Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7.KECEMASAN & KECUPAN
Pintu SUV mewah berperedam suara itu tertutup dengan bunyi thud yang mantap, seketika memutus gemuruh hujan deras dan keriuhan teras SMA Garuda Mulia. Suasana di dalam kabin mobil mendadak hening, hanya disiupi oleh deru halus pendingin udara dan ritme sapuan wiper di kaca depan.
Di luar, belasan pasang mata siswa dan guru—termasuk Sheila yang masih menganga tak percaya dan Raka yang berdiri mematung dengan wajah pias—menatap nanar ke arah mobil Rolls-Royce yang perlahan bergerak membelah genangan air, meninggalkan area sekolah.
Nadira duduk kaku di kursi penumpang belakang. Kedua tangannya meremas rok abu-abu seragamnya begitu erat hingga kainnya kusut. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah-olah hendak melompat keluar dari dadanya. Gelombang kecemasan yang luar biasa besar mendadak melingkupi seluruh pikirannya.
Selesai sudah. Semuanya hancur, batin Nadira histeris. Besok satu sekolah pasti heboh! Sheila pasti bakal mencecar habis-habisan, Kak Raka bakal nanya-nanya, terus gossip di forum sekolah pasti bilang kalau aku simpanan pria kaya! Gimana cara aku masuk sekolah besok?!
Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Pikirannya melayang membayangkan reputasi ibunya, tatapan menghakimi teman-temannya, dan bagaimana seluruh rencananya untuk menjalani kehidupan SMA yang tenang runtuh dalam hitungan detik hanya karena aksi nekat pria di sampingnya.
Abiyasa, yang duduk di sebelah Nadira, menyadari perubahan drastis pada raut wajah istrinya. Pria itu melepaskan jas mewahnya yang sedikit basah di bagian bahu, lalu menatap gadis di sampingnya. Napas Nadira terdengar pendek-pendek dan cepat, tanda dari serangan kecemasan yang intens.
"Nadira," panggil Abiyasa dengan suara baritonnya yang rendah.
Nadira tidak menjawab. Gadis itu menunduk dalam-dalam, matanya mulai berkaca-kaca membendung air mata yang siap menetes.
"Mas Abi jahat..." bisik Nadira dengan suara bergetar dipenuhi rasa frustrasi. "Kenapa Mas Abi nekat banget turun dari mobil?! Kan kita udah janji! Janjinya Mas Abi nggak bakal pernah kelihatan di sekolah saya! Janjinya pernikahan ini rahasia!"
"Pak Maman terjebak banjir di daerah Kemang, Nadira," jawab Abiyasa tenang, mencoba menjelaskan alasannya. "Saya tidak mungkin membiarkanmu menunggu di teras sekolah yang berangin dingin dalam keadaan baru sembuh dari demam."
"Tapi nggak perlu Mas Abi sendiri yang turun bawa payung!" jerit Nadira pelan, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya. Ia menoleh, menatap Abiyasa dengan tatapan terluka dan penuh kecemasan. "Mas Abi tahu nggak dampak dari apa yang Mas Abi lakuin tadi?! Besok saya harus jawab apa kalau Sheila nanya?! Saya harus bilang apa kalau orang-orang tuduh saya cewek nggak benar gara-gara dijemput om-om kaya pakai mobil miliaran?!"
Abiyasa menggeletuk rahangnya. Kata 'om-om kaya' dan ketakutan Nadira yang begitu besar akan anggapan orang lain mendadak menyengat harga dirinya. Namun, melihat bulir air mata yang terus mengalir di pipi mulus Nadira, rasa bersalah dengan cepat mengikis kejengkolannya.
"Saya suami sahmu, Nadira. Bukan 'om-om kaya'," tegas Abiyasa, suaranya melunak sepenuhnya.
"Tapi mereka nggak tahu itu!" tangis Nadira pecah, dadanya naik turun memburu. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Aku takut, Mas Abi... Aku cuma mau lulus sekolah dengan tenang. Aku nggak siap menghadapi gosip satu sekolah, aku nggak siap dibenci, aku nggak siap kalau berita pernikahan ini menyebar dan bikin keluarga kita bermasalah..."
Kecemasan yang membuncah membuat tubuh kecil Nadira gemetar hebat. Seluruh ketakutan seorang remaja berusia delapan belas tahun yang tiba-tiba dilempar ke dalam dunia orang dewasa meledak seketika di dalam mobil sepi itu.
Abiyasa menatap jemari mungil yang menutupi wajah menangis itu. Untuk pertama kalinya, pria yang biasanya selalu mengandalkan logika dan perhitungan matematis itu merasa benar-benar tak berdaya. Ia menyadari bahwa tindakan impulsifnya tadi—ditunggangi rasa cemburu saat melihat laki-laki lain (Raka) mencoba memegang tangan Nadira—telah melukai ketenangan jiwa istri kecilnya.
"Nadira, lihat saya," panggil Abiyasa lembut.
Nadira menggeleng keras di balik tangannya, terus terisak.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Abiyasa menggeser duduknya mendekat. Tangannya yang panjang terangkat, meraih kedua pergelangan tangan Nadira dan menariknya perlahan jauh dari wajah gadis itu.
"Nadira, buka matamu. Lihat saya," ulang Abiyasa, kali ini dengan nada perintah yang berbalut kehangatan mendalam.
Nadira perlahan membuka matanya yang basah dan memerah, menatap iris mata cokelat gelap Abiyasa yang berjarak hanya beberapa sentimeter darinya.
"Tidak akan ada yang berani menyentuhmu, meremehkanmu, atau menyebarkan gosip jahat tentangmu," ucap Abiyasa tegas, menatap lurus ke dalam matanya. "Saya yang memegang kendali atas Mahendra Group, dan saya juga yang memegang kendali atas situasi ini. Kalau ada satu orang pun di sekolahmu yang berani mengganggumu besok, saya pastikan mereka menghadapi tim hukum saya."
"T-tapi Sheila... Kak Raka..." gagap Nadira di sela isakannya.
"Biar Hendra yang mengurus narasi di sekolahmu besok pagi. Kita bisa katakan saya adalah wali hukummu atau kerabat jauh keluargamu dari Mahendra Foundation," potong Abiyasa cermat, menyusun alibi dalam hitungan detik. "Kamu tidak perlu takut pada apa pun. Selama kamu bersama saya, tidak ada seorang pun yang boleh membuatmu menangis."
Nadira menelan ludah. Kehangatan kata-kata Abiyasa dan genggaman tangannya yang stabil perlahan meredakan kepanikan di dadanya. Namun, rasa sesak akibat kecemasan itu masih menyisakan ketegangan di bibir Nadira yang gemetar.
Abiyasa menatap bibir mungil Nadira yang merah dan agak bergetar. Tatapan pria itu perlahan naik, mengunci pandangan mata Nadira yang polos dan pasrah. Ada sebuah dorongan emosional yang sangat kuat—sebuah magnet perasaan yang tak lagi bisa ditahan oleh tembok rasionalitas sang CEO.
Jemari Abiyasa berpindah, naik mengelus pipi Nadira yang basah oleh air mata, menghapus bulir bening itu dengan ibu jarinya yang hangat.
"Mas... Abi?" bisik Nadira bingung saat jarak di antara wajah mereka makin mengikis.
Abiyasa tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu memajukan wajahnya, merapatkan jarak yang tersisa, lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir Nadira.
Sebuah kecupan yang lembut, hangat, dan penuh dengan penyesalan sekaligus rasa kepemilikan yang mendalam.
Mata Nadira membelalak lebar seketika. Tubuhnya membeku kaku di atas kursi kulit. Ini adalah ciuman pertama dalam hidupnya—sebuah sentuhan asing yang mengirimkan sensasi sengatan listrik hebat meluncur dari bibirnya, menjalar ke seluruh aliran darahnya hingga ke ujung kaki. Aroma parfum sandalwood dan kehangatan tubuh Abiyasa mendominasi seluruh indranya.
Kecupan itu tidak berlangsung kasar atau terburu-buru. Abiyasa menyesap bibir lembut Nadira dengan sangat hati-hati, seolah-olah sedang menyapa sebuah barang porselen yang paling berharga dan rapuh.
Pria itu menekan bibirnya sedikit lebih dalam, menyalurkan seluruh perasaan tersembunyi yang selama ini ia sangkal: rasa khawatir, rasa cemburu, dan benih-benih cinta yang kini telah tumbuh mekar.
Perlahan, kelopak mata Nadira yang terkejut mulai terpejam dengan sendirinya. Tangannya yang semula meremas rok seragam secara refleks terangkat, meremas pinggiran kemeja kerja Abiyasa di bagian dada. Kecemasan, ketakutan akan gosip sekolah, dan riuh suara hujan di luar mendadak sirna sepenuhnya dari pikiran Nadira. Yang tersisa hanyalah kehangatan bibir suaminya dan detak jantung Abiyasa yang bergemuruh cepat di balik dada kemejanya.
Beberapa detik berlalu dalam sihir keheningan yang intim itu, sebelum akhirnya Abiyasa menarik wajahnya perlahan.
Bibir mereka terpisah, menyisakan jarak hanya satu inci. Napas Abiyasa sedikit terengah, sementara pipi Nadira kini merona merah padam—jauh lebih merah daripada saat ia demam kemarin.
Abiyasa menempelkan dahinya ke dahi Nadira, menatap mata istrinya yang kini berbinar sayu dan polos.
"Jangan menangis lagi," bisik Abiyasa dengan suara yang sangat dalam dan serak, jemarinya masih mengusap lembut rahang Nadira.
"Sentuhan tadi... adalah janji saya. Saya akan melindungimu dari apa pun, Nadira."
Nadira terpasung dalam tatapan itu, tenggorokannya mendadak kaku untuk bersuara. Jantungnya bertalu-talu begitu kencang hingga ia yakin Abiyasa bisa mendengarnya.
Pria es yang selama ini ia takuti, pria yang menikahinya hanya demi selembar kertas wasiat, baru saja menciumnya dengan begitu lembut dan protektif di dalam mobil yang menerjang hujan Jakarta.
Nadira mengangguk pelan, menyembunyikan wajah mewahnya yang panas di dada tegap Abiyasa. Abiyasa tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kemenangan dan kehangatan—lalu melingkarkan tangannya merengkuh tubuh mungil Nadira ke dalam pelukannya, membawa mereka berdua dalam ketenangan di tengah badai yang mengamuk di luar.