11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal kecil itu membuatmu kuat
Keesokan harinya, tekad Yuse kembali membara.
Malamnya ia tidur lebih cepat dari biasanya. Tidak ada mimpi aneh, tidak ada keraguan. Yang ada hanya satu gambar: tangannya sendiri yang memegang gagang pedang kayu, menebas udara dengan suara tajam.
Meskipun kemarin ia sempat mengeluh karena hanya diajarkan gerakan dasar, pagi ini harapannya melambung tinggi. Dingin embun belum hilang dari halaman padepokan, tapi di dada Yuse sudah terasa panas. Ia sangat berharap Bibi Liana luluh dan bersedia mengajarinya ilmu pedang yang sesungguhnya.
Dengan langkah ringan, Yuse mulai mencari bibinya.
Ia berjalan berputar-putar melewati lorong kayu yang berderit pelan. Memeriksa ruang latihan kosong, gudang senjata yang terkunci, dapur yang hanya berbau kayu bakar semalam. Padepokan itu sunyi. Terlalu sunyi. Bahkan suara sapu yang biasanya terdengar dari halaman belakang pun absen pagi ini.
Kebingungan mulai menyusup. Yuse menghampiri salah satu penghuni padepokan—kakek tua berambut putih yang sedang menyapu daun kering di depan gerbang.
“Permisi... apa kamu melihat Bibi Liana? Aku sudah mencari ke mana-mana tapi tidak ketemu.”
Kakek itu menghentikan sapuannya. Tangannya yang keriput menunjuk ke arah luar gerbang, ke arah bukit belakang padepokan yang diselimuti kabut tipis.
“Bibimu tadi sepertinya pergi ke arah atas bukit belakang padepokan. Sudah dari sebelum fajar.”
“Ah, begitu! Baiklah, aku akan mencarinya ke sana,” kata Yuse bersiap melangkah, dadanya berdebar.
“Hati-hati ya, Yuse. Jangan bertindak sembarangan di atas sana,” pesan kakek itu dengan nada memperingatkan, matanya menyipit seolah mengingat sesuatu yang lama.
Yuse hanya mengangguk cepat. Kata-kata peringatan itu masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Yang ada di kepalanya sekarang hanya satu: _kalau Bibi di sana, berarti ada alasan penting._
Perjalanan mendaki bukit itu cukup menguras tenaga. Tanahnya licin karena embun, akar-akar pohon menonjol seperti jebakan alami. Napas Yuse mulai berat di pertengahan jalan. Tapi rasa penasaran mengalahkan rasa lelahnya.
Sesampainya di puncak bukit yang dikelilingi ilalang setinggi dada, Yuse mendadak menghentikan langkah.
Matanya terbelalak tak percaya.
Di sebuah tanah lapang yang datar, dikelilingi batu-batu besar, Bibi Liana sedang bergerak.
Tidak ada suara pedang beradu. Tidak ada teriakan.
Yang ada hanya angin.
Gerakannya begitu anggun, meliuk-liuk layaknya sebuah tarian kuno. Kaki kanannya berputar, tubuhnya merendah, lalu melenting naik lagi tanpa suara. Kain selendang panjang berwarna biru tua dari pakaiannya berkibar mengikuti setiap ayunan tubuhnya, seolah memiliki nyawanya sendiri.
Yang membuat Yuse merinding adalah, bibinya sama sekali tidak memegang sebilah pedang pun.
Yuse menahan napas. Ia takut suara napasnya sendiri akan mengganggu.
Liana memejamkan mata sejenak. Selendangnya melingkari tangannya seperti ular yang patuh. Lalu—
_Slaasshh!_
Dengan satu sentakan tangan yang lembut namun secepat kilat, selendang sutra itu menebas udara.
Tidak ada suara logam. Tidak ada percikan api.
Tapi gelombang angin tak kasat mata melesat hebat dari ujung kain. Udara di sekitar seolah terbelah.
_Duar._
Sebuah batu besar di hadapan Liana—tingginya hampir sebahu orang dewasa—terbelah menjadi dua bagian rapi. Permukaannya mulus, seperti dipotong tukang batu paling ahli di dunia. Debu tipis beterbangan, lalu jatuh pelan.
Yuse mundur setengah langkah tanpa sadar. Lututnya sedikit gemetar.
Liana tidak berhenti.
Ia melanjutkan tariannya.
Kali ini gerakannya lebih cepat. Selendangnya berputar membentuk lingkaran, menciptakan suara desir halus di udara. Setiap ayunan menghasilkan tekanan angin yang membuat ilalang di sekitarnya rebah serempak. Liana melompat, memutar tubuh di udara, lalu menghentakkan selendangnya ke bawah.
Sebatang pohon kecil berjarak tiga tombak dari tempatnya berdiri tiba-tiba retak di bagian tengah. Kayunya pecah dengan suara “krak” yang nyaring, lalu ambruk perlahan.
Yuse terpaku di tempatnya.
Rasa kagum bercampur heran berkecamuk di kepalanya.
_Bagaimana bisa?_
Selembar kain sutra yang kalau disentuh saja rasanya lembut, sekarang memiliki daya hancur sekuat pedang baja?
Apa ini sihir? Ilmu dalam? Atau sesuatu yang jauh lebih tua dari keduanya?
Ia teringat keluhannya kemarin.
_“Cuma memukul dan menangkis doang. Membosankan.”_
Kini kata-kata itu terasa bodoh. Sangat bodoh.
Liana perlahan menghentikan gerakannya. Napasnya teratur, tidak terlihat lelah sama sekali. Selendangnya jatuh menjuntai dengan anggun, seperti air terjun biru yang berhenti mengalir.
Ia menoleh.
Matanya langsung menangkap sosok Yuse yang berdiri kaku di batas ilalang.
Liana menyeka sedikit keringat di pelipisnya dengan punggung tangan. Tidak ada kaget, tidak ada marah karena diikuti. Hanya ketenangan.
“Mau melanjutkan latihan?” gumamnya, memecah keheningan dengan suara tenang yang hampir berbisik.
Yuse sempat tertegun.
Kata-kata itu sederhana. Tapi di telinganya, rasanya seperti guntur.
Di dalam benaknya, ia langsung membatin, _‘Pasti setelah ini aku disuruh latihan kuda-kuda lagi... berdiri setengah jam tanpa gerak. Membosankan.’_
Tapi sebelum pikiran itu sempat berkembang, bayangan batu yang terbelah tadi kembali muncul di kepalanya.
Lalu ia sadar.
Rasa remeh dan tidak sabaran yang kemarin ia rasakan kini lenyap tak berbekas. Seperti debu yang ditiup angin.
Yuse mengerti.
Gerakan dasar yang membosankan kemarin bukan hukuman. Itu pondasi.
Bagaimana mungkin ia bisa mengendalikan angin, mengarahkan tenaga sehalus sutra, kalau kakinya saja masih goyah? Kalau napasnya masih berantakan? Kalau hatinya masih terburu-buru?
Liana tidak pernah berbohong. Ia hanya tidak menjelaskan. Karena kadang, penjelasan terbaik adalah membiarkan muridnya melihat sendiri.
Yuse menegakkan tubuhnya. Debu dan rumput yang menempel di baju latihan jatuh satu per satu. Ia memasang wajah serius. Pandangannya tidak lagi liar mencari jalan pintas.
Kali ini, ia mulai fokus sepenuhnya.
Tanpa ada lagi keluhan.
Tanpa bertanya kapan ia akan diajarkan latihan pedang.
Tanpa membandingkan dirinya dengan Ayah.
Yuse menarik napas dalam-dalam. Udara di puncak bukit terasa lebih dingin, lebih jernih. Ia mengepalkan tangan kecilnya di sisi tubuh.
“Siap, Bibi!” suaranya lantang, memecah keheningan bukit.
“Aku mau latihan!”
Liana menatapnya lama. Ada sesuatu yang berkedip di matanya—bangga, lega, dan sedikit sedih. Seolah ia melihat seseorang dari masa lalu berdiri di depan dirinya lagi.
Ia mengangguk pelan.
“Baik. Turunkan tubuhmu. Kuda-kuda kucing. Kita mulai dari napas.”
Yuse tidak mengeluh. Ia langsung merendahkan tubuh, menempatkan kaki seperti yang diajarkan kemarin. Kakinya masih sedikit gemetar dari perjalanan mendaki, tapi kali ini ia tidak peduli.
Angin di puncak bukit berhembus pelan. Selendang Liana bergerak sedikit, seolah memberi salam.
Latihan dimulai lagi.
Kali ini, Yuse tidak menghitung menit. Ia hanya menghitung napas.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa... ia benar-benar sedang belajar menjadi ksatria.
---