NovelToon NovelToon
Becoming Nyonya Kim

Becoming Nyonya Kim

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Selingkuh
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: Isaidno

Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.

Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.

Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.

Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Sementara di ujung telepon, Hana menggigit bibirnya pelan.

“Kenapa, Alexander? Kamu akhirnya tidak bisa lagi?” tanya Hana pahit.

Sama seperti Alexander, Hana di tempat itu juga sudah berkaca-kaca.

Namun sekali lagi, Alexander hanya bisa meminta maaf. Bahkan, dengan tidak tahu malunya, dia meminta waktu untuk berbicara setelah kembali dari Montera.

Hana tidak tahan lagi.

Panggilan itu dimatikannya tanpa mengatakan apa pun.

“Nona, Anda tidak apa-apa?” tanya seorang pria yang lebih muda dari Hana, yang merupakan bodyguard pribadinya.

Menyeka genangan air di sisi matanya, Hana menghentakkan kaki dengan kesal.

“Bagaimana bisa, Jethro? Bagaimana bisa? Alexander lagi-lagi membatalkan janji sesuka hatinya.”

Menurunkan kaca mobil, Jethro membiarkan udara segar masuk dan menyapu wajah majikannya.

Saat ini mereka sedang berada di parkiran sebuah toko perhiasan terkenal di kota.

Hana yang berusaha keras untuk tenang pada akhirnya tetap tidak bisa. Kakinya yang berada di atas pangkuan bahkan bergetar hebat.

Dalam pikirannya, jika dia pulang sekarang dan orang tuanya tahu bahwa mereka belum memesan cincin, dia pasti akan diinterogasi.

Lupakan pertanyaan-pertanyaan itu. Hana tidak tahan jika harus dimarahi Ayahnya nanti.

Jethro yang tahu benar kekhawatiran Nona Mudanya mengambil sesuatu dari kantongnya, lalu menyerahkannya kepada Hana.

“Apa ini?”

“Bukan cokelat seperti yang selalu Nona makan, tapi harusnya masih cukup enak.”

Hana sedikit tertegun.

Memang dia selalu memakan cokelat ketika suasana hatinya tidak baik. Namun, itu selalu cokelat dari merek tertentu, bukan sembarang cokelat.

Mendapati bodyguard yang baru beberapa bulan bekerja dengannya ternyata memperhatikan hal kecil tersebut, Hana tiba-tiba merasa hangat.

Tangannya terulur mengambil cokelat itu.

Dan entah mengapa, sebuah kesadaran lain muncul dalam pikirannya.

Alexander juga sering memberinya cokelat.

Hanya saja, pria itu hampir selalu salah memilih merek. Seolah-olah membelikannya secara asal.

“Kamu memperhatikanku, heh?”

Jethro tersenyum, menunjukkan lesung pipinya.

“Adalah tanggung jawab saya untuk memperhatikan Nona.”

Hana yang melihat sikap itu melalui kaca tengah merasa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Namun, ia semakin terkejut ketika cokelat yang masuk ke mulutnya terasa begitu pas.

“Hmm... apa ini? Kenapa rasanya mirip dengan cokelat yang biasa kumakan?”

Jethro tertawa kecil sambil membalas tatapan Hana dari kaca.

“Mulai sekarang saya akan selalu menyediakan cokelat ini. Berjaga-jaga jika cokelat Nona habis.”

Hana mengernyit kecil.

•

Pada akhirnya, penyesalan tetaplah penyesalan.

Sementara hidup harus terus berjalan.

Katakanlah Alexander sempurna dalam kesalahan ini. Setelah membatalkan rencana secara sepihak dengan Hana, dia juga secara sepihak memutuskan untuk mendatangi Soraya.

Sebuah keputusan yang sudah pasti bisa membuat Soraya terkejut.

Bahkan mungkin takut.

Karena itu, dengan sebuah tas berukuran sedang, Alexander pergi seorang diri untuk pertama kalinya.

Lagipula, dia sedang tidak berani membawa orang lain. Bukan hanya karena khawatir keberadaannya diketahui lebih awal, tetapi juga karena tidak ingin membuat Soraya merasa tidak nyaman.

Dengan terus mengandalkan koneksi salah satu anggota tim IT-nya, Alexander akhirnya mendapatkan informasi hotel tempat Soraya berada.

Sementara nomor kamarnya? Semua bisa ditanyakan dengan bahasa uang.

Begitulah persiapan Alexander.

Kini dia duduk sendirian di lobi khusus bandara pada siang hari. Namun bukannya kepanasan, tubuhnya justru dipenuhi keringat dingin akibat gugup.

Sesekali ia menggerakkan bahunya yang kaku, memaksa diri untuk santai.

Pikirannya ke mana-mana.

Apa yang harus dia katakan nanti ketika bertemu Soraya?

Haruskah dia meminta wanita muda itu mempertahankan anak mereka?

Jika iya, maka Alexander paham benar bahwa dia harus menikahinya.

Tapi bagaimana dengan hubungannya dengan Hana?

Hubungan Alexander dan Hana telah diketahui banyak pihak. Jadi ini akan menyakiti Hana, mempermalukan keluarga, dan juga dirinya sendiri sebagai seorang pengusaha yang sedang mencoba terjun ke dunia politik.

Alexander tahu dia akan gagal dalam banyak aspek jika semuanya terbongkar.

Ini harga yang benar-benar mahal.

Dan dia sendiri tidak yakin bisa membayarnya.

Namun, membayangkan seorang anak di dalam kandungan ibunya tanpa identitas dan kepastian tentang Ayahnya, Alexander tahu dia tidak akan pernah tega.

Menutup wajah dengan kedua tangan, panggilan penerbangan untuknya akhirnya terdengar.

Alexander tahu dirinya tidak layak. Namun, dia masih berdoa.

Berdoa agar di mampukan mengambil tanggung jawab atas kesalahan yang telah diperbuatnya.

Panggilan itu terdengar sekali lagi. Dia akhirnya berdiri.

Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan hidup kepadanya setelah ini. Tetapi satu hal yang pasti—

Dia tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.

🥀

Berbeda dengan Ayah calon bayinya yang kini sudah lebih dari siap untuk bertanggung jawab, Soraya dengan hasil pemeriksaan di tangan masih terdiam menatap cermin.

Saat ini dia berada di salah satu hotel ternama di pusat keramaian kota. Duduk sendirian di kamarnya, sementara tim yang bersamanya saling berbagi kamar.

Soraya bisa melihat jelas pecahan-pecahan kering di bibirnya, juga wajah yang tampak lebih pucat dari biasanya.

Telinganya masih mendengungkan ucapan Dokter tadi.

Dia hamil. Hamil dari kejadian satu malam di Negara orang.

Tapi hamil? Soraya masih tidak percaya.

Setiap kali kabar itu kembali terngiang di kepalanya, memorinya justru memutar kembali kejadian empat tahun lalu. Saat usianya belum lama menginjak tujuh belas tahun, kecelakaan tidak sengaja terjadi dan hampir merenggut nyawanya setelah sebuah mobil menabraknya.

Kini Soraya berdiri di depan cermin, mencoba melihat dirinya secara penuh.

Dia memiringkan tubuh, lalu memperhatikan pantulan dirinya dari samping.

Adakah perubahan? Tentu saja belum ada perubahan fisik yang berarti.

Namun perubahan emosinya terasa begitu nyata ketika kedua matanya mulai berkaca-kaca tanpa peringatan.

“Agrrgh...”

Soraya menggeram tertahan.

Sejak tadi dia tampak seolah tidak memiliki emosi, tetapi kini kedua tangannya justru menutup mulutnya rapat-rapat.

Bahunya bergetar kecil, kepalanya terasa pening hebat.

Dia terkejut.

Tidak menyangka.

Tidak berharap.

Tidak percaya.

Tapi senang.

Ya, Soraya tidak akan menampik itu.

Dia senang. Bahkan lebih tepatnya, bahagia.

Sangat bahagia mengetahui ada kehidupan di dalam kandungannya, ketika seorang Dokter pernah mengatakan bahwa dia tidak akan pernah memiliki harapan itu.

Harapan yang dulu mematahkan hati dan impiannya begitu hebat.

Karena sebenarnya, meskipun menjalani kehidupan yang tampak normal di depan mata, Soraya nyatanya tidak pernah benar-benar baik-baik saja setelah vonis tersebut.

Bertahun-tahun dia tidak berani menjalin hubungan cinta. Bertahun-tahun pula hubungannya dengan keluarga tidak pernah benar-benar membaik akibat peristiwa itu.

Satu-satunya hal yang masih bisa dia syukuri adalah memiliki sahabat yang selalu ada.

Bahkan sampai sekarang, Soraya masih tidak percaya bahwa kehidupan cintanya, keluarganya, dan impiannya untuk memiliki anak masih mungkin memiliki harapan setelah kecelakaan itu.

Namun seolah Tuhan ingin menunjukkan kepadanya bahwa hidup bukan sepenuhnya berada di tangannya.

Melainkan di tangan Tuhan.

Itulah sebabnya, di saat Soraya berada pada titik paling pesimis dalam hidupnya, dia justru melihat kemustahilan.

Meski melalui cara yang sama sekali tidak tepat, sayangnya.

Tunggu!

Pikiran Soraya tiba-tiba tersendat.

Ekspresi sedih sekaligus bahagia di wajahnya perlahan menghilang. Alisnya yang semula berkerut kini terangkat, seolah baru mengingat sesuatu yang sangat penting.

Kehamilan tidak terjadi seorang diri.

Ada dua orang di dalamnya.

“Tapi bagaimana dengan pria itu...?”

Soraya akhirnya mengingat Alexander setelah begitu banyak hal memenuhi pikirannya.

Namun berbeda dengan kebanyakan wanita, Soraya tidak merasa perlu terlalu memikirkan Ayah dari anak yang dikandungnya.

Karena ketika sekelebat memori buruk tentang Ayahnya sendiri datang menyapa, Soraya kembali pada satu kesimpulan sederhana.

Sosok pria seperti itu hampir tidak ada gunanya dalam hidup. Jadi dia merasa tidak apa-apa jika anaknya tumbuh tanpa seorang Ayah.

“Ya, lebih baik tidak punya Ayah daripada punya, tapi seperti Kakekmu!”

Soraya mengelus perutnya pelan, seolah sedang berbicara langsung kepada calon anaknya.

Namun, satu hal yang dia tahu pasti. Dia tidak mungkin menyembunyikan kehamilan ini dari keluarganya selamanya.

Dan jika ada satu orang yang masih bisa dia hubungi atas nama keluarga, maka orang itu hanyalah Kakaknya.

Kakak sepupunya.

Pria yang tumbuh bersamanya sejak kecil di bawah asuhan sang Kakek.

Namun memikirkan kakak sepupunya yang dingin, ditambah semua hal yang pernah terjadi di antara mereka, membuat Soraya tidak nyaman.

“Ck. Bagaimana kalau ponselnya dimatikan sebelum aku selesai bicara? Kan brengsek!”

Soraya bahkan sudah bisa membayangkan hal itu terjadi.

Namun jika bukan pria itu, dia benar-benar tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk mengadu.

Sang Kakek yang paling menyayanginya pun sudah tidak ada.

DRRTTTTT!

DRRRTTTT!

DRRTTTTT!

Tenggelam dalam pikirannya, ponsel Soraya tiba-tiba bergetar. Dia menoleh ke meja.

Nomor asing. Kode Negara asalnya.

Tidak perlu menebak terlalu lama. Soraya yakin itu pasti salah satu dari orang rumahnya.

Dan kalau dugaannya benar, pastilah bibinya yang lancang.

Meski begitu, Soraya tetap mengangkat panggilan yang mungkin hanya datang setahun sekali itu.

“Halo?”

“—Hey, anak kurang ajar! Kapan kau akan kembali dan melihat Ayahmu yang sakit, hah? Jangan-jangan kau berencana lari seperti Ibu penghiburmu itu!”

Baru kalimat pertama sudah berisi cacian.

Soraya langsung tahu ke mana arah pembicaraan ini.

Tanpa basa-basi, dia menekan layar dan memutuskan panggilan.

“Wanita tua sialan. Kenapa tidak dia saja yang mengurus Kakak tercintanya itu? Arrrgh!”

Soraya membuang napas kasar.

Namun beberapa detik kemudian, tangannya kembali menyentuh perutnya. “Aku Ibu hamil sekarang. Hal-hal beracun seperti ini harus dijauhi.”

Namun pihak di seberang sana rupanya tidak mau menyerah.

Panggilan kembali masuk.

Sekali.

Dua kali.

Beberapa kali, dan semuanya ditolak Soraya.

Sampai akhirnya, karena kesal terus-menerus diganggu, Soraya memblokir nomor tersebut.

Baru saja dia meletakkan ponselnya—

Benda itu kembali bergetar.

“Kurang ajar!”

Kali ini Soraya bahkan tidak melihat layarnya.

Dia langsung mengangkat panggilan tersebut dan berbicara dengan nada penuh amarah.

“Dengar! Aku tidak cukup peduli jika dia sakit. Kalau kau ingin merawat, rawat saja Kakakmu itu sendiri. Dia memang saudara yang baik, tapi bukan Ayah yang baik. Sialan kalian!”

Hening.

“—Soraya?”

DEG.

Suara bariton dari ujung telepon membuat mata Soraya seketika membelalak.

Tubuhnya membeku.

Perlahan, dia menjauhkan ponsel dari telinga dan menatap layar. Dan keterkejutannya berubah menjadi ketakutan ketika melihat nama yang tertera di sana.

Sang donatur terbesarnya, Laith.

1
Isaidno
Tolong like atau tinggalkan komentar ya, kalau suka 🥀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!