NovelToon NovelToon
Setelah Dicerai, Aku Jadi Bos Barumu

Setelah Dicerai, Aku Jadi Bos Barumu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Selama menikah, Gia menyamar jadi istri polos yang cuma tahu urusan dapur. Tapi Aldo sang suami, malah menceraikannya demi cewek lain yang katanya anak direktur. Gia cuma tersenyum dan langsung tanda tangan. Lagipula, cape berpura-pura miskin!
Keesokan harinya, Aldo dengan sombong menghadiri rapat sebagai manajer baru di perusahaan raksasa VK Group. Dia berniat pamer demi bikin Gia menyesal.
Tapi saat pintu rapat terbuka, Komisaris Utama sekaligus pemilik saham terbesar masuk dengan anggun.
Itu Gia!
Gia tersenyum manis menatap mantan suaminya yang pucat pasi. "Manajer Aldo, buatkan saya kopi. Jangan lambat, gajimu saya yang bayar sekarang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Scandal

Seluruh lobi mendadak hening. Ratusan pasang mata menatap Ibu Titik dan Aldo dengan pandangan jijik dan cemoohan.

Wajah Ibu Titik yang tadinya merah padam mendadak pucat seputih kertas. Kaki tua itu bergetar hebat, dan toa di tangannya terlepas, jatuh menghantam lantai dengan suara nyaring.

Brak!

Gia melangkah mendekati mantan ibu mertuanya yang terpaku. Ia berbisik pelan tepat di telinga Ibu Titik. "Surat gugatan pencemaran nama baik dan penyitaan rumah sudah meluncur ke pengadilan jam sepuluh pagi ini, Bu. Selamat menikmati masa tua di kontrakan sempit ya." Ucap Gia dengan senyum tipis.

Ibu Titik memegang dadanya yang mendadak sesak, lalu ambruk pingsan di pangkuan Aldo.

"Ibu! Ibu bangun, Bu!" teriak Aldo histeris di tengah cemoohan para karyawan.

Di saat kerusuhan makin menjadi, Elkan mendekati Gia, menyunggingkan senyum puas. "Pertunjukan yang luar biasa, Sayang."

Namun, sebelum Gia sempat membalas ucapan Elkan, seorang pria berjas hitam asing menembus kerumunan dan menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal bersegel merah langsung ke tangan Gia.

"Permisi, Nona Gia. Ini surat panggilan darurat dari Konsorsium Pemegang Saham Pusat. Posisi Anda sebagai Komisaris Utama digugat oleh pihak ketiga."

Gia menahan napas. Pihak ketiga?!

Jari-jari lentik Gia mencengkeram erat amplop cokelat bersegel merah itu. Di depannya, kerumunan lobi masih riuh oleh paniknya Aldo yang menggotong ibunya keluar gedung. Tapi fokus Gia sudah sepenuhnya beralih pada kertas di tangannya.

Gia merobek segel itu dengan satu gerakan cepat. Matanya menyapu barisan kalimat resmi di dalam dokumen gugatan.

"Siapa yang berani main kotor begini?" gumam Gia dingin, alisnya bertaut rapat.

Elkan yang berdiri di samping Gia ikut melirik lembaran kertas tersebut. Begitu membaca nama lembaga penggugat yang tertera di sana, kekeh santai di wajah Elkan menguap tanpa sisa. Digantikan oleh garis rahang yang mengetat keras.

"Nico..." desis Elkan, suaranya seberat guruh. "Pria itu benar-benar mau cari mati."

Gia menoleh cepat menatap Elkan. "Nico? Dia beli saham dari mana sampai punya hak intervensi ke Konsorsium?"

"Tiga hari lalu, sebelum kamu resmi cerai dari Aldo," jelas Elkan singkat, matanya memancarkan kilat berbahaya. "Nico memborong sepuluh persen saham lepas di pasar sekunder lewat perusahaan cangkangnya. Dia sengaja pakai celah hukum buat menahan pengesahan posisi kamu sebagai Komisaris Utama."

Gia mengepalkan tangannya. Ternyata rasa penasaran Nico dari masa lalu belum mati juga.

Sementara itu, di sebuah rumah sakit tak jauh dari pusat kota, Aldo duduk lemas di kursi tunggu koridor. Wajahnya lesu, jas mewahnya sudah kusut tak beraturan. Di dalam kamar rawat, Ibu Titik masih terbaring lemah dengan selang oksigen setelah pingsan di lobi kantor tadi.

Siska berjalan mendekat dengan langkah kasar, melemparkan secangkir kopi dingin ke pangkuan Aldo.

"Mas! Kamu mau sampai kapan duduk kayak orang tolol begini?!" bentak Siska tanpa empati sedikit pun. "Pengacara keluarga kamu mana? Rumah kamu beneran disita besok?!"

Aldo mendongak, matanya yang memerah menatap Siska dengan pandangan benci. "Bisa nggak kamu diam sehari aja?! Ibu lagi sakit, Siska! Dan gara-gara aku ngerjar kamu, semua asetku melayang!"

"Oh, jadi sekarang kamu salahin aku?!" Siska tertawa sinis, menyilangkan lengan di dada. "Yang ngaku-ngaku manajer sukses itu kamu ya, Mas! Aku milih kamu karena mikir kamu punya masa depan! Kalau kamu melarat begini, jangan harap aku mau bertahan!"

"Siska!" bentak Aldo serak.

"Batalin rencana pernikahan kita!" potong Siska tegas tanpa perasaan. "Selesaikan dulu urusan hukummu sama mantan istri iblis itu, baru bicara sama aku!"

Siska berbalik dan pergi menghentakkan kakinya, meninggalkan Aldo yang memukuli kepalanya sendiri ke dinding rumah sakit. Penyesalan hebat mulai menggerogoti dadanya bagaikan racun yang menjalar pelan. 'Kenapa dulu dia melepas Gia yang tulus demi perempuan seperti Siska?'

Kembali ke gedung VK Group, ruang rapat direksi lantai paling atas berubah menjadi medan perang dingin. Tiga puluh petinggi pemegang saham duduk mengelilingi meja oval.

Di ujung meja, Nico berdiri dengan kemeja abu-abu dan kacamata hitam yang terselip di saku jasnya. Senyum miring terpampang jelas di wajah tampannya saat menatap Gia yang baru saja melangkah masuk.

"Selamat sore, Nona Gia," panggil Nico dengan nada meremehkan. "Atau harus saya panggil... Mantan Nyonya Aldo?"

Beberapa petinggi saham saling berbisik, menciptakan kasak-kusuk yang bising di dalam ruangan.

Gia melangkah anggun, menduduki kursi utama tanpa rasa gentar sedikit pun. "Presdir Nico, jika Anda datang ke sini cuma buat membawa sampah masa lalu, pintu keluar ada di sebelah kanan Anda."

Nico terkekeh renyah. Ia meletakkan tumpukan dokumen tebal di atas meja rapat dengan bunyi gebrakan yang cukup nyaring.

"Saya ke sini sebagai pemegang saham baru VK Group" ujar Nico lantang, menyapu pandangannya ke seluruh peserta rapat. "Saya mengajukan mosi tidak percaya atas kepemimpinan Nona Gia. Seseorang yang baru saja keluar dari skandal perceraian rakyat jelata tidak layak memegang kendali atas perusahaan sebesar ini!"

Para petinggi mulai tampak ragu, beberapa mengangguk setuju dengan ucapan Nico.

Aldo yang baru saja tiba di luar ruang rapat nekat datang dengan baju kusut demi melihat nasibnya mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Matanya berbinar melihat Gia diserang dari segala arah. 'Hancurkan dia, Pak Nico! Bikin dia jatuh melarat lagi!' batin Aldo penuh dendam.

Gia hanya menatap Nico dengan senyum tipis yang mematikan. Namun sebelum Gia membuka suara untuk membalas, Elkan mendadak berdiri dari kursinya.

Dengan santai, Elkan melempar sebuah berkas ber-map hitam tepat ke hadapan Nico.

"Masih tidak percaya?" Elkan tertawa dingin, matanya menatap Nico bagai predator melihat mangsa. "Sebelum kamu bicara soal kelayakan Gia, bagaimana kalau kita bahas dulu lima puluh miliar uang Nico Corp yang kamu alirkan secara ilegal buat beli saham VK Group pagi tadi?"

Seluruh ruangan seketika gempar. Wajah Nico yang tadinya jumawa mendadak kaku, warna kulitnya berubah pucat pasi.

Aldo di luar pintu menahan napasnya.

Gia menoleh menatap Elkan yang berdiri tegap di sampingnya. Pria itu lalu memiringkan kepala, berbisik pelan tepat di samping telinga Gia dengan nada bucin yang bikin geli sekaligus merinding.

"Jangan khawatir, Sayang. Siapa pun yang mencoba menyentuh posisimu, bakal kubikin bangkrut sebelum matahari terbenam."

Nico mengepalkan tangan di atas meja, urat-urat lehernya menegang. "Elkan! Kamu main kotor!"

"Ini bukan main kotor, Nico," potong Gia cepat sambil menyilangkan kakinya anggun. "Ini namanya memburu tikus kantor."

Gia mengetuk mejanya pelan, lalu menatap seluruh petinggi saham. "Voting ditunda. Dan untuk Presdir Nico... audit eksternal atas perusahaan Anda resmi dimulai lima menit lagi."

Ponsel Nico di atas meja mendadak bergetar hebat. Sebuah notifikasi berita ekonomi nasional muncul di layar utama:

‘Skandal Penggelapan Dana Nico Corp Terbongkar, Saham Utama Anjlok 30 Persen!’

Mata Nico melotot horor. Ia menatap Gia dan Elkan bergantian dengan napas memburu.

Di luar ruangan, Aldo gemetaran hebat. Ia sadar, dua raksasa di dalam sana sama sekali bukan tandingannya. Tapi saat Aldo hendak melangkah mundur untuk kabur, sebuah tangan berotot menepuk bahunya kasar dari belakang.

Dua petugas polisi berdiri tegap di belakang Aldo.

"Pak Aldo? Anda resmi ditahan atas dugaan penipuan laporan keuangan dan penggelapan dana aset VK Group."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!