Mereka menjulukinya Sang Dewi Putih. Adelina Vannicelli, pewaris takhta mafia Italia, cantik, dingin, dan mematikan, terbiasa membuat seluruh dunia bertekuk lutut hanya dengan satu tatapan. Sampai satu pengkhianatan meruntuhkan segalanya, dan di malam paling gelap dalam hidupnya, ia menemukan seorang bayi terlantar yang mengembalikan alasannya untuk terus bernapas.
Namun bayi itu menyimpan rahasia berbahaya. Ia adalah putra Jakob Müller, sang pemimpin mafia Jerman yang ditakuti seantero benua, pria yang dijuluki Sang Iblis. Dan Jakob menginginkan pewarisnya kembali, apa pun harganya.
"Nikahi aku, atau kau tak akan pernah melihat anak itu lagi."
Terjebak dalam pernikahan paksa demi anak yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri, Adelina bersumpah hatinya tak akan pernah tersentuh. Kesepakatan mereka jelas: pernikahan di atas kertas, kamar terpisah, dan dilarang jatuh cinta. Masalahnya, dua penguasa dunia gelap yang sama-sama keras kepala, sama-sama posesif, dan sama-sama tak terbiasa kalah, ternyata memainkan permainan yang jauh lebih berbahaya daripada perang antar-organisasi mana pun.
Di antara peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai dari Rusia hingga Inggris, cinta yang tak diinginkan itu justru menyala paling terang, dan menjadi kelemahan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Seberapa jauh Sang Dewi Putih rela jatuh demi seorang pria yang seharusnya ia benci? Dan apa yang sanggup dilakukan Sang Iblis Jerman ketika akhirnya ia menemukan satu-satunya hal yang ia takut kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daniella cantillo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Emma
Aku duduk berhadapan dengan ayahku. Di sampingnya ada Jakob, dan Adelina duduk di sisiku. Kegugupan menguasaiku. Jakob sudah tahu kami diserang di parkiran kelab. Ayahku sudah di sini sejak pagi, membombardirku dengan pertanyaan, sementara aku hanya diam dan membiarkan Adelina yang menjelaskan apa yang terjadi.
"Emma, sudah saatnya kau mengatakan yang sebenarnya. Apa yang sedang terjadi, siapa orang-orang yang menyerang kalian itu?"
Adelina menatapku, memberi isyarat agar aku bicara. Aku menghela napas.
"Orang-orang yang menyerang kami adalah anak buah Miguel Lascarro."
Ayahku mengangkat sebelah alis.
"Miguel Lascarro? Siapa dia? Apa hubungannya denganmu, Emma?"
"Ayah, dia pengusaha arsitektur ternama. Belum lama aku tahu dia juga terlibat dalam mafia Inggris. Dulu dia tunanganku. Beberapa minggu lagi kami seharusnya menikah, tapi..."
Ayahku memotong. Kulihat semua mata membelalak, tapi ayahku murka.
"Menikah? Bagaimana bisa kau mau menikah, Emma? Kau tak berniat memberi tahu keluargamu? Kakakmu dan aku cemas setengah mati memikirkanmu, mengira sesuatu terjadi padamu. Kau baru enam belas tahun saat menghilang. Kami mencarimu ke mana-mana, dan ternyata kau hidup bahagia, bahkan hendak menikah!"
"Ayah tak memberiku pilihan. Aku tak mau pergi, tapi terpaksa. Ayah mau menikahkanku dengan si Rusia itu, karena itu aku kabur. Percayalah, hidupku tidak mudah."
"Ayah, biarkan dia menyelesaikan ceritanya."
Ayahku duduk kembali. Jakob berjalan ke sudut meja, bersandar sambil menyilangkan tangan, matanya menusuk mataku.
"Dia selingkuh dengan wanita lain, jadi aku membatalkan pertunangan. Tapi sebelum membatalkannya, aku menuntut ganti rugi atas kerusakan emosional dan mental yang ditimbulkan bajingan itu, jadi aku mencuri 300 juta dolar darinya. Karena itu dia memburuku."
Semua orang memandangku dengan tercengang sementara tawa gugup keluar dari mulutku. Kulirik Adelina yang tersenyum padaku, sementara ayahku dan Jakob terdiam beberapa menit.
"Di mana uang itu sekarang?"
"Ada di rekening luar negeri. Kenapa, Ayah?"
"Karena kau harus mengembalikannya. Aku yang akan mengurus masalah ini. Ayah janji bajingan itu takkan pernah lagi mencoba menyakiti putriku. Emma, kau harus ikut Ayah pulang."
"Mengembalikannya? Tidak, Ayah, uang itu milikku. Itu kompensasi atas penderitaan yang dia sebabkan. Ayah, aku tak mau pergi. Aku suka tinggal di sini. Ada keponakanku dan Adelina. Di mansion Ayah aku akan mati bosan."
Aku menoleh ke arah Jakob. Dia menatapku sambil menyipitkan mata. Kuberi dia isyarat agar membelaku, tapi dia hanya menggeleng. Mulutku ternganga. Kutatap dia, memberitahunya bahwa aku kecewa. Lalu aku berpaling ke Adelina dan menggenggam tangannya.
"Tuan Cassandro, Emma boleh tetap tinggal bersama kami."
"Nyonya Adelina, lebih baik kau tidak ikut campur. Emma akan ikut denganku."
Kakakku bangkit, memutar tubuhnya menghadap ayahku.
"Adelina berhak berpendapat. Dia bagian dari keluarga ini, dia istriku, nyonya rumah ini. Jadi tolong jangan lagi merendahkannya. Kalau dia ingin Emma tetap tinggal di rumah ini, maka jadilah begitu, Ayah."
"Ada apa denganmu, Jakob? Kenapa kau bicara seperti ini hanya demi membela wanita ini? Apa kau lupa sedang bicara dengan ayahmu dan pemimpinmu?"
"Aku tidak lupa, Ayah. Tapi Ayah juga harus ingat bahwa dia istriku, ibu dari anakku, jadi Ayah harus menghormatinya. Aku takkan membiarkan siapa pun merendahkannya di hadapanku. Aku tak mau berdebat. Yang terpenting sekarang adalah melenyapkan si Miguel itu."
Ayahku memutar bola matanya, meraih segelas minuman keras.
"Aku yang akan mengurus masalah itu. Kalau Emma mau tinggal di sini, baiklah. Semoga kau tahu benar akan kau investasikan ke mana uang itu, Emma."
Mendengar aku boleh tinggal, aku menghela napas lega. Sendirian di mansion Ayah pasti membosankan.
"Aku punya beberapa ide bisnis, tapi belum jelas benar."
Aku berjalan ke tempat ayahku. Ayah memutar kursinya hingga menghadapku. Aku pun berlutut.
"Ayah, maaf sudah membuatmu cemas selama dua tahun ini, dan terima kasih sudah membantuku dengan masalah ini."
Ayah mengangkatku berdiri. Ia bangkit dan memelukku beberapa saat.
"Tak ada yang perlu Ayah maafkan. Ayahlah satu-satunya yang bersalah atas kepergianmu. Yang penting kau kembali bersama kami. Ayah akan memastikan pengecut itu membayar mahal karena telah membuat putriku menderita."
"Aku mencintai Ayah."
Kami melepaskan pelukan. Ayah mencium keningku, berpamitan pada semua orang, lalu keluar dari ruang kerja. Jakob duduk di hadapan kami, sementara Adelina duduk memandangi kakakku dengan wajah wanita yang sedang jatuh cinta. Sekarang jelas kakakku benar-benar berhasil membuatnya jatuh hati karena telah membelanya dari ayahku. Aku terbatuk kecil karena kedua orang ini tak berhenti saling menatap dan tersenyum, dan itu mulai membuatku risi, jadi aku terbatuk. Adelina menoleh dan tersenyum padaku.
"Sudah kubilang semua akan baik-baik saja."
"Emma, semoga ini jadi pelajaran untukmu. Kau tak bisa menikah dengan sembarang orang tolol. Kau masih sangat muda, baru delapan belas tahun. Mulailah belajar."
"Ya, akan kulakukan."
Kakakku keluar dari ruang kerja. Begitu pintu tertutup...
"Lihat, kan, berhasil!"
"Maksudmu apa?"
"Bahwa memberinya seks yang bagus akan membuatnya berpihak pada kita."
"Kau ini benar-benar tolol, Emma Müller."