Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26.Detak Jantung yang Tak Bisa Dibohongi
Mereka berdua bisa menyangkal perasaan itu dengan kata-kata. Bisa berpura-pura tenang dan bersikap biasa saja satu sama lain. Bisa menjaga jarak dan menyembunyikan tatapan mata. Namun ada satu hal yang tak mampu mereka tipu sedikit pun — detak jantung. Selalu jujur, selalu bicara apa adanya, dan tak pernah bisa dibohongi oleh siapa pun.
Suatu sore yang tenang, mereka berdua berdiri berhadapan tak jauh dari halte sekolah sambil menunggu kendaraan pulang. Angin sore berhembus lembut menerpa wajah, membawa aroma tanah yang segar. Saat itu jarak di antara mereka begitu dekat — cukup untuk merasakan kehangatan tubuh satu sama lain, cukup untuk menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata yang selalu membuat dunia terasa berhenti berputar. Kenzo hendak menyampaikan sesuatu, namun tiba-tiba ia terdiam. Matanya menatap Anisa begitu dalam, seakan ada ribuan hal yang ingin diucapkan namun tersangkut di kerongkongan.
Anisa menatapnya balik. Ia mencoba bersikap tenang, mencoba menyunggingkan senyum biasa seakan tak ada apa-apa. Namun jauh di dalam dadanya, sesuatu mulai berubah. Perlahan namun pasti, jantungnya mulai berdetak lebih kencang. Satu... dua... tiga... semakin cepat dan semakin nyata. Ia mencoba mengatur napas, mencoba menenangkan diri, berbisik pelan dalam hati: Tenanglah. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Dia hanya berdiri di hadapanmu, itu saja. Namun jantungnya seakan tak mendengar. Detaknya semakin keras, begitu kuat hingga ia merasa dadanya hampir tak mampu menahannya. Seakan-akan detak jantungnya itu akan terdengar hingga ke telinga Kenzo, membongkar segala rahasia yang berusaha ia sembunyikan sedalam-dalamnya.
Anisa tanpa sadar melangkah mundur selangkah, berusaha menjauh sedikit agar dapat bernapas kembali dengan lega. Wajahnya mulai terasa panas, pipinya memerah samar. Dan saat pandangannya tak sengaja jatuh pada dada Kenzo, yang tersembunyi di balik kemeja rapi itu... ia pun tertegun. Di sana pula, terlihat jelas naik turun yang tak beraturan. Dada Kenzo yang biasanya tenang dan tegap kini ikut berdetak kencang, seirama dengan detak jantungnya sendiri.
Anisa mendongak perlahan, menatap mata Kenzo yang tampak sedikit melebar dan tak berkedip menatapnya. Napas Kenzo pun terdengar sedikit memburu, tak lagi tenang seperti biasanya. Dan saat mata mereka saling bertemu, keduanya sama-sama menyadari satu kebenaran yang tak dapat disangkal lagi.
"Kau..." suara Anisa terdengar bergetar pelan, hampir tak terdengar. Ia menunjuk dada Kenzo dengan jari yang gemetar halus, lalu menunjuk dadanya sendiri. "Detak jantungmu... sama seperti milikku."
Kenzo terdiam sejenak. Wajahnya perlahan memerah samar, namun kali ini ia tak berpura-pura, tak menyangkal, tak berpaling. Ia justru mengangguk pelan dengan tatapan mata yang begitu jujur dan dalam, seakan tak ingin lagi menyembunyikan apa pun.
"Ya," jawab Kenzo pelan namun tegas, suaranya ikut bergetar menahan getaran yang sama. "Detak jantungku... tak pernah secepat ini selain saat berada di dekatmu. Aku bisa menyangkalnya dengan kata-kata. Aku bisa bersikap tenang di hadapan siapa pun. Tapi di hadapanmu... hatiku tak bisa berdusta. Setiap kali melihatmu, setiap kali berdekatan denganmu... ia berbicara sendiri, lebih lantang dari segala kata yang pernah kuucapkan."
Anisa menatapnya lekat-lekat, merasakan air mata bahagia mulai menggenang di pelupuk matanya. Selama ini mereka berusaha menyembunyikan perasaan, berusaha menyangkalnya kepada siapa pun, bahkan kepada diri sendiri. Namun ternyata... detak jantunglah saksi yang paling jujur. Ia tak mengenal kepura-puraan, tak mengenal kebohongan. Saat hati sungguh tersentuh, saat perasaan sungguh tumbuh... detaknya akan berbicara sendiri, tak dapat dibendung dan tak dapat dibohongi.
"Jadi..." suara Anisa kembali terdengar pelan, namun kali ini dengan senyum yang tak lagi disembunyikan, "kita tak perlu lagi menyangkalnya, bukan? Karena hatiku dan hatimu... saling mengerti sebelum mulut sempat mengucapkannya."
Kenzo menatapnya lembut, lalu perlahan mengangguk dengan senyum tulus yang mengembang di wajahnya. "Ya. Tak perlu lagi menyangkal. Karena detak jantung kita... telah saling memanggil satu sama lain sejak lama sekali. Dan tak ada satu pun yang mampu membohonginya."
Di bawah langit senja yang mulai kemerahan itu, mereka berdiri berhadapan dengan hati yang saling berpacu dalam irama yang sama. Kini mereka paham: kata-kata bisa berdusta. Sikap bisa berpura-pura. Namun detak jantung... ia adalah kebenaran sejati yang tak pernah bisa dibohongi. Dan detak jantung mereka yang saling berpacu itu... adalah bukti paling jujur, bahwa hati mereka telah sejak lama saling terikat, tak lagi terpisahkan.
BERSAMBUNG...