Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Dunia Terasa Berhenti
Hari itu dimulai seperti hari-hari biasanya. Sandi berangkat kerja pagi pagi sekali sebelum matahari benar-benar terbit. Sebelum naik ke mobilnya, dia kembali masuk ke kamar sebentar, membungkuk di tepi tempat tidur tempat Laras masih berbaring setengah terjaga.
Dia menyentuh perut Laras yang masih terlihat rata namun mulai menampakkan kehidupan baru di dalamnya.
"Aku berangkat dulu ya. Istirahat yang cukup, jangan terlalu lama duduk di depan komputer. Aku pulang sore nanti bawa makanan kesukaan kamu. Kita makan bersama seperti biasa," bisiknya lembut sambil mencium kening Laras.
Laras tersenyum sambil menggenggam tangan suaminya sebentar. "Hati hati di jalan ya. Telepon Aku kalau sudah sampai di lokasi proyek. Aku akan menunggu kamu pulang."
"Selalu, Laras. Aku akan selalu hati hati, karena aku tahu ada dua orang berharga yang menunggu aku di rumah ini," jawab Sandi sambil tersenyum, lalu melangkah keluar pintu. Itu adalah kalimat terakhir yang dia ucapkan sebelum pergi.
Siang berganti sore. Laras duduk di ruang tengah sambil menyelesaikan naskah tulisannya. Jam dinding berdetak pelan. Sandi seharusnya sudah pulang sejak satu jam yang lalu, tapi dia tidak khawatir dulu.
Kadang pekerjaan di lokasi proyek memang memakan waktu lebih lama dari yang direncanakan. Dia menyalakan televisi untuk menemani kesendiriannya sambil menunggu kedatangan suaminya.
Berita di televisi memutar berita-berita ringan terlebih dahulu, lalu pembawa acara masuk ke segmen berita utama dengan nada yang tiba tiba terasa lebih serius.
"Kami mendapat laporan duka cita dari kawasan industri di pinggiran kota. Sebuah derek beton yang sedang bekerja di lokasi proyek pembangunan gedung bertingkat runtuh siang tadi. Beberapa pekerja dilaporkan tertimpa reruntuhan. Tim penyelamatan sedang berupaya mengevakuasi korban. Pihak manajemen perusahaan menyatakan ada beberapa korban jiwa dan luka-luka. Nama salah satu korban yang meninggal dunia baru saja dirilis. Dia adalah Sandi Wijaya, kepala tim proyek di lokasi tersebut."
Dunia Laras seakan berhenti berputar saat itu juga. Suara televisi masih terdengar jelas, tapi telinganya berdenging keras sekali hingga dia tidak bisa mendengar apa apa lagi selain detak jantungnya yang berpacu kencang.
Dia berdiri perlahan, kakinya terasa lemas seakan ada yang menariknya ke bawah. Dia berharap dia salah dengar, berharap nama itu nama orang lain, berharap ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir saat dia terbangun.
Tapi ponsel di meja ruang tamu berdering terus menerus. Pesan masuk berdatangan dari teman dan keluarga yang sudah mendengar berita itu. Laras tidak berani mengangkat telepon itu. Dia takut mendengar suara orang lain membenarkan apa yang matanya baru saja lihat di layar kaca.
Dia berdiri sendirian di ruang tamu yang sepi. Air matanya menetes perlahan, lalu jatuh satu demi satu di lantai. Dia menyentuh perutnya yang masih kecil, di sana ada janji masa depan mereka yang masih utuh dan hidup di dalamnya.
Rasa sedih yang luar biasa bercampur dengan rasa takut yang mendalam. Bagaimana dia akan membesarkan anak ini sendirian? Bagaimana dia akan menjelaskan nanti bahwa ayahnya adalah orang yang paling baik di dunia, tapi tak sempat menemani mereka berjalan bersamanya? Bagaimana dia akan melewati hari hari ke depan tanpa sosok yang selalu ada di sampingnya setiap hari?
Beberapa jam kemudian pintu depan terbuka. Bukan Sandi yang datang membawa makanan kesukaan seperti yang dijanjikannya tadi pagi.
Melangkah masuk dua orang perwakilan dari perusahaan Sandi dengan wajah tertunduk penuh rasa duka. Mereka menyerahkan barang barang pribadi Sandi, seperti dompet, jam tangan, dan sebuah buku catatan kecil yang selalu diselipkan di saku jasnya.
Laras menerima benda benda itu dengan tangan gemetar. Dia membuka halaman terakhir buku catatan itu yang ditulis Sandi pagi tadi sebelum berangkat ke lokasi.
...Hari ini gue harus bekerja sebaik mungkin. Karena gue tahu di rumah ada istri gue dan anak gue yang sedang menunggu gue pulang. Mereka adalah alasan gue bekerja keras, alasan gue ingin membangun masa depan yang cerah. Gue akan berusaha menjadi ayah yang baik dan suami yang bertanggung jawab. Semoga Tuhan melindungi gue hari ini agar bisa kembali pulang ke pelukan mereka berdua....
Isak tangis Laras akhirnya pecah di ruangan yang sunyi itu. Dia memeluk buku catatan itu erat di dadanya, seakan memeluk sosok suaminya untuk terakhir kalinya. Janji untuk pulang tepat waktu tidak bisa ditepati.
Sandi pergi, tapi dia tidak benar benar hilang. Semangatnya, kebaikannya, dan cintanya akan selalu hidup di hati Laras dan di dalam anak yang sedang tumbuh di rahimnya. Malam itu Laras tidak tidur.
Dia duduk di teras rumah mereka, menatap bintang di langit malam sambil berbicara pelan kepada seseorang yang kini sudah jauh di sana.
"Kamu sudah pulang ke tempat yang lebih indah ya Sandi. Aku tidak menyesal pernah memilih lu. Aku akan menjaga anak kita dengan segenap jiwa dan raga. Setiap kali dia tersenyum, aku akan tahu senyum itu mirip dengan senyum mu. Terima kasih sudah hadir di hidup aku, walau sebentar. Kamu adalah suami terindah yang pernah aku miliki. Selamat jalan, cinta sejati aku. Sampai kita bertemu lagi di tempat yang sama nanti."