Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Kenapa bisa begini, Mas?" tanya Ruhi dengan suara bergetar, menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
Herman perlahan mengandahkan kepalanya. Sorot matanya tidak lagi memancarkan rasa penyesalan seperti beberapa saat lalu, melainkan kebencian yang berkilat tajam. Ia tertawa sumbang, sebuah tawa meremehkan yang membuat bulu kuduk Ruhi berdiri.
"Ini semua gara-gara keluargamu!" desis Herman tajam, menatap lurus ke dalam mata istrinya.
Ruhi tersentak hebat, mundur satu langkah dari terali besi. Napasnya tercekat seolah pasokan udara di dalam ruangan tahanan itu mendadak menguap. "Apa maksudmu, Mas?! Kenapa gara-gara keluargaku?! Kamu yang gelap mata mengambil uang orang, kenapa sekarang malah menyalahkan aku dan Ibu?!"
Herman bangkit berdiri secara perlahan.
"Kamu lupa, Ruhi? Hah?!" bentak Herman dengan suara tertahan penuh amarah.
"Karena kau memaksa aku menikahimu, aku harus menempuh jalan pintas agar cepat kaya! Sebelum aku melamarmu dulu, aku mendengar sendiri bagaimana ibumu memperlakukan Nina. Aku tahu betul bagaimana dinistakannya adik iparmu itu hanya karena dia miskin dan tidak punya apa-apa!"
Ruhi membisu, bibirnya yang gemetar tak sanggup menyela.
"Ibumu itu wanita gila harta!" lanjut Herman dengan penekanan di setiap kata. "Dia hanya menghargai orang yang membawa tumpukan uang ke rumahnya. Aku takut, Ruhi! Aku takut jika aku datang sebagai pria biasa dengan gaji pas-pasan, ibumu akan memperlakukanku seperti sampah persis seperti yang dilakukannya pada Nina. Aku tertekan! Setiap hari aku dipaksa tampil mewah, memberi barang-barang mahal untuk ibumu agar aku dipandang sebagai menantu idaman!"
Ruhi menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini menetes deras membasahi pipinya. Ingatan masa lalu mendadak berputar cepat di kepalanya, bagaimana Rukmini selalu membanding-bandingkan Herman yang kaya raya dengan Roni yang sempat terpuruk. Setiap kali Herman datang membawa oleh-oleh mahal, mata ibunya berkilat penuh ketamakan.
"Aku menjerat diriku sendiri ke dalam lingkaran setan ini karena tuntutan sosial dari keluargamu," pangkas Herman dengan nada keras.
"Investasi bodong itu awal mulanya cuma untuk menutupi gaya hidup yang diandalkan ibumu. Tapi makin kemari, gulungan utangnya makin besar sampai aku tidak bisa keluar lagi! . Kalian berdua yang mendorongku masuk ke dalam sel ini!"
Ruhi merasa bingung, lidahnya kufur kata-kata di hadapan kenyataan pahit yang baru saja ditelanjangi di depan matanya.
Namun Ruhi tidak mau di salahkan atas penyebab ini semua.
Rasa terkejut dan rasa bersalah yang sempat hinggap di dada Ruhi mendadak menguap tanpa bekas.
Watak aslinya yang keras, egois, dan tak mau hidup melarat seketika mengambil alih. Tatapan matanya yang semula sayu kini berubah menjadi penuh keangkuhan.
Ia mengusap air matanya secara kasar, menyapu bersih sisa-sisa kesedihan yang sempat hinggap di pipinya. Ruhi menatap Herman dengan tatapan jijik.
"Jangan limpahkan semua kesalahanmu padaku dan Ibu. Kamu yang tidak becus mencari uang dengan cara yang benar, malah menyalahkan gengsi keluarga kami."
Herman tersentak, sedikit menolehkan kepalanya karena tidak menyangka reaksi istrinya akan berubah seperti itu.
"Pada dasarnya aku memang tidak pernah mau hidup miskin," lanjut Ruhi sembari merapikan rambutnya.
"Baiklah. Mulai detik ini, aku tidak mau tahu lagi dengan keadaanmu. Urus saja dirimu sendiri di dalam sel busuk ini."
Ruhi melangkah mendekat ke arah jeruji besi, lalu berbisik tajam persis di samping telinga Herman yang terhalang besi dingin,
"Kamu sudah tidak berguna lagi bagiku, Mas."
Kata-kata itu menghantam Herman bagaikan tamparan keras. Pria yang kini mendekam di balik jeruji itu menatap tak percaya ke arah istrinya.
"Ruhi! Tega kamu, Ruhi?!" teriak Herman murka, mencoba mencengkeram celah besi untuk menggapai istrinya, namun Ruhi sudah lebih dulu membalikkan badan.
Tanpa menoleh sedikit pun, Ruhi melangkah lebar meninggalkan ruang tahanan dengan dagu terangkat tinggi.
Sepatu tingginya berketuk nyaring di atas lantai kantor polisi. Baginya, Herman kini hanyalah beban dan sampah yang harus segera disingkirkan.
Fokusnya sekarang hanya satu, mengamankan harta yang tersisa dan memastikan dirinya tetap bisa hidup nyaman.
"Bagaimana rasanya jadi orang yang tak di inginkan Herman?" Tiba-tiba terdengar suara yang membuat bulu kuduk meremang.
Herman memutari segala penjuru.
"Siapa itu?."
"Hihiihi" bukanya jawaban, malah suara tertawa lirih yang terdengar di telinganya.
*
Namun, masalah Ruhi tidak berhenti di sana. Begitu Ruhi kembali ke rumah, langkahnya terhenti di gerbang.
"Ada apa ini.? Mengapa banyak orang. Apa jangan-jangan..?"
Puluhan orang dengan wajah garang sudah mengepung teras rumahnya. Rukmini yang berada di dalam hanya bisa mengunci diri ketakutan.
Saat Ruhi akan berbalik, terdengar suara menghentikan langkahnya.
"Hei itu dia istrinya Herman!!" Teriak suara lantang.
"Ah sial." Umpatnya pelan.
Seketika semua orang menatap arah Ruhi.
Dengan terpaksa Ruhi berbalik lagi.
"Jangan kabur. Kami minta pertanggungjawaban! Mana uang kami?!" teriak seorang pria paruh baya begitu melihat Ruhi.
Ruhi.
"Tolong! Ini bukan salah saya! Saya tidak tahu-menahu soal bisnis Mas Herman!"
"Anda istrinya! Anda pasti menikmati uang hasil tipuan itu!" cerceca seorang wanita melangkah maju. "Kami tidak mau tahu, kembalikan uang kami!"
Desakan yang makin agresif membuat Ruhi terdesak. Dalam kehimpitannya, ia memberanikan diri berteriak, ia memiliki rencana untuk meredahkan massa sementara waktu.
"Tolong beri saya waktu! Beri saya waktu satu minggu! Saya berjanji akan mencari cara untuk mengembalikan uang kalian!"
Kerumunan itu saling berbisik. Seorang wanita mewakili massa akhirnya melangkah maju dengan pandangan tajam.
"Satu minggu! Jika dalam seminggu uang kami tidak kembali, kami akan membakar rumah ini dan menyeretmu ke penjara!"
Setelah para korban membubarkan diri, Ruhi masuk ke kamar ibunya.
"Apakah mereka sudah pergi, Ruhi?" tanya Rukmini berbisik ketakutan.
"Sudah, Bu. Ini semua gara-gara Herman. Tapi kita tidak punya pilihan lain," ujar Ruhi menatap ibunya lekat-lekat. "Ibu... bagaimana kalau kita menjual rumah ini?"
"Apa?!" Rukmini mendadak duduk tegak, matanya melotot. "Ini rumah peninggalan keluarga! Kenapa harus menjual rumah Ibu demi kesalahan suamimu?! Ibu tidak setuju!"
"Kalau rumah ini tidak dijual, aku yang akan dimasukkan ke penjara oleh mereka, Bu! Apa Ibu tega melihatku mendekam di sel?!" bentak Ruhi frustrasi.
Rukmini terdiam. Lidahnya kelu. Antara mempertahankan harta atau keselamatan putrinya, pilihan itu sangat menyiksa hatinya.
"Lalu... kalau rumah ini dijual, kita mau tinggal di mana?" tanya Rukmini dengan suara melunak dan gemetar.
Senyum culas keluar dari bibirnya. "Kita bisa tinggal di rumah Roni dan Hana. Aku yakin Roni tidak akan menolak kita.," kata Ruhi mantap.
"Coba bayangkan. Di sana kita bisa menyuruh-nyuruh Hana seperti Nina dulu, tanpa mengeluarkan uang seperti saat membayar mbok Siti.. Kita hanya duduk manis." Lanjutnya penuh percaya diri.
Namun sepertinya Rukmini masih tidak rela menjual rumah besarnya itu.
🤨🤨🤨🤨🤨
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...
💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🤣
Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...
Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭