Season kedua ini akan berfokus pada persiapan Yang Zhen dalam menghadapi ancaman invasi skala penuh dari Sekte Pedang Langit ibu kota yang berniat merebut energi Jiwa Iblis Darah Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Artefak Penolak Massa di dadanya berkedip-kedip terang mencoba melawan, namun artefak itu didesain untuk menolak perubahan massa tubuh penggunanya, bukan untuk menahan benda berat yang jatuh dari luar.
Tulang punggung sang jenderal berderit keras menahan beban puluhan ton yang menghimpitnya.
Kriet kriet.
Lantai marmer di bawah kaki pria kekar itu mulai hancur dan amblas ke dalam tanah akibat tekanan yang terlalu besar.
"T-tidak mungkin! Tekanan macam apa ini?!" erang Jenderal Zhao dengan urat-urat leher yang hampir meledak.
"Aku adalah petarung Tahap Langit tingkat puncak! Aku tidak akan kalah oleh bocah kampung sepertimu!"
Pria itu mengerahkan seluruh energi spiritualnya untuk menopang langit tak kasat mata yang menghimpitnya.
Aura merah menyala meledak dari tubuhnya, mencoba mendorong tekanan udara padat itu ke atas.
Wush wush.
Yang Zhen hanya tersenyum tipis melihat perlawanan sia-sia tersebut.
"Semangatmu patut diacungi jempol, Jenderal," puji Yang Zhen melangkah mendekati pria yang sedang berjuang keras itu.
Tap tap tap.
Pemuda itu berhenti tepat di depan Jenderal Zhao dan menunduk menatap mata pria tersebut.
"Tapi fisika tidak peduli dengan seberapa keras kau berteriak atau seberapa besar semangatmu," ucap Yang Zhen dengan suara mutlak.
Pemuda itu mengangkat tangan kanannya dan menepuk pelan bahu kiri sang jenderal.
Tep.
Tepukan pelan itu menjadi beban tambahan terakhir yang menghancurkan seluruh keseimbangan energi Jenderal Zhao.
Brak.
Kedua lutut Jenderal Zhao langsung menghantam lantai marmer hingga hancur berantakan.
Pria kekar yang arogan itu kini berada dalam posisi berlutut sempurna di hadapan pemuda Tahap Inti Emas yang ia hina sebelumnya.
"Aaaargh! Kakiku!" jerit Jenderal Zhao saat tulang tempurung lututnya retak parah.
Darah segar mengalir dari sela-sela zirah merahnya, membasahi lantai pelataran yang berdebu.
Su Lin melangkah mendekat dan berdiri anggun di samping Yang Zhen.
"Pemandangan yang sangat indah," komentar Su Lin menatap pria yang sedang berlutut kesakitan itu.
"Seorang jenderal ibu kota berlutut bersujud di depan penguasa perbatasan."
Gadis berambut biru itu menoleh ke arah Yang Zhen dengan senyum bangga.
"Apa yang akan kau lakukan padanya sekarang, Suamiku?" tanya Su Lin menantikan eksekusi brutal berikutnya.
Jenderal Zhao yang sedang berlutut menatap Yang Zhen dengan mata penuh teror dan rasa malu yang luar biasa.
"K-kau... jika kau berani membunuhku, Master Sekte akan meratakan kota ini dengan tanah!" ancam Jenderal Zhao dengan sisa-sisa napasnya.
"Dia tidak akan membiarkanmu hidup tenang!"
Yang Zhen tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya mendengar ancaman putus asa tersebut.
Hahaha.
"Master Sektemu saat ini pasti sedang menangis memegangi matanya yang buta akibat seranganku semalam," ejek Yang Zhen membeberkan fakta menyakitkan itu.
"Dia tidak akan datang menyelamatkanmu, Jenderal."
Pemuda itu menatap artefak batu keemasan yang menempel di dada Jenderal Zhao.
"Benda ini terlihat sangat mengganggu pemandangan," ucap Yang Zhen merentangkan tangannya ke arah artefak tersebut.
Syuut.
Dengan tarikan gravitasi kecil, batu keemasan itu terlepas dari zirah sang jenderal dan melayang ke tangan Yang Zhen.
Hap.
"T-tidak! Kembalikan Artefak Penolak Massa itu!" teriak Jenderal Zhao dengan panik.
Pria itu tahu bahwa tanpa artefak tersebut, tubuhnya akan langsung hancur jika Yang Zhen memanipulasi gaya tarik bumi di sekitarnya.
Yang Zhen membolak-balikkan batu keemasan itu di tangannya dengan wajah bosan.
"Benda ini sangat kuno dan mekanismenya terlalu ketinggalan zaman," kritik Yang Zhen menilai artefak tersebut.
Krak.
Yang Zhen langsung meremukkan batu berharga itu dengan genggaman tangannya hingga menjadi serpihan debu yang berjatuhan.
"Sampah peninggalan masa lalu tidak berhak ada di era kekuasaanku," ucap Yang Zhen dengan nada dingin.
Melihat artefak pelindung satu-satunya hancur, Jenderal Zhao menyadari bahwa kematiannya sudah berada di depan mata.
Pria kekar itu segera merogoh ke dalam kantong rahasia di balik zirahnya dengan tangan gemetar.
"Aku... aku tidak akan mati sendirian di tempat kotor ini!" raung Jenderal Zhao dengan mata membelalak liar.
"Jika aku harus mati, aku akan membawa seluruh istana ini bersamaku!"
Sang jenderal mengeluarkan sebuah jimat kertas berwarna hitam pekat yang memancarkan aura kematian tingkat tinggi.
Itu adalah Jimat Pemanggil Proyeksi, sebuah benda terlarang yang diisi dengan sebagian jiwa dan kekuatan penuh dari Master Sekte Jian Tian.
Mulan yang memiliki insting tajam langsung berteriak memperingatkan gurunya dari jauh.
"Guru! Awas! Jimat di tangannya memancarkan energi Tahap Langit tingkat puncak yang jauh lebih padat!" teriak Mulan dengan panik.
Namun, sebelum Yang Zhen sempat bereaksi, Jenderal Zhao langsung meremas jimat hitam itu hingga hancur.
Bum.
Sebuah pilar cahaya hitam meledak dari dalam genggaman sang jenderal dan membubung tinggi menembus langit pagi Kota Awan Merah.
Kehadiran sang dewa kematian dari ibu kota akhirnya turun tangan secara langsung untuk mengakhiri arogansi Yang Zhen.