FOLLOW IG : @LALA_SYALALA13
Demi membiayai pengobatan adiknya yang sakit-sakitan dan melunasi hutang peninggalan orang tuanya, Raina Angela rela melupakan masa lalunya sebagai anak orang kaya dan pergi jauh dari ibu kota.
Lima tahun kemudian dia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di sebuah rumah mewah ibu kota. Tanpa disadari, mansion tempatnya bekerja adalah milik keluarga Noah Raja Rajendra yaitu mantan kekasih yang terpaksa Raina tinggalkan secara kejam lima tahun lalu dengan alasan orang ketiga, demi menyelamatkan masa depan pria itu.
Pertemuan tak terhindarkan membenturkan kembali rasa bersalah Raina dengan kebencian serta luka mendalam Noah yang telah berubah menjadi manusia es.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukkkk baca yaaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cuma Kebetulan Semata
Lio menatap mata kakaknya yang jernih dan penuh keyakinan. Tidak ada keraguan sedikit pun di sana. Anak laki-laki itu akhirnya mengangguk pelan, kepasrahan dan rasa percaya sepenuhnya dia serahkan pada sosok wanita yang telah menjadi benteng pelindungnya selama ini.
"Iya, Kak. Lio nurut sama Kak Raina," ucap Lio tulus.
"Anak pintar," kata Raina seraya mengecup dahi Lio. "Ayo naik." ajak Raina untuk segera naik.
Raina membantu Lio duduk di kursi baris kedua yang dekat dengan jendela, lalu melambaikan tangan ke arah warga yang berdiri berjejer di pinggir jalan tanah. Mobil travel itu mulai bergerak pelan, meninggalkan debu-debu tipis yang membumbung di udara pagi.
Dari kaca jendela belakang, Raina melihat Mbok Darmi dan warga desa melambaikan tangan hingga sosok mereka mengecil dan akhirnya menghilang di balik tikungan pepohonan bambu.
Suara bising mesin mobil dan guncangan jalanan berlubang mengiringi awal perjalanan mereka. Lio yang masih lemah perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Raina. Tidak butuh waktu lama sampai remaja itu tertidur lelap karena pengaruh obat dan udara dingin.
Raina merangkul pundak adiknya, menatap lurus ke arah jalan raya di depan sana. Bayangan kota Jakarta yang megah, dingin, dan penuh misteri kini membayang jelas di pikirannya.
Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Bagi Raina Angela, ini adalah awal dari perjuangan baru di medan perang yang pernah menghancurkan hidup keluarganya. Dia tidak tahu seperti apa rumah mewah tempatnya akan bekerja nanti, atau seperti apa watak dari keluarga kaya raya yang akan menjadi majikannya.
Namun satu hal yang pasti yaitu Raina tidak akan pernah membiarkan dirinya menyerah. Demi Lio, dia siap menghadapi badai terhebat sekalipun di kota ibu kota.
Perjalanan panjang selama hampir delapan jam akhirnya memasuk daerah perkotaan. Deretan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, kepulan asap knalpot, serta deru mesin kendaraan yang padat menyambut kedatangan mobil travel di jantung ibu kota.
Bagi orang lain, pemandangan ibu kota mungkin tampak megah dan penuh dengan gairah kehidupan. Namun bagi Raina Angela, setiap sudut kota ini terasa seperti pisau bermata dua yang siap menguak kembali luka lama yang berusaha ditutupnya rapat-rapat.
Mobil travel tersebut akhirnya berhenti di sebuah kawasan perumahan elit dengan jalanan yang lebar dan tenang. Di kanan dan kiri jalan, rumah-rumah megah berdiri kokoh dengan pagar-pagar tinggi dan penjagaan yang ketat.
"Mbak, kita sudah sampai di alamatnya," ujar sopir travel seraya mematikan mesin kendaraan tepat di depan sebuah gerbang besi tempa berwarna hitam keemasan yang sangat tinggi.
Raina menatap keluar jendela. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Dada gadis itu terasa sesak luar biasa. Bangunan mansion di balik gerbang itu begitu megah dengan arsitektur klasik modern dengan pilar-pilar putih raksasa, taman hijau yang luas, serta air mancur yang memancurkan air jernih di tengah halaman depan.
Raina memegang dadanya yang bergetar hebat. Kenangan lima tahun lalu mendadak berputar cepat di dalam ingatannya bagaikan mimpi buruk.
'Dulu, sebelum kecelakaan maut itu merenggut segalanya... aku juga pernah tinggal di rumah sebesar ini,' batin Raina pedih.
'Aku pernah memiliki kamar yang luas, pakaian yang indah, dan hangatnya pelukan Papa dan Mama. Tapi hanya dalam satu malam, semuanya sirnah tanpa sisa...' batinnya membayangkan kenangan masa lalu.
"Kak Raina? Kenapa, Kak? Kok mukanya pucat banget?" suara Lio memecahkan lamunan Raina. Remaja itu memegang lengan kakaknya dengan cemas.
Raina tersadar, lalu dengan cepat menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan adiknya.
"Nggak apa-apa, Lio. Kakak cuma agak pusing karena perjalanan jauh. Ayo kita turun." sahut Raina mencari alasan.
Sopir membantu menurunkan dua tas lusuh dan kardus obat dari bagasi. Tepat saat Raina dan Lio berdiri di tepi jalan, pintu gerbang kecil di samping gerbang utama terbuka. Seorang wanita paruh baya bersanggul rapi dengan seragam pelayan berwarna abu-abu melangkah keluar.
"Ealah, ini Nak Raina sama Lio, ya?" sapa wanita itu dengan nada ramah dan senyum hangat.
Raina mengangguk sopan, membungkukkan badannya sedikit. "Iya, Bu. Saya Raina, dan ini adik saya, Lio."
"Aduhh, jangan panggil Bu, panggil Mbok Sri saja," sahut wanita itu cepat. Dialah Mbok Sri, kepala pelayan di mansion tersebut yang merupakan sepupu dari Mbok Darmi di kampung.
"Mbok Darmi sudah cerita banyak soal kamu. Kasihan sekali ya kalian... Ayo, ayo masuk dulu. Kasihan adiknya kelihatan capek banget." ajak Mbok Sri dengan penuh perhatian.
"Terima kasih banyak, Mbok Sri," ucap Raina tulus.
Mbok Sri dengan sigap membantu membawakan kardus milik Lio, membimbing kedua kakak beradik itu melangkah melewati pintu gerbang. Saat kaki Raina melangkah masuk ke dalam area halaman mansion, hawa dingin dan aroma kemewahan langsung menyapa inderanya.
Mbok Sri membawa mereka menyusuri jalan setapak di samping bangunan utama, menuju ke arah bagian belakang halaman yang sangat luas.
"Rumah ini milik keluarga Rajendra, Na," terang Mbok Sri sambil berjalan. "Tuan besar namanya Tuan Hendra Rajendra, dan nyonyanya Nyonya Eleonora. Mereka berdua orangnya tegas, tapi sebenarnya baik kalau kita kerjanya beres dan jujur." ujar Mbok Sri memberitahukan sifat sang majikan agar Raina tidak kaget nantinya.
Mendengar nama Rajendra, langkah kaki Raina mendadak terhenti seketika. Tubuhnya membeku di tempat. Wajahnya yang sudah pucat bertambah makin lesu, bibirnya bergetar tanpa suara.
'Keluarga... Rajendra?' batinnya menerawang.
Pikiran Raina mendadak kacau balau. Nama itu... nama yang tidak akan pernah bisa dia hapus dari memorinya seumur hidup.
Lima tahun lalu, saat perusahaan ayahnya bangkrut dan terbelit hutang miliaran rupiah, Raina terpaksa mengambil keputusan paling menyakitkan dalam hidupnya. Dia sengaja mengarang cerita bohong, mengaku telah berselingkuh dan berpaling ke pria lain, hanya untuk mengusir Noah dari hidupnya.
Raina melakukan semua rasa sakit itu bukan karena tidak mencintai Noah. Justru sebaliknya dia sangat mencintai Noah. Kala itu, bisnis keluarga Noah juga sedang diguncang krisis hebat, dan Raina tidak ingin menjadi beban tambahan bagi pria itu.
Dia memilih dibenci, memilih ditatap sebagai wanita murahan yang picik, daripada melihat Noah hancur bersamanya dalam kubangan hutang dan kemiskinan.
"Nak Raina? Kok berhenti?" Mbok Sri menoleh, menatap Raina dengan dahi berkerut bingung.
Raina mencoba menata deru napasnya yang tidak beraturan. Dia berusaha bersikap tenang, menepis pikiran buruknya.
'Tidak... ini tidak mungkin. Di ibu kota ada banyak orang bernama Rajendra. Ini pasti cuma kebetulan semata. Lagipula, Noah dulu pernah bilang keluarganya punya rumah di kawasan Utara, bukan Selatan ini...' bantahnya dalam hati.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
semangat author yah