NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Kancing Atas yang Terbuka

​Langkah kaki Aluna terhenti tepat di depan pintu jatinya yang menjulang tinggi. Plang kuningan dipoles mengkilap di samping pintu itu menegaskan kekuasaan pemiliknya: CEO - MARKO JANITRA.

​Luna menghela napas panjang, membenahi letak tali tas bahunya, lalu merapikan blazer krem yang ia kenakan. Jantungnya berdegup tidak karuan. Ini bukan pertama kalinya ia akan bertemu Marko, tapi ini pertama kalinya ia bertemu pria itu bukan sebagai "anak sahabatnya", melainkan sebagai atasan langsung di Janitra Group.

​"Permisi, Mbak Aluna? Pak Marko sudah menunggu di dalam. Langsung masuk saja," tegur Rani, sekretaris Marko yang berdiri ramah di samping meja kerjanya.

​"Ah, iya. Terima kasih, Mbak Rani," jawab Luna tersenyum canggung.

​Luna mengikis jarak, memutar gagang pintu, lalu melangkah pelan ke dalam ruangan berukuran luas tersebut. Aroma kayu cendana campur citrus yang sangat khas langsung menyergap indra penciumannya. Aroma yang selama delapan tahun terakhir selalu berhasil membuat perutnya seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu.

​Di balik meja kerja besar berbahan kaca hitam, Marko sedang duduk bersandar. Kemeja putihnya digulung rapi hingga batas siku, memperlihatkan lengan kokoh bercat garis otot yang jelas—hasil dari rutinitas gym yang tidak pernah ia lewatkan. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, menambah kesan tampan, dingin, sekaligus berbahaya.

​"Selamat pagi, Pak Marko," sapa Luna, berusaha membuat suaranya terdengar seprofesional mungkin.

​Marko tidak langsung menjawab. Pria empat puluh lima tahun itu melepas kacamatanya perlahan, meletakkannya di atas meja, lalu mengarahkan tatapan matanya yang tajam tepat ke arah Luna. Tatapan yang mengintimidasi, namun selalu berhasil membuat Luna bertekuk lutut di dalam hati.

​"Duduk, Aluna," ujar Marko pendek. Suaranya berat, serak, dan mantap.

​Luna melangkah mendekat, lalu duduk di kursi kuli empuk di hadapan Marko. Ia berusaha menjaga posisi tubuhnya agar tetap tegak, meski matanya tak bisa berhenti mencuri pandang pada rahang tegas Marko yang tercukur bersih.

​"Gimana kabar Ayah sama Ibu?" tanya Marko santai, memecah kesunyian.

​"Baik, Om—eh, Pak. Ayah sama Ibu sehat," sahut Luna cepat, merutuki bibirnya yang hampir salah panggil.

​Marko menyunggingkan senyum tipis—hampir tak terlihat—melihat kecanggungan gadis di depannya. "Di luar gedung ini, kamu bisa panggil saya Om Marko. Tapi di dalam sini, dari jam delapan pagi sampai jam lima sore, saya atasan kamu. Faham?"

​"Faham, Pak Marko."

​"Bagus," Marko memajukan tubuhnya, menopang kedua siku di atas meja. "Saya udah baca berkas magang kamu dari kampus. Penilaian kamu bagas di divisi analisis data, tapi di sini standarnya beda jauh dari kampus. Saya nggak akan ngasih perlakuan khusus cuma karena kamu anak Ardi."

​"Saya nggak minta diperlakukan beda kok, Pak. Saya di sini mau belajar," jawab Luna mantap, menatap balik mata Marko tanpa ragu.

​Marko menatap Luna agak lama. Ada kilat ketegasan di mata bulat gadis dua puluh tahun itu yang membuat dada Marko mendadak berdesir asing. Pria itu berdeham pelan, mencoba menetralkan perasaannya sendiri yang tiba-tiba aneh.

​"Bagian SDM udah nyiapin meja kamu di divisi analisis. Nanti Mbak Rani yang antar," lanjut Marko sambil meraih kembali penanya. "Ada yang mau kamu tanyain sebelum mulai kerja?"

​Luna diam sejenak. Ia memperhatikan cara Marko memegang pena, otot lengannya yang mengetat, hingga wangi parfum maskulin yang semakin menguar memenuhi ruangan. Rasa mengagumi yang ia simpan sejak umur dua belas tahun itu kini tumbuh menjadi dorongan yang jauh lebih kuat dan membahayakan.

​"Pak Marko," panggil Luna pelan.

​"Ya?" Marko mendongak, menatapnya datar.

​"Beneran nggak ada pengecualian sama sekali buat saya?" tanyanya dengan nada menggoda yang sangat tipis.

​Marko menaikkan sebelah alisnya. "Maksud kamu?"

​"Ya... misal kalau saya lembur kemalaman, Pak Marko nggak bakal nawarin tebengan pulang?" Luna tersenyum manis, memiringkan kepalanya sedikit.

​Marko menghentikan pergerakan penanya. Matanya menyipit, menatap Luna dengan intonasi yang mendadak berubah serius. "Aluna. Kamu di sini buat kerja, bukan buat main-main."

​"Saya serius, Pak. Saya cuma nanya," jawab Luna santai, meski jantungnya serasa mau melompat keluar melihat perubahan ekspresi Marko.

​Marko menghela napas berat. Ia berdiri dari kursinya, memutari meja kaca besar itu, lalu berjalan mendekat ke arah tempat duduk Luna. Langkah kakinya yang tenang dan percaya diri membuat aura intimidasi di ruangan itu meningkat dua kali lipat.

​Luna menahan napas saat Marko berhenti tepat di samping kursinya. Pria itu membungkukkan sedikit badannya, menumpukan sebelah tangannya di sandaran kursi tempat Luna duduk. Jarak mereka kini tak lebih dari tiga puluh sentimeter. Luna bahkan bisa merasakan kehangatan tubuh Marko dan menghitung setiap helai bulu matanya yang tebal.

​"Kamu tau kan, saya temen akrab Ayah kamu dari zaman kuliah?" panggil Marko, suaranya terdengar begitu rendah dan dalam di samping telinga Luna.

​"T-tau, Pak..." Luna mendadak gugup saat aroma Marko menginvasi seluruh inderanya.

​"Dan kamu tau saya udah anggap kamu kayak anak sendiri sejak kamu masih ingusan?"

​Luna mengepalkan jemarinya di atas paha. Kata-kata itu selalu menjadi tembok penghalang yang paling ia benci. Anak sendiri.

​"Saya bukan anak kecil lagi, Om," cetus Luna reflek, menatap lurus ke dalam manik mata Marko. "Umur saya udah dua puluh tahun."

​Marko terkekeh sinis, walau matanya tak bisa membohongi rasa takjub melihat keberanian gadis di hadapannya. "Dua puluh tahun itu masih bocah di mata saya, Aluna."

​"Bocah yang bisa bikin Om Marko salah fokus dari tadi?" tantang Luna nekat.

​Suasana ruangan mendadak hening. Marko membeku. Matanya menatap bibir plum Luna yang dipoles lip gloss tipis, lalu berpindah menatap kerah kemeja blazer krem Luna.

​Kancing paling atas kemeja itu terbuka, memperlihatkan ceruk leher putih mulus dan tulang selangka gadis itu dengan sangat jelas. Marko merasakan sapuan panas di dalam dadanya—sebuah dorongan alami laki-laki dewasa yang refleks merespons keindahan di depannya. Tapi dengan cepat, akal sehatnya menghantam sadar. Gila kamu, Marko. Dia anak Ardi!

​Marko memejamkan mata sejenak, menekan dorongan aneh itu rapat-rapat. Ketika ia membuka matanya kembali, pandangannya sudah kembali dingin dan tak tersentuh.

​Ia mengulurkan tangannya. Jemari Marko yang panjang dan hangat menyentuh bagian kerah blazer Luna, membuat kulit leher gadis itu meremang hebat. Marko menyentuh kancing atas kemeja Luna, lalu mengaitkannya dengan gerakan perlahan namun tegas.

​"Kancingkan kemeja kamu sampai atas kalau lagi di kantor," bisik Marko tepat di depan wajah Luna, napas hangatnya menyapu pipi gadis itu. "Dan satu lagi..."

​Marko menarik tangannya kembali, lalu menatap Luna dengan pandangan tajam yang tak terbaca.

​"Jangan pernah pancing saya dengan tatapan kayak gitu lagi, Aluna. Kamu nggak akan kuat kalau saya beneran melayani permainan kamu."

1
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
A.J Lim
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor
A.J Lim: siap kak, terimakasih udh mampir
total 1 replies
A.J Lim
iya kak, ke makan gengsi nya 🤭
Adiba Adisa
luna bakalan ngaku ngga yaa
Adiba Adisa
panik sendiri kan om marko 😄
Adiba Adisa
hayoh loh ketahuan kan 🤭
Adiba Adisa
bagus ngga ngebosenin, bab awal udh dibikin penasaran kelanjutan nya
Adiba Adisa
bab awal udah bikin panas dingin 😄
Adiba Adisa: lanjutkan kak, ditunggu bab selanjutnya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!