NovelToon NovelToon
Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti

Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.

Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.

Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.

Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.

"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Aroma amis darah yang pekat dan bau mesiu memenuhi udara di dalam kamar utama vila yang kini luluh lantak. Asap tipis yang tersisa dari ledakan pintu berlahan menghilang, memperlihatkan kehancuran total, tirai-tirai tebal yang terkoyak, pecahan kristal yang berserakan di atas lantai marmer, dan tubuh Diego yang sudah tak bernyawa tergeletak tak jauh dari pintu.

Clara bergeser seraya melonggarkan dekapan Kenzo dari tubuhnya. Tangan kanan Kenzo yang bernoda darah hangat terangkat, memegang dagu Clara dan memaksa gadis itu menengadahkan wajahnya.

"Buka matamu,"

bisik Kenzo tepat di depan wajah Clara.

Saat Clara membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah manik mata Kenzo yang kelam tanpa penyesalan sedikit pun. Di mata pria itu, membantai musuh dan merenggut nyawa manusia di depan mata Clara bukanlah sebuah kejahatan, melainkan sekadar tugas rutin untuk melindungi wilayah kekuasaannya.

"Kau membunuhnya..."

suara Clara bergetar parau, air mata meluncur deras membasahi jemari Kenzo yang masih mencengkeram rahangnya.

"Di depanku, kau membunuhnya tanpa ragu..."

"Dia berani menyusup ke pulauku, menatapmu dengan mata serakahnya, dan mencoba menyentuh milikku,"

balas Kenzo datar.

"Kematian adalah satu-satunya hukuman yang pantas untuk bajingan seperti dia."

"Dia manusia, Kenzo! Kau bukan Tuhan yang bisa mencabut nyawa orang sesukamu!"

jerit Clara histeris, mencoba memukul tangan Kenzo dari wajahnya.

Kenzo tidak bergeming sedikit pun. Pria itu justru menggenggam kedua pergelangan tangan Clara, menguncinya di atas kepala gadis itu dengan satu tangan kokohnya, lalu menghimpit tubuh Clara ke atas kasur.

"Aku memang bukan Tuhan, Clara,"

ujar Kenzo seraya menundukkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata Clara yang diliputi ketakutan murni.

"Tapi di pulau ini, di dalam hidupmu, akulah yang menentukan siapa yang boleh bernapas dan siapa yang harus mati. Dan kau harus mengingat itu baik-baik."

Clara terengah-engah, dadanya naik turun menahan guncangan emosi. Rasa benci dan rasa takut bercampur menjadi satu, meremukkan sisa-sisa keberaniannya. Ia menyadari bahwa di balik penampilannya yang berkelas sebagai pria terhormat dan pengusaha sukses, Kenzo adalah seorang monster berdarah dingin yang tidak memiliki batasan moral saat obsesinya terusik.

Pintu kamar yang hancur mendadak diketuk pelan. Kevin, kepala pengawal Kenzo, berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang namun penuh penghormatan.

"Tuan Kenzo,"

panggil Kevin hati-hati.

"Sisa-sisa anak buah Diego di pantai sudah dibersihkan. Helikopter medis dan tim pembersih khusus sudah mendarat di pulau utama."

Kenzo tidak langsung menoleh. Ia tetap menatap wajah Clara selama beberapa detik sebelum akhirnya melepaskan kuncian pada tangan gadis itu dan berdiri tegak.

"Bereskan kamar ini,"

perintah Kenzo kepada Kevin tanpa menoleh.

"Singkirkan mayat ini dan ganti seluruh kaca serta pintu yang rusak sebelum fajar. Pindahkan Clara ke suite sayap barat untuk sementara."

"Baik, Tuan."

Kenzo membalikkan badan, kembali menatap Clara yang terduduk lemas di atas kasur. Pria itu menyapu helai rambut basah yang menempel di dahi Clara dengan ujung jemarinya yang dingin.

"Istirahatlah,"

kata Kenzo pelan, nadanya mendadak berubah menjadi perhatian yang lembut, sebuah pergeseran kepribadian yang membuat Clara makin merinding ketakutan. "

Aku harus membersihkan diri dan mengurus beberapa dokumen bisnis milik Diego yang kini resmi menjadi milikku."

Tanpa menunggu jawaban Clara, Kenzo melangkah keluar dari kamar, meninggalkan jejak telapak kaki berdarah di atas lantai marmer yang putih.

Satu jam kemudian, Clara dipindahkan oleh dua pengawal wanita ke suite di sayap barat vila. Kamar baru ini tidak kalah mewahnya, namun atmosfernya terasa begitu dingin dan mencekam.

Clara duduk di tepi tempat tidur, memeluk dirinya sendiri. Meskipun tubuhnya sudah dibersihkan dan pakaiannya diganti, bau amis darah Diego dan wajah dingin Kenzo saat menarik pelatuk terus berputar di dalam ingatannya. Ia tidak lagi hanya merasa terkurung, kini ia merasa terperangkap di dalam sarang predator paling berbahaya.

Pintu kamar terbuka pelan. Kenzo melangkah masuk. Pria itu telah mandi, kemeja lamanya yang berdarah telah berganti dengan kemeja hitam bersih, dan luka tembak di bahu kirinya telah dibalut dengan perban rapi di balik kain kemejanya.

Kenzo berjalan mendekati tempat tidur, membawa segelas susu hangat dan meletakkannya di meja samping kasur. Ia duduk di samping Clara, menatap profil samping wajah gadis itu yang pucat dan hampa.

"Kevin melaporkan bahwa shock yang kau alami bisa memicu demammu naik lagi,"

ujar Kenzo tenang.

"Minum susumu."

Clara menatap gelas susu itu, lalu beralih menatap Kenzo.

"Sampai kapan, Kenzo?"

bisik Clara dengan suara yang hampir kehilangan nyawa.

"Sampai kapan kau akan mengurungku dan membunuh siapa saja yang mendekatiku?"

Kenzo meraih tangan Clara, menyusupkan jemarinya ke sela-sela jari Clara yang dingin, mengikat genggaman mereka erat-erat.

"Sampai kau menyadari bahwa tidak ada tempat lain di dunia ini untukmu selain di sampingku," jawab Kenzo jujur tanpa keraguan. Pria itu mendekatkan wajahnya, mengecup pipi Clara yang basah oleh sisa air mata.

"Diego sudah tidak ada. Musuh-musuhku yang lain akan berpikir seribu kali sebelum mencoba menyentuh pulau ini lagi. Kau aman di sini, Clara. Bersamaku."

Clara memejamkan matanya rapat-rapat saat bibir Kenzo berpindah mengecup keningnya dengan penuh kehangatan yang posesif.

Di dalam kegelapan malam Karibia yang kembali sunyi, Clara menyadari sebuah kenyataan yang paling mengerikan dalam hidupnya, perlawanan fisiknya telah patah di tengah badai, ancaman dari luar telah dibantai tanpa ampun oleh Kenzo, dan kini tidak ada lagi dinding atau manusia yang bisa menghalangi obsesi gelap sang kakak tiri untuk memilikinya secara utuh.

Keheningan yang menyelimuti suite sayap barat terasa begitu menindas. Hanya ada suara deru lembut pendingin udara dan denting halus saat Kenzo merengkuh tubuh Clara yang kaku, menariknya perlahan hingga bersandar sepenuhnya pada dada bidang pria itu.

Clara bisa merasakan detak jantung Kenzo yang begitu teratur, stabil, dingin, dan sama sekali tak beriak oleh dosa darah yang baru saja dilakukannya beberapa jam lalu. Pria itu menyusupkan telapak tangannya ke dalam lipatan jemari Clara, menggenggamnya dengan tekanan penuh dominasi yang seolah menegaskan bahwa setiap helai napas Clara kini berada di bawah kendalinya.

"Jangan menangisi pria seperti Diego, Clara," bisik Kenzo seraya menyapukan bibirnya di sepanjang garis leher Clara, meninggalkan kecupan-kecupan halus yang terasa membakar kulit pucat gadis itu.

"Dia hanya kerikil kecil yang mencoba mengganggu kenyamanan kita. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa mengalihkan perhatianmu dariku."

Clara tidak lagi memukul, tidak lagi menjerit, bahkan tidak berusaha menarik jemarinya dari genggaman Kenzo. Sisa-sisa energi untuk melawan telah habis terkuras oleh pemandangan brutal yang disaksikannya sendiri. Di dalam benaknya yang diliputi kegelapan, sebuah kepasrahan dingin mulai berakar. Ia sadar, tidak peduli seberapa jauh ia berlari atau seberapa keras ia berteriak meminta pertolongan, dunia di luar sana tidak akan pernah mampu menembus tembok obsesi Kenzo yang begitu kokoh dan mematikan.

Kenzo tersenyum tipis merasakan kepatuhan kaku dari gadis di dekapannya. Pria itu mempererat pelukannya, mengecup puncak kepala Clara dengan kehangatan yang kontras dengan kekejamannya, lalu merendahkan suaranya tepat di telinga Clara.

"Tidurlah, Dear,"

gumam Kenzo penuh kasih sayang yang gelap.

"Mulai besok, dunia luar tidak akan pernah mengganggumu lagi. Hanya ada aku dan kau di sini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!