"Kurang ajar! Beraninya kalian mengotori rumah tangga kita!" bentak Sandra dengan suara bergetar hebat, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi.
Sebelum Sandra bisa memberikan pelajaran lebih jauh kepada wanita itu, sebuah benturan keras mendarat di pipi kirinya.
Plak!
Tamparan itu begitu kuat hingga kepala Sandra terpelanting ke samping. Rasa perih langsung menjalar di pipinya, meninggalkan sensasi panas yang membakar. Pelaku pemukulan itu tidak lain adalah Anton sendiri. Suami yang selama empat tahun ini ia layani dengan sepenuh hati, kini berdiri tegak dengan mata melotot dan tangan mengepal.
"Seharusnya kamu sadar, kamu wanita lusuh, jelek, tidak bisa menjaga tubuhmu, aku muak denganmu!" teriak Anton dengan suara menggelegar, melampiaskan seluruh kebencian yang selama ini ia pendam.
Kata-kata itu menghujam jantung Sandra jauh lebih tajam daripada pisau bermata dua. Wanita lusuh? Jelek? Selama ini ia mengorbankan waktu istirahatnya demi mengurus rumah, sementara Anton
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sambutan Pangeran Kecil
Di atas ketinggian Vancity Tower, angin berhembus lembut menerpa dinding-dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kota dari kejauhan. Pendar cahaya matahari pagi yang cerah memantul di atas meja kaca yang dihiasi kelopak mawar segar. Suasana di restoran rooftop itu terasa begitu privat, seolah seluruh dunia di bawah sana berhenti berputar hanya untuk mereka berdua.
Dante mengulurkan tangannya di atas meja, merengkuh lembut jemari lentik Sandra. Sorot mata elangnya yang biasa memancarkan aura dingin dan mematikan, kini sepenuhnya luluh oleh kelembutan murni.
"Makanlah hidangan pencuci mulutmu, Sandra," ucap Dante dengan suara beratnya yang mengalun hangat. "Aku tahu kamu belum sempat menikmati teh dan kue dengan tenang sejak beberapa hari lalu."
Sandra tersenyum manis, membalas genggaman tangan suaminya. Ia mengambil sendok kecil dan mencicipi sepotong kue cokelat lembut yang disajikan khusus untuknya. Senyuman bahagia yang mengembang di bibir Sandra membuat dada Dante berdesir hangat. Rasa syukur yang amat dalam membuncah di dalam diri sang penguasa kegelapan.
"Terima kasih, Dante..." tutur Sandra lembut seraya menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. "Kadang aku masih merasa ini semua seperti mimpi. Beberapa minggu lalu aku merasa hidupku sudah hancur lebur tanpa arah. Tapi sekarang... aku memiliki kamu, Elzard, dan rumah yang penuh kasih sayang."
Dante menegakkan tubuhnya sedikit, mengusap punggung tangan Sandra dengan ibu jarinya.
"Ini bukan mimpi, Sandra. Ini adalah takdir yang seharusnya kamu dapatkan sejak awal," tegas Dante dengan nada suara yang penuh keyakinan mutlak. "Pria di masa lalumu hanya cukup bodoh untuk tidak melihat betapa berharganya dirimu. Tapi bagiku dan Elzard, kamu adalah bagian dari jiwa kami."
Rona merah tipis merambat di kedua pipi mulus Sandra. Kata-kata dari bibir Dante selalu berhasil menggetarkan ulu hatinya. Tidak ada lagi rasa bersalah, tidak ada lagi bayang-bayang hinaan atau ketakutan akan tuduhan mandul yang dulu melekat padanya. Di hadapan Dante, ia diterima dan dicintai sepenuhnya sebagai seorang wanita dan ibu sejati.
Sembari menikmati teh hangat dan suasana yang tenang di atas ketinggian kota, waktu terasa berlalu begitu cepat. Sandra dan Dante saling berbagi cerita, membicarakan rencana masa depan keluarga mereka, hingga dekorasi baru yang ingin Sandra tambahkan di dalam mansion.
Dante menyandarkan punggungnya di kursi kulit, melirik jam tangan mewahnya yang kini menunjukkan pukul sebelas siang.
"Sudah waktunya," ujar Dante seraya mengulas senyum tipis yang amat menawan. "Pangeran kecil kita pasti sudah menanti di depan gerbang sekolahnya."
Sandra seketika berbinar cerah. "Ayo, Dante! Aku tidak sabar mendengar cerita hari pertama Elzard di sekolah!"
Dante berdiri, lalu membimbing Sandra melangkah kembali menuju lift pribadi. Pengawalan ketat mengiringi langkah mereka hingga kembali ke dalam kabin sedan mewah hitam yang siap meluncur membelah jalanan menuju sekolah TK internasional tempat Elzard berada.
Mobil sedan mewah hitam milik Dante meluncur mulus membelah jalanan kota yang cerah, lalu berbelok memasuki pelataran sekolah TK internasional. Jam menunjukkan pukul setengah dua belas siang, waktu yang tepat bagi anak-anak untuk pulang setelah mengikuti kegiatan pengenalan sekolah.
Di depan teras dan koridor sekolah, deretan orang tua serta pengasuh sudah bersiap menunggu di area penjemputan. Begitu pintu mobil dibuka oleh Pak Biworo, Dante melangkah keluar lebih dulu dengan anggun dan gagah, lalu dengan sigap uluran tangannya menyambut Sandra turun dari kabin mobil.
Sikap protektif nan penuh perhatian dari sang penguasa Vancity Group itu kembali menyedot perhatian banyak pasang mata di sekitarnya. Namun, baik Dante maupun Sandra tidak menghiraukan pandangan tersebut. Fokus mereka berdua tertuju sepenuhnya pada pintu kelas berkayu pastel di ujung lorong yang baru saja terbuka lebar.
Rombongan anak-anak kecil berlarian keluar dengan tawa ceria seraya menggendong tas cilik mereka. Dari balik kerumunan bocah-bocah itu, sosok Elzard muncul dengan kemeja kotak-kotaknya yang sedikit berantakan di bagian kerah, namun wajahnya tampak begitu berseri-seri.
Begitu mata bulat Elzard menangkap sosok Sandra dan Dante yang berdiri tegap di luar, binar kebahagiaan seketika meledak di wajah kecilnya.
"Ibuuu! Ayahhh!" seru Elzard dengan suara nyaring membelah keramaian lorong.
Bocah lima tahun itu berlari kencang tanpa memedulikan tas punggung ciliknya yang membal-membal di punggungnya. Sandra langsung merendahkan tubuhnya, berlutut dengan tangan terentang lebar. Elzard menerjang masuk dan menghambur erat ke dalam pelukan hangat sang ibu baru.
Hup!
Sandra merengkuh tubuh mungil Elzard, mencium kedua pipi tembamnya yang merona manis. "Pangeran Kecil Ibu! Bagaimana hari pertamanya di kelas?"
Elzard menguraikan pelukannya seraya menatap Sandra dan Dante bergantian dengan napas sedikit terengah-engah tapi sangat bersemangat.
"Seru sekali, Ibu! Elzard tidak berantem sama sekali!" pamer Elzard polos dengan cengiran lebar, bangga karena telah mematuhi pesan Sandra tadi pagi. "Elzard dapat teman baru tiga! Terus tadi Elzard mewarnai gambar mobil balap dan gurunya kasih dua bintang emas!"
Dante yang berdiri di samping mereka terkekeh pelan—sebuah suara tawa renyah yang memperlihatkan kehangatan mendalam dari seorang ayah sejati. Pria bertubuh tinggi besar itu membungkuk, lalu mengangkat Elzard ke dalam dekapannya dengan mudah.
"Pintar sekali anak Ayah," puji Dante seraya menepuk-nepuk pelan punggung putranya. "Karena Elzard sudah jadi anak baik di sekolah, hari ini kita perhitungkan hadiah untukmu."
"Horeee! Terima kasih Ayah! Terima kasih Ibu!" bersorak Elzard riang, melingkarkan lengan kecilnya di leher Dante dan tangan satunya lagi menggenggam erat jemari Sandra.
Ibu Guru yang berjalan di belakang anak-anak tersenyum hangat melihat keharmonisan keluarga tersebut. "Elzard sangat aktif dan penurut hari ini, Nyonya Sandra. Dia bahkan membagikan biskuitnya pada teman sebelahnya."
Sandra tersenyum manis penuh rasa syukur. "Terima kasih banyak ya, Bu Guru."
Dengan genggaman tangan yang tak terputus dan gelak tawa renyah Elzard yang menghangatkan udara siang itu, mereka bertiga melangkah bersama menuju mobil mewah yang menanti. Di dalam pelukan keamanan, kemewahan, dan cinta murni keluarga barunya, Sandra tahu bahwa masa depan mereka ke depan hanya akan dipenuhi oleh cahaya dan kebahagiaan sejati.
tapi cocok sih, laki-laki pengecut seperti kamu punya istri pelacur murahan yang ga tahu diri 🤣🤣😂😂 dan kalian berdua siap-siap mati