NovelToon NovelToon
Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Status: tamat
Genre:Balas dendam. / Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.

Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.

Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Penilaian yang Menggetarkan

Pak Wiryo tidak menyambut Bayu sebagai seorang jenius.

Ia menyambutnya dengan sarung tangan, kaca pembesar, lampu ultraviolet, mikroskop digital, dan formulir pemeriksaan sepanjang enam halaman.

"Nama besar tidak membuat benda menjadi asli," katanya di pintu studio. "Dan dua tebakan benar tidak membuat anak muda menjadi ahli."

"Saya setuju, Pak Wiryo."

Jawaban itu membuat alis lelaki tua tersebut naik sedikit.

Intan telah membawa lukisan dengan kendaraan khusus. Kanvas tetap pada spanram, dibungkus lapisan pelindung tanpa menyentuh permukaan cat. Dokumen provenance dari rumah Wibowo tersimpan dalam map terpisah.

Pak Wiryo memeriksa rantai dokumen lebih dahulu. Ia mencatat kapan lukisan dibeli, siapa pemilik rumah sebelumnya, dan kapan bingkai diganti. Baru setelah itu lampu studio diarahkan ke kanvas.

Hampir satu jam berlalu tanpa keputusan.

Pak Wiryo memotret craquelure, memeriksa tepi kain, mengambil pembacaan non-destruktif pada pigmen, dan membandingkan tanda tangan dengan arsip. Di layar inframerah tampak perubahan posisi kaki kuda serta satu batang pohon yang ditutup oleh pelukis.

Ia meminta izin tertulis dari Intan sebelum membuka pelindung belakang bingkai. Tidak ada serpihan cat yang diambil hari itu. Pemeriksaan unsur pigmen dilakukan dengan alat portabel, sedangkan pengambilan sampel mikro dijadwalkan bersama konservator apabila keluarga menyetujuinya.

"Kenapa tidak langsung ambil sampel?" tanya Intan.

"Karena keris ini milik orang lain, dan kepastian tidak boleh dibayar dengan kerusakan yang tidak perlu," jawab Pak Wiryo. "Laporan yang baik menjelaskan hasil sekaligus batas pemeriksaan."

Bayu menyimpan kalimat itu. Mata Dewa dapat memberinya kepastian pribadi, tetapi dunia profesional membutuhkan izin, metode, dan batas kesimpulan.

Pak Wiryo kemudian mencocokkan surat keluarga Semarang dengan cap kertas, usia tinta, dan foto ruang lama. Ia meminta Intan menelusuri akta jual beli rumah untuk memastikan daftar isi sudah menjadi bagian transaksi sejak awal dan tidak ditambahkan kemudian.

"Pentimento," katanya. "Perubahan saat proses melukis. Salinan lurus dari karya selesai tidak akan memiliki lapisan semacam ini."

Bayu berdiri di samping meja, tidak mencoba mendahului.

"Kamu melihat ini dari rumah?" tanya Pak Wiryo.

"Saya melihat perbedaan ketebalan dan bentuk komposisinya di bawah cahaya miring. Selebihnya dugaan dari katalog."

Pak Wiryo tahu jawaban itu tidak menjelaskan semuanya, tetapi ia tidak bisa membantah alasan yang diberikan.

Ia melanjutkan pemeriksaan tanda tangan. Tarikan awal huruf R menekan lapisan cat basah, sementara ujung nama menyatu alami dengan permukaan tua. Tidak ada retak yang sengaja dilukis di atas tanda tangan.

Akhirnya ia melepas sarung tangan.

"Ini karya asli Raden Saleh. Sebuah studi perburuan, kemungkinan dibuat sebelum komposisi yang lebih besar. Dengan provenance yang dilengkapi dan laporan konservasi, nilai pasarnya dapat melewati delapan puluh miliar rupiah."

Intan menatap lukisan yang selama puluhan tahun tergantung di ruang tamu.

"Delapan puluh miliar?"

"Bisa lebih. Tapi jangan mengejar harga sebelum konservasi. Nilai sejarahnya lebih rapuh daripada angka."

Pak Wiryo menandatangani laporan awal, memberi catatan bahwa sertifikat final menunggu uji pigmen laboratorium dan penelusuran arsip lanjutan. Intan tidak kecewa. Justru syarat itu membuat pengesahan terasa nyata.

Bayu lalu membuka kotak Keris Nagasasra.

Pak Wiryo berhenti bernapas sesaat.

Ia duduk, memeriksa warangka, lalu mengeluarkan bilah dengan kedua tangan. Selama setengah jam, ia meneliti pamor, gandik naga, pesi, jejak tempa, dan proporsi setiap luk. Sesekali ia membuka buku rujukan tua dari lemari.

Jari tuanya mulai bergetar.

"Ini Nagasasra," katanya. "Abad kelima belas. Saya baru melihat dua bilah dengan kualitas seperti ini sepanjang hidup."

Intan memandang Bayu. "Yang kamu beli satu setengah miliar?"

"Milik Rizal," jawab Bayu. "Saya hanya membawanya pulang."

Pak Wiryo menatap bekas retak pada warangka. "Harga konservatif lima belas miliar. Di tangan kolektor yang memahami garis empu dan asal keluarganya, bisa melewati tiga puluh miliar. Pemilik harus segera mengurus pencatatan dan penyimpanan yang layak."

Bayu mengangguk. "Rizal sedang dalam perjalanan. Saya akan mendampinginya."

Ia juga menunjukkan Keris yang dibeli Rp500 ribu di pasar. Pak Wiryo tersenyum tidak percaya setelah pemeriksaan awal.

"Keris ini memang tidak memenuhi ciri Nagasasra, tapi benar dari tradisi Majapahit akhir. Pamor-nya bagus dan bilahnya utuh. Dengan verifikasi lanjutan, nilainya wajar mencapai sepuluh sampai dua belas miliar."

Dalam satu meja, benda yang ditertawakan penjual kaki lima berdiri sejajar dengan pusaka yang dilelang di hotel.

Pak Wiryo menutup kotak, lalu berjalan ke lemari lain.

"Sekarang giliran saya menguji kamu."

Ia mengeluarkan tiga benda: sebuah patung perunggu kecil, koin kolonial, dan mangkuk keramik berlapis glasir hijau.

"Dua asli, satu palsu. Jelaskan."

Bayu tidak langsung memakai Mata Dewa. Ia memeriksa dengan mata biasa lebih dahulu. Berat, aus, pola korosi, bekas cetak, dan bagian bawah benda dibandingkan dengan katalog yang tersimpan di ingatannya.

Pada patung perunggu, cahaya emas hampir tidak ada. Struktur dalamnya menunjukkan pori cetakan modern. Cairan asam mengalir dari atas ke bawah dan meninggalkan korosi dalam arah yang terlalu rapi.

"Patung ini palsu," kata Bayu. "Patina dibuat dengan asam setelah cetak. Bekas alirannya masuk ke cekungan dari arah yang sama, padahal korosi alami mengikuti kelembapan dan sentuhan yang tidak seragam. Di bawah kaki juga ada jejak alat putar modern."

Pak Wiryo tidak bereaksi. "Yang lain?"

Bayu menjelaskan aus alami pada koin dan perbedaan glasir lama dengan retak restorasi pada mangkuk. Mangkuk itu asli tetapi pernah diperbaiki; koin juga asli.

Pak Wiryo membalik patung. Di bawah pembesaran, bekas alat modern tampak jelas.

"Dua menit," gumamnya.

Ia berdiri dan menundukkan kepala sedikit kepada Bayu, pengakuan singkat seorang profesional kepada rekannya.

"Anak muda, di mana kamu belajar penilaian seperti ini?"

"Ada orang tua yang mengajari saya sedikit. Beliau tidak ingin namanya disebut."

"Kalau itu sedikit, saya ingin tahu seperti apa banyaknya."

Pak Wiryo menyimpan kembali benda uji, lalu wajahnya menjadi berat.

"Kamu perlu hati-hati. Enam bulan terakhir, Keris palsu dan keramik tua palsu masuk pasar dalam jumlah tidak normal. Barangnya sangat halus. Pembuatnya menguasai tempa, patina, bahkan dokumen pendukung. Banyak ahli sudah tertipu."

"Satu sumber?"

"Ciri pengerjaannya berulang." Pak Wiryo menunjuk patung palsu. "Ada bengkel besar di belakangnya. Mereka belajar dari benda asli, lalu memperbaiki kesalahan setiap generasi."

Bayu teringat tiga dari sepuluh barang di toko Herman yang memancarkan cahaya kusam. Ia belum pernah melihat tokonya, tetapi nama CV Pusaka Abadi sudah menunggu untuk diperiksa.

Di luar studio, Intan berhenti di samping mobil.

"Bayu."

Untuk pertama kalinya, ia menghilangkan kata Mas.

"Kamu sebenarnya siapa?"

Bayu tersenyum. "Cuma anak desa dari Pacitan yang sedang beruntung."

Intan tidak ikut tersenyum.

"Keberuntungan tidak menjelaskan cara Pak Wiryo menundukkan kepala kepadamu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!