NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Harga Diri dan Utang

Selama tiga hari, tisu bertuliskan angka itu tetap terlipat di saku dalam tas Keisha.

Ia tidak menelepon Arya.

Uang sebesar itu bisa menyelamatkan Mama, tetapi menerima berarti membiarkan seorang laki-laki asing membeli sepotong hidupnya. Keisha belum cukup putus asa untuk menyebut umpan sebagai pertolongan.

Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri saat memasuki gerai utama Griya Anindita di Bandung.

Logo AnHome masih tergantung di atas showroom. Sofa berwarna krem, meja kayu jati, dan rak modular tersusun di bawah cahaya hangat. Semuanya tampak seperti dulu, tetapi tak satu pun terasa sama.

Di dekat ruang keluarga contoh, Sherina berdiri di depan kamera ponsel. Gaun merah muda dan sepatu hak tingginya terlihat mencolok di antara staf berseragam.

"Hai, semuanya! Hari ini Rina mau tunjukkan koleksi terbaru dari bisnis keluarga kami," katanya kepada siaran langsung. "Kalian tahu, kan, AnHome selalu jadi bagian dari hidup Rina."

Bisnis keluarga kami.

Keisha menatap logo yang digambar Anindita sendiri bertahun-tahun lalu. Sherina bahkan tidak pernah datang ketika Mama masih sehat kecuali untuk meminta furnitur gratis.

"Matikan siaran itu," kata Keisha.

Sherina menoleh. Senyum untuk kameranya tidak hilang. "Kak Keisha datang. Kalian mau lihat dokter kita yang sibuk?"

Kamera berputar ke arah Keisha.

Keisha mengangkat telapak tangan menutupi lensa. "Kamu tidak punya izin merekam saya atau memakai showroom untuk konten pribadi."

"Papa yang mengizinkan." Sherina menurunkan ponsel, tetapi siaran belum dimatikan. "Papa sekarang yang mengurus perusahaan. Wajar kalau putrinya membantu promosi."

"Mama yang mendirikan perusahaan ini."

"Tapi kamu sendiri jarang ada di sini." Sherina memiringkan kepala. "Jangan datang sekali lalu bertingkah seperti pemilik."

Beberapa staf menunduk pura-pura merapikan katalog. Sebagian lain melirik layar ponsel Sherina yang komentar-komentarnya terus bergerak.

Keisha menekan tombol akhir siaran dengan jarinya sendiri. "Kalau mau menjadi wajah perusahaan, mulai dengan memahami produknya. Meja di belakangmu bukan koleksi terbaru. Itu desain Mama dari delapan tahun lalu."

Wajah Sherina memerah.

Keisha berjalan menuju kantor di lantai dua sebelum pertengkaran itu berubah menjadi tontonan lebih besar. Ia datang untuk mencari buku besar pemasok, bukan meladeni anak kesayangan Herman.

Pintu kantor utama terbuka.

Herman duduk di balik meja Anindita.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun duduk di sofa, mengenakan kemeja batik mahal yang terlalu ketat di bagian perut. Cincin batu besar menghiasi jarinya. Tatapannya bergerak dari wajah Keisha ke tubuhnya tanpa malu-malu.

"Nah," katanya sambil tersenyum. "Ini yang dokter itu?"

Keisha berhenti di ambang. "Saya datang untuk melihat laporan keuangan."

"Masuk dulu, Icha." Herman menunjuk kursi kosong. "Kenalkan, ini Pak Sugiarto. Mitra bahan bangunan kita sejak lama."

"Saya tahu nama perusahaannya." Keisha tetap berdiri. "Kenapa buku besar pemasok dipindahkan dari lemari arsip?"

Herman mendorong setumpuk fotokopi ke meja. Di paling atas ada surat pengakuan utang dengan nominal yang membuat alis Keisha terangkat.

"Griya Anindita punya kewajiban kepada perusahaan Pak Sugiarto," katanya. "Beberapa proyek macet. Kalau utang ini ditagih sekaligus, kita kehilangan gerai dan nama baik."

Keisha membaca cepat. Sejumlah invoice tidak memiliki nomor penerimaan barang. Bunga utang jauh lebih tinggi daripada kontrak pemasok normal.

"Siapa yang menandatangani pengakuan utang ini?"

"Saya, sebagai pengelola."

"Tanpa rapat direksi? Tanpa bukti semua barang pernah masuk?"

Senyum Herman menghilang. "Kamu tidak mengerti bisnis."

"Saya mengerti angka. Dan angka ini bau."

Pak Sugiarto tertawa keras. "Galak juga. Saya suka perempuan yang punya sedikit api. Nanti setelah menikah biasanya lebih mudah diatur."

Lambung Keisha mengeras.

"Menikah dengan siapa?"

Sherina muncul di pintu, rupanya mengikuti dari bawah. "Papa belum bilang? Pak Sugiarto tertarik sama Kak Keisha."

Keisha memandang satu wajah ke wajah lain. "Ini lelucon?"

"Ini jalan keluar," jawab Herman. "Pak Sugiarto bersedia menunda utang, bahkan menambah modal, kalau hubungan keluarga kita diperkuat."

"Perkuat? Pak Herman ingin menukar saya dengan tanda tangan kreditur."

"Jaga ucapanmu. Ini pernikahan baik-baik. Pak Sugiarto mapan, dihormati, dan bisa membantu biaya perawatan Anin."

Pria itu menyandarkan tubuh, masih memandangi Keisha seperti menilai barang di showroom. "Saya tidak keberatan istri tetap bekerja, asal tahu kapan harus pulang. Perempuan muda sekarang terlalu merasa bebas. Kalau sudah punya suami, harus tahu diri."

Keisha merasakan mual naik ke tenggorokan.

"Saya juga tidak keberatan pria tua terus bermimpi," katanya, "asal bangun sebelum mempermalukan diri sendiri."

Sherina terkesiap. Seorang staf yang berdiri di lorong cepat-cepat membuang muka untuk menyembunyikan senyum.

Pak Sugiarto bangkit. "Mulutmu perlu diajari sopan santun."

Ia mengulurkan tangan seolah hendak memegang dagu Keisha. Keisha menepisnya sebelum menyentuh kulit.

"Jangan sentuh saya."

Suasana kantor mendadak sunyi. Beberapa staf kini terang-terangan melihat dari luar pintu.

Herman berdiri. "Pak Sugiarto sudah bersikap baik. Minta maaf."

"Tidak."

"Icha, pikirkan nama baik keluarga. Pikirkan perusahaan ibumu."

"Justru karena memikirkan Mama, saya menolak menyerahkan hidup saya untuk menutup utang yang tidak jelas." Keisha mengangkat fotokopi itu. "Saya akan memeriksa setiap invoice. Kalau ada yang palsu, saya laporkan."

Sherina menyilangkan tangan. "Kak Keisha selalu merasa paling suci. Padahal biaya rumah sakit saja masih minta dari perusahaan. Kalau tahu diri sebagai anak angkat, harusnya jangan membuat semua orang susah."

Keisha menoleh kepadanya. "Kalau kamu bangga menjadi putri perusahaan, bayar dulu sofa yang kamu bawa ke apartemen bulan lalu. Faktur internalnya masih belum lunas."

Tawa tertahan terdengar dari lorong.

Sherina pucat karena malu.

Keisha meletakkan surat utang kembali ke meja. "Saya tidak akan menikah dengan Pak Sugiarto. Tidak hari ini, tidak tiga hari lagi, tidak pernah."

Ia berbalik dan berjalan keluar. Para staf membuka jalan. Di belakangnya, Pak Sugiarto mengumpat, sementara Sherina sibuk memastikan siaran langsungnya benar-benar telah mati.

Keisha mencapai pintu kaca showroom sebelum suara Herman menghentikannya.

"Berhenti."

Herman berdiri beberapa langkah di belakang, menghalangi jalan kembali ke kantor. Pak Sugiarto telah mengambil kartu nama dan menyelipkannya ke meja resepsionis sebelum pergi melalui pintu samping.

"Kamu merasa menang karena bisa mempermalukan orang di depan staf?" tanya Herman.

"Saya hanya menolak dijual."

"Kalau begitu cari uangmu sendiri."

Jari Keisha mencengkeram tali tas. Di dalamnya, tisu dari Arya terasa seperti bara.

Herman mendekat dan merendahkan suara, tetapi cukup keras untuk didengar Sherina dan dua staf terdekat.

"Kamu punya tiga hari untuk setuju. Kalau tidak, kamar rawat ibumu berhenti saya bayar. Sebagai wali, saya juga bisa meminta rumah sakit menghentikan perawatan lanjutan."

"Pak Herman tidak berhak memakai Mama untuk memaksa saya menikah."

"Hak itu ada di tanda tangan saya." Tatapannya dingin. "Tiga hari, Icha. Setelah itu, saya bilang berhenti, rumah sakit berhenti."

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!