Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Cklek.
Jarot menutup pintu kamarnya dengan pelan lalu berjalan menuju kasur.
Ia merebahkan tubuhnya yang sama sekali tidak terasa lelah setelah menghadapi jebakan Tata dan Lyly barusan.
"Dua orang sudah gagal total, sekarang tinggal nunggu giliran anak bungsu yang sok pintar komputer itu," batin Jarot sambil tersenyum geli.
Jarot merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel bututnya yang layarnya sudah retak di banyak sisi.
Ponsel itu terlihat seperti rongsokan murah yang biasa dijual di pinggir jalan dengan harga seratus ribu rupiah.
Namun di balik casing plastik kusamnya, perangkat itu terhubung langsung dengan server satelit militer dunia bawah tanah.
Tit. Tit.
Ponsel Jarot bergetar pelan sebanyak dua kali menandakan ada notifikasi masuk.
Jarot membuka layar dan melihat sebuah pesan dari mantan anak buahnya di luar negeri.
"Bos, kelompok rival Nisa sedang menyusun ulang kekuatan di markas pinggiran kota," gumam Jarot membaca pesan tersebut.
"Biarin saja mereka kumpul dulu, nanti aku habisin sekalian kalau mereka berani datang ke sini," pikir Jarot sangat santai.
Sementara itu di kamar lantai dua, Melly sedang menggigit kuku jari telunjuknya dengan gelisah.
Gadis berjaket hoodie itu duduk bersila di depan tiga layar monitor besar yang menyala terang di atas mejanya.
"Kak Lyly sama Kak Tata payah banget sih, masa ngusir satu gembel aja nggak bisa," gerutu Melly pada dirinya sendiri.
Melly merasa harga diri persaudaraan mereka sedang diinjak-injak oleh pria asing yang bahkan tidak punya latar belakang pendidikan itu.
Tak. Tak. Tak.
Jari-jari kecil Melly mulai menari dengan sangat lincah di atas keyboard mekanik miliknya.
"Kalau fisik dan uang nggak mempan, aku bakal hancurin mental dia pakai cara gua sendiri," ancam Melly dengan senyum licik.
Melly mulai mengetikkan rentetan kode program untuk menyusup ke sistem jaringan nirkabel rumah mewah mereka.
Ia tahu Jarot pasti menggunakan fasilitas internet rumah ini karena ponsel pria itu terlihat sangat miskin kuota.
"Kena kamu sekarang, alamat IP ponsel butut mu udah masuk ke radar ku," sorak Melly kegirangan menatap layar tengahnya.
Melly berencana mengirimkan virus perusak sistem yang akan membuat ponsel Jarot mati total dan tidak bisa dinyalakan lagi.
Bukan cuma itu, ia juga berniat mengambil alih sistem kunci otomatis di kamar Jarot untuk mengurungnya selama tiga hari.
"Aku kunci kamu di dalam kamar tanpa AC dan lampu, biar kamu kepanasan dan nangis minta tolong," ucap Melly tertawa jahat.
Enter.
Melly menekan tombol eksekusi dengan sangat percaya diri.
Di dalam kamar bawah, Jarot yang sedang asyik bermain game ular jadul tiba-tiba melihat layarnya berkedip.
Sebuah notifikasi peringatan berwarna kuning muncul menutupi layar permainannya.
"Peringatan, ada serangan peretasan level amatir mencoba masuk ke sistem, apakah ingin diblokir?" baca Jarot dengan nada malas.
Jarot menghela nafas panjang melihat kelakuan Melly yang sama sekali tidak mau belajar dari kegagalan.
"Bocah ini beneran keras kepala ya, padahal tadi pagi udah aku ajarin soal saklar manual," keluh Jarot menggelengkan kepala.
Alih-alih menekan tombol blokir, Jarot malah membiarkan serangan itu masuk dengan sengaja.
"Coba kita lihat seberapa pintar peretas kebanggaan rumah ini," tantang Jarot dalam hati sambil tersenyum miring.
Di kamar atas, Melly bersorak gembira karena indikator peretasannya menunjukkan status berhasil masuk.
"Gampang banget! Firewall ponselnya beneran sampah kayak orangnya," sombong Melly menepuk tangannya sendiri.
"Sekarang aku tinggal nyalain program pengunci pintu kamarnya," lanjut Melly mengetikkan kode baru.
Klak.
Suara kunci pintu kamar Jarot terdengar tertutup secara otomatis dari dalam.
Jarot menoleh ke arah pintu lalu kembali menatap layar ponsel bututnya dengan sangat tenang.
"Pintunya udah dikunci, sekarang saatnya kasih hadiah virus penghancur," ucap Melly di depan komputernya.
Melly mengirimkan paket virus buatannya langsung ke alamat ponsel Jarot dengan sekali klik.
Syut.
Namun tiba-tiba, layar monitor utama Melly mendadak berhenti merespons perintahnya.
Indikator virus yang harusnya sudah terkirim malah berbalik arah dan diam di tempat.
"Loh, kok macet begini? Koneksi internetnya putus ya?" gumam Melly kebingungan sambil mengklik mouse-nya berkali-kali.
Beep. Beep. Beep.
Ketiga layar monitor Melly mendadak berkedip cepat memancarkan cahaya merah yang sangat menyilaukan mata.
Tulisan peringatan berwarna hitam pekat muncul memenuhi seluruh layar monitornya secara serentak.
"Akses Ditolak. Anda telah memicu protokol pertahanan militer tingkat S," baca Melly dengan suara gemetar.
Mata Melly terbelalak lebar seakan mau copot melihat barisan kalimat ancaman yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.
"Pertahanan militer tingkat S?! Dari mana gembel itu punya sistem keamanan jaringan dewa kayak gini?!" teriak Melly syok berat.
Sistem pertahanan otomatis milik ponsel Jarot bukan hanya memblokir virus Melly, tapi juga melakukan serangan balik.
Kipas pendingin komputer Melly tiba-tiba berputar sangat kencang sampai mengeluarkan suara bising yang menakutkan.
Wuuung.
"Panas! Komputer aku bisa meledak kalau begini terus!" jerit Melly panik sambil mencoba menekan tombol daya untuk mematikan paksa.
Tapi tombol daya itu sama sekali tidak berfungsi karena sistem operasi komputernya sudah diambil alih sepenuhnya dari jarak jauh.