Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama Di Kotak Sempit
BAB 9
Lampu neon putih di kamar nomor empat berdengung pelan. Cahayanya tidak terang, hanya cukup untuk membuat bayangan empat makhluk di dalamnya memanjang di dinding yang catnya sudah menguning.
Ruangan itu tiga kali tiga meter. Tidak ada sekat. Satu kasur busa tipis di sudut, satu meja plastik pendek, satu kursi kayu yang kakinya sudah patah sebelah dan diganjal batu bata. Di sudut lain ada kompor gas satu tungku, beberapa piring seng, dan ember plastik hitam.
Dan sekarang, di tengah semua itu, berdiri seorang perempuan bergaun ungu yang terlalu bersih untuk ruangan ini.
Zahmira masih mematung. Matanya menyapu setiap sudut dengan tatapan inspeksi.
Bayu yang sejak tadi merebahkan diri di kasur akhirnya bangkit duduk. Ia merasa tidak nyaman ditatap seperti itu. Ia merapikan kaus oblongnya.
"Kenapa lihat-lihat begitu, Mbak? Walaupun kelihatan sederhana, kamar nomor empat ini punya sejarah perjuangan," katanya. "Di sinilah kami merenungi nasib."
"Masa depan?" ulang Zahmira sinis. Matanya berhenti di tumpukan kertas di atas meja kertas coretan angka, daftar utang warung, dan catatan kecil milik Raka.
"Masa depan macam apa yang bisa kalian bangun di dalam kotak sempit yang bau debu ini? Ruang ganti dayang istanaku saja lebih luas dari ini."
Dimas menarik sebuah ember plastik terbalik dan mendudukinya. "Ya mau gimana lagi, Mbak. Dompet tipis, fasilitas ikut tipis."
Zahmira menoleh tajam ke arah Dimas. "Berani sekali kamu menyuruhku pergi setelah kalian sendiri yang memohon agar aku ikut ke sini?"
"Eh, bukan ngusir, Mbak," potong Raka buru-buru. Iya menuangkan air putih dari teko plastik ke dalam gelas kaca satu-satunya yang bersih dan menyodorkannya.
"Di sini memang begini. Tidak ada pelayan, tidak ada kasur tebal."
Zahmira menerima gelas itu dengan ragu. Iya menatap cairan bening di dalamnya, lalu menatap teko plastiknya.
"Ini apa?" tanyanya, menunjuk teko.
"Teko, Mbak. Tempat air," jawab Raka.
"Dan yang berputar di atas itu apa?" Zahmira menunjuk ke langit-langit. Sebuah kipas angin kecil menggantung miring, berputar pelan dengan suara berderak.
Bayu langsung menyahut, "Itu kipas angin, Mbak. Naga penjaga kamar nomor empat. Kalau dia marah, dia bergetar."
Zahmira mengerutkan kening. "Naga? Naga sekecil itu?"
"Naga versi hemat listrik," sahut Dimas datar. "Kalau dipencet nomor tiga, dia bisa terbang."
Raka melot ke Bayu dan Dimas. "Mbak, jangan didengerin. Itu cuma kipas. Buat angin-anginan biar gak gerah."
Zahmira masih menatap kipas itu dengan curiga, lalu pandangannya beralih ke kompor gas satu tungku yang berdebu di pojok.
"Kalau yang itu? Kotak besi dengan lingkaran hitam di atasnya?"
"Itu kompor, Mbak. Buat masak," kata Raka.
"Masak? Tanpa api?"
Bayu kembali mengambil alih, "Api-nya di dalam, Mbak. Api gaib. Cuma bisa keluar kalau kita putar kepalanya sambil komat-kamit bismillah."
"Bay," tegur Raka pelan.
Zahmira meletakkan kembali gelas air itu ke meja tanpa menyentuhnya. "Kalian benar-benar terobsesi dengan lembaran kertas bergambar pahlawan itu.
Apakah hidup di dunia manusia selemah itu? Hanya karena kekurangan kertas tipis, kalian rela tidur berdesakan di tempat kumuh?"
"Bukan sekadar kertas, Mbak. Kertas itu harga diri kami di hadapan Bu Ratna," sahut Bayu sambil mengelus perutnya yang berbunyi pelan.
"Ngomong-ngomong, ada satu hal krusial yang belum selesai sejak magrib tadi."
Raka menatap Bayu. "Apaan?"
"Makan malam," jawab Bayu tanpa dosa. "Dari siang kita cuma jalan keliling desa. Kalau begini, bukan cuma kasur yang diangkut besok sore, tapi saya yang diangkut ambulans karena kurang gizi."
Dimas menepuk jidatnya. "Di kamar lagi kedatangan tamu agung, isi otakmu cuma perut."
"Ya wajarlah! Emangnya Mbak Zahmira bisa kasih energi tenaga dalam buat nahan lapar?" protes Bayu.
Zahmira memandang mereka dengan jengkel. "Kalian benar-benar tidak punya tata krama. Di tengah situasi genting, yang kalian pikirkan hanya memasukkan benda mati ke dalam lambung."
"Benda mati gimana, Mbak? Itu namanya makanan," bela Bayu sengit. "Kalau tidak makan, kami lemas.
Kalau lemas, nggak bisa kerja. Kalau nggak kerja, nggak bisa bayar kos. Rantai makanan anak kos itu rapuh banget, Mbak!"
Raka tidak ikut berdebat. Iya membuka sedikit korden kusam di jendela. Malam semakin larut. Lampu di lorong bawah mulai meredup.
"Besok pagi-pagi sekali, kita harus cari kerjaan harian lagi di balai desa atau di pengepul," kata Raka pelan.
"Kalau cuma diam di sini, besok sore Bu Ratna beneran bakal ngeksekusi kasur kita."
Bayu menjatuhkan kepalanya ke bantal busa tipis, menatap langit-langit. "Kerjaan apa lagi, Ka? Buruh gabah kemarin aja bayarannya baru turun lusa. Hidup jadi orang bokek di Desa Kertajaya ini ujiannya berat banget. Pengen pensiun jadi manusia."
Dimas diam, merenungkan nasib mereka. Di sudut ruangan, Zahmira memperhatikan ekspresi putus asa ketiga pemuda itu. Ada rasa heran yang mendalam di balik wajah angkuhnya.
Suasana kamar nomor empat menjadi senyap. Yang terdengar hanya dengung kipas angin kecil yang berputar miring dan desir angin malam yang masuk lewat celah ventilasi, membawa hawa dingin.
Malam pertama Zahmira di dunia manusia resmi dimulai di dalam kotak sempit tiga kali tiga ditemani bau debu, tiga pemuda yang kelaparan, dan masalah uang kos yang akan meledak keesokan harinya.