Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kesepakatan
**
Rafa kembali menyuapkan nasi goreng ke mulutnya, sesekali melirik pemandangan di depan yaitu seorang wanita yang sedang menyuapi Elvan.
Tubuh Rafa seolah tidak bisa berkutik dengan apa yang terjadi sekarang. Padahal, ingin sekali dia melempar wanita itu ke luar apartmennya.
Bukannya dia tidak mau bertanggungjawab, tapi jika datang mendadak di waktu sekarang, apa itu tidak terlambat?
Tapi, mengusir wanita itu sekarang? Sepertinya, bukan pilihan yang tepat untuk saat ini. Selain Rafa masih butuh penjelasan dari wanita itu, dia juga belum siap jika keluarganya tahu tentang semua ini. Mereka memang harus berbicara setelah makan untuk lebih jelas, mau seperti apa kedepannya.
"Setelah makan, kita harus bicara," ujar Rafa, tepat setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Simpan aja di sana, nanti saya yang cuci piringnya!" seru Felisa, saat melihat Rafa akan mencuci piring.
Rafa mengedikan bahunya. "Ok."
Sekarang dia sudah malas untuk berdebat. Toh, dia tidak rugi juga jika menurut. Setidaknya masakan wanita itu malam ini juga enak, Rafa tidak bisa menyangkal itu. Walaupun, tadi sempat ada perdebatan saat wanita itu meminta memasak, karena Rafa sempat curiga dia akan meracuni makanannya.
"Tapi saya harus tidurkan Elvan dulu," kata Felisa, menghentikan langkah Rafa melewati dapur sesaat.
Rafa melirik jam tangannya, ini memang sudah setengah 9 waktu untuk Elvan tidur. "Ok, saya tunggu di ruang tamu."
"Papa, aku mau tidur sama Mama malam ini. Papa jangan ganggu!" teriak Elvan yang mulutnya penuh makanan, lalu bocah itu akhirnya tersedak.
"Makannya pelan-pelan. Jangan ngomong sambil makan, Sayang!" tegur Felisa langsung memberikan Elvan minum.
Rafa berbalik untuk melihat keadaan Elvan, tapi dia malah mendapatkan pemandangan wanita itu yang sedang mengelap mulut Elvan yang belepotan makanan. Tidak tahu kenapa, Rafa merasa keadaan situasi ini terasa menyenangkan.
"Gak bisa yah, aku tidur sama Mama dan Papa bareng? Cio aja kadang suka tidur sama papa dan mamanya terus adiknya," rengek Elvan yang sekarang membuat dua orang dewasa di sana jadi tersedak.
"Itu Sayang ... anu kamu kan--"
"Kalau kamu tidur cepat, besok aku kasih pesawat terbang yang kaya Cio, mau gak?" tawar Rafa memotong semua ucapan alasan Felisa.
"Mau ... Pa! " teriak Elvan heboh kesenangan.
"Ya udah, ayo sana tidur. Nanti kalau gak tidur, pesawatnya gak jadi beli."
Elvan lalu menarik tangan Felisa heboh. "Ma, Ayo bobo! Sekarang, ayo bobo!"
"Eh, iya Sayang."
Rafa tersenyum kecil melihat Elvan menarik Felisa. Anak itu memang hanya selalu menurut, jika harus sudah diimingi diberi hadiah. Apa memang semua anak kecil seperti itu? Rafa tidak tahu, karena tidak pernah berinteraksi dengan anak kecil kecuali keponakannya, yang itu juga jarang.
Rafa memilih kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda tadi di kantor, tadi dia malas lembur karena sudah sangat lelah seharian bekerja di lapangan. Jadi tidak butuh lama, Rafa sudah tenggelam dalam pekerjaan dengan sebuah laptop sambil lesehan duduk di ruang tamu.
Mungkin karena terlalu berkonsentrasi dengan pekerjaannya, Rafa sampai tidak sadar jika Felicia sudah duduk lesehan di sampingnya, terus memperhatikan wajah Rafa yang sedang konsen bekerja.
"Kamu ternyata ganteng juga kalau lagi serius," celetuk Felicia senyum-senyum sendiri melihat Rafa.
Rafa tersentak, masih kaget akan kehadiran Felicia. "Baru tahu, udah dari lahir kali."
Felicia malah mengangguk-mengangguk. "Iya juga sih, itu yang saya syukuri karena tidur sama kamu. Setidaknya, Elvan memiliki gen kamu yang tampan itu. Gak kebayang, kalau saya tidur sama cowok jelek. Hah ... untungnya kamu, jadi anak saya tampan."
Rafa kembali tersenyum kecil melihat tingkah Felicia. Entah kenapa, wanita bisa terlihat lebih menarik dari pekerjaannya, jadi Rafa memilih menyimpan laptop-nya. Sepertinya, sudah waktunya mereka untuk membicarakan banyak hal.
"Kita perlu bicara." Rafa sudah menggeser posisi duduknya, menghadap ke arah Felicia.
"Bicara ap-apa?" jawab Felicia sedikit tergagap karena jarak mereka yang dekat. "Jangan deg-degan sama cowok ganteng. Padahal kerjaan kamu ketemu cowok ganteng terus, bisa-bisanya sekarang malah deg-degan. Tenang jantung ... tenang." Lanjut Felisa dalam hati.
"Sebutkan tujuan awal kamu yang sebenarnya, kenapa datang sekarang?"
Felisa mendengus. "Apa ucapan saya waktu itu, belum kamu mengerti juga."
"Bukannya gitu, saya gak bisa langsung percaya sama ucapan kamu sepenuhnya. Kita gak saling kenal, tidak bisa menutup kemungkinan kamu bisa saja berbohong."
"Sumpah!" Felisa mengangkat dua tangan ke atas sesaat. "Apa yang saya bilang tadi tidak bohong. Saya sedang miskin, semua uang saya tidak bisa saya pakai karena suatu alasan, terpaksa saya juga tidak bisa kerja. Ada orang yang mengejar saya, ah ... bukan saya saja karena kemungkinan nanti juga Elvan. Semua tempat sudah tidak aman kecuali sama kamu, karena mereka belum tahu kamu."
"Jadi, kamu beneran penjahat?" Malah poin itu yang Rafa tangkap. Ngeri juga jika sampai dia nanti menampung buronan, yang ada dia ikut ditangkap.
"Saya bukan penjahat, buronan ataupun sejenisnya apapun itu. Orang-orang yang mengejar saya masih keluarga saya, alasannya salah satunya karena Elvan. Kehamilan saya tidak saya beritahu siapapun, bukan hanya kamu tapi seluruh keluarga saya. Alasannya, jika mereka tahu mungkin saat itu Elvan saat itu tidak akan lahir."
Rafa menyandarkan kepala ke sofa. "Saya masih belum mengerti, kenapa waktu itu kamu tidak meminta pertanggungjawaban saya. Padahal waktu itu, saya ingat sudah memberikan kamu kartu nama. Tapi sekarang, kamu tiba-tiba datang dan meminta perlindungan dari saya. Saya benar-benar tidak mengerti."
"Karena saya waktu itu memang tidak butuh kamu dan saya sekarang sangat butuh kamu, paham?" Felisa sudah mulai kesal, karena Rafa terus membahas pembahasan yang terus diulang.
Rafa menggeleng. "Enggak!" Membuat Felisa tidak tahan ingin memukulnya, tapi Rafa keburu menghindar. "Kita masih harus bicara dulu, jangan sampai ada kekerasan lagi."
"Saya tidak tahan karena kamu bodo tidak mengerti terus. Bagian mana sekarang, yang kamu belum mengerti lagi?"
"Kamu masih orang asing buat saya, gak ada alasan buat saya langsung percaya begitu saja."
"Ok!" Felisa langsung berdiri. "Kalau kamu tidak bisa memberi saya perlindungan dan pertanggungjawaban, saya akan memintanya kepada keluarga kamu."
"Tunggu!" Rafa berubah panik, buru-buru menahan tangan Felisa dan menyuruhnya untuk duduk. "Kita gak harus libatkan mereka, saya bisa berikan semua itu. Saya serius!"
Felisa akhirnya kembali duduk. Jika ada pilihan, Felisa tidak mungkin terus mengemis pada lelaki ini. Tapi masalahnya, dia sudah tidak ada tempat aman untuk pergi lagi. Semuanya hanya untuk melindungi Elvan dan mungkin juga karirnya, yang sedari dulu menjadi awal mula permasalahan.
"Sekarang, apa yang kamu mau saya lakukan? Jika saya bisa berikan, ada beberapa hal juga yang saya mau dari kamu!" Rafa memang tidak mau rugi, jadi dia menawarkan sebuah hubungan timbal balik.
"Saya butuh tempat tinggal. Saya butuh kamu bisa menjamin kehidupan saya termasuk makan. Saya janji tidak akan banyak menuntut untuk belanja tapi sesekali juga itu juga harus!" Felisa memulai meminta banyak permintaan.
"Ok, saya bisa kasih itu." Rafa melirik Felisa sesaat. "Keuntungan saya apa?"
"Saya bisa mengurus Elvan, kamu dan seluruh apartmen kamu," jawab Felisa yang memang sudah dia perhitungan sebelumnya.
"Mengurus saya seperti?"
"Saya bertanggungjawab soal urusan rumah termasuk beberes, masak dan mengurus pakaian kotor semuanya. "Yah, itu juga termasuk mengurus kamu bukan?"
"Oh, saya pikir mengurus saya termasuk urusan ... emmm!" Rafa berdehem untuk menguasai diri. Kenapa pikirannya harus random ke sana, yah?
"Saya bukan pelacur. Urusan ranjang kamu, bukan urusan saya!" seru Felisa membuat Rafa salah tingkah.
"Hei, siapa yang punya pikiran ke sana?" bantah Rafa tidak terima, padahal memang kenyataannya seperti itu. Penawaran wanita itu, memang sudah seperti melakukan pekerjaan sebagai istri, bukan?
"Saya tahu kebanyakan isi otak lelaki yah, selangkangan."
"Saya tidak seperti itu, tuh!" bantah Rafa tetap menyangkal. Kenapa suasananya menjadi canggung yah, itu untuk dirinya? Karena sepertinya wanita itu terlihat biasa saja.
"Kamu juga sama aja , buktinya Elvan bisa terlahir," jawab Felisa menatap galak Rafa.
"Itu kecelakaan!" Rafa mengerang kesal. "Ok, mulai saat ini mari kita saling bekerjasama. Kamu kerjakan tanggungjawab kamu dan saya kasih tempat tinggal dan cukupi kebutuhan kamu."
Rafa mengulurkan tangan, setelahnya langsung dijabat kembali oleh Felisa. Mereka saling berpandangan seolah saling menilai, setelahnya saling melempar senyum tipis.
"Kamar saya yang itu, kan? Saya mau tidur." Felisa sudah beranjak menuju kamar, yang tadi tempat Elvan tidur yang tak lain kamar Rafa.
"Bukan!" sanggah Rafa. "Itu kamar saya. Kamar kamu yang sebelah, tapi belum dibersihkan. Besok kamu bersihkan, jadi untuk malam ini saja kamu boleh tidur di kamar saya."
Felisa mengangguk mengerti. "Ok, terus malam ini kamu tidur di mana?"
"Saya masih banyak kerjaan. Kemungkinan saya di ruang tamu sampai pagi."
"Ok." Felisa berjalan menuju kamar Rafa, tapi kembali berhenti untuk menoleh sesaat ke arah Rafa yang sudah sibuk dengan laptopnya. "Jangan berani macam-macam yah, nanti malam."
Rafa mendengus, sekilas melirik Felisa malas. "Tenang, saya tidak berselera sama kamu. Kerjaan saya banyak."
"Bagus deh, kerja yang banyak karena kebutuhan saya dan Elvan banyak. Saya tidak mau hidup miskin tinggal sama kamu."
Setelah mengatakan itu, Felisa sudah masuk kamar meninggalkan Rafa yang menatap kepergiannya kesal.
Sesaat Rafa menyandarkan tubuhnya ke sofa. Apa ini sudah benar? Menampung wanita itu tidak akan membuat masalah baru, kan?
Perkara Elvan saja masih bingung, bagaimana cara memberitahukannya kepada keluarganya. Sekarang, ada satu lagi kehadiran wanita itu. Rafa hanya berharap, jika semuanya tetap berjalan semestinya dengan baik. Anggap saja perbuatannya ini, mungkin bisa dibilang bentuk pertanggungjawaban yang telah tertunda.
"Ayo kerja! Sekarang, ada dua makhluk yang harus lo kasih makan."
Eh? Sepertinya ada yang aneh dengan situasi ini. Rafa entah kenapa, malah merasa seperti seorang suami yang--
"Apaan sih, gak jelas!" Rafa mengacak-acak rambutnya.
Lelaki itu sekarang, telah kembali fokus dengan laptop lagi.
"Gue lupa nanya nama itu wanita."
##