" Ujar Mbak Dwi yang ada benarnya.

​"Aku akan berpikir dulu, Mbak..." balasku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!