Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Keesokan harinya, mentari bersinar seolah lebih cepat dari biasanya.
Sejak bangun tidur, Amira sudah antusias menyiapkan diri untuk keluar bersama Kaizar. Ia berdiri cukup lama di depan cermin, memastikan penampilannya terlihat sederhana, tetapi tetap modis. Rambutnya ditata rapi, pakaiannya nyaman untuk bepergian, dan wajahnya terlihat lebih cerah daripada biasanya.
Setelah merasa semuanya sudah siap, Amira keluar dari kamar. Ia langsung berniat menuju ruang kerja Kaizar.
Sayangnya, ruangan itu masih kosong.
Amira mengernyit. "Ah, dasar Tuan Dingin. Jam segini masa belum bangun?"
Ia berjalan menyusuri lorong sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Ketika melewati kamar Kaizar, langkahnya mendadak melambat.
Pintu kamar pria itu masih tertutup.
Amira mengangkat alis. "Jangan-jangan masih tidur."
Belum sempat ia melangkah lebih jauh, seorang pelayan keluar dari kamar Kaizar dengan wajah tegang. Beberapa detik kemudian, pelayan lain masuk membawa nampan berisi sarapan dan segelas air hangat.
Amira memandang mereka dengan heran. Kenapa dari tadi orang-orang keluar masuk kamar Kaizar?
Rasa penasarannya membuat langkah Amira berhenti. Dari balik pintu yang tidak tertutup sempurna, terdengar suara Kaizar.
"Berapa kali harus kukatakan? Aku tidak meminta air sepanas ini!"
Suara itu terdengar begitu keras sampai Amira refleks mendekat.
"Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja."
"Kalau tidak sengaja, lalu apa? Kau pikir aku bisa mengabaikan kesalahan seperti ini?"
Amira mengintip dari celah pintu. Matanya langsung membesar. Pelayan tadi tampaknya tidak sengaja menumpahkan air hangat ke tubuh Kaizar saat membantunya. Sebagian air mengenai dada pria itu. Kulit di bagian tersebut terlihat memerah.
Kaizar sedang duduk di kursi rodanya dengan wajah yang begitu dingin. Pelayan itu terus meminta maaf.
"Keluar."
"Tapi, Tuan—"
"Aku bilang keluar!"
Pelayan itu buru-buru menunduk dan meninggalkan kamar. Amira yang masih berdiri di balik pintu langsung ketahuan.
Mata Kaizar beralih kepadanya. "Sedang apa kau?"
Amira tersentak. "Aku..."
"Kalau mau mengintip, sekalian masuk."
Nada suaranya dingin. Amira akhirnya mendorong pintu dan masuk.
"Aku tidak mengintip."
Kaizar mengangkat alis. "Tadi kepalamu ada di balik pintu."
"Itu namanya melihat."
"Itu namanya mengintip."
Amira mengabaikan bantahan itu. Matanya justru tertuju pada dada Kaizar yang memerah.
"Kena air panas?"
"Air hangat."
"Kalau sampai merah begini, berarti cukup panas."
Kaizar hendak menarik kain untuk menutupi bagian tubuhnya. "Sudah. Tidak perlu dipikirkan."
Amira malah berbalik. "Mau ke mana?" tanya Kaizar.
"Ambil es."
"Amira."
Perempuan itu terus berjalan.
"Amira."
langkahnya tidak berhenti, ucapan Kaizar seolah tidak pernah ia dengar sama sekali, lalu beberapa menit kemudian ia kembali membawa wadah berisi air dingin dan kain kecil.
Kaizar menatapnya tanpa ekspresi. "Kau tidak mendengarku?"
"Dengar."
"Lalu?"
"Aku tetap ambil es."
Kaizar menghela napas pendek. "Jangan lakukan apa pun."
Amira mendekat, bukannya takut perempuan itu justru sedikit mengangguk. "Diam dulu."
Kaizar menatapnya tajam. "Berani sekali kau menyuruhku diam."
"Karena kalau kamu banyak bicara, lukanya tidak sembuh-sembuh."
"Ini bukan luka besar."
"Memangnya harus menunggu parah dulu baru boleh dirawat?"
Kaizar terdiam. Amira mengambil kain yang sudah dibasahi air dingin, kemudian menempelkannya perlahan pada bagian dada yang memerah.
Tubuh Kaizar sedikit menegang. "Masih sakit?"
"Sedikit."
Amira menatap wajahnya. "Kenapa tidak bilang?"
"Kepada siapa?"
Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuat tangan Amira berhenti sesaat. Ia menatap Kaizar lebih lama. Kemudian tanpa banyak bicara, ia kembali mengompres bagian yang memerah.
"Ya sudah. Sekarang bilang kepadaku."
Kaizar tidak menjawab lagi, tiba-tiba perasaan aneh itu mulai menjalar dihatinya.
"Kalau sakit, bilang," kata Amira.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa masih memaksa?"
Amira tersenyum kecil. "Karena aku mau membantu."
Tatapan Kaizar berubah. Ia teringat percakapan mereka beberapa hari lalu.
"Aku tidak suka dikasihani."
"Aku juga tidak suka mengasihani seseorang."
Kini Amira menatapnya sambil tetap memegang kain dingin itu. "Aku bukan kasihan."
"Lalu?"
"Aku peduli."
Kali ini pria itu benar-benar kehilangan kata-kata lagi.
Entah kenapa dua kata sederhana itu terasa jauh lebih berat daripada yang seharusnya. Amira kemudian mengambil salep dari meja.
"Ini untuk mengurangi rasa perih."
"Aku bisa mengoleskannya sendiri."
"Kalau begitu, lakukan."
Kaizar menatap salep itu. Tangannya yang satu bergerak, tetapi gerakannya terbatas. Amira memperhatikannya beberapa detik. Tanpa meminta izin lagi, ia mengambil salep tersebut.
"Biar aku."
"Amira."
"Jangan bergerak."
"Aku bilang tidak perlu."
"Aku juga bilang jangan bergerak."
Kaizar menatapnya tajam. Amira sama sekali tidak mundur. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling memandang.
Akhirnya Kaizar menyerah. "Dasar keras kepala."
Amira tersenyum puas. "Terima kasih."
"Aku tidak memujimu."
"Aku juga tidak bilang kamu memuji."
Kaizar hampir tersenyum. Hampir. Sementara Amira mulai mengoleskan salep dengan sangat hati-hati pada bagian dada yang memerah. Gerakannya perlahan, seolah takut membuat Kaizar semakin kesakitan.
Kaizar justru memperhatikan wajah perempuan itu. Tidak ada rasa takut sama sekali yang terlihat hanya kekhawatiran tulus.
Amira selesai mengoleskan salep lalu mengambil kainnya kembali. "Nah, sudah."
Kaizar masih diam lalu Amira mulai bertanya.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
Amira mengerutkan dahi. "Kamu aneh."
"Aku memang aneh."
"Berarti aku yang baru sadar ya."
Sementara Kaizar menatap gadis itu dengan tatapan kesal. "Kau selalu seperti ini?"
"Seperti apa?"
"Mengurus sesuatu yang bukan urusanmu."
Amira tersenyum. "Bukan seperti itu.'
Kaizar tidak menjawab lagi. Kemudian matanya jatuh pada jam dinding. Ia mendadak teringat sesuatu.
"Kita jadi pergi hari ini."
Amira langsung membelalakkan mata. "Iya!"
Wajahnya kembali cerah. "Kamu masih ingat?"
"Aku yang membuat janji."
"Tapi kamu sedang sakit."
"Tidak parah."
"Kalau begitu kita tunda saja."
Kaizar langsung menggeleng. "Jangan."
Amira menatapnya. "Kenapa?"
"Janji tetap janji."
Amira tersenyum. "Tuan Dingin ternyata masih punya prinsip."
Kaizar mengangkat alis. "Jangan banyak bicara."
"Baik."
Amira mengambil langkah menuju pintu. "Tapi kalau nanti kamu kesakitan, jangan menyalahkanku."
"Aku tidak akan menyalahkan siapapun apalagi luka sekecil ini," tegas Kaizar.
"Kalau begitu ayo."
Kaizar memperhatikannya. "Kenapa kau lebih bersemangat daripada aku?"
"Karena aku sudah menunggu dari kemarin."
Kaizar menggeleng kecil. Perempuan ini benar-benar cegil, namun entah kenapa keberadaannya justru membuat senyum di sudut bibir Kaisar terangkat.
Bersambung ....