• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.
• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Siasat dalam Kegelapan
Sementara itu, di lantai dua gedung sekolah, tepatnya di koridor depan laboratorium bahasa yang sepi, Reno Aliansyah sedang berdiri menyandarkan punggung tegapnya pada dinding beton. Kedua hands-nya dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya dengan gaya santai, namun rahangnya tampak mengeras tegang. Kekalahan telak dari Angkasa di ruang redaksi mading pagi tadi benar-benar memukul harga dirinya sebagai Wakil Ketua OSIS. Sebagai orang yang terbiasa memegang kendali dan selalu dipuja karena kecerdasannya, disudutkan oleh Angkasa di depan anggota mading adalah tamparan keras yang tak bisa ia lupakan begitu saja.
"Lo beneran mau ngelepasin cewek cupu itu gitu aja, Ren?" tanya Ardi, salah satu anggota fraksi pengawas OSIS yang berdiri di sampingnya sambil memegang papan klip data murid. Ardi tahu betul tabiat Reno. Cowok di sebelahnya ini bukanlah tipe orang yang akan mundur setelah menerima satu pukulan.
Reno menoleh perlahan, sebuah senyuman miring yang penuh dengan taktik baru terukir di wajah tampannya. Sepasang matanya yang cerdas berkilat penuh ambisi yang belum padam. "Ngelepasin Alesya? Nggak akan pernah, Di. Angkasa pikir dia udah menang mutlak karena berhasil ngejebak taktik gue pagi tadi dan ngamanin pelaku foto itu. Tapi dia lupa satu hal."
Reno melangkah satu kali, mengetukkan jarinya pada pembatas koridor, menatap lurus ke arah lapangan sekolah yang luas di bawah sana. "Angkasa terlalu fokus mengikat Alesya sebagai asisten pribadinya di ruang OSIS sampai dia nggak sadar kalau dia udah ngasih gue celah paling besar. Alesya itu cewek yang cerdas. Buktinya, dia bisa ngelakuin peretasan data di laptop Angkasa semalam dan ngalahin argumen gue di ruang rapat kemarin. Cewek kayak dia... nggak akan betah selamanya ada di bawah kendali pekat cowok manipulatif kayak Angkasa."
"Terus rencana lo selanjutnya apa?" tanya Ardi penasaran, ikut menurunkan volume suaranya.
"Gue bakal nunggu momen yang tepat," tutur Reno dengan suara baritonnya yang sangat rendah dan tenang. "Angkasa pasti bakal bertindak semakin posesif dan otoriter setelah kejadian pagi ini. Dan di saat Alesya mulai merasa tercekik dan frustrasi oleh semua tekanan hukumannya Angkasa... gue bakal datang sebagai satu-satunya jalan keluar yang aman buat dia. Gue bakal cari tahu rahasia apa yang sebenarnya dia sembunyiin di SMA Wijaya dulu, sesuatu yang bikin dia terpaksa nyamar jadi cewek cupu di sini. Dan kali ini, gue bakal pastiin Angkasa nggak akan bisa ikut campur."
Reno membetulkan letak ban lengan Wakil Ketua OSIS-nya dengan gerakan yang penuh penekanan, lalu berjalan santai menuju kelasnya sendiri dengan langkah kaki yang konstan. Di dalam pikirannya, skenario baru untuk mendekati Alesya sudah tersusun rapi, memicu babak baru persaingan sengit antara dua penguasa tertinggi SMA Taruna Bangsa yang kini tidak hanya memperebutkan kekuasaan organisasi, melainkan juga kepemilikan atas sosok asisten pribadi yang misterius tersebut.
Sementara Reno menyusun siasat di kegelapan koridor lantai dua, atmosfer di kelas XI MIPA 1—kelas tempat Alesya belajar—justru sudah seperti medan perang yang siap meledak. Bell tanda masuk jam pelajaran ketiga baru saja berbunyi, namun guru mata pelajaran fisika belum juga menampakkan batang hidungnya. Celah waktu ini dimanfaatkan dengan sempurna oleh Fanya untuk menuntaskan kekesalannya.
Fanya berjalan dengan langkah yang dihentak-hentakkan, memimpin gerombolan temannya menuju meja Alesya yang berada di sudut belakang kelas. Brak! Fanya menggebrak meja kayu Alesya dengan telapak tangannya yang dihiasi cat kuku merah muda.
Alesya, yang saat itu sedang mencatat rangkuman rumus, terlonjak kaget. Ia mendongak, menatap Fanya dari balik kacamata bulat besarnya yang sengaja ia pakai untuk menyembunyikan identitas aslinya. Eca—panggilan akrab Alesya saat menyamar—langsung memasang raut wajah ketakutan yang dibuat-buat, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat jengah.
"Heh, cewek udik!" bentak Fanya, suaranya melengking tinggi, memicu atensi seluruh penghuni kelas XI MIPA 1. "Lo ngerasa hebat ya setelah dibelain sama Angkasa pagi tadi? Lo pikir dengan status lo sebagai asisten pribadi dadakan, lo bisa seenaknya cari muka di depan Ketua OSIS?"
Eca menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung rok abu-abunya. "M-maksudnya apa ya, Kak Fanya? Aku nggak ada maksud cari muka..."
"Halah, nggak usah sok polos deh lo! Muka lo yang sok lugu itu menjijikkan tahu nggak!" Fanya mencondongkan badannya, menatap Eca dengan pandangan menghina. "Denger ya, Eca. Di sekolah ini, lo itu cuma debu. Jangan pernah mimpi bisa narik perhatian Angkasa lebih jauh. Kalau sampai gue tahu lo sengaja tebar pesona lagi di ruang OSIS, gue bakal bikin hidup lo di sekolah ini kayak neraka. Paham?!"
Teman-teman Fanya di belakangnya tertawa sinis, ikut melemparkan tatapan merendahkan. Eca hanya bisa mengangguk pelan dengan tubuh yang gemetar—sebuah akting yang sempurna untuk menjaga penyamarannya tetap aman. Baginya, menghadapi Fanya jauh lebih mudah daripada menghadapi Angkasa yang memiliki ketajaman intuisi berbahaya.
Namun, ketenangan semu Eca hancur berantakan ketika sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya sesaat setelah Fanya kembali ke bangkunya. Pesan itu berasal dari nomor yang sangat ia kenal, nomor milik sang diktator sekolah.
Angkasa: Keruangan OSIS sekarang. Bawa laporan evaluasi mading yang tadi pagi. Jangan telat satu menit pun atau hukuman lo ditambah seminggu lagi.
Eca menghela napas berat. Jantungnya berdegup kencang karena rasa kesal yang tertahan. Dengan langkah terburu-buru, ia merapikan buku-bukunya dan meminta izin kepada ketua kelas untuk pergi ke ruang OSIS.
Begitu melangkah masuk ke dalam ruang OSIS yang ber-AC dingin, Eca langsung disambut oleh aura intimidasi yang pekat. Angkasa sedang duduk di kursi kebesarannya di balik meja kerja kayu jati yang megah. Cowok itu tidak memakai seragamnya dengan rapi; dasinya agak longgar, dan kancing teratas kemejanya terbuka, memberikan kesan pemberontak namun tetap berkuasa.
Eca berjalan mendekat dan meletakkan dokumen yang diminta di atas meja. "Ini laporan yang Kak Angkasa minta."
Angkasa tidak langsung menyentuh dokumen itu. Ia justru menumpukan kedua tangannya di atas meja, memajukan tubuhnya, dan menatap Eca dengan mata elangnya yang tajam. "Lama. Lo telat dua menit, Eca."
"Tadi di kelas ada sedikit masalah, Kak..."
"Gue nggak butuh alasan," potong Angkasa dingin. Suaranya mutlak, tidak menerima bantahan. "Karena lo nggak disiplin, masa hukuman lo sebagai asisten pribadi gue resmi gue tambah dua minggu. Dan mulai hari ini, lo harus pulang bareng gue. Setiap hari. Gue nggak mau lo keluyuran nggak jelas atau malah ketemu sama orang-orang yang nggak penting."
Eca membelalakkan matanya. "Dua minggu lagi?! Tapi Kak, kesepakatan awal kita nggak kayak gini! Dan kenapa aku harus pulang bareng Kak Angkasa? Itu berlebihan!"
Angkasa berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja hingga kini ia berdiri tepat di hadapan Eca. Jarak mereka begitu dekat hingga Eca bisa mencium wangi parfum maskulin beraroma wood milik Angkasa. Angkasa menunduk, menatap langsung ke dalam manik mata Eca yang tersembunyi di balik kacamata tebal.
"Di sini, gue yang buat aturan, Eca," bisik Angkasa dengan nada posesif yang sangat kental. "Lo itu asisten gue, milik otoritas gue selama masa hukuman ini berjalan. Kalau gue bilang lo harus ada di bawah pengawasan gue 24 jam, maka itu yang bakal terjadi. Jangan coba-coba membangkang kalau lo nggak mau rahasia besar lo di SMA Wijaya gue bongkar di depan semua orang."
Mendengar nama sekolah lamanya disebut, darah Eca rasanya mendadak membeku. Rasa tertekan dan frustrasi yang amat sangat mulai merayap di dadanya. Angkasa benar-benar mengunci pergerakannya, membuatnya merasa tercekik di dalam sangkar emas bernama hukuman OSIS ini.
Setelah interaksi yang melelahkan dengan Angkasa, Eca diizinkan kembali ke kelas untuk mengambil tasnya karena bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Dengan pikiran yang kalut dan dada yang sesak oleh sikap otoriter Angkasa, Eca berjalan di koridor sekolah yang mulai sepi. Murid-murid lain sudah berhamburan menuju parkiran.
Saat melewati persimpangan menuju tangga belakang yang sunyi, sebuah bayangan tinggi tiba-tiba menghalangi jalannya. Eca tersentak dan hampir saja menjatuhkan bukunya jika tangan kokoh orang tersebut tidak dengan sigap menahannya.
Eca mendongak dan menemukan Reno Aliansyah sedang berdiri di depannya dengan senyuman hangat yang tampak sangat tulus—kontras dengan tatapan tajam dan dingin yang baru saja ia terima dari Angkasa. Ban lengan Wakil Ketua OSIS-nya terpasang rapi, memberikan kesan bahwa ia adalah sosok pelindung yang bisa diandalkan.
"Eh, Eca. Sori ya, gue bikin lo kaget," kata Reno dengan suara baritonnya yang lembut dan menenangkan.
"N-nggak apa-apa, Kak Reno," jawab Eca gugup, refleks memundurkan langkahnya untuk menjaga jarak.
Reno menyadari perubahan ekspresi Eca. Ia bisa melihat guratan kelelahan, frustrasi, dan tekanan yang mendalam di wajah gadis itu. Taktik yang sudah disusun Reno di dalam kepalanya kini mulai dijalankan. Ia tahu, ini adalah momen paling tepat ketika pertahanan Eca sedang lemah-lemahnya akibat ulah Angkasa.
"Lo kelihatan capek banget, Ca. Habis dari ruang OSIS lagi?" tanya Reno dengan nada penuh simpati yang dibuat sealami mungkin.
Eca hanya mengangguk pelan, tidak berani bercerita banyak.
Reno menghela napas panjang, memasang wajah prihatin. "Gue tahu gimana sifat Angkasa. Dia emang sering keterlaluan kalau ngasih hukuman, keras kepala, dan suka memaksakan kehendak. Pasti nggak mudah buat lo menghadapi cowok se-otoriter dia setiap hari." Reno sengaja menjeda kalimatnya, memperhatikan reaksi Eca yang tampak meresapi perkataannya.
Reno melangkah satu kali lebih dekat, menurunkan intensitas suaranya menjadi lebih personal. "Kalau lo merasa tertekan, atau kalau perlakuan Angkasa udah mulai kelewat batas sampai bikin lo merasa tercekik di sini... lo bisa datang ke gue, Ca. Gue Wakil Ketua OSIS. Gue punya wewenang yang sama untuk ngelindungin murid di sekolah ini dari kesewenang-wenangan Ketua OSIS. Gue bisa jadi jalan keluar yang aman buat lo dari cengkeraman Angkasa."
Eca tertegun mendengar tawaran Reno. Di satu sisi, hatinya yang sedang frustrasi merasa sedikit lega karena ada orang yang menawarkan bantuan. Namun, di sisi lain, intuisi Eca sebagai seorang peretas yang terbiasa membaca situasi mendadak waspada. Ada sesuatu di balik mata cerdas Reno yang membuat Eca merasa bahwa tawaran ini bukanlah sekadar kebaikan tanpa pamrih.
"Terima kasih atas tawarannya, Kak Reno. Tapi aku permisi dulu, udah ditunggu," ujar Eca sopan, mencoba menghindar dengan halus.
Reno tidak menahannya lebih jauh. Ia memberikan jalan bagi Eca untuk lewat, namun matanya terus mengawal punggung Eca yang menjauh. Senyuman miring kembali terukir di wajah tampan Reno. Ia tahu Eca tidak akan langsung menerima tawarannya hari ini, namun benih-benih keraguan dan keinginan untuk bebas telah ia tanam di kepala gadis itu.