Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8
Di saat tensi di meja makan terbuka itu mulai terasa kaku, pintu Paviliun Anggrek akhirnya berderit terbuka.
Semua mata di pelataran tengah seketika tertuju ke arah bangunan barat. Xiao Yu melangkah keluar dengan langkah yang tenang dan teratur. Ia mengenakan gaun merah muda pucat yang sederhana namun rapi.
"Selamat pagi, kakak-kakak Selir," sapa Xiao Yu.
"Pagi," sahut selir senior enggan.
Tidak ada kepanikan, tidak ada tingkah aneh. Wajahnya tenang dan pandangan matanya tertuju lurus ke bawah. Menunjukkan sikap seorang wanita yang tahu tatakrama dan tidak berniat memicu konflik. Di sampingnya, Bao'er berjalan tegap memeluk baki sarapan milik majikannya.
Begitu Xiao Yu berjalan mendekati area meja batu dan berdiri menunggu instruksi, Selir Kui langsung menyandarkan tubuhnya di kursi batu. Ia melipat kipas bulu meraknya, menyunggingkan senyum beracun, lalu berucap dengan suara cukup keras agar terdengar ke seluruh pelataran:
"Kemarin malam ada sedikit 'pertunjukan' menarik. Seseorang sibuk berdandan dan bersiap menyambut kedatangan Yang Mulia Pangeran, namun sayang sekali... Beliau bahkan tak sempat mendudukkan bokongnya sebelum berbalik pergi karena muak," ujar Selir Kui sinis.
A-Lan dan A-Mei yang berdiri di belakang majikan masing-masing langsung menutupi mulut. Tertawa kecil yang tertahan namun sengaja diperdengarkan.
Selir Huo Yan menyusul bersandar anggun di kursi batunya, menyilangkan kedua tangan di atas meja seraya menyandarkan pandangan merendahkan pada Xiao Yu.
"Kunjungan singkat yang sangat berharga, bukan?" timpal Selir Huo Yan dengan nada sengit yang dipaksakan anggun. "Mungkin gadis desa itu mengira dirinya istimewa. Padahal Pangeran hanya datang membuang kata-kata peringatan agar dia tidak membuat malu kediaman ini lagi."
Mendengar hinaan terang-terangan itu, Bao'er yang berdiri di samping Xiao Yu seketika mengeraskan rahangnya. Matanya berkilat marah, dan jemarinya mencengkeram tepi baki kayu begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Bao'er menyenggol lengan Xiao Yu pelan, menuntut tindakan.
"Mereka membicarakan mu," bisik Bao'er.
Namun, Xiao Yu sama sekali tidak menunjukkan riak emosi. Wajahnya tetap tenang dan tenang. Xiao Yu hanya menundukkan kepalanya sedikit lebih dalam memberikan penghormatan penuh kepatuhan. Dia tidak membantah satu kata pun kata-kata mereka.
"Terima kasih atas teguran Kakak Selir," jawab Xiao Yu pelan. Suaranya datar, lembut, dan pasrah. "Hamba akan selalu mengingat pesan Yang Mulia Pangeran dan menjaga sikap."
Sikap Xiao Yu yang terlalu penurut dan sama sekali tidak melontarkan pembelaan membuat Selir Huo Yan sedikit menaikkan alisnya.
Sementara Selir Kui tertawa renyah. Merasa menang mutlak.
"Baguslah kalau kau sadar diri," cetus Selir Huo Yan tajam. "Di kediaman ini, tempatmu berada di paling bawah. Jangan pernah coba-coba menyela atau merasa sejajar dengan kami."
"Hamba mengerti, Kakak Selir," sahut Xiao Yu tenang. Tubuhnya kembali membungkuk tanpa ada sedikit pun nada perlawanan dalam suaranya. "Jika tidak ada petunjuk lain, hamba mohon izin membawa sarapan kembali ke kamar."
Selir Kui mengibaskan tangan dengan anggun. "Pergilah. Menatap kepatuhan mu yang membosankan itu membuat selera makanku hilang."
"Hamba pamit," jawab Xiao Yu singkat, lalu berbalik secara teratur menuju Paviliun Anggrek tanpa sedikit pun terburu-buru.
Melihat Xiao Yu yang begitu patuh mudah diatur dan tidak punya keberanian untuk membalas, Selir Huo Yan dan Selir Kui merasa puas.
Bagi mereka, selir baru dari keluarga Xiao ini hanyalah sosok wanita lemah penurut yang sama sekali tidak akan memberi ancaman politik atau perebutan perhatian Pangeran.
Selir Lin yang duduk di meja batu hanya menatap punggung Xiao Yu yang tenang Perempuan itu mengulas senyum tipis seraya meminum tehnya. Mengagumi betapa tenangnya gadis baru itu dalam menanggung kepatuhan.
Setelah pintu Paviliun Anggrek tertutup rapat, Bao'er langsung menaruh baki sarapan di meja dengan agak kasar.
"Yu'er!" bisik Bao'er dengan nada geram, dadanya masih naik turun. "Mengapa kamu diam saja dan malah mengiyakan semua kata-kata tajam mereka? Kau seperti pasrah menyerahkan dirimu untuk diinjak-injak!"
Xiao Yu melangkah santai menuju jendela, menyipitkan mata menatap dua selir senior yang kini sudah mulai menikmati sarapan dengan santai di luar.
"Kepatuhan adalah perisai paling tak terlihat, Bao'er," sahut Xiao Yu santai dengan senyum tipis di bibirnya. "Orang yang selalu membantah akan selalu diawasi dan dicurigai. Tapi orang yang selalu menurut dan tidak banyak bicara? Mereka akan dianggap tidak berbahaya dan dipinggirkan."
Ia membalikkan badan, menatap Bao'er dengan pandangan mata yang jernih dan penuh perhitungan.
"Mereka ingin aku jadi selir yang penurut dan tidak punya pendirian? Akan kuberi mereka sosok itu. Makin mereka percaya aku hanya wanita pasif yang tidak bisa berbuat apa-apa, makin bebas kita bergerak di bawah hidung mereka."
Bao'er menghela napas. "Tidak apa-apa selama mereka hanya bicara, tapi kalau mereka melakukan sesuatu, kamu harus membalas. Nona ku tidak boleh jadi bulan-bulanan mereka," nasehat Bao'er.
Xia Yu tergelak tipis. "Nona apa? Kita ini teman."
"Bagaimanapun kamu itu putri keluarga Xiao. Anak majikan ku. Aku tidak mau kamu di remehkan mereka. Janji. Kalau mereka sudah keterlaluan kamu harus bertindak," kata Bao'er.
"Iya. Aku mengerti. Tenang saja." Xiao Yu menepuk bahu Bao'er.
*
*
*
Di sudut tersembunyi area belakang Istana Barat. Hanya terpisah oleh taman bambu dari kompleks kediaman selir. Terdapat sebuah lapangan latihan pribadi yang dikelilingi dinding batu tinggi. Tempat ini dibangun khusus bagi Pangeran Zhang Li untuk mengasah keahlian bertarungnya tanpa gangguan.
Suara gema benturan kayu keras memecah keheningan pagi.
Tak! Tak! Tak!
Di tengah lapangan tanah yang padat, Pangeran Zhang Li bertelanjang dada. Memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang tegap dan penuh bekas luka pertempuran.
Keringat mengucur deras melintasi dada dan punggungnya saat ia bergerak cepat mengecoh lawan. Di tangannya, sebilah pedang kayu berat mengayun tajam, membentur pedang kayu milik pengawal pribadinya, Feng Chuan.
Brak!
Dengan satu tebasan memutar yang presisi, Zhang Li menghantam pergelangan tangan Feng Chuan hingga pedang kayu sang pengawal terlempar menancap di tanah. Belum sempat Feng Chuan memperbaiki posisinya, ujung pedang kayu Zhang Li sudah mendarat tepat di depan lehernya.
Feng Chuan menunduk dalam seraya menyapu keringat di pelipisnya. "Keterampilan silat Yang Mulia makin tak tandingi. Hamba kalah."
Zhang Li menarik kembali pedang kayunya, menancapkannya ke tanah. Lalu mengambil kain bersih yang disodorkan seorang pengawal untuk menyapu keringat di wajahnya.
Obrolan politik dan sikap manis para selir di kediaman tidak pernah menarik minatnya. Hanya di arena latihan ini ia merasa sepenuhnya hidup.