Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Curhat ke Joce
Dua puluh menit setelah kantong hitam itu dibawa turun, Vivi menekan nomor internal ruang laundry.
“Maaf, Bu Vivian,” jawab seorang staf rumah tangga. “Gaunnya belum sampai ke sini.”
Jemari Vivi mengencang pada ponsel. “Tadi sudah dibawa turun.”
“Benar, Bu. Tapi Pak Sebastian mengambil kantongnya di tangga. Katanya beliau yang akan mengurus.”
Jadi dugaannya benar.
Setidaknya sebagian.
Sebastian tidak ingin gaun itu dibuang atau dicuci bersama pakaian lain. Namun, Vivi belum tahu apa yang dilakukan pria itu setelah mengambilnya. Mungkin ia hanya menganggap pakaian yang terkena keringat saat sakit harus ditangani khusus. Mungkin ia hendak mengirimnya ke laboratorium.
Kemungkinan kedua terdengar masuk akal.
Sayangnya, bayangan jari Sebastian yang menekuk saat menatap kantong itu membuat kemungkinan pertama terasa terlalu polos.
“Baik. Terima kasih,” kata Vivi sebelum menutup sambungan.
Ia memandangi pintu kamar yang masih terbuka. Kamar Sebastian berada di seberang lorong, gelap dan sunyi. Vivi tidak cukup nekat untuk mengetuk malam-malam dan bertanya apakah suaminya baru saja mencuri gaun tidurnya sendiri.
Ia butuh orang lain untuk memastikan kepalanya masih bekerja dengan benar.
Hanya ada satu orang yang bisa mendengar cerita seaneh ini tanpa langsung memanggil dokter jiwa.
Vivi membuka percakapan WA bertuliskan Joce dan menekan tombol voice call.
Panggilan diangkat pada dering kedua.
“Kalau kamu menelepon tengah malam begini karena kangen, aku terharu,” suara Jocelyn terdengar serak. “Kalau mau pinjam uang, besok saja. Aku belum cukup sadar untuk menghitung nol.”
Vivi hampir tertawa. Hampir.
“Joce, aku rasa ada yang aneh dengan Sebastian.”
Hening dua detik.
“Akhirnya kamu sadar suamimu memang aneh?”
“Aku serius.”
Nada Jocelyn langsung berubah. “Kamu aman?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi dada Vivi menghangat. Jocelyn Kusuma boleh berpindah dari Singapura ke Sydney lalu Paris sesuka hati, mengikuti bisnis keluarganya yang lebih banyak berada di luar negeri. Namun, setiap kali Vivi memanggil, perempuan itu selalu bertanya hal yang sama lebih dulu.
Kamu aman?
Vivi memeluk boneka beruangnya. “Sekarang aman.”
“Sekarang?”
“Ceritanya panjang.”
“Besok siang. Tempat biasa di SCBD. Aku datang.”
“Kamu baru tiba di Jakarta sore tadi.”
“Dan sahabatku baru saja bilang ‘sekarang aman’ dengan suara seperti habis melihat mayat. Aku bisa tidur di pesawat nanti.”
Sambungan berakhir setelah Jocelyn memaksa Vivi berjanji mengunci kamar. Vivi tidak mengatakan bahwa pintunya justru sengaja dibiarkan terbuka. Malam itu, ia tidur dengan boneka beruang di dada dan lampu meja menyala.
Ia bermimpi tentang pintu besi.
***
Keesokan siangnya, hujan tipis menggantung di antara gedung-gedung SCBD.
Jocelyn sudah duduk di sudut sebuah kafe, mengenakan kacamata hitam besar meski mereka berada di dalam ruangan. Rambutnya tersisir sempurna. Hanya gelas espresso ganda dan kantong mata tipis yang membocorkan jet lag-nya.
Begitu Vivi duduk, Jocelyn mendorong sepiring tiramisu ke arahnya.
“Makan dulu. Setelah itu baru ceritakan kenapa wajahmu seperti baru bangkit dari kubur.”
Sendok di tangan Vivi berhenti.
“Jangan pakai perumpamaan itu.”
Jocelyn melepas kacamata. “Oke. Berarti lebih serius dari dugaanku.”
Vivi tak mungkin mengatakan semuanya. Jika kalimat ‘aku hidup untuk kedua kalinya’ terdengar gila di kepalanya sendiri, bagaimana mungkin ia mengharapkan orang lain percaya?
Maka ia memilih potongan yang paling aman.
“Akhir-akhir ini aku sering mengalami déjà vu,” katanya. “Bukan cuma perasaan pernah melihat tempat. Aku seperti tahu beberapa hal sebelum terjadi.”
“Contohnya?”
“Aku punya firasat ada orang yang akan mendekati Sebastian lewat urusan kerja. Namanya Celine Wijaya.”
Jocelyn menyandarkan siku ke meja. Tidak mengejek. Tidak menyela.
Vivi melanjutkan, “Aku juga merasa ada orang-orang yang akan menyakiti keluargaku. Aku tidak tahu semua detailnya. Semakin kupikirkan, ingatannya malah semakin kabur.”
Itu bukan sepenuhnya kebohongan.
Ia memang hanya mengingat hasil akhirnya, beberapa wajah berbahaya, dan ketakutan yang melekat di tubuh. Ia tidak pernah benar-benar memahami Sebastian dalam kehidupan pertama. Bahkan sekarang, setelah diberi kesempatan hidup lagi, ia masih harus menyusun pria itu dari serpihan-serpihan kecil.
“Lalu soal gaun tidur?” tanya Jocelyn.
Vivi menceritakan aroma pada boneka, tatapan Sebastian, dan kantong yang diambil dari tangan staf. Ia berhati-hati menyebut semuanya sebagai pengamatan, bukan kesimpulan.
Jocelyn menatapnya lama. “Jadi, suami gunung esmu mungkin diam-diam mengambil pakaianmu?”
“Aku belum tahu untuk apa.”
“Untuk penelitian tekstil, jelas. Gunawan Group terkenal sangat peduli pada kualitas gaun tidur istri CEO-nya.”
“Joce.”
“Baik, baik.” Jocelyn mengangkat kedua tangan. “Aku belum akan menyebutnya mesum berkedok kulkas dua pintu. Belum.”
Vivi menutup wajah dengan satu tangan. “Aku menyesal meneleponmu.”
“Tapi kamu tertawa.”
Baru saat itu Vivi sadar sudut bibirnya terangkat. Ketegangan yang mengikat bahunya sejak malam tadi akhirnya sedikit longgar.
Ponselnya bergetar di atas meja.
Sebuah pesan WA muncul dari Sebastian.
Kamu sudah makan?
Vivi menatap lima kata itu sampai hurufnya seakan bergerak.
Dalam kehidupan pertama, Sebastian tidak pernah menghubunginya pada jam makan siang. Jika ia ingin menanyakan kondisi Vivi, ia akan menyuruh Pak Yanto. Pesan sederhana ini seharusnya tak berarti apa-apa.
Namun, ini adalah hal pertama yang berjalan berbeda.
“Dari siapa?” Jocelyn mencondongkan badan, lalu bersiul pelan. “Wah. Si kulkas menanyakan makan siang.”
Vivi menyentuh layar tanpa membalas. Jika hal sekecil ini bisa berubah, seberapa banyak masa depan yang masih bisa ia tulis ulang?
Jocelyn mengambil sendok dari tangan Vivi dan menyendokkan tiramisu ke piring kecilnya.
“Balas pesannya. Habiskan makananmu,” katanya. “Setelah itu, aku temani kamu mencari tahu siapa Celine sebenarnya.”