NovelToon NovelToon
Genius Keturunan Klan Phoenix

Genius Keturunan Klan Phoenix

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.

Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.

Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Pintu Menuju Dunia yang Terluka

Keesokan harinya, saat fajar baru menyingsing di ufuk timur, Riu Han sudah melangkah menuju gedung pusat transportasi Kota Chengdu. Bangunan itu berdiri megah di tengah kota, dikelilingi aliran energi yang berdenyut pelan, menandakan bahwa di dalamnya terdapat jaringan portal yang menghubungkan ke berbagai tempat di seluruh Negeri Empat Wilayah. Di sini, siapa pun yang memiliki cukup batu roh dapat menuju ke kota mana pun yang terjangkau oleh jaringan teleportasi. Jika tempat tujuannya terlalu jauh, penumpang akan dikirim secara bertahap — pindah dari satu kota ke kota lain — hingga akhirnya tiba di wilayah yang diinginkan.

Riu Han menghadap petugas di loket, menyerahkan tanda pengenalnya, lalu menyebutkan tempat tujuannya. Petugas itu mencatat, menyebutkan jumlah biaya yang harus dibayarkan, dan setelah urusan selesai, Riu Han melangkah masuk ke salah satu ruangan portal. Cahaya menyelimuti tubuhnya seketika, dan dalam sekejap, pemandangan di sekelilingnya berubah sepenuhnya.

Ia tiba di sebuah tempat yang sepi dan terbuka. Tidak ada keramaian, tidak ada bangunan tinggi — hanya halaman luas dengan portal serupa yang berdiri di belakangnya. Dari sinilah semua orang yang hendak menuju Reruntuhan Perang Kuno berangkat lebih jauh. Jika ia ingin pulang nanti, portal itu akan mengirimnya kembali secara acak, persis seperti saat pertama kali melintasi gerbang dari Daratan Bawah.

Riu Han menatap ke depan, ke arah cakrawala yang tampak samar tertutup kabut tipis. Ia mengeluarkan peta, memastikan arahnya, lalu melesat ke udara. Angin menyapa wajahnya, dan di bawah kakinya, tanah berubah menjadi hutan lebat, sungai berkelok, hingga akhirnya di kejauhan tampaklah sesuatu yang membuatnya menahan napas — dinding batu raksasa yang menjulang lurus ke atas, seakan menembus langit.

Dinding itu begitu tinggi sehingga ujungnya tak terlihat dari tempat ia berada. Permukaannya kasar, penuh bekas pukulan dan goresan yang dalam, menyimpan jejak kekuatan yang luar biasa. Riu Han melambat, terbang perlahan menyusuri dinding itu, mencari apa yang tertera di peta. Tak lama kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum. Di sela-sela permukaan batu yang rapat, tersembunyi di balik bayangan tebing, terdapat susunan simbol kuno yang memancarkan cahaya samar — formasi gerbang masuk.

Reruntuhan Perang Kuno bukan sekadar tempat di permukaan tanah; ia adalah dunia tersendiri, terpisah namun masih berada di bawah kekuasaan Langit Utara. Seperti banyak klan kuno di masa lalu, pendiri tempat ini menciptakan alam independen — sebuah dunia buatan yang utuh, tempat ribuan orang dapat hidup dan berkembang. Riu Han mengeluarkan batu roh, meletakkannya perlahan ke dalam pusat formasi. Cahaya menyebar, menelusuri garis-garis ukiran satu per satu, hingga akhirnya terbukalah sebuah pintu berkilauan di udara.

Ia melangkah masuk, dan seketika itu juga, segalanya lenyap.

Ketika kesadaran kembali, Riu Han berdiri di atas tanah yang tandus dan retak. Langit di atasnya berwarna jingga gelap, seakan matahari di sini senantiasa terbenam — cahayanya redup, lemah, tak pernah seterang siang hari di luar sana. Di sekelilingnya terhampar pemandangan yang menyayat hati: gunung yang puncaknya patah, hutan yang batangnya patah berserakan, dan tanah yang terbelah dalam lebar-lebar. Semuanya menyimpan jejak kekuatan yang tak terbayangkan.

Riu Han melangkah maju perlahan, matanya menatap segala sesuatu dengan takjub sekaligus haru. Dunia ini begitu luas, bahkan lebih luas daripada seluruh Daratan Bawah tempat ia lahir. Dan ini hanyalah satu dari sekian banyak alam yang diciptakan oleh para leluhur. Ia membayangkan sosok yang mampu menciptakan tempat seperti ini — membentuk langit, menumbuhkan daratan, menata sungai dan hutan dari ketiadaan. Tingkat kekuatan apa yang dibutuhkan untuk melakukan hal seperti itu? Ia menggeleng pelan; masih terlalu dini baginya untuk memahami kedalaman kekuatan para ahli masa lalu.

Ia terus berjalan ke arah pedalaman. Di bagian luar tempat ini, sering dikunjungi oleh para pemburu harta dan murid klan yang mencari pengalaman. Namun semakin ke tengah, semakin sunyi dan sepi. Di sinilah pusat pertempuran dahsyat itu terjadi ribuan tahun silam — tempat di mana dua ahli puncak beserta seluruh pengikut mereka bertarung hingga binasa. Sisa pertarungan itu belum hilang sepenuhnya; energi yang tertinggal masih melayang di udara, berbahaya bahkan bagi mereka yang memiliki kekuatan setingkat Dewa Besar.

Sesekali, kilatan cahaya tajam melesat dari balik reruntuhan, seakan pukulan masa lalu yang menghantam masa kini. Di antara sisa-sisa bangunan yang runtuh, terlihat bercak-bercak kegelapan pekat — lubang-lubang hitam yang tak memiliki dasar, tempat ruang itu sendiri robek dan hancur.

Riu Han mendekati salah satu lubang hitam itu, ingin melihat lebih jelas apa yang ada di dalamnya. Tiba-tiba, ia merasa perih di bahu. Darah menetes perlahan dari luka yang entah bagaimana muncul di sana. Ia menyentuh lukanya, terkejut namun tidak kesakitan. Tubuhnya mampu menahan hantaman petir surgawi tingkat sembilan, namun sekadar mendekati robekan ruang ini saja sudah melukainya. Luka itu menutup kembali seketika, tanpa meninggalkan bekas, namun kejadian itu membuatnya semakin menghormati kekuatan yang tertinggal di sini.

Ia menatap lubang hitam itu lekat-lekat, lalu memanggil pelan, "Kakek Qin Siue..."

Cahaya lembut berkilau di sampingnya, dan sosok tua berbusana serba putih muncul perlahan. Qin Siue menatap sekeliling, lalu pandangannya berhenti pada robekan-robekan hitam yang bertebaran di mana-mana.

"kakek, apa sebenarnya ini?" tanya Riu Han sambil menunjuk ke arah kegelapan itu.

Qin Siue menghela napas panjang, matanya memancarkan kenangan yang jauh. "Ini disebut robekan ruang, Riu Han. Terbentuk ketika kekuatan yang luar biasa besar menghantam dinding alam itu sendiri. Mengoyak, membelah, hingga tidak bisa kembali utuh seperti semula."

"Apakah sulit merobek ruang seperti ini?" tanya Riu Han.

"Merobek ruang itu sendiri bisa dilakukan oleh mereka yang telah mencapai tingkat tertentu," jawab Qin Siue pelan. "Namun ini berbeda. Lihatlah... robekan ini tidak menutup meski ribuan tahun telah berlalu. Ini berarti serangan yang menciptakannya begitu kuat hingga meninggalkan jejak yang tak pudar. Pelakunya pasti ahli kelas atas, menguasai konsep ruang secara mendalam."

"Apakah tidak ada cara untuk menutupnya?"

Qin Siue mengangguk pelan. "Tentu saja bisa. Mereka yang memahami tata ruang dan memiliki kekuatan yang cukup dapat menambal luka di dunia ini. Namun ahli seperti itu sungguh langka. Di masa sekarang, semakin sulit ditemukan."

Ia menatap ke arah cakrawala yang gelap. "Dunia ini hebat, Riu Han. Lihatlah betapa banyaknya luka yang ia miliki, namun ia tetap berdiri. Struktur dasarnya begitu kokoh, dibangun oleh tangan yang perkasa. Itulah sebabnya tempat ini tidak hancur lebur meski dilanda perang sedahsyat itu."

Riu Han mengangguk perlahan. Ia memandang sekelilingnya dengan pandangan yang berbeda sekarang — bukan hanya sebagai tempat mencari herbal, melainkan sebagai saksi bisu kekuatan yang jauh melampaui apa pun yang ia ketahui. Di sini, setiap batu menyimpan kisah, setiap hembusan angin membawa sisa kekuatan yang tak terbayangkan.

"Kita harus berhati-hati," ucap Qin Siue seraya menatapnya. "Robekan ruang ini tidak hanya melukai tubuh. Bagi mereka yang tidak siap, ia dapat menarik masuk kesadaran dan menghilangkannya tanpa jejak. Tetaplah waspada, dan jangan melangkah terlalu jauh sendirian."

Riu Han mengangguk mantap. "Baik, Kakek. Terima kasih."

1
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍👍
Lanjut Up Thor..
𝕸𝕬𝕾𝕿𝕰𝕽𝕾 𝕷𝕰𝕰, 𝕬𝕸𝕶
Luar Biasa, Mantap
sibaweh abduh
cerita yang sangat baik thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Alur Ceritanya bagus dan menarik untuk dibaca, Mantap 👍👍
Bg Byl
Cerita yg menarik dg alur yg mengalir baik dan tata bahasa yg bagus. keren 👍❤️
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Petualangan Riu Han makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍
syarif ibrahim
makin sakti nih.... 👍
syarif ibrahim
akhirnya.... terobati sudah kerinduan selama 20 tahun.... 👍
syarif ibrahim
kaget... ternyata sudah habis ceritanya..... up lagi Thor....... 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Ceritanya makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Petualangan Riu Han dialam atas makin mantap 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!