NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Di tengah perjalanan kembali menuju rumah.

Sepanjang jalan benak Ruhi diliputi kegelisahan yang tak mampu ia jelaskan dengan akal sehat.

"Bu, kita mampir ke makam Mas Herman sebentar, ya?" ucap Ruhi tiba-tiba.

Rukmini yang sedang bersandar di kursi penumpang seketika menoleh kaget. "Ha? Ngapain?" tanya Rukmini dengan dahi berkerut heran.

"Entahlah, Bu. Aku hanya ingin mampir saja," sahut Ruhi pelan. Pandangannya tetap tertuju lurus ke jalanan, seolah tubuhnya sedang digerakkan oleh kendali lain.

"Memangnya kamu tahu di mana makamnya?" Tanya Rukmini lagi, mengingat selama ini putrinya sama sekali tidak pernah peduli apalagi mengurus jenazah Herman sejak dinyatakan tewas di rumah sakit lapas.

"Aku akan telepon ke pihak lapas untuk menanyakannya," jawab Ruhi singkat.

"Baiklah, terserah kau saja."

Setelah menelpon dan menerima informasi dari lapas, Ruhi mengemudikan mobilnya membelah jalanan yang kian sepi. Di dalam hatinya, Ruhi sebenarnya sangat membenci situasi ini. Secara sadar, ia sudah tidak peduli lagi pada Herman. Pria itu hanyalah sampah masa lalu yang telah meninggalkan beban.

Beberapa belas menit kemudian, mobil milik Ruhi berhenti di tepi area pemakaman umum yang sepi dan terbengkalai. Pohon kamboja tua berdiri menaungi deretan gundukan tanah yang dipenuhi rumput liar. Hawa dingin langsung menusuk kulit begitu Ruhi dan Rukmini melangkah keluar dari mobil.

Dengan langkah kaki yang terasa berat, Ruhi menuntun ibunya menyusuri jalan setapak berdebu, menuju area pojok yang dikhususkan untuk jenazah tanpa keluarga atau tahanan lapas.

Langkah Ruhi terhenti di depan sebuah gundukan tanah yang masih tampak baru. Papan kayu sederhana tertancap di sana, bertuliskan nama Herman.

"Untuk apa kita berdiri di sini, Ruhi? Ayo pulang, tempat ini membuat Ibu merinding," bisik Rukmini.

Ruhi tidak menjawab. Ia berdiri mematung di depan nisan kayu Herman. Mata Ruhi menatap tajam gundukan tanah itu, namun anehnya, tubuhnya mendadak terkunci rapat.

Saat matanya terpejam, seolah-olah berusaha menenangkan diri dari rasa sesak yang menghimpit, Ruhi merasakan sesuatu yang ganjil. Entah kenapa, perasaan tak nyaman itu muncul begitu saja, merayap dingin dari telapak kakinya hingga ke tengkuk. Perlahan ia membuka mata dan menoleh ke sekelilingnya. Dari kejauhan, di bawah pohon besar yang rindang di sudut pemakaman, ada sebuah sosok yang menarik perhatiannya.

"Siapa itu?" gumam Ruhi pelan.

Rukmini yang berdiri di sampingnya menyipitkan mata, mengikuti arah pandangan Ruhi. Namun, Rukmini tak menemukan apa pun di sana selain tumpukan dedaunan kering dan batang pohon yang legam. "Siapa apa, Ruhi? Tidak ada siapa-siapa di sana," cetus Rukmini bingung.

Di bawah pohon yang besar itu, bayangan seseorang terlihat berdiri membisu, kontras dengan remang matahari yang kian turun.

Ruhi menajamkan penglihatannya, menolak percaya pada apa yang ditangkap oleh matanya.

"Astaga!" desis Ruhi tertahan. Jantungnya seakan mau melompat keluar dari dada saat menyadari penampakan Nina berdiri tepat di bawah naungan pohon kamboja tua tersebut.

Ruhi terdiam sejenak, tubuhnya kaku mencoba mengerti apa yang sedang terjadi. Pandangannya semakin tajam memaku pada satu titik, namun matanya sama sekali tak bisa berkedip.

Nina, yang berdiri di bawah pohon itu, perlahan mengukir senyum lebar. Sebuah senyuman penuh dengan penghinaan, dendam, dan kebencian yang mendalam. Wajahnya tampak kabur dipenuhi bayangan hitam bekas luka bakar, namun sorot matanya begitu tajam berwarna hitam, seakan sanggup menembus langsung ke dasar jiwa Ruhi.

Ruhi berusaha menarik napas panjang, mencoba berbicara dengan suara yang keras namun tak bisa membohongi getaran ketakutan di lidahnya.

"Pergi... Kau...! Kau sudah lama mati, Nina! Ini, ini hanya imajinasiku, kan?!" teriak Ruhi histeris ke arah sudut kosong dalam penglihatan ibunya.

Rukmini semakin merasa heran dan panik melihat tingkah aneh putrinya. Ruhi seperti sedang berkomunikasi dengan seseorang yang tak terlihat, namun tak jelas yang ia ucapkan. Sementara pandangan Rukmini sendiri tetap hampa tanpa menangkap wujud apa pun di sana. "Ruhi! Kamu bicara sama siapa?! Jangan bikin Ibu makin takut!" seru Rukmini sambil mengguncang lengan Ruhi.

Sosok Nina menggelengkan kepala perlahan, menyikapi penolakan Ruhi. Senyumannya justru semakin melebar secara tidak wajar. Tanpa menapak tanah, tubuh sosok itu bergerak melayang perlahan, mengikis jarak mendekati Ruhi.

Ruhi menahan nafas karena aroma daging terbakar meruak.

Nina tersenyum sinis lalu tertawa pelan. Suara tawa itu bergema hebat tepat di dalam tempurung kepala Ruhi, seolah-olah sengaja diputar kembali untuk mengingatkannya pada semua dosa dan kelakuan kelam yang pernah ia lakukan bersama Rukmini.

Wajah Nina kini melayang semakin dekat, membawa hawa dingin menusuk tulang dan bau busuk yang menyengat. Suaranya yang serak bergaung semakin tajam di sekitar mereka.

Tiba-tiba, Ruhi merasakan tubuhnya mendadak sangat lemah, persis seperti energinya tersedot habis. Mata hitam tanpa kelopak itu menatapnya begitu tajam, seakan-akan ingin mengungkapkan sebuah peringatan yang sangat menakutkan, sesuatu yang sama sekali tak ingin Ruhi dengar.

Tangan Ruhi terangkat meraih dadanya sendiri. Ia merasa amat sesak, hampir kehilangan kendali atas kesadarannya. Mulutnya tak bisa terbuka untuk mengucapkan sepatah kata pun.

Sebelum bayangan itu akhirnya memudar dan menghilang bersama sapuan angin, sebuah suara terakhir berhembus kencang,

"Ini baru permulaan, Ruhi. Tunggu giliranmu..."

Ruhi terperanjat hebat! Tubuhnya gemetar ketakutan, terhuyung mundur seolah-olah baru saja kehilangan pijakan bumi.

Sementara itu, Rukmini yang tidak tahu apa-apa terus panik dan berusaha keras menyadarkan Ruhi, mencengkeram bahu putrinya yang sejak tadi meracau dan berbicara tidak jelas di tengah sepinya pemakaman.

"Astaga, Ruhi! Kamu kenapa?!"

Rukmini sangat bingung. Di sana begitu sepi, hanya deretan nisan berlumut dan udara dingin yang kian pekat mengepung mereka. Rasa takut mencengkeram dadanya melihat Ruhi terkulai lemas, bernapas memburu dengan mata yang melotot kosong menatap sudut pemakaman yang gelap.

Dengan tangan gemetar hebat, Rukmini merogoh tas Ruhi. Ia mengaduk isinya secara hingga menemukan ponsel putrinya. Tanpa membuang waktu, Rukmini menggeser layar dan segera menekan nama Roni.

Telepon tersambung pada nada dering ketiga.

"Halo, mbak Ruhi? Ada apa?"

"Roni! Tolooonng, Ron!" potong Rukmini histeris, suaranya pecah menahan tangis ketakutan.

"Ibu?! Ibu kenapa? Ada apa, Bu? Ibu dimana?" suara Roni di ujung telepon mendadak tegang.

"Mbakmu, Ron! Ruhi mendadak lemas. Dia meracau ketakutan di makam Herman! Tempat ini sepi sekali, Ibu takut! Cepat susul kami ke sini, Ron! Tolong Ibu!" jerit Rukmini setengah berbisik, matanya tak berhenti liar menyapu di sekeliling gundukan tanah tempat mereka berdiri.

Roni terperanjat di ujung telepon. "Makam Herman?! Kenapa kalian bisa ada di sana?! Ya sudah, Ibu tenang dulu! Jelaskan dimana lokasinya, Roni langsung berangkat sekarang!"

Rukmini pun menjelaskan sebisanya. Setelah Roni pahan ia pun mematikan sambungan dengan jemari yang makin basah oleh keringat dingin.

1
UmakAy
ayo baca ...ceritanya seru
Nur Baiti
up thorrrrrrr
UmakAy: siap kak...
total 1 replies
UmakAy
kasih rate dong kakak² yg baca biar aku makin semangat
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!