Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.
Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.
Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?
Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Jejak Pertama di 10 MIPA 1
Gerbang besi menjulang tinggi berukir huruf emas bertuliskan SMA Nusantara Jaya pagi itu diselimuti suasana riuh. Lalu lalang kendaraan pengantar, hentakan langkah sepatu hitam yang masih bersih tanpa noda, serta aroma khas seragam putih-abu baru mendominasi udara. Di antara kerumunan anak-anak muda yang tampak canggung dan bersikap manis demi memberi kesan pertama yang baik, ada satu sosok yang bergerak dengan irama berbeda.
Alee.....
Gadis itu tidak berjalan seperti siswa baru pada umumnya yang cenderung melangkah ragu-ragu. Alee melangkah lebar, petantang-petenteng dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku rok abu-abunya. Tas punggung warna hitamnya yang agak berat hanya disampirkan di bahu kanan. Rambutnya di kuncir kuda asal-asalan, beberapa helai anak rambut menyembul tidak beraturan di sekitar dahi.
Alee bukan tipe gadis cantik bak model majalah remaja wajahnya biasa saja, kulitnya sedikit manis terbakar matahari, dan garis wajahnya terkesan tegas. Namun, kepalanya selalu terangkat percaya diri. Matanya yang tajam dan selalu berbinar menunjukkan tingkat kecerdasan dan rasa ingin tahu yang terlalu tinggi untuk ditampung dalam tubuh mungilnya. Ia jenis manusia yang tidak bisa diam semenit pun; jika kakinya berhenti melangkah, jemarinya pasti akan menggetok-getok tali tas atau mengetuk-ngetuk paha.
"Lantai dua... koridor kanan... nah, ini dia!" gumam Alee pada dirinya sendiri saat menemukan papan petunjuk bertuliskan X MIPA 1
Tanpa mengetuk atau ragu sedikit pun, Alee melangkah masuk. Suasana kelas masih sepi, hanya ada sekitar delapan orang yang duduk tersebar. Sebagian besar dari mereka hanya saling pandang canggung, sibuk mengotak-atik ponsel masing-masing demi menutupi rasa cemas di hari pertama.
Alee mengedarkan pandangannya. Matanya berbinar melihat jajaran bangku yang belum berpenghuni. Dari sekian banyak posisi, matanya tertuju pada meja barisan kedua dari depan, tepat di tengah-tengah. Lokasi strategis: tidak terlalu depan sampai harus terus-menerus ditunjuk guru, tapi cukup dekat untuk melihat papan tulis dengan jelas.
Brak!
Alee melempar tasnya ke atas meja tersebut dengan suara cukup keras, membuat dua siswi di barisan pojok terkaget dan menoleh. Alee hanya tersenyum lebar tanpa rasa bersalah, lalu menarik kursi dan langsung duduk bersandar sambil meluruskan kakinya.
Beberapa menit berlalu, kelas semakin terisi penuh. Ruangan yang tadinya hening mulai bising oleh bisik-bisik kaku. Alee mulai merasa bosan. Jemarinya sibuk mengetuk-ngetuk permukaan meja membentuk irama drum lagu rock yang sedang terngiang di kepalanya. Kakinya bergoyang-goyang di bawah meja.
Tiba-tiba, seorang cowok melangkah masuk melalui pintu depan.
Berbeda dengan Alee yang membawa energi meledak-ledak, cowok ini hadir dengan aura yang jauh lebih tenang. Tubuhnya tinggi tegap, rambutnya tertata rapi, dan seragamnya tampak sangat bersih tanpa lipatan berlebih. Tatapan matanya teduh, menyapu sekeliling ruangan dengan ekspresi datar namun tidak terkesan dingin.Ia adalah Rama.
Rama tipe murid yang tidak suka menjadi pusat perhatian, tetapi pembawaannya yang tenang secara alami menyita pandangan. Ia mengamati situasi kelas yang kaku: anak-anak di pojok kanan berbisik-bisik canggung, anak-anak di sebelah kiri hanya menunduk memperhatikan sepatu, dan seorang gadis di barisan kedua Alee sedang mengetuk meja bagaikan pemain perkusi profesional yang kehilangan akal.
Rama tersenyum tipis. Ia melangkah menuju barisan tengah, mencari bangku kosong. Kebetulan, hanya tersisa bangku persis di sebelah Alee.
"Kosong?" tanya Rama pelan. Suaranya berat namun lembut, sangat terkontrol.
Alee menghentikan ketukan jarinya mendadak. Ia menoleh ke atas, menatap Rama dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan menilai yang terang-terangan.
"Kosong. Duduk aja, nggak ada yang boking kok," jawab Alee ceplas-ceplos.
"Makasih," jawab Rama singkat. Ia menarik kursi dengan perlahan tanpa menimbulkan suara gesekan yang mengganggu, meletakkan tasnya dengan rapi, lalu duduk.
Alee memperhatikan setiap gerakan Rama. Menurut Alee, cowok di sebelahnya ini terlalu tenang, tipe anak penurut yang biasanya jadi kesayangan guru. Dan bagi Alee yang aktif dan jahil, keheningan seperti ini adalah musuh utama.
"Gue Alee," ucap Alee tiba-tiba sambil mengulurkan tangannya secara impulsif. Matanya menatap Rama penuh rasa ingin tahu.
Rama agak terkejut dengan sikap frontal gadis di sebelahnya, namun respon refleksnya tetap tenang. Ia menyambut uluran tangan Alee dengan genggaman yang mantap. "Rama."
"Rama doang?"
"Rama. Lengkapnya Ramaditya," jelas Rama singkat.
"Oke, Rama. Lu alumni SMP mana? Kok milih MIPA 1?" cecar Alee tanpa jeda, memuntahkan semua pertanyaan yang melintas di otaknya seketika.
Rama terkekeh pelan. Cara Alee bertanya mirip seperti polisi yang sedang menginterogasi buronan, tapi entah mengapa rasa canggung di antara mereka justru mencair seketika.
"SMP 2," jawab Rama tenang. "Bukan milih sih, cuma dapetnya di MIPA 1. Kalau kamu sendiri?"
"Gue dari SMP 8. Gue emang ngincer MIPA sih dari dulu, sengaja masuk sini biar makin seru," cerocos Alee sambil menyeringai.
Sebelum Rama sempat membalas, pintu kelas terbuka lebar dan seorang pria paruh baya berkacamata tebal masuk membawa folder dokumen di tangannya. Seketika ruangan kelas kembali hening. Semua murid menahan napas, menyadari bahwa guru pertama mereka telah tiba.
"Selamat pagi semuanya," sapa guru tersebut dengan senyum ramah namun berwibawa. "Selamat datang di SMA Nusantara Jaya. Saya Pak Hartono, wali kelas kalian sekaligus guru Fisika di kelas 10 MIPA 1 ini."
Pak Hartono meletakkan foldernya di atas meja guru, lalu memandang seluruh murid satu per satu. "Karena hari ini adalah hari pertama dan masih dalam rangkaian penyambutan, kita tidak akan langsung belajar materi. Hari ini murni untuk saling mengenal. Tak kenal maka tak sayang, kan?"
Beberapa murid mendesah lega, termasuk Alee yang langsung bersandar santai di kursinya.
"Pertama, Bapa mau kalian masing-masing maju atau berdiri di tempat untuk perkenalan singkat: sebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal SMP, dan alasan memilih sekolah ini," ujar Pak Hartono.
Satu per satu murid mulai memperkenalkan diri. Kebanyakan dari mereka masih malu-malu, bicara dengan suara pelan dan kaku. Suasana kelas pun terasa agak canggung dan tegang karena belum ada yang saling akrab.
Hingga tiba giliran Alee. Tanpa disuruh dua kali, Alee langsung berdiri tegak dengan percaya diri, tidak ada guratan canggung sama sekali di wajahnya.
"Halo semuanya! Nama saya Alena, panggilan Alee. Dari SMP 8! Alasan masuk sini karena SMA Nusantara Jaya ternama dan gue maksud saya, saya mau cari suasana baru yang seru di MIPA 1!" seru Alee nyaring dan mantap, diakhiri dengan senyum lebar.
Suasana kelas yang tadinya tegang seketika menjadi cair. Beberapa murid terkekeh melihat gaya bicara Alee yang santai dan penuh energi. Pak Hartono ikut tersenyum menggeleng-gelengkan kepala. "Suara yang sangat bersemangat, Alee. Terima kasih."
Setelah Alee duduk, giliran Rama yang berdiri.
"Selamat pagi semuanya. Nama saya Ramaditya, biasa dipanggil Rama. Saya dari SMP 2. Semoga kita semua bisa berteman dengan baik dan kompak selama di 10 MIPA 1," ucap Rama tenang, ramah, dan tertata rapi. Senyumnya yang hangat membuat beberapa murid perempuan di kelas saling berbisik.
Alee melirik Rama dari samping dengan tatapan penuh selidik, lalu berbisik pelan, "Lancar banget ngomongnya, kayak udah latihan di depan kaca dari semalam."
Rama menoleh tipis dan berbisik balik, "Biasa aja. Kamu yang tadi kelewat semangat."
Alee hanya menyeringai jahil.
Setelah semua murid selesai memperkenalkan diri, Pak Hartono mengangguk puas. "Baik, terima kasih semuanya. Karena masih ada waktu sebelum bel pulang, sekarang tugas kalian adalah mengobrol dan berkenalan lebih dekat dengan teman-teman di sekitar kalian. Buat kelompok kecil empat orang untuk saling tukar kontak."
Seketika, riuh kecil kembali terdengar karena sebagian besar anak masih bingung dan ragu harus mengajak siapa. Melihat situasi kelas yang mulai kaku lagi, Rama berdiri dari kursinya dengan tenang. Ia balik badan menghadap ke meja di belakang mereka, menyapa dua anak laki-laki dan perempuan yang tampak bingung di sana.
"Hai, kita gabung berempat di sini aja ya? Biar gampang ngobrolnya," ujar Rama dengan nada santai, senyumnya ramah dan menenangkan.
Dua anak di belakang yang tadinya bingung langsung mengangguk lega. "Boleh, boleh!"
Rama lalu menoleh ke Alee. "Yuk, balik kursinya."
Alee menyeringai. Ia makin memperhatikan Rama. Cowok ini mungkin pendiam dan tidak banyak bicara melantur seperti dirinya, tapi Rama punya cara alami untuk mengondisikan suasana di sekitarnya. Tanpa perlu banyak aksi atau bersikap dominan, kehadiran Rama membuat orang lain merasa nyaman dan menurut begitu saja.
"Menarik juga nih anak," batin Alee.
Hari pertama di 10 MIPA 1 SMA Nusantara Jaya pun ditutup dengan suasana yang hangat. Alee yang aktif dan Rama yang tenang kini duduk berhadapan dalam satu kelompok kecil, menjadi awal perkenalan dua karakter yang saling melengkapi di masa SMA mereka.