NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Lantai koloseum andesit merah kini telah larut menjadi hamparan rawa darah mendidih sedalam mata kaki.

Uap tembaga panas mengepul pekat dari permukaan cairan merah yang bergolak, memenuhi seluruh amfiteater dengan bau anyir dan belerang yang begitu menyengat hingga membuat mata terasa perih terbakar. Setiap langkah berat yang diambil oleh Agares melepaskan gelombang kejut miasma yang meretakkan lantai batu menjadi serpihan mengambang, menciptakan pusaran air darah yang menenggelamkan sisa-sisa zirah dan senjata para penantang masa lalu.

Raksasa setinggi sepuluh meter itu tidak lagi hanya mengandalkan ayunan rantai berduri di punggungnya. Delapan lengan ototnya yang kekar mulai merentangkan telapak tangan raksasa ke udara, menarik kabut darah yang mengepul di sekeliling arena menjadi bola-bola energi plasma merah membara yang berputar cepat dengan dengungan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga.

“Pusatkan seluruh tembakan sihir ke arah kepalanya!” raung Julius von Ravensburg dari barisan belakang dengan sisa-sisa kewarasannya yang compang-camping. “Penyihir! Jangan diam saja seperti patung! Tembakkan seluruh tombak sihir terkuat kalian sekarang juga!”

Sepuluh ksatria bangsawan dan penyihir Ravensburg yang masih mampu berdiri tegak mencoba melepaskan mantra serangan gabungan terkuat yang mereka kuasai. Sepuluh tombak cahaya sihir biru keputihan meluncur serentak di udara, merobek kabut merah pekat menuju topeng perunggu berkarat yang menutupi wajah Agares. Kilatan energi sihir tingkat tinggi itu menerangi seluruh dinding koloseum yang suram.

Namun, reaksi Agares membuat secuil harapan terakhir para bangsawan itu lenyap seketika menjadi keputusasaan mutlak.

Topeng perunggu kuno di wajah Agares menganga lebar, menampakkan deretan taring runcing berkerak darah hitam. Alih-alih melolongkan amarah perang, rongga mulut itu menciptakan pusaran hampa yang menelan seluruh sepuluh tombak sihir langsung ke dasar tenggorokannya yang gelap gulita.

Energi sihir murni milik para ksatria bangsawan ditelan mentah-mentah tanpa perlawanan, dikompresi di dalam inti dadanya dalam waktu sekejap mata, lalu dimuntahkan kembali dalam bentuk gelombang kejut plasma darah raksasa berkekuatan sepuluh kali lipat lebih dahsyat.

Ledakan plasma merah menyapu separuh area koloseum di sisi selatan bagai air bah neraka.

Sepuluh ksatria bangsawan Ravensburg, termasuk Penyihir Gunter, terhapus seketika dari medan laga. Zirah lempeng emas yang mereka banggakan menguap menjadi abu logam panas, dan tubuh mereka lenyap tanpa menyisakan sepotong tulang pun. Julius von Ravensburg yang berada di tepi terjauh radius ledakan terlempar keras menghantam dinding batu koloseum setinggi sepuluh meter. Tulang rusuk dan bahu kirinya remuk seketika, memaksanya mengerang kesakitan dengan tubuh bersimbah darah di bawah tumpukan reruntuhan batu andesit.

“Seluruh divisi ksatria bangsawan… musnah dalam satu hembusan napas…” bisik Paman Vargas dengan mata bergetar hebat, menatap lantai kosong yang kini hanya dipenuhi asap kelabu di tempat para bangsawan tadi berdiri.

Di medan tempur yang kini hanya menyisakan regu Ren, Lady Elise, dan tiga puluh prajurit garis depan, Agares perlahan memutar leher raksasanya. Celah mata hitam pada topeng perunggunya mengunci tatapan dingin lurus ke arah barisan penyintas yang tersisa.

Dalam keputusasaan yang semakin pekat, Ren membiarkan insting bertahan hidupnya bekerja melampaui batas kewajaran raga manusia.

Dalam salah satu kemungkinan garis waktu yang ia lalui, Agares melompat tinggi dan melepaskan hujan badai tombak tulang beracun dari langit-langit kubah. Ribuan duri tajam menghujani barier suci Elise, menghancurkan perisai cahaya dalam dua tarikan napas pendek dan mencincang seluruh pasukan hingga menjadi genangan daging cincang.

Dalam garis waktu yang lain, Elise mengerahkan seluruh jiwanya untuk melepaskan mantra pemurnian suci terkuat warisan para leluhurnya. Cahaya perak murni yang menyilaukan berhasil membakar separuh dada berotot Agares hingga hangus menjadi abu hitam pekat. Namun, rasa lega itu hanya bertahan sesaat. Dalam hitungan dua detik, genangan cairan darah di lantai koloseum tersedot naik dengan pusaran liar, meregenerasi seluruh daging dan tulang monster itu menjadi utuh kembali tanpa menyisakan satu goresan pun. Agares langsung membalas dengan tebasan rantai berkecepatan tinggi yang memenggal leher Ren dan Elise secara bersamaan di udara.

Dunia berputar kembali dengan dengungan menyengat di pangkal otaknya.

Ren tersungkur ke depan, bertumpu pada kedua lututnya di dalam genangan air darah yang hangat. Tubuhnya terbatuk hebat, memuntahkan segumpal darah kental ke atas pecahan batu andesit merah.

Darah hangat merembes keluar dari kedua sudut matanya, membuat dunia di sekelilingnya tampak seperti diselimuti kabut merah yang pekat dan bergetar. Di dalam rongga kepalanya, akumulasi rasa sakit dari puluhan kematian bertubi-tubi menumpuk menjadi gelombang dengingan frekuensi tinggi yang merobek kestabilan sarafnya. Otot-otot di kedua lengannya berkedut tanpa kendali akibat beban kelelahan mental yang telah mendekati ambang kehancuran permanen.

Rasa sakit dari leher yang terpenggal, tulang rusuk yang hancur, dan daging yang terkoyak masih menyengat tajam di setiap serabut sarafnya. Satu atau dua kesalahan lagi… dan jiwanya akan hancur lebur oleh beban ingatan maut yang tak tertahankan bagi akal budi manusia.

“Ren!” Shizuka berlutut panik di samping pemuda itu, air mata merebak di sudut matanya saat kedua tangannya yang gemetar menyalurkan sisa-sisa mana pemulihnya ke pelipis Ren untuk meredakan demam saraf yang membakar. “Tolong bertahanlah! Jangan memaksakan dirimu lebih jauh lagi! Napasmu sudah sangat lemah!”

“Ren… apa yang harus kita lakukan?” Elise melangkah mendekat dengan napas tersengal-sengal dan jubah yang kotor oleh debu pertempuran. Tongkat perak sucinya mulai meredup kehabisan pasokan mana. “Makhluk itu… dia tidak bisa dimusnahkan dengan sihir penghancur biasa. Selama lautan darah di koloseum ini masih mengalir, tubuhnya akan terus beregenerasi tanpa henti!”

Vargas merapatkan perisai bajanya di depan mereka, matanya menyapu sekeliling arena yang kini terkepung oleh lidah-lidah api merah. Riku berdiri di sampingnya dengan napas terengah-engah, jemarinya yang lecet berdarah tetap mencengkeram tali busur panahnya dengan erat.

Ren mengangkat kepalanya perlahan, menyeka darah yang mengaburkan penglihatannya dengan punggung tangan yang gemetar.

Di balik rasa sakit menyiksa yang nyaris meremukkan kesadarannya, sebuah kilatan pemahaman yang dingin dan tajam mengkristal di dalam benaknya.

Rekaman visual dan rasa sakit dari belasan kematian sebelumnya menyatu menjadi satu peta kelemahan yang tak terbantahkan.

Tidak ada makhluk di dalam menara terkutuk ini yang benar-benar abadi tanpa syarat, batin Ren dengan ketenangan yang mengkristal.

Regenerasi darah Agares memang tampak tak terbatas bagi mereka yang hanya melihat dari permukaan, namun ada satu celah krusial di mana sirkulasi pemulihan itu terputus total untuk sesaat.

Setiap kali Agares beralih dari amukan badai rantai berputar menuju persiapan ledakan plasma darah pemusnah, topeng perunggu kuno di wajahnya harus bergeser ke atas sejauh beberapa inci. Pergeseran itu diperlukan untuk membuang uap panas berlebih dari inti kristal gelap yang tertanam di dasar rongga tengkoraknya agar kepalanya tidak meledak oleh kelebihan energi mana.

Dan celah terbuka itu hanya berlangsung selama sepertiga tarikan napas pendek.

Hanya sepertiga detik di antara badai rantai dan letusan plasma pemusnah.

Celah sepertiga detik… pada ketinggian delapan meter di udara, batin Ren sambil menatap belati taring bayangan di tangannya yang kini telah dipenuhi retakan halus akibat benturan keras sebelumnya.

Dengan kekuatan fisik prajurit jelata biasa, melompat setinggi delapan meter di udara dan menusuk celah sepertiga detik di tengah amukan monster raksasa adalah kemustahilan mutlak jika dilakukan seorang diri.

Namun, Ren tidak lagi berdiri sendirian di dalam arena pembantaian ini. Di sekelilingnya, ada rekan-rekan yang rela menaruh kepercayaan mutlak pada setiap langkah dan keputusannya.

Ren bangkit berdiri perlahan di tengah genangan darah, menatap wajah Elise, Vargas, Shizuka, dan Riku satu per satu dengan tatapan penuh tekad.

“Aku tahu di mana letak inti kelemahan mutlaknya,” suara Ren terdengar parau tapi tegas, membelah desau angin darah dan gemuruh langkah Agares di kejauhan. “Kita hanya memiliki satu kesempatan. Satu rangkaian gerakan seratus detik yang harus dieksekusi secara sempurna tanpa ada kesalahan sedikit pun.”

Ren menatap lurus ke dalam sepasang mata perak Elise yang berkilat haru dan tekad.

“Nona Elise,” potong Ren cepat, “fokuskan sisa kekuatan suci Anda sepenuhnya untuk menciptakan pijakan cahaya padat di udara tepat pada detik kesembilan puluh delapan. Hentikan sihir pertahanan. Paman Vargas, jadilah landasan peluncuran pertama dengan menahan perisai baja sekuat tenaga. Kak Shizuka, suntikkan ramuan akselerasi ke persendian kakiku sekarang. Dan Riku… bidik mata rantai ketiga di lengan kanan monster itu untuk mengalihkan pandangannya pada detik krusial.”

Vargas tersenyum lebar, senyuman seorang prajurit tua yang telah melewati ratusan pertempuran dan tidak lagi takut pada kematian. Pria itu menepuk perisai bajanya dengan keras. “Katakan saja ke mana kau ingin melompat, Bocah. Kakiku tidak akan bergeser satu milimeter pun!”

“Aku akan mengunci seluruh sisa manaku untuk membentuk tangga perak itu, Ren,” ucap Elise dengan mata perak yang bersinar terang, ketakutannya telah lenyap sepenuhnya digantikan oleh keberanian suci. “Aku percaya padamu.”

“Tali busurku sudah siap, Ren,” bisik Riku sambil menarik napas dalam-dalam, anak panahnya terarah lurus ke bayangan raksasa Agares.

Ren mengangguk pelan, menggenggam erat belati taring bayangannya yang bergetar lembut. Di sekeliling mereka, air darah mendidih dan raungan Agares kembali mengguncang langit-langit kubah koloseum, menandai dimulainya fase amukan badai rantai yang mematikan.

“Ini adalah pertaruhan hidup dan mati kita,” ucap Ren sambil melangkah maju ke garis depan. “Mulai hitungan seratus detik… sekarang!”

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!