Update setiap hari!
Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.
"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.
"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
“A ha ha ha ha, ayolah Naya. Siapa yang tak tahu soal asisten dosen itu, karena dia memang gila kerja.” Lucia tertawa, tawanya terlihat tidak natural. Lebih seperti, tertawa karir. Kanaya kini menatapnya tajam, tampak seperti seseorang yang tengah berpikir.
“Hem, ada benarnya juga. Lagian untuk apa dia sangat giat seperti itu, apakah ada rencana menikah tahun depan?” ucapan asal dari Naya itu membuat Lucia membeku seketika, bahkan buku yang dia bawa pun, kini terjatuh.
BRUKKK!
“Lucia, kau kenapa?” Naya mengguncangkan badan Lucia sehingga membuatnya terkejut, dan kembali sadar dari lamunannya.
“Hah, iya kenapa?”
“Harusnya aku yang tanya, kau yang kenapa?”
“Ah, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah” Lucia memunguti buku miliknya.
“Biar ku bantu,” seorang pria menghampirinya, ia membantu Lucia memunguti buku miliknya yang sempat berjatuhan.
“Kak Mondy." Lucia tersenyum menatap pria itu, dia adalah kakak kelasnya semasa SMA dulu.
“Lama tidak berjumpa Luci, bagaimana kabarmu?”
“Hem, aku baik” Lucia pun tersenyum senang, ia bahkan tertawa bersama dengan Mondy. Sedangkan di tengah-tengah mereka berdiri Naya yang tengah menatap mereka dengan kebingungan.
“Mengapa aku merasa seperti menjadi obat nyamuk di sini?" ujar Naya sambil terus menatap mereka dalam kebingungan.
***
Di sisi lain, saat ini Bianca, Arsen dan Renzo sudah sampai di sebuah vila di Bandung, mereka menggunakan pesawat kelas satu.
“Renzo, apa yang tadi itu serius, pesawat yang tadi bukan mainan kan?" pertanyaan Bianca itu membuat Renzo tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Ha ha ha ha, yak, bagaimana kau bisa berpikir seperti itu, padahal kalian sudah bersama cukup lama, o atau selama ini jangan-jangan kau tidak tahu kalau Arsen anak orang kaya? Lalu bagaimana sekarang saat sudah tahu, kau pasti sangat menyesalkan putus dengannya,” Renzo bukannya memberikan jawaban yang tepat malah balik bertanya dan mengejek Bianca, hal itu pun sontak membuat Bianca muak. Ia memiringkan bibirnya dan menatap Renzo sinis. Sedangkan Renzo malah menjulurkan lidahnya mengejek Bianca.
Bianca yang melihat Renzo senang mengejeknya pun akhirnya semakin marah. Ia Lalu bersedekap, berbalik badan dan mengacuhkan pria itu. "Huh..."
“Sial, pria ini benar-benar menyebalkan,” Bianca mengayunkan tasnya ke atas, dia ingin memukul Renzo namun pria itu malah berlari. Sedangkan di depan mereka ada Arsen yang tengah mencari Vila yang di maksud oleh kliennya.
Pria itu menatap sekitar, terdapat beberapa vila di sana. Arsen kemudian menemukan Vila yang sesuai dengan petunjuk kliennya. Di mana vila itu terlihat jauh lebih besar di bandingkan Vila yang lain di sekitaran sana.
“O, benar yang ini rupanya. Semuanya, tempatnya sudah ketemu,” Arsen berbalik badan, ia pun menemukan keduanya tengah bertengkar bahkan saling mengejar satu sama lain. Sontak reaksi Arsen yang melihat itu langsung masam, menatap mereka datar.
Terlihat Bianca yang tengah beradu mulut dengan Renzo. "Kau benar-benar ya Renzo, sangat menyebalkan." Ucap Bianca yang sangat-sangat merasa kesal.
"Kau jauh lebih mengesalkan Bianca, dasar asisten baru. Kurang pekerjaan." Renzo terus mengejek Bianca, sehingga membuat keduanya terus berdebat.
“Agh, sial. Bianca bahkan tak pernah sampai semarah itu saat bersamaku. Entah mengapa aku cemburu.” Arsen pun langsung menghampiri mereka.
“Yak, kau benar-benar ya. Bagaimana kau bisa seperti itu pada Bianca?” Arsen malah memarahi sahabatnya sendiri, dan ia malah membela Bianca padahal yang sedari tadi terkena pukulan tas milik Bianca adalah Arsen.
“Kau gila, dia yang memukulku bodoh,”
Bianca yang berada di belakang badan Arsen, rupanya tertawa kecil. Ia terlihat senang melihat Renzo yang di tabok oleh Arsen. Bianca lalu menatap Arsen dari belakang, tampak tubuhnya yang tegap gagah itu tengah melindunginya. “Ternyata sikapnya masih sama, saat dia khawatir padaku," ucap Bianca dalam hati.
“Bianca, apa sekarang kau sedang salting karenaku? Jujur saja, aku ini memang menawan,” ucap Arsen sambil membenarkan rambutnya.
Hal itu langsung membuat Bianca tersadar, wajahnya yang semula tersenyum kini langsung datar. Ia mengayunkan tasnya ke atas dan mencoba memukul perut Arsen dengan tas miliknya. “Hih, benar-benar tidak berubah, dasar tukang narsis.”
Arsen yang melihat ayunan tas itu, dengan cepat langsung menghindar. Renzo yang berada di depan Arsen pun akhirnya menjadi korban.
"Ha ha, sekarang giliranmu Arsen..." Ucap Renzo sebelum ia sadar bahwa bosnya telah menghindar lebih dulu.
DUAGHHHH!
Tas itu lagi dan lagi malah mengenai Renzo, akan lebih baik jika mengenai kaki atau tangan. Namun yang terkena adalah wajah, dan sontak hal itu membuat Renzo berteriak.
"ARRRGGGHHH, kenapa lagi-lagi aku yang kena pukul?”
Arsen yang melihat hal itu pun langsung tertawa, namun Bianca menoleh dan menatapnya tajam. Ia ingin memukul Arsen dengan tasnya. Arsen pun mundur beberapa langkah, namun ternyata itu hanya gertakan dari Bianca, karena setelah itu, gadis itu pun tersenyum.
“Bercanda, bercandaaaa,” ujar Bianca sebari menjulurkan lidahnya.
"Aku tidak bisa bertindak kasar, jika para petinggi perusahaan tahu. Aku bisa langsung di pecat karena terlalu jahat pada Arsen. Kejamnya hidup ini, entah kapan orang biasa mendapatkan keadilan. Andai dunia ini adil." Batin Bianca, sambil tersenyum karir.
Namun Arsen dan Renzo, tanpaknya tak senang akan hal itu. Kedua pria ini saling menatap seperti tengah merencanakan sesuatu.
Bianca kini Arsen dan Renzo yang saling menatap itu, membuatnya curiga. Ia pun kini sadar bahwa kedua pria itu ingin membalaskan dendamnya. Sontak Bianca pun langsung berlari, dan benar saja mereka langsung mengejar Bianca hingga ke dalam Vila.
"Stop!" Bianca menghentikan kedua orang itu.
"Kita kesini untuk bekerja ok, lupakan soal yang tadi dan tolong maafkan aku." Bianca kini membungkuk, ia meminta maaf dengan tulus kepada keduanya.
Arsen pun tersenyum menyeringai, "Akhirnya kau tahu juga, siapa bosnya di sini." Ucap Arsen dan Renzo yang berada di sampingnya. Kini malah balik menatapnya tajam.
"Menyebalkan" Batin Renzo.
Arsen kini menatap sekitar, ia baru sadar bahwa mereka telah masuk ke dalam vila.
"Pak Arsen, Ayo kita keluar!" Ucap Bianca yang sudah ingin keluar bersama dengan Renzo.
"Tidak udah, aku rasa ini benar Vilanya. Lebih baik kita naik ke atas dan mencari Tuan Darren." Ucap Arsen yang tanpa pikir panjang langsung menaiki anak tangga.
Mereka kini menuju ke lantai 2, Bianca lalu menatap sekitar. Namun tak ada tanda satu orang pun di dalam vila itu.
"Pak, Anda yakin ini vilanya?" Tanya Bianca lagi dan lagi.
“Mr. Arsenio, How are you?” Seseorang menghampiri mereka.
"I'm ok mr. Darren."
Arsen yang mendengar itu, seketika langsung tersenyum. Ia kembali menoleh dan menatap mantan pacarnya.
"Benar bukan Bianca?"
BERSAMBUNG