NovelToon NovelToon
Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Disfungsi Ereksi
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.

Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.

Narendra tak pernah repot membantah.

Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.

Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.

Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.

Bukan sekadar ingin menyentuhnya.

Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.

Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.

“Katanya kamu tidak bisa?”

Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.

“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Herman

Sekar tiba di Kopi & Co pukul 14.48.

Pak Herman belum datang.

Kafe di Senopati itu jauh lebih tenang daripada kedai yang biasa ia kunjungi. Mesin kopi mendesis pelan, musik jaz mengalun dari pengeras suara, dan aroma biji kopi panggang bercampur wangi parfum mahal para pengunjung.

Sekar memilih meja dekat dinding. Ia mengenakan blus putih sederhana dan rok batik biru tua, bukan kebaya seperti perintah Yuni. Ia juga membawa map berisi sketsa pesanan agar waktu menunggu tidak terbuang.

Saat mengeluarkan pensil, perasaan aneh membuatnya menoleh.

Di meja serong dekat jendela, seorang pria berkemeja putih duduk sendirian. Bahunya lebar, posturnya tegak, dan wajahnya tenang saat membaca dokumen. Jam di pergelangan tangannya terlihat sederhana, tetapi cara pelayan membungkuk ketika meletakkan kopi menunjukkan ia bukan pelanggan biasa.

Pria itu mengangkat kepala.

Tatapan mereka hampir bertemu.

Jantung Sekar berdetak satu kali lebih keras. Ia cepat-cepat menunduk pada sketsanya.

Cakepnya tidak wajar.

Pasti sudah menikah.

***

Narendra mengenali perempuan itu bahkan sebelum wajahnya terlihat jelas.

Gerak tangan saat membuka map. Lekuk leher ketika menunduk. Rambut yang diikat rendah. Hari ini ia tidak memakai kebaya, tetapi tubuh Narendra tetap memberi sengatan hangat yang sama di bawah kulit.

Berarti bukan kainnya.

Perempuannya.

"Pak, berkas akuisisi sudah lengkap."

Fikri berdiri beberapa langkah dari meja sambil membawa tablet. Narendra menutup dokumen tanpa membaca paragraf terakhir.

"Letakkan."

Fikri mengikuti arah pandangannya sekilas, lalu kembali menatap layar. Profesionalitas lima tahun mengajarinya kapan harus berpura-pura tidak melihat.

"Daftar tenant pameran juga sudah masuk," katanya. "Ada dua puluh tujuh sanggar kebaya."

"Kirim ke surel."

"Siap, Pak."

Fikri mundur ke meja lain. Narendra kembali melihat perempuan itu, kali ini melalui pantulan kaca.

Ia sedang menunggu seseorang.

Pukul 15.12, seseorang akhirnya datang.

Pria itu berjalan tergesa dengan kemeja ketat di perut dan rambut yang ditata menutupi bagian kepala yang mulai tipis. Foto profil yang sempat dikirim Yuni menampilkan pria berambut tebal dengan rahang tajam. Orang yang duduk di hadapan Sekar terlihat setidaknya sepuluh tahun lebih tua.

"Mbak Sekar?" tanyanya.

"Iya. Pak Herman?"

"Maaf telat. Dealer ramai."

Herman tidak menanyakan apakah Sekar sudah lama menunggu. Ia memanggil pelayan, memesan kopi termahal dan sepotong kue, lalu menyandarkan punggung.

"Foto kamu beda," katanya sambil mengamati Sekar terang-terangan.

Sekar hampir menjawab hal yang sama. "Mungkin pencahayaannya."

"Kamu kerja jahit kebaya, ya?"

"Saya desainer di Sanggar Kebaya Laksmi."

"Sama saja." Herman mengibaskan tangan. "Kalau nikah nanti berhenti. Istri saya harus di rumah."

Sekar meletakkan pensil. "Kenapa?"

"Ibu saya sudah tua. Perlu ada yang masak, bersih-bersih, antar kontrol. Saya sibuk urus dealer."

"Berarti Bapak mencari perawat dan asisten rumah tangga."

Herman tertawa pendek. "Istri kan memang harus melayani suami dan keluarga suami. Kamu jangan kebanyakan ikut pikiran perempuan kota."

Pelayan datang membawa kopi. Herman langsung mencicipi tanpa menunggu pesanan Sekar.

"Satu lagi," lanjutnya. "Saya mau anak laki-laki. Minimal tiga anak, lebih bagus kalau semuanya laki-laki."

Sekar menatapnya. "Kalau perempuan?"

"Coba lagi sampai dapat laki-laki. Dealer saya nanti siapa yang teruskan?"

Sekar mengangguk serius. "Sayang sekali."

"Apa?"

"Kata orang yang paham primbon, weton saya cuma bisa punya anak perempuan."

Herman berhenti mengunyah kue. "Maksud kamu?"

"Anak pertama perempuan. Kedua perempuan. Ketiga juga kemungkinan perempuan." Sekar menahan wajah datar. "Kalau dipaksa sampai dapat laki-laki, mungkin Bapak harus siapkan rumah sebesar sekolah."

Wajah Herman berubah. "Kamu percaya begituan?"

"Bapak percaya istri bisa memilih jenis kelamin anak sendirian. Saya pikir kita sama-sama percaya hal yang sulit dibuktikan."

Meja di sebelah mereka mendadak sunyi. Seorang perempuan menutupi senyum dengan cangkir.

Herman mendorong kursinya. "Pantas belum laku. Perempuan terlalu pintar ngomong begini bikin suami nggak betah."

"Untung kita tahu dari awal."

"Saya pergi. Bayarin, ya. Kamu yang ngajak ketemu."

Sekar menatap dua cangkir dan sepiring kue yang hampir habis. "Mbak Yuni yang mengatur."

"Tagih saja ke dia."

Herman berjalan keluar tanpa menoleh.

Sekar menutup mata satu detik. Ia tidak sedih. Ia hanya membayangkan berapa meter benang sutra yang bisa dibeli dengan kopi dan kue pria itu.

Pelayan membawa tagihan.

Rp116.000.

Sekar membayar dengan kartu debit, lalu meminta kopinya yang belum habis dimasukkan ke gelas kertas. Gajinya sekitar delapan juta sebulan. Lima juta biasa masuk ke rumah. Tiga juta sisanya harus menutup ongkos, makan, pulsa, dan kebutuhan pribadi.

Seratus enam belas ribu bukan jumlah kecil bagi orang yang sedang mencari tempat tinggal.

Ponselnya bergetar. Tiga pesan dari Yuni masuk berurutan.

Gimana? Pak Herman suka?

Jangan galak-galak ngomongnya.

Kalau dia ajak lanjut, iyain dulu.

Sekar memotret tagihan, mengetik `calonmu pergi tanpa bayar`, lalu menghapusnya sebelum terkirim. Percuma. Yuni akan mengubah cerita menjadi Sekar yang mempermalukan keluarga. Ia memasukkan ponsel ke tas dan meminta salinan struk, berjaga-jaga jika nanti ada yang menuduhnya berbohong.

Di meja dekat jendela, pria berkemeja putih memutar cangkirnya perlahan. Jari-jarinya panjang, kukunya rapi, dan satu hal kecil langsung tertangkap mata Sekar: tidak ada cincin di jari manisnya. Bahkan tidak terlihat bekas cincin.

Sekar segera memarahi diri sendiri.

Tidak memakai cincin bukan berarti belum menikah. Dan status pria asing itu sama sekali bukan urusannya.

Lagipula, ia datang untuk menutup satu urusan, bukan membuka masalah baru. Malam ini ia masih harus menghadapi Yuni, Anton, dan pertanyaan kenapa pertemuan yang mereka atur gagal total.

Saat ia berdiri, pandangannya kembali bertemu pria berkemeja putih di dekat jendela.

Kali ini pria itu tidak segera memalingkan wajah.

Matanya gelap dan tenang, tetapi ada sesuatu yang hangat di sana, seolah ia mendengar seluruh percakapan dan sedang menahan senyum.

Sekar merapikan tali tas. Entah kenapa telinganya ikut panas.

Ia mengangguk kecil karena canggung, lalu berjalan ke pintu sambil membawa kopi.

Narendra memperhatikan punggungnya sampai menghilang di balik kaca.

"Pak?" Fikri sudah kembali berdiri di samping meja. "Kita harus ke SCBD."

"Pria tadi siapa?"

Fikri tidak bertanya bagaimana ia harus tahu. Ia hanya melihat struk pemesanan meja yang tertinggal di meja sebelah. "Tertulis Herman, Pak."

"Cari tahu seperlunya. Jangan ganggu perempuan itu."

"Siap."

Narendra bangkit. Untuk pertama kalinya, ia merasa wajah yang selama ini hanya berguna di depan kamera perusahaan mungkin punya fungsi lain.

Perempuan itu sempat menatapnya dua kali.

Sementara di trotoar, Sekar menyesap kopi mahal yang terpaksa ia bayar dan menertawakan pikirannya sendiri.

Pasti sudah menikah. Laki-laki setampan itu tidak mungkin masih sendiri.

1
Siti Kamisah Hasnul
Bagusss sekalii
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰
Qwerty789 10
suka banget pokoknya,,,,lanjut trus kakakkkk💪
Qwerty789 10
sukak banget ma kata-katanya 🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!