NovelToon NovelToon
Penyesalan Gezha

Penyesalan Gezha

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ragan Fian

Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.

Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.

Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.

Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang Bayang

Seminggu sudah berlalu sejak rumah megah dua lantai itu kehilangan penghuni sejatinya.

Namun bagi Radhit, seminggu ini terasa bagaikan ribuan tahun penyiksaan di dalam neraka.

Rumah yang dulu selalu dibanggakannya atas kemewahan dan keindahannya, kini berubah menjadi ruang hampa yang begitu dingin, mencekam, dan membunuh jiwanya perlahan-lahan dari dalam.

Radhit melangkah terseret-seret melintasi lorong dapur di tengah kegelapan malam. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini berantakan, matanya merah menyala dipenuhi lingkaran hitam pekat, dan tubuhnya tampak begitu kurus serta layu.

Pria itu sudah tidak lagi memedulikan pekerjaannya di kantor. Panggilan telepon dari para kolega dan direksi perusahaan dibiarkannya memanggil sampai mati.

Pikirannya telah lumpuh total. Otaknya disesaki oleh bayang-bayang Vivian yang mendadak muncul di setiap sudut rumah tersebut.

Saat Radhit menatap ke arah kompor dingin di dapur, memori lama mendadak berputar secara paksa di dalam dadanya:

Dia melihat bayangan Vivian yang sedang tersenyum lembut meski wajahnya pucat, berdiri berjam-jam menyiapkan sarapan hangat untuknya. Vivian yang selalu menunduk patuh, menyajikan secangkir teh tanpa pernah mengeluh meski setiap pagi hanya dibalas dengan tatapan jijik dan bentakan dingin darinya.

"Vivian..." panggil Radhit dengan suara yang pecah dan parau, seperti bisikan seorang pesakitan yang sekarat.

Pria itu mengulurkan tangannya yang gemetar hebat, mencoba meraih bayangan semu istrinya di balik remang cahaya.

Namun, begitu jemarinya menyentuh udara kosong... bayangan itu buyar seketika. Meninggalkan kenyataan paling kejam bahwa dia kini benar-benar sendirian di dalam kegelapan.

Dada Radhit mendadak terasa dihantam oleh beban tonase es yang membekukan paru-parunya.

Napasnya tersengal-sengal. Rasa sesak yang luar biasa dahsyat meremas ulu hatinya hingga pria itu harus bertumpu pada pinggiran meja dapur agar tubuhnya yang lemas tidak roboh ke lantai.

Air mata kepedihan yang sangat pekat kembali meleleh deras membasahi pipinya yang kaku.

"Maafkan saya... Maafkan saya, Vivian..." isak Radhit meraung dalam keheningan dapur yang sepi.

"Saya yang buta... Saya yang monster... Tolong pulang, Vivian... Tolong..."

Dengan sisa tenaganya yang compang-camping, Radhit berjalan tersungkur-sungkur menuju kamar tamu tempat di mana Vivian menghabiskan masa-masa kehamilannya dalam kesendirian dan penderitaan.

Pria yang dulu begitu dipuja atas kekuasaannya itu meluncur jatuh berlutut di samping tempat tidur kayu yang usang.

Dia menarik bantal tipis bekas tempat tidur Vivian, lalu memeluknya sangat rapat di dadanya.

Radhit membenamkan wajahnya di atas kain bantal tersebut, mencari-cari aroma tubuh Vivian yang mungkin masih tertinggal.

Namun, tidak ada aroma wangi manis lagi di sana. Yang tersisa hanyalah aroma dingin antiseptik dan bekas resapan air mata Vivian yang telah mengering—saksi bisu betapa seringnya wanita itu menangis meraung-raung meratapi kekejamannya setiap malam.

Radhit menangis histeris. Isak tangisnya pecah menjadi jeritan memilukan yang menggetarkan dinding-dinding kamar sempit itu.

Dia meremas bantal itu hingga jemarinya memutih, meratapi kenyataan bahwa wanita yang dulu begitu tulus menyerahkan seluruh hidup untuk mencintainya... kini telah dibunuhnya sendiri rasa cintanya sampai tak tersisa.

Di tengah tangisnya yang meremukkan dada, jemari Radhit yang gemetar menyenggol sebuah benda kecil di balik sela-sela lipatan kasur busa yang agak robek.

Radhit menghentikan tangisnya sejenak. Dengan napas tersengal-sengal, dia menarik benda tersebut keluar.

Sebuah buku lembaran kecil tanpa sampul sebuah diari lama milik Vivian yang tercecer dan belum sempat terbawa saat Mbok Nah membantunya membungkus barang-barang hari itu.

Dengan telapak tangan yang membasah oleh air mata, Radhit membuka lembaran demi lembaran kertas yang sudah agak kusam itu secara perlahan.

Goresan tangan di dalamnya bukan kalimat puitis atau bahasa buku yang kaku. Tulisan itu sangat polos, jujur, dan ditulis dengan nada keputusasaan yang begitu alami dari seorang wanita muda yang kepalanya terus disesaki rasa bersalah.

Mas Radhit... maafin Vivian ya, Mas. Vivian minta maaf karena belum bisa jadi istri yang baik buat Mas Radhit. Vivian juga belum bisa jadi istri penurut yang bisa bikin Mas bangga di depan teman-teman Mas...

Vivian tau Vivian banyak kurangnya. Vivian cuma cewek kampung yang nggak punya apa-apa, yang cuma bisa bikin Mas pusing dan malu. Maafin Vivian ya Mas kalau kehadiran Vivian dan anak di kandungan ini cuma jadi beban dan pembawa sial di hidup Mas...

DUAR!

Bagaikan disambar petir di siang bolong, seluruh pertahanan jiwa Radhit hancur berkeping-keping tanpa sisa!

Pria itu meraung histeris sembari memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa begitu remuk dan menyiksa.

Air matanya menetes deras membasahi lembaran tulisan tulus istrinya yang selama ini diinjak-injaknya dengan penuh keangkuhan.

Bagaimana bisa dia begitu jahat pada wanita sesederhana ini?! Bagaimana bisa dia menyebut janin yang didoakan setiap malam oleh istrinya ini sebagai benalu pembawa sial?!

"Aaaaaaghhhh!" jerit Radhit histeris dalam ruangan sempit itu, meluapkan seluruh rasa penyesalan, kebencian pada dirinya sendiri, dan keputusasaan yang membakar jiwanya.

"Saya yang bajingan! Saya yang tidak pantas hidup, Vivian!" raung Radhit sembari meremas diari itu di atas dadanya yang hancur.

Tepat saat Radhit tenggelam dalam lautan penyesalan yang membunuh jiwanya... suara dering ponselnya yang berada di luar kamar mendadak berdering nyaring tanpa henti.

Deringan itu berbunyi berulang-ulang, memecahkan gema tangisannya.

Dengan langkah yang limbung dan pandangan mata yang kabur oleh air mata, Radhit merangkak keluar kamar, meraih ponselnya di atas meja ruang tengah.

Nama detektif swasta paling terkemuka yang disewanya menyala di layar.

Dengan napas yang tertahan dan jantung yang berdegup gila, Radhit menekan tombol hijau dan menempelkannya ke telinga dengan tangan yang gemetar hebat.

"Bagaimana?! Kamu sudah temukan istri saya?!" cerca Radhit histeris tanpa basa-basi.

Suara detektif di seberang telepon terdengar sangat serius.

"Pak Radhit... kami akhirnya menemukan jejak Ibu Vivian. Minggu lalu setelah dibantu tetangga Anda keluar dari rumah sakit, beliau menaiki bus antarkota sendirian menuju sebuah desa pesisir kecil di Jawa Tengah."

Napas Radhit mendadak terhenti seketika. Harapan liar mendadak membakar dadanya.

"Tapi Pak..." lanjut detektif itu dengan nada suara yang berubah sangat berat.

"Setibanya di sana, kondisi fisik Ibu Vivian mendadak drop total dan pingsan di pinggir jalan. Beruntung ada seorang dokter muda setempat yang menemukannya dan melarikan beliau ke klinik desa."

"Dokter itu yang sekarang merawat Ibu Vivian... dan saat kami mencoba mendekat, dokter lokal itu menolak memberikan informasi apa pun karena melihat trauma berat pada diri Ibu Vivian saat mendengar nama Anda."

DEG.

Dunia Radhit seketika berhenti berputar.

Ponsel di tangannya terasa bagaikan bongkahan es yang membekukan seluruh darah di tubuhnya.

Mata Radhit terbelalak menatap ruang hampa di hadapannya. Rasa takut yang luar biasa dan cemburu yang mulai merayap mendadak mencengkeram dadanya hingga dia tak mampu bernapas lagi.

1
sunaryati jarum
Clarissa ingin tamat riwayat hidupnya, dengan cepat
sunaryati jarum
Vi kalian kan belum bercerai,beri kesempatan pada Gezha dia sudah berubah dan putus dengan Clarissa
sunaryati jarum
Ayo Vi jangan jadi wanita lemah dan penakut lagi.Bsngkit lawan bersama Radit orang - orang yang ingin menyakiti kamu dan Bumi
sunaryati jarum
Terlambat Clarissa semua kekayaan Radit sudah milik Vivian dan Bumi.Vivian sekarang beda dua tahun lalu , sekarang jadi wanita waspada,kuat ,tangguh dan tidak dapat ditindas lagi Lagian Radit akan melindungi mereka dengan nyawanya.
sunaryati jarum
Ya,pak pengacara semoga mereka rujuk,toh belum ada perceraian karena waktu itu Vivian pergi meninggalkan rumah saat Radit bersama Clarissa
sunaryati jarum
Aku salut sama kamu dr Julian,kamu benar benar tulus menolong Vivian, semoga kamu dapat jodoh yang sangat mencintaimu dan tentunya gadis yg masih bersegel
Shankara Senja
pria setulus itu dibiarkan pergi? ..demi pria masa lalu? ..demi anak diantara mereka..ishh..ish..ish...klo gtu..ngapain pake mengasingkan diri jauh jauh..klo akhirnya hatinya luruh jg
Ragan Fian: Iya begitu mom Kalau udah Takdir🤣🤣
mau kehalang Jarak apapun pasti ketemu kembali btw makasih ya mom udah mampir 💪
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah,kan Vivian masih mencintai Radit,lebih baik rujuk.Siska tidak perlu menyerahkan diri karena Vivian sudah memaafkan.Siska jodohkan saja dengan dr Julian
sunaryati jarum
Sidang akan jadi kemenangan Radit karena untuk mempertahankan hak Bumi, putranya.Semoga mantan sekretarian berpihak pada Radit.
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian
sunaryati jarum
Nah , emosi yang kamu dahulukan jadinya malu sendiri.Semoga sekretaris kamu berpihak padamu,Radit.Demi Bumil putramu , menuangkan kasusmu.Minta Julian dan Vivian bersaksi
sunaryati jarum
Julian tersangka,apa hubungan mereka
sunaryati jarum
Rujuk saja,toh Julian belum ada hubungan serius dengan mu
Ragan Fian: baguss bgtt Bu idenyaaa Nanti yaa Aku bakal kasih end yang Happy dan romantis
total 1 replies
sunaryati jarum
Jika benar menyesal diberi kesempatan boleh,asal sudah putus dengan pelacur Clarissa
sunaryati jarum
Ada ikatan batin,tapi juga ada pertolongan untuk Vivian agar Radit tidak bisa menemuinya
sunaryati jarum
Menang Vivian masih mau sama kamu Radit
sunaryati jarum
Nah,kan
sunaryati jarum
Nah setelah pergi baru nyesel,kamu itu seharusnya ikuti mendiang ayahmu, pilihan orang tua sebagian besar tidak salah
sunaryati jarum
Baru mampir
Ragan Fian
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!