NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Lumpuh

Istri Kontrak CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.

​Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Empat Tahun

​Jarum penunjuk waktu di dinding kamar utama kini bergeser menunjukkan pukul 6.30 sore. Sinar temaram lampu tidur mulai menyala otomatis, memantulkan kehangatan di setiap sudut ruangan mewah tersebut. Kirana yang baru saja selesai melihat-lihat isi perpustakaan memutuskan untuk kembali ke kamar utama guna membersihkan diri dan bersiap menghadapi makan malam pertamanya bersama Rian.

​Dengan langkah ringan, ia mendorong pintu kamar utama yang tidak terkunci rapat dan melangkah masuk.

​"Mas Rian...?" panggil Kirana pelan, mengira suaminya masih berada di ruang kerja sayap barat.

​Namun, langkah kakinya terhenti seketika di ambang pintu kamar mandi dalam. Napasnya tercekat, dan matanya membelalak lebar. Dua tangannya langsung terangkat membekap mulutnya yang terbuka karena rasa terkejut yang luar biasa.

​Di hadapannya, berdiri sosok Rian Wijaya—pria yang selama ini ia kenal hanya bisa duduk di atas kursi roda akibat kelumpuhan—kini berdiri tegak dengan kedua kaki kokoh menopang tubuhnya. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan sehelai handuk yang melilit sebatas pinggang. Tubuh bagian atasnya terlihat sangat kekar, dipahat sempurna dengan otot-otot yang tegas, basah oleh tetesan air sisa mandi. Tidak ada kursi roda di sekitarnya. Rian berdiri dengan postur tegap yang menjulang tinggi, menatap tajam ke arah Kirana.

​Sebelum Kirana sempat memproses kebingungan di kepalanya atau melarikan diri, Rian bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan. Dalam hitungan detik, tangan kokoh pria itu mencengkeram pergelangan tangan Kirana, menariknya masuk ke dalam kamar, dan dengan gerakan cepat mendorong tubuh gadis itu hingga terduduk di atas permukaan ranjang king size yang empuk.

​Rian mendekat, mengungkung tubuh Kirana dengan kedua tangannya menumpu di sisi kasur. Wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat, begitu dekat hingga Kirana bisa merasakan hembusan napas hangat bercampur aroma sabun maskulin dari tubuh suaminya. Tatapan mata hitam Rian menyala tajam, memancarkan peringatan keras yang dingin namun menyimpan kepanikan samar.

​"Jangan beritahu siapapun tentang apa yang kamu lihat," desis Rian dengan suara berat dan penuh penekanan di dekat telinga Kirana. "Ini rahasia kita. Tidak boleh ada satu orang pun yang tahu, bahkan Eyang sekalipun."

​Kirana gemetar hebat. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin meloncat keluar dari dadanya. Seluruh asumsi yang ia bangun sejak pertama kali bertemu pria itu runtuh seketika dalam beberapa detik.

​Dengan air muka pucat pasi dan suara yang bergetar hebat, Kirana menatap manik mata Rian.

​"M... Mas... nggak beneran lumpuh...?" tanya Kirana terbata-bata, nyaris tak sanggup merangkai kata.

​Rian bergerak menjauh sedikit, memberi ruang untuk Kirana bernapas. Pria itu berdiri tegap, berjalan santai menuju pintu kamar utama, lalu memutar kuncinya hingga terdengar bunyi klik yang mantap. Setelah memastikan kamar mereka benar-benar aman dan terisolasi dari dunia luar, Rian kembali melangkah dengan kedua kakinya yang kokoh.

​Ia mendudukkan dirinya tepat di atas kasur, duduk sejajar di samping Kirana yang masih mematung dengan napas yang belum teratur.

​"Ceritanya panjang, Kirana," suara Rian mengalun rendah, kini tanpa nada mengancam. Ada raut kekecewaan dan kepahitan yang mendalam di balik ketegasan garis wajahnya. "Kamu akan mengerti sedikit demi sedikit."

​Kirana memeluk kedua tangannya sendiri di atas pangkuan, matanya tak berkedip menatap pria di sampingnya. Pikiran Kirana yang cerdas berputar cepat, mencoba mencerna teka-teki gergasi yang baru saja terkuak di depan matanya.

​Rian menatap lurus ke arah dinding kamar, seolah melemparkan pandangannya kembali ke masa lalu empat tahun silam.

​"Empat tahun lalu, kecelakaan itu memang benar-benar terjadi," ujar Rian dengan suara berat. "Tapi pemulihanku jauh lebih cepat dari dugaan orang-orang. Saat aku mulai bisa melangkah kembali, aku memutuskan untuk menyembunyikan kenyataan ini dari semua orang. Aku sengaja bertahan di atas kursi roda."

​"Kenapa, Mas?" bisik Kirana, suaranya kini melunak, mengalahkan rasa takut yang sempat menyergapnya.

​Rian tersenyum tipis—sebuah senyuman getir yang dipenuhi ironi.

​"Saya melakukan ini untuk mengetes beberapa sifat orang," jawab Rian pelan namun tajam. "Dunia bisnis dan keluarga besar Wijaya dipenuhi topeng, Kirana. Ketika seseorang berada di puncak kekuasaan, sulit membedakan mana kesetiaan yang tulus dan mana ketamakan yang terselubung."

​Rian menghembuskan napas panjang, menatap jemarinya yang saling bertaut. "Dan benar saja, empat tahun berlalu... topeng-topeng itu terbuka satu per satu. Bahkan wanita yang begitu saya percayai—mantan tunanganku dulu—meninggalkan saya begitu saja hanya karena saya lumpuh."

​Dada Kirana berdesir mendengar pengakuan itu. Rasa terkejutnya perlahan berganti menjadi rasa simpati yang mendalam. Di balik harta, takhta, dan nama besar Wijaya Group, pria yang tampak sangat dominan ini ternyata menyimpan luka pengkhianatan yang begitu kelam. Kirana memahami betapa menyakitkannya dibuang dan dikhianati oleh orang-orang terdekat—sebuah kepahitan yang juga pernah ia rasakan saat keluarganya sendiri mengusirnya.

​Rian memutar tubuhnya, menatap lurus tepat ke dalam manik mata Kirana.

​"Sekarang kamu tahu rahasia terbesar dalam hidup saya," tegas Rian, suaranya kembali dipenuhi wibawa mutlak seorang penguasa. "Rahasia ini adalah taruhan hidup dan mati untuk posisi saya di Wijaya Group. Jika kamu membocorkannya, seluruh rencanaku akan hancur."

​Kirana menarik napas dalam-dalam, mengusir sisa gemetar di tangannya. Ia menatap Rian dengan tatapan jernih dan penuh keyakinan.

​"Mas Rian telah menyelamatkan masa depan saya dan memberi saya kehormatan," ujar Kirana dengan suara lembut namun sangat mantap. "Saya berjanji, rahasia ini akan tetap aman bersama saya. Saya tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan Mas Rian."

​Rian menatap gadis muda di hadapannya cukup lama, mencari keraguan di mata Kirana, namun ia hanya menemukan kejujuran murni. Dinding pertahanan Rian yang dingin perlahan mengendur; untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ia merasa menemukan seorang sekutu sejati yang bisa diandalkan di tengah luasnya samudra kebohongan.

1
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Rian and Kirana
Ariany Sudjana
ah ga seru, masak orang sekaliber Rian, ga bisa mengungkap keterlibatan Shinta juga?
Iffanaya 😽
kamu jg harus hati² jg sama Shinta ya Rian
Ryuu
baguuus
Ryuu
Semangat nulis nya sayang😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!