Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 08
_____🌺
"Bagus deh kalau Bu Ratna sadar diri sekarang. Beramal itu memang penting, apalagi buat keluarga yang masih belum sempurna karena belum ada suara tangisan bayi di rumahnya. Ya hitung-hitung buat nebus dosa masa lalu lah, siapa tahu emang ada halangan tak kasat mata dari leluhur," sindir Bu RW tajam, sengaja menekan kata belum sempurna.
Bu Ratna sama sekali tidak terpancing marah mengamuk kali ini. Ia justru tertawa kecil, tawa yang sangat meremehkan. Tangannya dengan sengaja mengibaskan kerudung, membuat gelang-gelang emasnya berbunyi berisik beradu satu sama lain.
"Aduh, Bu RW ini omongannya bijak banget ya sore ini. Persis kayak ustadzah di acara TV pagi. Tapi jujur aja nih ya, Mama lebih milih keluarga Mama dibilang belum sempurna karena belum punya cucu, daripada punya cucu cepat tapi sistemnya pesan antar dari pabrik. Tujuh bulan kandungan langsung mateng tiga koma lima kilo. Itu mah nebus dosanya pakai nyumbang asrama panti asuhan juga nggak bakal cukup kayaknya, Bu. Harus sekalian nyumbang bangun pondok pesantren kilat!" balas Bu Ratna dengan nada sangat santai, tapi rentetan kalimatnya tajam merobek jantung lawan.
Mata Bu RW melotot nyaris keluar. Ia bangkit berdiri dari kursi rotannya, tangannya menunjuk tepat ke wajah Ibu Ratna yang tersenyum menang. "Heh! Bu Ratna! Ibu ini benar-benar ya! Datang ke rumah orang cuma mau cari ribut lagi? Hah?!"
"Loh, siapa yang cari ribut sih, Bu? Saya kan ke sini niatnya mulia, cuma mau bagi brosur panti asuhan. Ibu RW sendiri yang tadi mancing-mancing bawa urusan tangisan bayi dan dosa masa lalu. Nisa, kamu denger sendiri kan siapa yang mulai duluan tadi?"
Bu Ratna berbalik meminta pembelaan dari menantunya.
"Iya, Bu RW. Niat kami berdua cuma mau kasih brosur aja kok hari ini, murni niat baik bersedekah," tambah Nisa kalem, semakin membuat Bu RW mati kutu dan kehabisan kata-kata.
Bu Tejo buru-buru berdiri menengahi sebelum halaman rumahnya berubah menjadi arena tinju babak dua.
"Udah, udah, Bu RW, sabar dulu. Bu Ratna, brosurnya udah kami terima kok di sini. Makasih banyak ya infonya. Nanti kami pelajari lagi brosurnya di rumah masing-masing."
"Oh iya, sama-sama, Bu Tejo. Tolong dibaca baik-baik ya. Siapa tahu dengan banyak sedekah harta, mulut kita bisa dijaga dari omongan julid ngurusin rahim anak orang lain. Ayo, Nis, kita pulang sekarang. Panas di sini, hawanya banyak aura negatif, nanti emas murni Mama ikutan kusam dan luntur lagi." Bu Ratna membalikkan badan dengan sangat anggun.
Mereka berdua berjalan keluar halaman rumah Bu Tejo meninggalkan keempat ibu-ibu yang kini hanya bisa diam membisu seribu bahasa. Di sepanjang jalan pulang menuju rumah, Bu Ratna tak henti-hentinya tertawa puas.
"Kamu lihat kan wajahnya si RW sombong tadi, Nis? Merah menyala kayak kepiting rebus! Puas banget batin Mama rasanya hari ini. Biar tahu rasa dia, berani macam-macam sama keluarga Bratadikara," ucap Bu Ratna bangga menepuk dadanya.
"Iya, Ma. Mama emang juara satu kalau urusan debat begini. Nisa ngaku kalah deh sama mental baja Mama," balas Nisa sambil tersenyum geli.
"Makanya, kamu itu jadi perempuan harus tegas sedikit, Nis. Jangan lembek. Kalau ada yang ngatain kamu belum hamil anak, balas aja langsung! Bilang, 'biarin rahim saya kosong, yang penting dompet saya penuh nggak kosong melompong kayak otak situ'. Gitu dong! Masa harus mertua terus yang maju jadi perisai buat kamu?" tegur Bu Ratna, sedikit mengomel tapi nadanya terdengar ringan dan peduli.
Nisa tertegun sejenak melangkah. Lagi-lagi mertuanya ini mengeluarkan kalimat kasar nan julid namun tersembunyi makna perlindungan yang sangat kental di dalamnya.
"Iya, Ma. Nisa janji, besok-besok Nisa bakal lebih berani lagi jawab omongan orang luar," jawab Nisa tulus dari dalam hatinya.
Saat mereka berdua hampir sampai di depan pagar rumah tinggi mereka, sebuah mobil hitam mewah masuk perlahan ke dalam halaman. Dimas keluar dari pintu kursi kemudi dengan wajah lelah sehabis bekerja seharian.
Pria itu menatap bingung melihat istri dan ibunya berjalan dari arah luar pagar dengan dandanan ekstra heboh bagaikan toko emas berjalan yang baru pulang karnaval.
"Astaga. Kalian berdua ini habis dari mana sih sore-sore begini? Kok dandanannya nyentrik banget kayak mau pentas seni? Ini Nisa kenapa lehernya dipasangi rantai kapal begini, Ma?" tanya Dimas heran sambil menghampiri istri dan ibunya.
"Habis perang mulut sama gengnya Bu RW di jalan, Dim! Dan asal kamu tahu aja ya, pasukan keluarga kita menang telak hari ini tanpa perlu repot-repot lempar ikan mentah lagi!" jawab sang ibu mantap.
"Perang apaan lagi sih, Ma? Baru juga tadi pagi subuh ribut besar di tukang sayur, masa sore menjelang maghrib udah lanjut ronde kedua?" Dimas memijat dahinya pelan merasa pusing.
"Kamu diem aja deh, Dim. Laki-laki payah kayak kamu nggak usah ikut campur urusan politik ibu-ibu kompleks perumahan. Ayo, Nis, kita masuk! Malam ini kita rayakan kemenangan berharga dengan pesen seblak paling pedas level sepuluh pakai duit kartu kredit suami kamu!" titah Bu Ratna girang dan langsung melenggang masuk ke dalam rumah.
Nisa menatap wajah suaminya sambil mengedipkan sebelah mata, memberikan isyarat bahwa semuanya aman terkendali.
Dimas hanya bisa menggelengkan kepala pasrah melihat kelakuan dua wanita paling disayanginya itu. Menghadapi Nisa dan ibunya memang selalu membutuhkan kesabaran tingkat dewa.
"Mas, bayarin pesenan seblak-nya ya nanti. Aku mau mandi dulu, badan udah lengket semua ini rasanya habis keliling kompleks bawa emas berkilo-kilo," bisik Nisa saat melewati Dimas di teras depan.
"Iya, gampang. Pokoknya kamu seneng aja Mas udah tenang banget. Tadi pagi Mas beneran khawatir loh, kamu kepikiran terus sama omongan Bu RW di tukang sayur Kang Maman itu," balas Dimas pelan.
"Nggak kok, Mas. Mamamu kan udah jadi tameng terdepan. Nisa jadi sadar, punya mertua julid ternyata ada sisi positifnya juga. Kalau ada musuh dari luar yang nyerang, serangannya langsung dibabat habis sama Mama," jawab Nisa.
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh