Juliana membuka mata di kamar mewah yang tak dikenalnya dan merasa baru berumur delapan belas tahun. Di cermin, ada perempuan dua puluh empat tahun yang menatap balik. Di jarinya melingkar cincin. Di rumah itu ada anak kecil yang menatapnya penuh harap, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulut mungilnya.
Dan pria yang ada di sampingnya, ayah dari anak itu, adalah Samudra Adhitama Wiratama. Cowok es dari kampus yang dulu dia kejar-kejar. Suaminya.
Masalahnya, Samudra memandangnya seperti orang asing. Seluruh kota mengenalnya sebagai istri yang dingin, matre, dan kejam. Orang tuanya sendiri sudah enam tahun tak mau bicara dengannya. Sahabatnya menyimpan luka. Tak ada yang percaya padanya, dan sebagian besar dirinya pun tak tahu lagi siapa dia.
Enam tahun lenyap begitu saja. Siapa yang merampasnya, dan kenapa?
Sementara Ju berusaha memahami perempuan yang pernah dia jadi, Samudra mulai curiga bahwa kebenaran yang dia pegang selama ini hanyalah cerita yang ditanam orang lain. Ada foto yang terlalu rapi. Ada dokter yang terlalu tenang. Dan ada orang-orang yang diam-diam diuntungkan.
Cinta pertama yang tertunda enam tahun. Keluarga kaya raya yang saling menjerat. Seorang putri kecil yang berhenti bicara. Dan seorang istri yang bertekad merebut kembali namanya.
Kalau cinta bisa dihapus, apakah ia masih bisa ditemukan lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
POV: Evan
Orang-orang mengira aku pria yang sabar. Bukan. Aku hanya belajar bahwa hal-hal yang berharga tidak dibeli, tapi dikepung. Dengan tenang, dari segala sisi, sampai tak ada jalan keluar.
Namaku Evan Gunawan. Aku pewaris Gunawan Jewelry, wajah tampan di sampul majalah bisnis, bujangan yang diperkenalkan para ibu Jakarta kepada anak-anak gadis mereka. Aku punya segala yang bisa dimiliki. Dan meski begitu, sudah enam tahun satu-satunya hal yang benar-benar kuinginkan tidur di ranjang pria lain.
Sore itu, di kantorku di puncak gedung, aku memutar sebuah cincin di antara jari dan memandangi foto lama di atas meja. Juliana yang lebih muda, tertawa, matanya belum mengenal tipu daya. Begitulah aku pertama kali melihatnya, dan begitulah ia terpatri dalam diriku. Milikku. Dia selalu ditakdirkan menjadi milikku, sebelum si Wiratama itu muncul dan merusak segalanya.
Sabrina masuk tanpa mengetuk, dengan cara gugupnya.
"Dia sudah tanda tangan," katanya, lalu berdiri di pintu memilin-milin tangan.
"Aku sudah tahu dia akan tanda tangan." Aku tersenyum dan meletakkan cincin di meja. "Dia selalu perlu membuktikan pada semua orang bahwa dia berharga sendirian. Itu kelemahan yang paling mudah dimanfaatkan. Lembar kopinya ada padamu?"
Sabrina mengangguk, tapi tidak pergi. Dia tetap di sana, menggigit bibir.
"Mas Evan, soal denda pemutusan kontrak itu..." dia memulai, ragu. "Terlalu besar. Tiga kali lipat nilai penuh. Kalau dia mau keluar, dia nggak akan pernah bisa bayar. Ini bukannya... keterlaluan?"
"Itu persis cukup." Aku bersandar di kursi. "Dia tidak akan bisa keluar. Dia harus muncul di lokasi pemotretan, dengan aku di dekatnya, sebanyak yang perlu. Orang terbiasa dengan siapa yang selalu ada di sisinya. Tinggal soal waktu sampai dia ingat bahwa aku sudah ada di sini lebih dulu."
Sabrina menatapku dengan wajah orang yang tak lagi mengenali pria yang dia kerjai. Aku tahu apa yang dia pikirkan. Bahwa aku terobsesi, bahwa ini bukan cinta. Dia tidak mengerti. Tak ada yang mengerti. Ketika kau dibesarkan untuk memiliki segalanya, satu-satunya hal yang penting justru satu-satunya yang dikatakan tidak padamu. Dan Juliana mengatakan tidak padaku. Dia memilih si Wiratama, dengan nama belakang penuh uang lama dan wajah bosan itu, bukan aku. Itu tidak dimaafkan. Itu dikoreksi.
Telepon berdering. Laksmi. Kujawab dengan pengeras suara, karena Sabrina toh sudah tahu terlalu banyak.
"Halo, Tuan Muda Gunawan." Suara Laksmi selalu punya senyum tertanam di dalamnya. "Bagaimana proyek kecil kita di Jakarta Barat?"
"Dia sudah tanda tangan hari ini," jawabku. "Dia akan mengorbit hidupku selama beberapa bulan ke depan."
"Luar biasa." Laksmi tertawa ringan. "Kamu tahu, pasangan kecil itu, kalau terus bersama, akan mengganggu banyak hal yang penting bagiku di perusahaan itu. Kalau mereka berpisah sepenuhnya, baik untukmu, baik untukku. Masing-masing membawa pulang apa yang diinginkan. Aku membawa yang memang hakku, dan kamu membawa... gairahmu."
Kepentingan berbeda, arah sama. Itulah persekutuan terbaik yang ada. Dia ingin pernikahan itu mati demi saham, dewan, kendali atas perusahaan yang bahkan tak kupura-pura pahami. Aku ingin pernikahan itu mati demi seorang perempuan. Apa pun alasannya, asal tangan yang mendorong sama. Sudah enam tahun kami mendorong bersama, dan pernikahan itu, keras kepala, terus bernapas. Waktu itu kami nyaris berhasil. Juliana begitu tersesat, begitu rapuh, hingga cukup satu dorongan lagi, seorang dokter yang penuh perhatian, beberapa pil, beberapa foto di saat yang tepat, dan si Wiratama melepaskan tangannya sendiri. Bersih. Nyaris sempurna. Sampai kecelakaan terkutuk itu me-reset semuanya dan mengembalikan gadis yang jatuh cinta itu.
"Kita sebaiknya ngopi lagi dengan teman dokter kita itu," kataku, santai. "Dia sangat berguna waktu itu."
Ada satu detik hening di seberang.
"Pelan-pelan saja, Evan," jawab Laksmi, suaranya tetap manis, tapi berubah suhu. "Segala sesuatu ada waktunya. Tak perlu mengorek sekarang apa yang sudah terkubur rapi."
Dia menutup telepon tak lama kemudian. Sabrina pucat.
"Dokter yang mana?" tanyanya dengan suara setipis benang. "Mas Evan, apa yang kalian lakukan padanya waktu itu?"
"Tidak ada yang bukan demi kebaikannya," jawabku, dan nadaku menutup pembicaraan. "Juliana sedang sakit, Sabrina. Kami hanya membantu alam. Sekarang cukup bertanya. Kamu bawa foto-foto yang kuminta?"
Sabrina ragu, tapi mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya dan meletakkannya di meja sebelum keluar nyaris berlari, rasa bersalah menekan bahunya. Rasa bersalah perasaan yang tak berguna. Tak pernah menyelesaikan apa pun bagi siapa pun.
Aku sendirian. Kutarik amplop itu, tapi belum kubuka. Sebaliknya, kubuka laci paling bawah, tempat menumpuk amplop-amplop lain, semuanya sudah beralamat, semuanya belum berperangko, menunggu saat tepat untuk dikirim. Masing-masing adalah satu keping. Masing-masing akan jatuh tepat waktu untuk membuka retakan di pernikahan yang keras kepala menolak mati itu.
Aku kembali ke foto lama di atas meja dan menyusuri wajahnya dengan jari, pada senyum yang dulu pernah ditujukan padaku.
"Kali ini kamu tidak akan lolos, Bocah," kataku pelan pada gambar itu, dengan kata yang sama yang dipakai suaminya untuk memanggilnya, yang sengaja kucuri, supaya dia tak punya tempat aman bahkan di dalam julukannya sendiri. "Kamu selalu milikku. Kamu hanya perlu mengingatnya."
Kuambil amplop pertama dari tumpukan dan kutimbang di tangan. Isinya foto yang diambil Sabrina di lokasi, Juliana dan aku dalam bingkai yang, bila dilihat dari sudut yang tepat, menceritakan kisah yang tak pernah terjadi. Tinggal memilih waktu pengirimannya. Jangan terlalu cepat, supaya tak terbuang. Jangan terlalu lambat, supaya mereka tak sempat terlalu kuat satu sama lain. Saat yang tepat adalah ketika si Wiratama mulai percaya padanya lagi. Pada saat itulah foto ini harus tiba, supaya jatuhnya dari ketinggian maksimum.
Kumasukkan amplop itu kembali dan kukunci laci. Di luar, kota menyalakan lampu-lampunya, tak peduli, sangat luas, tanpa menyangka jaring yang sedang dianyam tepat di tengahnya.