Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Memilih Cinta Atau Keselamatan?
Ponsel di genggaman Cassandra hampir terlepas ke lantai koridor sekolah yang dingin. Suara pria asing di ujung telepon tadi masih berngiang keras, membekukan seluruh aliran darahnya.
Narendra langsung menyadari perubahan drastis pada raut wajah cewek di sampingnya. Ia meraih kedua bahu Cassandra, menatap matanya yang mulai digenangi air mata ketakutan.
"Cas... ada apa?" tanya Narendra dengan nada suara yang mendadak sangat cemas. "Ibu lu telepon bilang apa?"
Cassandra menggigit bibir bawahnya erat-erat, menahan isolasi panik yang hampir membuat dadanya meledak. Ancaman pria itu agar tidak memberitahu Narendra terus bergema, menuntut keputusan sulit dalam hitungan detik.
Namun, menatap sorot mata Narendra yang begitu tulus dan protektif, Cassandra tahu ia tidak bisa lagi menyimpan kebohongan sendirian.
"Ibu... Ibu diculik lagi, Ren," bisik Cassandra seraya terisak pelan di dada Narendra. "Pria itu suruh gue datang sendiri ke pelabuhan tua tanpa lu."
Narendra merengkuh tubuh Cassandra dalam pelukan hangatnya, mengusap lembut punggung cewek itu untuk menenangkan napasnya yang memburu. Aroma parfum khas Narendra yang menenangkan perlahan meredakan kepanikan di dada Cassandra.
"Gue enggak akan biarkan lu menghadapi ketakutan ini sendirian lagi, Cas," bisik Narendra tepat di samping telinga Cassandra. "Kita ini mitra, dan gue bakal selalu ada buat melindungi lu serta ibu lu."
Cassandra mendongak, menatap profil wajah Narendra yang dipenuhi keteguhan rasa cinta yang nyata. Di tengah badai konspirasi yang tak kunjung usai, keberadaan cowok ini adalah satu-satunya tempat aman bagi hatinya.
Ia mengangguk pelan, meremas kemeja seragam Narendra dengan rasa percaya yang utuh. "Kita selesaikan ini bersama, Ren."
Mereka berdua membolos dari jam pelajaran terakhir, menyelinap keluar lewat pagar belakang sekolah. Narendra memesan kendaraan taksi daring menuju kawasan dermaga tua yang terisolasi dari pusat kota.
Di dalam mobil yang melaju kencang, Cassandra duduk merapat di samping Narendra. Jemari mereka saling bertautan erat, saling menyalurkan kekuatan di tengah ketegangan yang membakar.
Narendra merogoh tas sekolahnya dan mengeluarkan dua unit peretas sinyal portabel buatan tangannya sendiri. Ia memasangkan salah satu alat berukuran mikro itu pada bagian belakang pelindung ponsel Cassandra.
"Alat ini bakal menyiarkan lokasi GPS lu secara langsung ke jam tangan gue tanpa bisa terdeteksi pemindai sinyal biasa," jelas Narendra pelan seraya menatap mata Cassandra. "Kalau pria itu memaksa lu masuk sendirian, gue bakal menyusup dari jalur udara atau belakang."
Cassandra mengelus pipi Narendra dengan jemarinya yang lembut, mengamati setiap detail wajah cowok yang sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. "Lu harus janji buat tetap hati-hati, Ren."
Narendra menyunggingkan senyum miringnya yang tipis, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dan singkat di dahi Cassandra. "Gue janji, Sayang."
Pukul 16.30 WIB.
Mobil taksi berhenti di tepi jalan tanah yang berdebu dekat kompleks pergudangan tua pelabuhan. Langit sore yang memerah berpadu dengan embusan angin laut yang dingin, menyambut langkah mereka berdua.
Sesuai rencana, Cassandra melangkah sendirian menuju gudang bernomor tujuh yang ditunjukkan dalam petunjuk pesan singkat. Narendra mengendap-endap di antara tumpukan kontainer tua, menjaga jarak aman sambil mengamati pergerakan sekitar.
Cassandra mendorong pintu besi gudang yang berdecit nyaring. Suasana interior gudang sangat remang-remang dan berbau cat kayu yang menyengat.
Di tengah ruangan gudang, ibunya duduk terikat pada sebuah kursi kayu dengan mulut terlakban. Di sebelah ibunya, tampak Nabila berdiri seraya menggenggam alat pemancar sinyal digital.
"Nabila?!" seru Cassandra kaget, tak mengira cewek itu masih menjadi bagian dari aksi penculikan ini.
Nabila tersenyum sinis seraya melangkah maju beberapa tindak. "Lu terlambat sepuluh menit, Cassandra."
"Mana Kakek Subroto?!" bentak Cassandra seraya menatap sekeliling ruangan yang sunyi.
"Pak Subroto enggak perlu turun tangan langsung buat urusan sepele kayak gini, Cas," sahut Nabila seraya mengacungkan remote kontrol di tangannya. "Tugas gue cuma memastikan lu menyerahkan flashdisk berisi bukti utang fiktif itu sebelum jam lima sore."
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki yang teratur terdengar menuruni tangga besi di sudut atas gudang. Seorang pria bersetelan jas hitam yang amat dikenal Cassandra berjalan turun dengan santai.
Bukan Kakek Subroto yang berdiri di sana. Melainkan pengacara pribadi keluarga Cassandra sendiri. Pria kepercayaan almarhum ayahnya yang selama sepuluh tahun ini mengurus seluruh dokumen hukum keluarganya.
Pengacara tua itu tersenyum dingin seraya mengeluarkan dokumen penyitaan aset resmi dari dalam tas kulitnya. "Kerja yang sangat bagus, Nabila. Sekarang... mari kita selesaikan pengambilalihan seluruh harta keluarga Cassandra yang tersisa."