NovelToon NovelToon
When The Extra Writes The Rules

When The Extra Writes The Rules

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.

Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.

Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Keluarga baru

Pagi itu Evelyn sedang bersandar santai di ranjangnya, kondisi fisiknya terasa sedikit lebih manusiawi.

Rasa berpasir di kerongkongannya agak mereda, walau tiap kali bernapas agak dalam, masih ada sentilan nyeri tipis di dada kirinya.

Suara derit pintu memecah hening. Tak lama kemudian, aroma semerbak yang membuat perutnya berbunyi nyaring memenuhi ruangan.

"Lihat siapa yang sudah bangun dan kelihatan lebih segar hari ini!" suara bariton yang dalam namun penuh kehangatan bergema dari arah pintu.

Duke Richard von Rosenberg melangkah masuk. Pria setengah baya dengan rambut perak tersisir rapi itu hanya mengenakan kemeja linen putih dipadu rompi warna biru tua.

Di tangannya, sang Duke membawa nampan berisi mangkuk berasap tipis dan piring.

Di belakangnya, Duchess Eleanor mengekor dengan selimut di lengannya, sementara Julian membawa sebuah kotak kayu berukir yang lumayan besar.

Evelyn berkedip heran. "Papa? Mama? Kakak? Kok... rame-rame ke sini? Bukannya Papa ada rapat sama para menteri wilayah pagi ini?"

"Rapat bisa ditunda, Sayang. Menkeu dan utusan istana bisa menunggu," sahut Duke Richard santai, meletakkan nampan di atas meja kecil samping ranjang.

"Yang penting putri Papa sarapan dulu. Papa sendiri yang minta chef dapur utama bikin sup burung puyuh ini. Tanpa bumbu penyedap, cuma kaldu murni dan rempah penghangat."

Duchess Eleanor langsung mendekati sisi ranjang yang lain. Diletakkannya selimut di atas kaki Evelyn, lalu jemari lembutnya merapikan beberapa helai rambut Evelyn yang terurai di dahi.

"Mama juga sudah minta pelayan merebus teh daun mint manis dari kebun belakang," tambah Duchess dengan senyum hangat.

"Dokter Tristan bilang warna kulitmu pagi ini sudah tidak sepucat kemarin. Ya ampun, rasanya separuh beban di dada Mama terangkat!"

Evelyn menatap kedua orang tua barunya secara bergantian, lalu pandangannya bergulir pada Julian yang berdiri di ujung ranjang.

Ksatria muda itu meletakkan kotak kayu yang dibawanya ke atas meja belajar di dekat jendela.

"Kak Julian bawa apa itu?" tanya Evelyn penasaran, jarinya menunjuk kotak tersebut.

Julian memutar badan, mengusap leher belakangnya dengan raut agak canggung namun matanya berbinar gembira. "Oh, ini? Karena kemarin kamu bilang bosan. Jadi Kakak minta anak buah Kakak di pasar kota buat memborong semua set papan permainan dari kayu dan tiga lusin buku dongeng bergambar terbaru dari wilayah Selatan."

"Tiga lusin?!" Evelyn melotot kecil. "Kakak borong satu toko?"

"Toko bukunya sekalian mau Kakak beli kalau mereka punya stok lebih," balas Julian datar, tanpa nada bercanda sedikit pun.

"Lagipula, uang di kas pribadi Kakak cuma menumpuk nggak jelas. Lebih baik buat beli mainanmu daripada membusuk di bank."

Evelyn terpana. Ada gumpalan emosi hangat dan pekat yang merayap naik dari dasar dadanya.

Di kehidupan aslinya sebagai Kirana, sarapan pagi adalah mi instan cup yang diseduh dengan air dispenser kantor yang kurang panas, dimakan sendirian sambil menatap layar monitor yang menampilkan puluhan draf laporan yang belum selesai.

Jika ia sakit, tidak ada yang sibuk memanggil dokter, dan tidak ada yang memborong isi toko buku hanya karena ia bilang "bosan".

Di dunia nyata dulu, ia adalah roda penggerak kecil yang kalau rusak tinggal diganti tanpa ada yang peduli.

Tapi di sini... di tubuh gadis bernama Evelyn ini, tiap embusan napasnya seperti dianggap sebagai harta karun paling berharga oleh tiga orang ini.

Kasih sayang mereka begitu melimpah, begitu wajar, dan sama sekali tak menuntut balasan.

"Kenapa diam saja, Nak?" tanya Duke Richard lembut, melihat Evelyn yang terpaku menatap mangkuk supnya. Duke mengambil garpu dan sendok kecil, lalu menyendokkan sepotong daging puyuh yang sudah dipotong tipis-tipis. "Sini, Papa suapi. Masih panas, tiup pelan-pelan ya?"

"Pa, Evelyn kan sudah besar... bisa makan sendiri," cicit Evelyn, mencoba menutupi getar di suaranya.

"Di mata Papa dan Mama, kamu tetap putri kecil kami yang umur lima tahun," sela Duchess Eleanor sambil tertawa halus.

"Sudah, buka mulutmu. Makan yang banyak supaya badanku cepat berisi."

Evelyn akhirnya membuka mulutnya, menerima suapan pertama. Rasa gurih alami yang lembut langsung menyebar di lidahnya, menghangatkan kerongkongan hingga ke perutnya yang kosong.

"Enak?" tanya Duke Richard dengan mata berbinar-binar penuh harapan.

Evelyn mengangguk pelan, menelan makanan itu sebelum menjawab. "Enak banget, Pa.."

Tawa lega langsung pecah di kamar itu. Duke Richard tampak begitu bangga, ia kembali menyuapkan sendok kedua.

Julian mendekat, menyandarkan sikunya di tiang ranjang sambil memperhatikan adiknya makan dengan tatapan puas.

"Nanti kalau supnya habis, obat dari Dokter Tristan diminum ya," kata Julian. Tangannya terulur, mengacak-acak rambut Evelyn.

"Kakak sendiri yang mengawasi dokter. Tristan waktu menakar serbuk akarnya. Tak pelototi terus dari awal sampai masuk gelas."

Evelyn menengadah, menatap Julian yang tersenyum jahil. "Kakak melototi dokter? Nanti dokternya tremor pas nuang obat, gimana?"

"Biarin. Biar dia tahu kalau sampai ada racun atau bahan lain yang masuk ke gelasmu, pedang Kakak tidak akan segan-segan menebas lehernya," jawab Julian tajam.

"Jadi, kamu harus cepat sembuh. Paling tidak, bisa jalan-jalan ke taman bawah tanpa pingsan lagi."

Evelyn terkekeh pelan.

Tuhan... kalau ini memang kesempatan kedua yang dikasih buat aku, batin Evelyn sambil mengunyah suapan berikutnya, aku berterima kasih banget. Aku nggak tahu kenapa Kirana yang cuma pekerja kantoran biasa bisa terdampar di sini. Tapi yang jelas... aku akan berusaha mempertahankan kebahagiaan ini.

Ia mengingat kembali bayang-bayang masa depan tragis yang tertulis di lembaran novel The Crown of Fallen Stars.

Dalam waktu dekat, intrik politik kerajaan akan mulai memanas.

Dan keluarga Rosenberg, dengan seluruh kekayaan dan pengaruhnya yang melimpah, adalah target utama yang ingin ditumbangkan agar kekuasaan terpusat di tangan Putra Mahkota—dan Rosalia sendiri.

Nggak. Tidak akan pernah terjadi, bisik Evelyn dalam hatinya.

"Evelyn? Kok melamun lagi?" suara lembut Duchess Eleanor mengejutkannya dari lamunan. "Napasmu sesak lagi, Sayang?"

Evelyn dengan cepat menggeleng, mengukir senyuman paling manis dan paling segar yang bisa ia pamerkan. "Nggak, Ma! Evelyn cuma lagi mikir... betapa beruntungnya Evelyn punya Mama, Papa, sama Kakak."

Mendengar ucapan polos itu, Duke Richard mendadak terbatuk canggung, berpaling sebentar untuk menutupi matanya yang mendadak berkaca-kaca.

Sementara Julian menepuk jidatnya sendiri, tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.

"Aduh, anak Papa ini... pintar banget bikin orang tua terharu," gumam Duke Richard, suaranya sedikit serak saat kembali menyendokkan sup.

"Sudah, makan lagi yang banyak. Papa bakal pastikan seluruh tabib terbaik di benua ini dipanggil ke sini kalau perlu, asal kamu bisa tersenyum begini terus."

"Nggak perlu panggil semua tabib kok, Pa," balas Evelyn santai, menerima suapan berikutnya. "Evelyn cuma butuh istirahat, makan enak, dan... mungkin sedikit informasi bisnis?"

Julian mengangkat alisnya. "Informasi bisnis? Buat apa kamu mikirin bisnis?

"Yah, bosan kan cuma tidur-tiduran?" alih Evelyn cepat, matanya berkedip jujur. "Evelyn cuma pengin tahu perkembangan tambang kristal di wilayah Selatan yang pernah Papa ceritakan dulu."

Duke Richard terkekeh, menganggap rasa ingin tahu putrinya hanya sekadar keisengan mengisi waktu luang. "Boleh, nanti Papa bawakan salinan Laporan Wilayah Selatan yang ringan-ringan untuk dibaca. Tapi ingat, kalau capek langsung istirahat!"

"Siap, Papa!" jawab Evelyn riang.

Di dalam otaknya Kirana sudah mulai memetakan langkah-langkah strategisnya.

Langkah pertama: amankan kesehatan tubuh ini dengan memutus pasokan racun pelan-pelan. ✅

Langkah kedua: amankan aset keluarga Rosenberg sebelum pihak istana dan Rosalia mulai menggerogoti.

Ia memandang ketiga orang di depannya yang kini sibuk berdebat kecil tentang bunga apa yang cocok ditanam di luar jendela kamar Evelyn agar aromanya tidak memicu batuknya.

Evelyn tersenyum, merasakan detak jantungnya yang berdenyut pelan di balik dadanya.

Ia bertekad untuk hidup. Bukan hanya bertahan, tapi menang atas alur cerita ini.

1
Fazira
Cassian 😍😍
Fazira
padahal Rosalia di dunia novel ini protagonis, kenapa sifatnya jadi kaya antagonis gini yaa/Doubt/
Fazira
udah Rosalia 🤭
Fazira
Evelyn Evelyn pinter akting yaa🤣🤣
Fazira
Wah Duke Utara 😍
Fazira
Evelyn Evelyn udah badan penyakitan kenapa akting sakit 🤭
Fazira
kehidupan novel dalam novel ya😄
Fazira
wow transmigrasi kak👍
semangat nulisnya 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!