Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.
Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.
Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.
Balapan liar, berkelahi, membolos.
Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.
Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.
Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"
Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...
Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.
Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Jam 21.30.
Rumah itu sunyi.
Setelah kejadian di sekolah siang tadi, Sean tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Makan malam yang dibuat Alena dengan susah payah tidak disentuh. Pintu kamarnya dikunci dari dalam.
Alena sudah tiga kali mengetuk pintu kamar Sean.
"Sean? Saya bawakan susu cokelat hangat kesukaan kamu?"
Tidak ada jawaban.
"Sean, tidak ada yang marah sama kamu,ayo keluar nak!"
Tetap sunyi.
"Sean,saya tetap berdiri disini ya sampai kamu membuka pintu!"
Alena duduk bersandar di depan pintu kamar Sean dengan nampan di tangannya. Hatinya sakit. Ia tahu Sean sedang terluka.
Di lantai satu, Aditya baru pulang rapat. Melihat istrinya duduk di lantai depan kamar anaknya, ia mengerutkan kening.
"Apa yang kamu lakukan?"
Alena menatap Aditya dengan mata lelah. "Sean ngurung diri dari pulang sekolah. Dia belum makan."
Aditya menghela napas kasar. "Biarkan saja,terserah dia mau makan atau tidak.Jangan dibiasakan memanjakan anak itu!"
"Aditya!" Alena langsung berdiri, marah. "Dia itu anak kamu! Dia habis dihina,hatinya terluka dan sikap kamu seperti itu?"
"Alena, kamu tidak mengerti Sean!"
"Justru kamu yang tidak mengerti dia! Kamu sibuk kerja terus!" Alena membalas, suaranya bergetar.
Pertengkaran kecil mereka membuat suasana rumah makin tegang.
Dan dari dalam kamar, Sean mendengar semuanya.
" Lihat, gara-gara aku, ceo dan istri barunya berantem lagi. Pantas Mama ninggalin aku. Aku emang pembawa sial."
Air mata Sean jatuh. Dengan cepat, ia mengambil jaket hoodie hitamnya, membuka jendela kamarnya yang besar di lantai dua. Dulu ia sering kabur lewat sini saat masih SMP.
Tanpa pikir panjang, Sean memanjat turun lewat pipa dan kabur ke dalam gelapnya malam.
15 menit kemudian, Alena yang khawatir mencoba membuka pintu kamar Sean dengan kunci cadangan dari Mbak Siti.
Kamar itu kosong. Jendela terbuka lebar, angin malam masuk.Kamar itu tampak hening,bahkan Alena sampai mencari ke kamar mandi dan balkon namun nihil Sean tidak ada disana.
"ADITYAAAA!!!" Jerit Alena histeris. "SEAN KABUR!!!"
Aditya yang ada di bawah langsung lari ke atas. Melihat jendela terbuka, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal.
"Anak bodoh!" umpat Aditya panik. Ia langsung mengambil ponselnya, menelepon semua bodyguard-nya. "Cari Sean! Sekarang! Cek CCTV kompleks! Cepat!"
Rumah megah itu langsung heboh. Semua satpam kompleks Pondok Indah dikerahkan. Aditya panik luar biasa, ini pertama kalinya ia terlihat begitu panik.
Alena gemetar, menangis sambil memeluk bantal. "Ya Allah, Sean... kamu di mana nak..."
Aditya melihat Alena menangis, ia meraih bahu Alena. "Kamu di rumah saja, biar saya yang cari."
"Tidak! Saya ikut! Dia itu anak saya juga!" Alena bersikeras.
Mereka berdua masuk ke mobil Alphard hitam, menyusuri jalanan malam.
Sean di mana?
Sean tidak pergi ke rumah temannya. Ia naik ojek online dengan uang jajan terakhirnya. Tujuannya hanya satu tempat.
*TPU Pondok...* tempat peristirahatan terakhir Mamanya.
Jam 22.15, hujan rintik mulai turun.
Sean berjalan sendirian di antara ribuan nisan, dengan hoodie yang sudah basah. Ia hafal jalan menuju makam itu. Makam sederhana dengan batu nisan putih bertuliskan *"Riana Pradana - Ibu Terbaik"*
Sean jatuh berlutut di depan makam itu. Dan untuk pertama kalinya setelah 2 tahun Mamanya meninggal, Sean menangis sejadi-jadinya, meraung seperti anak kecil.
"Mama..." suara Sean pecah. "Mama... kenapa Mama tinggalin Sean?"
Hujan makin deras. Sean tidak peduli.
"Mama tahu nggak... hari ini Sean berantem lagi di sekolah... Sean dipanggil bodoh sama Kevin... Dia bilang pantas Mama ninggalin Sean karena Sean bodoh... Mama... apa bener Mama ninggalin Sean karena Sean bodoh?"
Sean memukul tanah makam itu dengan tangannya.
"Sean kangen Mama! Sean kangen dimasakin Mama! Sean kangen dipeluk Mama! Sejak Mama nggak ada, Ayah nggak pernah peluk Sean lagi! Ayah cuma marah-marah terus! Rumah itu dingin banget, Ma!"
Air matanya bercampur air hujan.
"Terus sekarang ada Bunda Alena, Ma... Dia baik banget sama Sean... Dia masakin Sean nasi goreng... Dia belain Sean di sekolah tadi... Dia peluk Sean... Tapi Sean takut, Ma... Sean takut kalau Sean sayang sama Bunda Alena, Sean ngelupain Mama... Sean nggak mau lupain Mama, Ma..."
Sean terisak, meletakkan kepalanya di atas batu nisan yang dingin.
"Sean jahat ya Ma, udah bikin Bunda Alena nangis hari ini... Bunda Alena udah baik, tapi Sean malah kabur... Maafin Sean, Ma... Sean bener-bener nggak tahu harus gimana... Sean capek, Ma..."
Di kejauhan, di balik pohon kamboja, Alena dan Aditya berdiri mematung.
Mereka menemukan Sean lewat pelacak di jam tangan Sean.
Aditya ingin langsung maju, tapi Alena menahan tangan Aditya. Alena menggeleng dengan air mata yang deras.
"Jangan... biarin dia berkeluh kesah dulu sama Mamanya..." bisik Alena.
Aditya terpaku. Ia mendengar semua jeritan hati anaknya. Selama ini ia pikir Sean nakal karena manja. Ternyata anaknya menyimpan luka sebesar itu. Luka karena merasa ditinggalkan.
Aditya yang selama ini dikenal sebagai CEO paling dingin itu, kini matanya merah. Tangannya mengepal menahan tangis.
Alena tidak tahan lagi. Ia melepaskan tangan Aditya, berjalan pelan di tengah hujan menuju Sean.
Sean yang masih menangis di makam Mamanya kaget merasakan ada jaket yang diselimutkan ke punggungnya.
Ia menoleh. Alena basah kuyup, berjongkok di sampingnya, ikut menangis.
"Bunda?" Sean terisak.
Alena tidak berkata apa-apa. Ia langsung memeluk Sean erat di depan makam Riana. Pelukan seorang ibu.
"Maaf... maaf saya terlambat ..." bisik Alena di tengah hujan.
Sean memeluk balik Alena dengan sangat erat, menangis di bahu Alena.
"Bunda... Sean takut lupain Mama kalau Sean sayang Bunda..." Sean jujur.
Alena tersenyum di tengah tangisnya, mengusap rambut Sean yang basah.Hatinya bergetar saat mendengar Sean memanggilnya bunda.
"Sayang, dengerin Bunda," ucap Alena lembut. "Sayang Bunda tidak akan pernah bikin kamu lupain Mama kamu. Bunda di sini bukan untuk gantiin Mama kamu. Bunda di sini untuk bantu kamu jagain kenangan Mama. Mama kamu itu hebat, Sean. Bunda aja kagum sama Mama kamu yang sudah didik Sean sekuat ini."
Sean menangis makin keras mendengar itu.
"Boleh ya bunda temani kamu, kamu kangen Mama? Kalau kamu kangen Mama, kita kesini bareng-bareng. Bunda bacain doa buat Mama, kamu cerita ke Mama. Gimana?"
Sean mengangguk di pelukan Alena. "Boleh, Bunda..."
Aditya yang berdiri di belakang, akhirnya maju. Ia berjongkok di sisi lain makam istrinya, Riana.
Untuk pertama kalinya setelah 2 tahun, Aditya bicara di depan makam Riana.
"Riana... maafkan aku... aku gagal jadi ayah..." suara Aditya bergetar. Ia menatap Sean. "Sean, maafkan Ayah... Ayah selama ini dingin sama kamu karena Ayah juga kangen Mama kamu dan tidak tahu cara ngobrol sama kamu selain marah... Maafkan Ayah, nak..."
Itu adalah kata maaf pertama Aditya setelah 2 tahun.
Sean melihat Ayahnya menangis. Ia tidak pernah melihat Ayahnya menangis.
Malam itu, di bawah hujan deras, di depan makam Mama, untuk pertama kalinya keluarga kecil yang berantakan itu saling memeluk. Alena, Sean, dan Aditya. Tiga orang yang sama-sama terluka, akhirnya saling menemukan.
Setelah hujan reda, Alena membantu Sean berdiri. Ia membacakan Al-Fatihah untuk Almarhumah Riana dengan suara merdu, Sean dan Aditya mengaminkan dengan air mata.
Mereka pulang bertiga dalam satu mobil. Sean tertidur di pangkuan Alena karena kelelahan menangis. Aditya menyetir dengan mata masih merah, sesekali melihat lewat kaca spion pemandangan yang tidak pernah ia lihat: istri mudanya mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.
Di dalam hati Aditya, ada perasaan aneh yang muncul. Perasaan hangat dan... cemburu? Cemburu karena anaknya lebih nyaman di pelukan Alena?
Bersambung...