NovelToon NovelToon
CEO Terjebak Cinta Perjodohan

CEO Terjebak Cinta Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Janda
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Wedding

Beberapa detik aku tak berkedip saat rombongan Laras menjemputku, seolah mataku lupa cara menutup. Bibirnya merekah indah, wajah indahnya bersemu dihiasi suntiang minang dikepalanya, menggunakan pakaian anak daro. Dia ratu untukku hari ini.

"Bang, helo!" Kania mengibas-ngibas tangannya ke mukaku. Aku tergeragap panik, menelan air ludahku dengan kasar. Namun Kania tersenyum. Jahil menatapku.

"Kenapa bang, sampai nggak bisa berkedip melihat Kak Laras?" Kania menyipitkan mata padaku. Tangannya mulai merayap, ingin menempel didadaku tapi dengan gesit aku menepisnya.

"Sudah, jantung abang aman," Sanggahku cepat. Ia tampak memberengut, keinginannya tak tersampaikan.

Aku tersenyum puas. Kali ini dia tidak berhasil menjahiliku.

Laras semakin dekat ke arahku. Tanganku menegang saat ia hendak duduk di sebelahku. Jantungku berdegup lebih keras dari biasanya. Nafasku tersendat saat tangannya hampir menyentuh lenganku, dan aroma lembut yang menyertainya membuatku semakin tegang. Tatapannya—tajam, manis, dan penuh makna—membuatku hampir lupa diri.

Hari ini, mungkin beginilah rasanya jatuh cinta lagi—kali ini pada perempuan yang halal, namun tetap mampu membuat jantungku berkhianat.

"Assalamu'alaikum," Ucapnya sangat sopan membuat aku tersentak. Berusaha menghapus pikiran kotorku padanya.

"Walaikumsalam," balasku.

Kemudian kami sama-sama hening. Aku dan dia kehilangan kata-kata untuk memulai percakapan. Beberapa kali akan memulai pembicaraan, dan saat bertatapan kata-kata itu tercekat ditenggorokan. Aku merasa seperti ABG yang sedang jatuh cinta.

Akhirnya aku kumpulkan keberanian, menggenggam jemarinya. Sudah cukup isyarat ini saja yang berbicara, jika mulutku tak bisa terbuka untuk memulainya.

Laras menolehku saat tangannya aku genggam. Tetapi aku tak membalas lirikan itu, aku tetap fokus pada tamu-tamu yang melihat kami.

Sampai pada percakapan, arak-arakan akan dimulai. Oh iya aku lupa, aku tidak sedang di rumah mama, tapi di rumah adik mama yang tak berapa jauh dari rumah Laras.

Mama memilih tempat ini agar tak begitu jauh kami berangkat untuk prosesi arakan.

"Sudah siap, Laras, Raka?"

Doa selesai dibacakan, dan arak-arakan akan dimulai. Aku menoleh sebentar ke Laras, mengangguk. Wanita itu tersenyum, lembut, membuat bahuku yang tegang sedikit longgar.

“Hmpz,” deham Kania pelan di sebelahku, seperti mengingatkan aku masih ada yang mengintai tingkahku—tapi aku terlalu sibuk menahan diri untuk menoleh.

Aku melangkah meninggalkan rumah tante Ratih, tangan tetap tergenggam dengan Laras. Setiap mata seolah menempel pada kami; kami seperti Raja dan Ratu dalam parade hidup, tapi di hatiku, aku hanya ingin segera sampai ke tujuan.

"Kenapa bang, mukanya sangat tegang sekali?"

Pertama kalinya ucapan hangat itu terlontar dari bibir Laras.

Aku meliriknya, ia juga menatapku. Darahku berdesir, aku seperti remaja yang kembali merasakan cinta pada pandangan pertama.

"Hanya sedikit gugup," Ujarku membalas ucapnya.

Musik tradisional mengalun riuh, gendang dan seruling bersahutan di udara panas. Jalanan dipenuhi warga, sebagian tersenyum, sebagian bertepuk tangan.

Dua orang memayungi kami dari teriknya matahari, membuat Laras dan aku merasa istimewa. Meski begitu, aku tak bisa menahan senyum tipis—hati kecilku berbisik, “Ini benar-benar berlebihan.”

Langkah demi langkah terasa panjang. Kakiku lelah, dan Laras pun harus menahan tinggi sendal heels-nya. Namun ketika tangannya lebih erat menggenggam tanganku, aku merasakan kehangatan yang membuat lelah ini terasa ringan.

Setibanya di rumah Laras, kami disambut dengan petatah petitih adat. Pelaminan megah sudah menunggu, dekorasi yang memadukan nuansa klasik dan modern memukau pandangan. Warna-warna hangat dan bunga-bunga yang tertata rapi seakan menyambut kami pulang.

“Hari ini, aku tahu, meski prosesi ini penuh sorak-sorai dan tatapan warga, aku ingin menikmati setiap detiknya—bersama Laras, dengan cara yang tenang. Hatiku berdegup kencang. Mataku membola. Tapi semua itu tak mengurangi kebahagiaan ini.

Ini sangat indah, nuansa kasik dan modern menyatu. Suasana pesta adatnya sangat kentara.

Setelah kami duduk di pelaminan, suara organ tunggal mulai mengalun merdu. Lagu anak daro yang mereka bawakan membuatku mengulum senyum.

Aku tak bisa menyembunyikan rasa kagumku pada Laras. Entahlah, perasaan yang tak lagi bisa kumunafikan.

Kalau sejak awak aku tahu wanita pilihan mama adalah Laras. Aku pastikan sedikitpun tak akan menolak.

Tapi sekelibat wajah Ningsih mencoba mengganggu pikiranku. Aku cepat-cepat mengalihkan fokus, tidak ingin mengurangi momen ini.

"Bang, apakah setelah ini abang akan kembali ke Jakarta?" Pertanyaan Laras membuat aku terdiam.

"Kenapa? Laras keberatan?" Balasku. Entah kenapa dia seperti magnet. Jika sudah melirik mataku cukup susah untuk berpaling.

Dia menggeleng pelan. Mengalihkan pandangannya ke meja tamu.

"Laras sudah resign? Atau masih bekerja setelah ini?" Tanyaku balik. Padahal aku sendiri sudah tahu jawabannya.

Ia melengkungkan bibirnya.

"Laras sudah resign bang. Bukankah Laras harus ikut abang ke Jakarta?" Balasnya membuat aku tersipu.

Mukaku terasa ditempel lem aibon. Tiba-tiba kaku tak bergerak.

"Iya, Laras harus ikut kemanapun abang pergi,” godaku sambil tersenyum. Laras tertawa kecil, gigi gingsulnya terlihat saat senyumnya menyapaku. Aku tak bisa menahan senyum balik—tangan kami sesaat saling bertaut, manisnya membuat jantungku berdesir

Untuk pertama kalinya aku merasakan keputusan ini bukan suatu kesalahan.

Hari ini aku dan Laras adalah suami istri yang sah. Sekarang tanggung jawabnya sudah berpindah ke pundakku.

Setiap kali aku melihat tawa kecilnya, perasaan hangat mengalir begitu saja.

Pernikahan yang awalnya aku anggap sebagai penyiksaan. Kini, perlahan, berubah menjadi cinta kecil yang tumbuh pelan.

"Huk, huk,"

Kania menghampiri kami. Pasti ada sesuatu yang sedang direncanakannya.

"Boleh minta foto sama pengantin baru?" Selorohnya, mengerling ke arahku.

"Aku mau ditengah, romantisnya nanti saja," Sanggahnya. Melepaskan genggaman tanganku pada Laras. Lalu berfoto selfi denganku dan Laras.

"Hati-hati ya, Kak." Ucapnya pada Laras, lalu melirik ke arahku.

"Pemuda di sebelah kakak, sedang jatuh cinta!" Ucapnya jahil. Mukaku memerah, menahan senyum, tapi tak bisa menahan detak jantung yang makin cepat.

Kami sangat begitu sibuk, ketika teman-teman sejawat Laras datang untuk bertamu. Ternyata ia cukup dikenal, karena begitu banyak tamu undangan dari rekan-rekannya.

Beberapa kali kami harus duduk dan berdiri untuk melayani mereka mengambil foto berbagi momen bahagia acara pernikahanku.

"Selamat menempuh hidup baru, Laras. Semoga menjadi keluarga yang bahagia." Ucap seorang laki-laki sebayaku. Ia cukup karismatik dan tatapannya pada Laras sedikit menggelitik cemburuku. Ia menggegam tangan Laras cukup lama, membuat aku tidak nyaman.

"Hmpz," Dehamku kecil.

Laras sontak melepas pegangan itu seakan mengerti bahasa tubuhku.

Laki-laki itu masih menatap Laras, seolah diantara mereka pernah ada sesuatu yang istimewa. Laras melirik, mengeratkan pegangannya.

"Maaf, bang. Membuatmu tak nyaman," Ucapnya kemudian. Menurunkan egoku yang sempat naik.

"Cukup akrab," Jawabku.

"Siapa?"

Laras tak berani menatap mataku. Tangannya mengerat.

"Mantan Laras, bang." Ucapnya kemudian.

Aku reflek melepas genggaman tangannya saat Laras menyebut “mantan.” Jantungku mendadak loncat.

Laras menatapku sebentar, lalu tersenyum nakal. Tangannya kembali menggenggam, lebih erat dari sebelumnya.

“Tak apa, kan? Sekarang kita bersama,” bisiknya lembut, membuatku tersipu.

Sorak tamu dan musik pesta terasa seperti latar saja; dunia kami seakan berhenti untuk satu detik, hanya aku dan Laras.

Detak jantungku menyesuaikan iramanya, seiring senyumnya yang manis menenangkan segala rasa cemas.

Hari ini, aku tahu, memilihnya adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!