Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.
Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.
Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 - Hadiah Untuk Lyra
“Kak, pipis.” kata Lyra sembari menarik lengan baju Sheyra hingga membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
“Lyra mau pipis?” tanyanya memastikan.
Lyra menjawab dengan anggukan kecil. “Yuk kita ke toilet dulu ya.” ajak Sheyra meminta Lyra untuk berdiri dari tempat duduknya.
Lyra mengikuti Sheyra yang menggenggam erat tangannya. Menuntunnya menuju toilet yang tidak jauh dari ruang kelas. Sesekali Lyra mendongak ke atas untuk melihat Sheyra. Entah mengapa sejak pertama kali melihat Sheyra telah membuat Lyra merasa nyaman. Senyum Sheyra yang meneduhkan mampu mengambil hati Lyra. Padahal sebelumnya gadis kecil itu cukup sulit untuk dekat dengan orang baru. Namun berbeda dengan Sheyra.
Sheyra membantu Lyra untuk buang air kecil. Setelah itu ia merapikan kembali baju Lyra dan juga memasangkan jepit rambut Lyra yang sebelumnya terjatuh.
Sheyra duduk bertopang dengan lututnya. Menyamakan tingginya dengan Lyra agar gadis kecil itu tidak perlu mendongak untuk melihatnya. “Nah, cantik.” puji Sheyra sambil tersenyum manis.
Lyra mengangkat ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman. Matanya berbinar mendengar pujian Sheyra. Walaupun tanpa berkomentar apapun, Sheyra dapat mengetahui bahwa Lyra senang mendengar pujiannya.
“Sekarang coba Lyra tutup mata. Kakak punya sesuatu buat Lyra” pinta Sheyra yang sontak membuat Lyra menjadi penasaran. Gadis itu tidak bertanya apapun. Namun ia langsung menutup matanya dengan senyuman masih menghiasi bibirnya.
Lyra sering memainkan permainan seperti ini dengan Papanya. Biasanya Papanya akan meminta Lyra untuk tutup mata lalu ketika membuka mata akan ada hadiah di depannya. Oleh karena itu kali ini gadis kecil itu yakin jika ia menutup mata, maka ia akan mendapatkan hadiah. Benar-benar anak kecil yang polos.
Saat menutup matanya, Lyra merasa berdebar. Ia tidak bisa berhenti tersenyum. Ia sangat penasaran apa yang akan ia dapatkan ketika ia membuka mata nanti.
Sheyra tersenyum melihat Lyra yang mematuhi perintahnya begitu saja. Gadis kecil yang sangat manis. Sheyra merogoh saku roknya untuk mengambil sesuatu yang ada di dalam sana. Tangannya mengangkat sebuah gantungan kunci boneka bebek berwarna kuning. Boneka bebek itu seukuran telapak tangan Sheyra lengkap dengan bulu lembutnya.
Sheyra mengangkat gantungan kunci itu tepat di depan wajah Lyra yang masih menutup mata. “Dengan hitungan ketiga, Lyra langsung buka mata ya.” perintah Sheyra.
Lyra mengangguk dengan cepat. Gadis kecil itu semakin tidak sabar untuk membuka mata. Namun ia harus menunggu Sheyra berhitung terlebih dahulu sehingga ia harus menahannya.
“Satu.. Dua.. Tiga.”
Lyra mulai membuka matanya. Ia tersenyum senang ketika melihat sebuah gantungan kunci bebek menggantung di depan wajahnya. Matanya membulat sempurna. Ia langsung menyentuh boneka bebek itu dan mengambilnya. Ia membuka bibirnya, “Wahhhh…”
Mata Lyra berbinar. “Antik Cekali.” ujarnya sembari mengelus bulu boneka bebek berwarna kuning itu. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
Sheyra ikut merasa senang ketika melihat ekspresi Lyra. Hatinya merasa sangat tersentuh. Ia senang karena hadiah pemberiannya diterima dengan baik oleh Lyra. “Cantik kan?” tanya Sheyra.
Lyra mengangguk cepat, “Iya!”
“Lyra suka?”
Lyra mengangguk lagi. Kali ini dengan suara yang lebih lantang, “Suka!”
“Makaci kak Ei.” seru Lyra kemudian langsung memeluk Sheyra erat.
Sheyra membalas pelukan Lyra. Ia mengelus kepala gadis kecil itu dengan lembut. “Kak Shey senang kalau Lyra suka. Lyra rahasiakan dari teman-teman yang lain ya soal hadiah ini.” kata Sheyra kemudian ia meletakkan jari tulunjuknya ke mulut. “Ini rahasia kita berdua. Jadi jangan kasih tau teman-teman. Okay?” tambah Sheyra.
Lyra tertawa kecil, “Iya!” Gadis kecil itu merasa senang karena punya permainan rahasia bersama Sheyra. Di mana rahasia yang hanya diketahui olehnya dan Sheyra saja.
“Papa? Boyeh?” (Papa? Boleh?)
“Lyra mau kasih tau Papa?” tanya Sheyra memastikan maksud ucapan Lyra.
Lyra mengangguk.
“Boleh dong.” ujar Sheyra riang.
“Horee!” Lyra melompat kegirangan.
Sheyra melihat Lyra yang sangat bahagia membuat dirinya merasa senang. Alasan dia meminta Lyra untuk merahasiakan hal ini kepada anak-anak yang lain adalah agar tidak ada kecemburuan di antara mereka. Sebenarnya Sheyra sering memberikan hadiah kepada anak-anak yang pintar atau penurut agar mereka merasa jerih payahnya dihargai.
Bukan hanya kepada Lyra saja, dua minggu lalu ia juga memberikan hadiah kepada Sandra yang berhasil mengeja huruf alphabet dengan benar. Bulan lalu ia juga memberikan hadiah kepada Kenzie karena bisa menggambar dengan lebih bagus.
Sheyra memberikan hadiah tersebut secara diam-diam. Ia tidak ingin memberikan hadiah di depan banyak orang. Takut jika menimbulkan kecemburuan di antara anak-anak. Padahal sebenarnya ia sedang mengapresiasi anak-anak yang sudah bekerja keras. Hampir semua anak di kelas sudah mendapatkan hadiah dari Sheyra. Dan kali ini adalah giliran Lyra.
“Ini adalah hadiah buat Lyra karena Lyra sudah jadi lebih berani untuk berteman dengan yang lain. Kakak bangga sama Lyra. Melihat Lyra sekarang sudah punya teman itu sesuatu yang sangat hebat.” terang Sheyra.
Lyra mendengarkan ucapan Sheyra dengan seksama. Wajah polosnya menatap Sheyra dengan tatapan yang lembut.
“Sekarang Lyra sudah punya teman kan?” tanya Lyra.
Lyra mengangguk, “Iya. Ada kak Ra. Kak La.” jawabnya antusias.
“Wah hebat. Semoga teman Lyra semakin banyak yaa. Pesan Kak Shey supaya Lyra menjadi anak yang berani.” nasehat Sheyra yang dibalas anggukan oleh Lyra. Lyra mengingat pesan Sheyra dengan baik dalam otaknya.
“Kalau gitu kita balik ke kelas lagi ya.” ajak Sheyra lalu menggandeng tangan Lyra.
Lyra mengiyakan kemudian ia mengikuti langkah Sheyra akan membawanya. Gadis kecil itu masih tersenyum dengan sumringah sambil memeluk boneka bebek itu. Dalam hati, Lyra bertekad untuk menjaga hadiah itu dengan baik.
***
Jam menunjukkan pukul 16.55 yang artinya pukul 17.00 hanya tinggal beberapa menit lagi. Sheyra akan bersiap untuk pulang tepat di pukul 17.00. Sheyra melihat sekeliling ruang kelas, beberapa anak sudah pulang dijemput orang tuanya sehingga menyisakan 6 anak yang belum pulang termasuk Lyra.
Biasanya Mawar akan pulang lebih lambat karena menunggu semua anak dijemput orang tuanya. Namun hari ini ia harus pulang lebih cepat karena di jam 17.30 ia harus menghadiri acara keluarga.
“Shey, boleh gak hari ini minta tolong buat jagain semua anak-anak ini? Tungguin mereka sampe di jemput orang tuanya. Aku harus pulang lebih cepat karena ada acara.” pinta Mawar.
Belum sempat Sheyra menjawab, Mawar kembali melanjutkan kata-katanya “Biasanya aku menitipkan anak-anak ini sama Kak Sasha di kelas sebelah tapi hari ini dia agak sibuk. Jadi cuman kamu yang bisa dimintai tolong.” katanya memelas.
Tanpa berpikir lagi, Sheyra langsung menyanggupi permintaan Mawar. Mendengar hal itu, Mawar langsung sumringah dan berterima kasih kepada Sheyra. Tiga detik kemudian Sheyra membuka handphonenya untuk mengirimkan pesan kepada Bundanya di rumah soal dirinya yang pulang telat. Ia melakukan ini agak Bundanya tidak merasa khawatir.
Mawar membereskan barang-barangnya. Ia berpamitan kepada Sheyra dan berpesan, “Kebanyakan orang tua anak-anak ini datang di jam 6 malam. Tapi untuk Lyra biasanya orang tuanya agak telat. Kalau mereka bosan, ajak main puzzle aja ya. Atau boleh juga tidur.”
Sheyra mengangguk paham. Setelah kepergian Mawar ia langsung mengajak anak-anak yang tersisa untuk mengobrol.
Beberapa menit kemudian satu persatu orang tua anak-anak itu datang menjemput hingga menyisakan Lyra sendirian.
^^^Bersambung…^^^