NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peta di Atas Meja Bundar

​Pukul dua dini hari di ruang komando utama klan Argantara. Lampu gantung kristal redup memancarkan pendar temaram di atas meja bundar berbahan kaca hitam tebal. Di sekeliling meja, para petinggi divisi klan berkumpul—mulai dari Marco sebagai kepala divisi taktis lapangan, Erick sebagai kepala pengaman internal, hingga tiga ahli strategi senior yang biasa mengeksekusi operasi tingkat tinggi.

​Di ujung meja, Devan Argantara duduk di kursi utamanya, menyandarkan punggung dengan gaya dominan yang tenang. Cangkir kopi hitam panas di tangannya membuahkan uap tipis, sementara tatapan mata kelamnya tertuju penuh pada sosok Aria yang berdiri di depan proyektor holografis.

​Atmosfer di ruangan itu masih sarat akan keraguan. Meski Marco telah merasakan sendiri gertakan tajam Aria dua hari lalu, para ahli strategi senior klan masih memandang wanita bergaun satin gelap itu dengan mata menyipit. Bagi mereka, mempercayakan cetak biru operasi sebesar Kasino Royale Vane kepada seorang peretas independen adalah perjudian yang terlalu riskan.

​"Kita tidak punya banyak waktu untuk debat kusir," suara Devan memecah keheningan, berat dan bernada perintah mutlak. "Aria, tunjukkan pada mereka apa yang sudah kamu temukan."

​Aria mengangguk tipis. Tanpa sedikit pun gugup di bawah tatapan belasan mata pria-pria berbahaya di ruangan itu, ia menekan sebuah tombol pada gawai lipat di tangannya.

​ZRRRST.

​Cahaya biru berdenyar dari tengah meja, memproyeksikan maket 3D berresolusi tinggi dari gedung Kasino Royale Vane. Bangunan megah lima lantai itu terlihat detail, lengkap dengan alur pipa, saluran udara, hingga titik-titik kamera pengawas yang ditandai dengan warna merah.

​"Ini adalah cetak biru resmi Kasino Royale Vane yang dipunya oleh tim intelijen kalian," buka Aria, suaranya bening, tenang, dan sangat teratur. "Dan dengan segala hormat... kalau kalian menggunakan denah ini untuk menyerbu kasino minggu depan, delapan puluh persen tim taktis kalian bakal mati konyol di lantai dua."

​Gumam kekesalan langsung terdengar di antara para ahli strategi. Salah satu pria senior berambut cepak mengetukkan jarinya ke meja dengan kencang.

​"Jaga bicaramu, Nona," cetus pria senior itu kaku. "Denah itu didapatkan dari orang dalam klan Vane dengan bayaran miliaran rupiah tiga bulan lalu. Data itu sangat akurat!"

​"Data itu akurat untuk kondisi tiga bulan lalu," potong Aria cepat, menatap pria senior itu tanpa kedip. "Tapi kalian lupa bahwa Hector Vane adalah pria yang sangat paranoid. Tiga minggu lalu, dia mengganti seluruh vendor keamanan siber dan merenovasi struktur fisik lantai VIP secara rahasia."

​Aria mengusap layar gawainya, membuat proyeksi holografis gedung berubah. Jalur-jalur berwarna merah yang menandai sistem keamanan lama perlahan pudar, digantikan oleh jaring-jaring jalur berwarna ungu dan kuning yang jauh lebih rumit.

​"Bagaimana kamu bisa tahu soal renovasi rahasia itu?" tanya Marco dengan dahi berkerut, kini menyimak dengan serius.

​"Sederhana," jawab Aria sembari menyunggingkan senyum tipis. "Aku tidak meretas peta mereka, tapi aku meretas server lalu lintas truk material konstruksi, data pemesanan kaca anti-peluru tingkat empat, dan alur pembayaran listrik sekunder yang masuk ke kasino selama satu bulan terakhir. Dari volume semen khusus dan panjang kabel fiber optik yang dibeli klan Vane, aku bisa merekonstruksi ulang perubahan struktur interior mereka sampai ketebalan dindingnya."

​Ruangan itu mendadak hening total. Para ahli strategi saling pandang dengan raut kaget yang tak bisa disembunyikan. Menganalisis keamanan bukan hanya soal membobol kata sandi, melainkan kemampuan membaca jejak-jejak kecil yang ditinggalkan musuh—dan Aria melakukan hal itu dengan sangat presisi.

​Devan mengulas senyum tipis yang hampir tak terlihat di sudut bibirnya. Ia meneguk kopinya perlahan, membiarkan Aria terus memegang kendali atas ruang rapat tersebut.

​"Perhatikan area lantai dua," Aria melanjutkan penjelasannya, menunjuk ke proyeksi bagian tengah gedung. "Tim taktis kalian awalnya berencana masuk lewat saluran ventilasi barat karena menganggap itu titik buta CCTV. Tapi kenyataannya, di renovasi terbaru, Hector memasang laser grid inframerah berfrekuensi dinamis di dalam pipa tersebut. Jika tubuh seseorang memotong jalur itu selama 0,1 detik, gas saraf mematikan akan tersemprot otomatis dan pintu darurat akan terkunci total."

​Aria mengusap layar lagi, memperbesar tampilan area lorong menuju ruang brankas utama tempat Black Ledger disimpan.

​"Bukan cuma itu," lanjut Aria. "Sistem brankas utama sekarang menggunakan proteksi tri-faktor: pemindai retina langsung pemilik kasino, kata sandi dinamis yang berganti tiap jam, dan lantai bertekanan bobot tubuh di sepanjang lima meter lorong utama. Jika bobot orang yang melangkah tidak sesuai dengan toleransi berat badan Hector Vane—sekitar tujuh puluh delapan kilogram—alarm pembunuh akan aktif."

​Pria senior yang tadi memprotes kini terdiam seribu bahasa. Wajahnya agak pucat saat menyadari betapa mematikannya jebakan yang tadinya akan mereka terobos secara mentah-mentah.

​"Jadi," Marco memajukan badannya, menatap proyeksi holografis dengan raut tegang. "Bagaimana cara kita menembus benteng itu kalau semua jalur disumbat?"

​Aria menatap satu per satu anggota tim Devan di sekeliling meja. Ia merasakan pergeseran atmosfer yang nyata di ruangan itu: keraguan dan pandangan meremehkan yang tadinya mengarah padanya kini berganti menjadi rasa cemas dan ketergantungan penuh pada otaknya.

​"Kita tidak masuk lewat saluran ventilasi atau pintu depan," tegas Aria. "Kita menggunakan celah di jaringan pendingin minuman kasino. Dapur utama kasino membutuhkan pasokan es batu otomatis yang terhubung ke peladen suhu independen. Peladen itu menggunakan protokol komunikasi lama yang tidak diperbarui saat renovasi. Dari titik lemah itulah, aku bisa masuk ke jaringan utama mereka dan mematikan sistem pemindai retina serta lantai bertekanan selama tepat empat menit."

​"Empat menit?" tanya Erick yang sejak tadi menyimak di dekat pintu. "Cuma empat menit?"

​"Empat menit adalah waktu yang lebih dari cukup kalau tim taktis bergerak dengan presisi, bukan seperti serdadu liar yang cuma tahu memberondongkan senjata," sindir Aria halus sembari melirik Marco.

​Marco tidak marah kali ini. Pria bertubuh kekar itu justru terkekeh pelan sembari mengangguk setuju. "Empat menit. Timku bisa melakukan itu."

​Aria mematikan proyeksi holografis. Cahaya biru memudar, menyisakan lampu temaram yang kembali menyoroti wajah-wajah para petinggi klan. Aria melipat kedua tangannya di dada, menatap seluruh ruangan dengan ketegangan yang berhasil ia kuasai penuh.

​"Itu analisis keamananku," pungkasi Aria datar. "Sekarang kalian bisa memutuskan: mau tetap pakai rencana lama yang bakal membunuh kalian semua, atau ikuti alur strategiku dan berjalan keluar dari kasino itu membawa Black Ledger?"

​Tidak ada satu pun suara protes yang terdengar lagi. Para ahli strategi senior menundukkan kepala, sementara Marco memberikan gestur hormat yang tulus ke arah Aria. Dalam satu sesi rapat singkat, Aria tidak hanya membuktikan keahlian keamanannya di tingkat tertinggi, tetapi juga mematahkan kesombongan seluruh petinggi taktis klan Argantara.

​Devan perlahan meletakkan cangkir kopinya ke atas piring kristal. Ia berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja hingga berdiri tepat di samping Aria. Aura dominasinya yang pekat dan beraroma woody hangat memenuhi udara di sekitar mereka.

​Devan menatap para bawahannya dengan pandangan yang mengunci.

​"Mulai detik ini," suara Devan bergema tegas di seluruh penjuru ruangan, "tidak ada lagi pertanyaan, tidak ada lagi keraguan. Seluruh rencana taktis untuk infiltrasi Kasino Royale Vane resmi menggunakan skema racikan Aria. Siapa pun yang menyimpang satu milimeter dari garis instruksinya... akan berhadapan langsung denganku."

​"Siap, Tuan Devan!" sahut seluruh petinggi di ruangan itu serempak.

​Devan lalu berpaling menatap Aria. Di balik iris mata kelam pria itu, terpancar kilatan rasa bangga dan kepuasan yang teramat dalam. Ia menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di samping telinga Aria hingga napas hangatnya menyapu kulit leher wanita itu.

​"Analisis yang sangat sempurna, Little Bird," bisik Devan dengan suara rendah yang menggetarkan dada. "Kamu baru saja mengendalikan seluruh pasukanku hanya dengan menggunakan otakmu."

​Aria menahan napasnya sejenak, merasakan sengatan ketegangan yang aneh saat Devan berada begitu dekat dengannya. Namun ia tetap mempertahankan tatapan matanya yang tajam dan tak tergoyahkan.

​"Aku melakukan ini buat memastikan aku tetap hidup sampai kebebasanku diberikan, Devan," balas Aria pelan namun penuh kepastian.

​Devan tersenyum tipis—sebuah ukiran senyum yang sangat menawan namun sarat akan intrik berbahaya. "Tentu saja. Tapi makin kamu menunjukkan betapa hebatnya dirimu... makin sulit bagiku untuk membiarkanmu pergi."

​Aria mengepalkan jemarinya kencang di balik lipatan tangannya. Pertempuran taktik di meja rapat mungkin telah ia menangkan dengan gemilang, tetapi pertempuran emosional dan tarik-menarik kendali melawan Devan Argantara baru saja memasuki babak yang jauh lebih intens.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!